
"SATU TUGAS AJA NGGAK BECUS LO, YA!"
Celine refleks menjauhkan layar ponsel dari daun telinganya. Tatapan gadis itu beralih pada jam dinding di sudut kamar. Masih pukul 05.17 ternyata. Perlahan, Celine beranjak dari posisi tidur.
"WOY! LO DENGERIN GUE NGGAK, SIH?!"
Belum sempat layar ponsel Celine kembali menyentuh daun telinga, teriakan Fara di seberang sana kembali terdengar memekakkan.
Celine menghela napas sejenak. Ia berusaha menambah stok kesabaran sebanyak mungkin. "Ada apa, sih, Far? Pagi buta gini udah marah-marah aja."
"GIMANA NGGAK—"
"FAR!" Mendengar bentakan Celine, omelan Fara terhenti seketika. "Nggak usah teriak-teriak kenapa? Gue juga udah denger kali. Sakit kuping gue!"
"Cek Instagram Aldef sekarang. Kalau lo udah tahu apa masalahnya, gue tunggu di markas. Sekarang!"
'Tut!'
Celine menatap heran pada layar ponselnya. Memangnya, ada apa dengan instagram Aldef? Mengapa Fara terdengar sangat marah?
Penasaran, Celine menekan ikon instagram pada ponselnya. Tanpa harus mencari nama Aldef di kolom pencarian, postingan terbaru Aldef muncul di beranda Celine.
Sekarang, gadis itu tahu penyebab kemurkaan Fara di pagi buta ini.
***
Lola mengerjapkan mata perlahan. Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah-celah jendela kamar memintanya bergegas melintasi alam mimpi menuju dunia nyata. Sejenak, Lola merasa asing dengan tempatnya berada sekarang. Tak lama kemudian, ia teringat bahwa semalam tidur di kamar Beby.
Gadis dalam balutan piyama warna kunyit polos itu beranjak dari posisi tidur. Saat menoleh ke samping, Lola baru menyadari bahwa Beby tak ada di sana.
Tangan Lola bergerak meraih ponsel miliknya di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 06.17. Apa Beby selalu bangun pagi seperti ini? pikir Lola.
Lola bangkit dari kasur. Meski dilahirkan dengan banyak kekurangan layaknya manusia lain, namun Lola cukup tahu diri untuk membereskan kasur yang ia tiduri. Apalagi, kasur itu bukan milik Lola.
Setelah selesai, Lola beranjak keluar kamar. Masa bodoh dengan muka bantal dan segala kejelekan yang membingkai mukanya. Tapi, Lola melupakan satu hal.
"LO?! NGAPAIN LO DI SINI?!" teriak Lola histeris saat melihat seorang lelaki dalam balutan hoodie biru tua keluar dari kamar sebelah. Tangan Lola refleks memeluk tubuhnya sendiri. "LO PASTI MAU MACEM-MACEM SAMA GUE, YA?! NGAKU LO!"
***
Miko merasa bangun terlalu pagi hari ini. Pasalnya, Miko baru ada kelas pukul 11.00 siang nanti. Niat hati ingin kembali tidur, namun Miko tak lagi mampu menjangkau dunia mimpi.
Akhirnya, lelaki itu memutuskan untuk bangun. Miko melangkah gontai menuju pintu kamar. Diraihnya sebuah hoodie biru tua yang sejak kemarin tergantung di sana. Setelah memastikan hoodie itu membalut tubuhnya, Miko memutuskan untuk keluar kamar.
Belum sempat kembali menutup pintu, manik mata Miko terpaku pada seorang gadis cantik yang keluar dari kamar sebelah. Rambut hitam panjang bergelombang yang sedikit acak-acakan, muka bantal khas bangun tidur, serta bibir mungil warna merah ranum, memberi kesan cantik natural yang membuat Miko terpesona. Tapi ....
"LO?! NGAPAIN LO DI SINI?!" Teriakan itu bak batu gunung yang menghancurkan imajinasi Miko dalam sekejap. Ia baru ingat, bahwa gadis di hadapannya ini adalah Lola. Si cewek songong pembawa sial.
Melihat seorang lelaki dalam balutan hoodie biru tua keluar dari kamar sebelah. Tangan Lola refleks memeluk tubuhnya sendiri. "LO PASTI MAU MACEM-MACEM SAMA GUE, YA?! NGAKU LO!"
"Ssssstttt!!! Berisik tahu nggak?!" balas Miko sewot. "Ya jelas, lah, gue di sini. Orang gue tinggal di sini."
Ah! Otak lemot Lola lantas mengingat kembali kejadian kemarin. Perlahan, tangannya kembali ke posisi semula.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun, Miko beranjak dari tempat semula usai menutup kembali pintu kamarnya. Kakinya melangkah menuju dapur. Miko mengambil piring, sendok, serta roti tawar lengkap dengan selai strawberry. Kemudian, lelaki itu membawa semua alat perangnya menuju meja makan.
"Beby mana?"
Miko baru sadar, bahwa Lola mengekorinya sejak tadi. Tanpa menatap Lola sedikitpun, Miko menarik salah satu kursi dan duduk di sana. "Ya, mana gue tahu. Lagi pacaran kali."
Melihat roti tawar dan selai strawberry di atas meja, Lola mengambil posisi di hadapan Miko. Roti dan selai itu memang bukan makanan favorit Lola, tapi tampangnya cukup menggugah selera. Lola meneguk ludahnya sendiri saat melihat Miko melahap roti berisi selai di tangannya.
Miko yang tersadar akan cara Lola menatapnya pun diam-diam tertawa pelan. "Ngapain lo lihatin gue? Naksir?"
"Idih! Siapa juga yang lihatin lo? Amit-amit!"
Miko tersenyum miring. Ia mengulurkan roti di tangannya yang tinggal setengah. "Mau?"
Dengan cepat, Lola mengangguk.
"Nggak," pungkas Miko seraya melahap kembali roti miliknya.
Respon Miko itu lantas membuat Lola cemberut. Gadis itu melipat kedua lengan, lalu meletakkan kepala di sana. Tatapannya tak beralih pada roti dan selai di dekat Miko.
Lagi-lagi, tanpa sadar, seulas senyum manis hinggap di bibir Miko. Ekspresi gadis di hadapannya itu sungguh menggemaskan.
Eh? Apa? Idihhh!!! Amit-amit!
Miko menggelengkan kepala kuat-kuat. Mengenyah berbagai pikiran gila dalam otaknya. Usai roti di tangannya tandas, Miko beranjak dari posisinya.
Melihat Miko pergi, Lola pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Gadis itu langsung menarik roti dan selai agar lebih dekat padanya.
"Jangan berantakan!"
"Thank's, Miki!"
***
Beby mengusap peluh yang membanjiri pelipisnya seraya mengatur napas. Beby rasa, cukup untuk membakar kalori hari ini. Tangannya bergerak meraih botol air mineral berukuran tanggung di samping treadmill, lalu meneguk isinya hingga tersisa setengah.
Merasa rambutnya berantakan, Beby melepas pita hitam yang semula mengikat rambutnya. Tepat saat itu, sosok Aldef tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Ngapain?" tanya Beby seraya tetap melanjutkan aktivitas menguncir rambut.
Aldef tersenyum lebar sambil menggeleng cepat. "Nggak. Nggak apa-apa."
Beby memicingkan mata. Menatap Aldef dengan sarat curiga. "Aneh banget."
"Udah selesai, kan? Yuk, cabut!"
Tanpa menunggu jawaban dari Beby, Aldef meraih pergelangan tangan gadis itu, lalu membawanya menjauh dari gedung gym. Beby yang merasa ada yang tidak beres pun menoleh ke belakang.
"Jangan noleh!" seru Aldef dengan tempo langkah yang semakin cepat.
"Kenapa, sih, Al?"
Aldef tak menjawab. Lelaki itu terus melangkah hingga mereka memasuki lift.
__ADS_1
"Tadi ada cowok yang lihatin lo. Mangkanya langsung gue halangi," ucap Aldef.
"Ya, terus? Masalahnya apa?"
Aldef menatap Beby lamat-lamat. Lelaki itu sungguh heran, pacarnya ini memang polos atau bagaimana?
"Bahaya, dong, Sky."
"Bahaya kenapa?"
"Masalahnya, lo cantik banget kalau lagi ngelepas kuncir rambut. Bahaya!"
Beby tertawa renyah. "Baru kali ini lo bilang gue cantik."
Aldef menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Entah mengapa, Aldef mendadak salah tingkah. "Emang iya?"
"Iya. Ngomong-ngomong, Al, kenapa lo minta gue jadi pacar lo?"
"Karena lo Beby. Beby Skyla Amanda."
'Ting!'
Pintu lift terbuka. Aldef bergegas melangkah keluar. Meninggalkan Beby dan otaknya yang masih berusaha mencerna maksud di balik kata-kata Aldef.
"Itu aja?" tanya Beby seraya berlari kecil, mensejajari langkah Aldef.
"Iya. Itu aja."
"Nggak ada alasan lain?"
"Ada."
"Apa?"
Keduanya berhenti melangkah tepat di depan pintu unit apartemen mereka masing-masing. Beby menatap penasaran ke arah Aldef. Sementara Aldef malah tersenyum jahil.
"Pertama, karena lo Beby. Kedua, karena lo Beby. Dan ketiga, karena lo Beby Skyla Amanda."
"Gue nggak ngerti, Al."
Aldef mencubit pipi Beby dengan gemas. "Gemes banget, sih, pacar gue!"
"Aldef! Serius, ih!"
Aldef terbahak-bahak. "Gue nggak mau cari-cari alasan kenapa gue jatuh cinta sama lo. Karena ketika alasan itu hilang nanti, gue bisa jadi ninggalin lo. Dan gue nggak mau hal itu terjadi."
"Paham, Sayang?"
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️