ALDEBY

ALDEBY
|43.| Kecuali kalau ....


__ADS_3

"Al, besok lo ikut ke lokasi syuting nggak?" Beby memulai obrolan setelah lima menit mereka meninggalkan rumah orang tua Aldef.


"Besok gue ada kelas sampai sore. Kayaknya nggak dulu, deh." Aldef yang semula fokus pada jalanan di hadapannya, menoleh sejenak ke arah Beby. "Kenapa emang?"


"Ya ... nggak apa-apa, sih."


"Beneran?"


"Iya."


"Besok mulai jam berapa emang?"


"Kata Fahri, sih, jam sembilan pagi. Lokasinya dekat FS."


"Lho? Emang lo nggak ada kelas?"


"Ada. Sore."


"Nggak bisa ketemu, dong, kita."


Beby terkekeh pelan. "Please, deh, Al. Rumah kita aja hadap-hadapan. Bisa lo ke apartemen gue, atau sebaliknya, right?"


"Iya juga, sih. Ngomong-ngomong, lo belum pernah masuk ke apartemen gue, ya?"


Beby mengangguk. "Lo nggak pernah ngajak, sih."


Aldef tertawa. "Besok, deh. Sebelum lo berangkat ke lokasi, gimana?"


"Boleh. Jam berapa?"


"Rencananya, mau nge-gym dulu jam enam."


"Ikut!!!"


"Oke. Jam enam nge-gym, setelah itu kita house tour apartemen gue."


"Bukannya lo ada kelas pagi?"


"Jam delapan."


Beby manggut-manggut. Jujur, ia ingin sekali hari pertama syuting ada Aldef di sampingnya. Tapi, Beby pun harus menyadari bahwa dunia Aldef bukan hanya tentang dirinya.


"Ngomong-ngomong, Sky. Gue mau nanya sesuatu, dong."


"Apa?" Beby menatap penasaran ke arah Aldef.


"Apa yang bikin lo yakin nerima gue jadi pacar lo?"


Indra pengelihatan Beby beralih menatap lurus ke depan. Pikirannya lantas melayang jauh pada saat-saat di mana jantungnya yang berdetak lebih cepat di dekat Aldef.


"Karena gue yakin sama lo. Gue percaya, lo memang orang yang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan luka gue. Ya, meskipun awalnya gue ragu, tapi cara lo natap gue, cara lo nyentuh gue, dan cara lo memperlakukan gue, semua itu terasa spesial, Al."


"Lo nggak jadiin gue pelampiasan karena nggak bisa balik sama Arka, kan, Sky?"


Mungkin, jika perempuan lain ada di posisi Beby saat ini, perempuan itu akan marah. Pertanyaan Aldef yang secara terang-terangan mengandung fitnah dapat dipastikan menyinggung hati sensitif seorang perempuan.


Tapi, Beby menanggapinya dengan cara berbeda. Alih-alih kesal atau marah, gadis itu tersenyum lebar.


"Kalau dari awal tujuan gue nerima lo cuma buat pelampiasan, gue nggak akan cerita tentang masa lalu gue ke lo, Al. Apalagi kejadian yang bikin gue depresi. Buat nginget lagi aja, rasanya gue nggak sanggup."


Aldef menepikan mobilnya. Masa bodoh dengan Miko yang sedang menunggu. Deeptalk bersama Beby kali ini terasa lebih penting.


Mendengar semua alasan Beby, Aldef jadi merasa seperti orang paling berdosa sedunia. Bagaimana bisa ia masih memikirkan Celine saat ada Beby yang menaruh kepercayaan begitu besar padanya?


"Kenapa lihatin gue gitu?" tanya Beby, sebab Aldef yang hanya diam dengan kedua mata menatap lekat ke arahnya.

__ADS_1


"Lo percaya sama gue, kan, Sky?"


"Apa, sih, Al? Gue nggak ngerti."


"Apapun yang terjadi nanti, tolong jangan tinggalin gue, ya."


Beby tersenyum tulus. "Gue nggak akan ninggalin lo. Kecuali ...."


"Kecuali?"


"Kecuali kalau lo melakukan hal-hal yang memicu trauma patah hati gue balik."


"Contohnya?"


***


Lola menekan tombol bel di samping pintu berplakat 226 yang merupakan apartemen Beby. Tadi, Lola sudah mengirim pesan pada sahabatnya itu. Dan dari yang Beby bilang lewat chat, di dalam apartemen ini ada kakak lelaki Beby. Beby pun sudah memberitahu sang kakak bahwa akan ada temannya bernama Lola yang akan menginap di sana malam ini.


Hampir semenit menunggu, pintu apartemen Beby terbuka. Dengan senyum merekah, Lola berkata, "Hai, Kak. Saya Lol—"


"Ohhh ... jadi lo yang namanya Lola?"


Kedua mata Lola melebar saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya. "Lo?! Lo ngapain di sini?!"


Miko tersenyum miring. "Menurut lo?"


Lola terdiam sejenak. Otaknya yang lemot berusaha sebisa mungkin untuk mencerna apa yang tengah terjadi. Tadi, Beby bilang bahwa ada kakak laki-lakinya di apartemen. Itu berarti ....


"Lo kakaknya Beby?!" teriak Lola yang membuat Miko lantas mengusap-usap daun telinganya.


"Bukan cuma muka, ya, ternyata. Mulut lo juga kayak kunti."


"Hah? Apa lo bilang?!"


'BRAK!'


"WOY, MIKI! GUE MAU MASUK!"


"NGGAK USAH! LO TUNGGU BEBY DATANG DI LUAR AJA!"


Lola menghentakkan kakinya kesal. Mengapa hari ini kesialan bertubi-tubi menimpanya?!


Gadis dengan wajah tertekuk itu meraih ponsel dari dalam sling bag miliknya. Dengan cepat, ia mendial nomor Beby.


"Lo masih lama?" tanya Lola begitu terhubung dengan Beby di seberang sana.


"Udah deket, sih. Paling lima menit lagi."


"Buruan!"


"Emang kenapa?"


"Ya, buruan pokoknya. Nggak pakai lama. Gue tunggu."


"Dasar aneh lo."


Lola menutup telepon sepihak. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Dengan sabar, Lola menunggu kedatangan Beby.


Dan memang benar, lima menit kemudian, bola mata Lola menangkap sosok Beby dan Aldef yang keluar dari lift.


"Ngapain lo berdiri di sini?" tanya Beby seraya menatap aneh ke arah Lola.


"Sky, aku masuk dulu, ya."


Beby menoleh ke arah Miko. Gadis itu mengangguk singkat seraya tersenyum manis ke arah sang pacar.

__ADS_1


'Cup!'


Tanpa aba-aba, Aldef mencium puncak kepala Beby. Membuat gadis itu terpaku barang sesaat.


"Good night, Sky."


"Good night, Al," balas Beby seraya tersenyum canggung.


"Gue duluan, Lol," kata Aldef sembari menatap Lola. Lola pun mengangguk sebagai jawaban.


Sepeninggalan Aldef, Lola menyenggol lengan Beby. "Seneng banget dapet ciuman mesra dari pacar," goda Lola.


"Apaan, sih?" balas Beby sok cuek. Gadis itu lalu mengeluarkan kartu akses dan membuka pintu apartemennya.


"Assalamualaikum," ucap Beby.


"Waalaikumsalam." Terdengar suara Miko dari ruang tengah. Mendengar suara Beby, pria itu bergegas meninggalkan tempat semula. Manik matanya sempat bertemu dengan bola mata Lola, sebelum akhirnya Miko memutus aksi saling tatap di antara mereka.


"Kak, kenalin ini Lola—"


Belum sempat Beby menyelesaikan kalimatnya, Miko menyela,"Udah tahu." Pria itu lantas beranjak menuju kamarnya.


"Aneh banget, sih," gumam Beby.


"Tahu, tuh!"


Beby menoleh cepat ke arah Lola dengan kedua alis bertaut. "Kalian udah saling kenal?"


"Nggak," sahut Lola cepat.


"Tapi, kok ...."


"Udah. Kita ke kamar lo aja. Gue udah siapin camilan. Ppalii!" (Cepat!)


***


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Kantuk pun telah lama menggelayuti pelupuk mata Aldef. Namun, segala cabang dalam pikirannya seolah tak sudi mengizinkan Aldef berkelana di alam mimpi.


Entah sudah berapa lama pria berpakaian kaus hitam lengan panjang itu berdiam diri di sofa panjang dalam kamarnya. Kedua bola mata Aldef dengan setia menatap lurus ke depan. Memandang gemerlap lampu kota dengan sarat menerawang, dari dinding apartemennya yang berbahan kaca.


Sesekali, tatapan Aldef beralih pada buku bersampul biru langit dalam genggamannya. Iya. Buku itu. Buku jurnal milik Beby yang hilang 2 tahun lalu.


Aldef-lah pelakunya.


Di satu sisi, Aldef terbayang akan wajah melas Celine saat gadis itu meminta bantuannya. Tapi di sisi lain, gendang telinga Aldef terngiang akan ucapan Beby.


"Kecuali kalau lo selingkuh sama mantan."


Aldef mengembuskan napas berat. Tangannya bergerak meraih ponsel yang tergeletak di permukaan sofa. Lalu, jemari Aldef menekan ikon galeri.


Senyumnya merekah begitu indra pengelihatan Aldef melihat foto-foto Beby di sana.


***


Celine terbangun sebab ponselnya yang tiba-tiba berdering. Mata yang masih sangat mengantuk ia paksa terbuka. Nama Fara terpapar di sana. Dengan sangat terpaksa, Celine menekan tombol answer.


"Kenapa, Far?"


"SATU TUGAS AJA NGGAK BECUS LO, YA!"


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2