ALDEBY

ALDEBY
|74.| Milik Aldef


__ADS_3

Senyuman hangat dari pemilik mata hitam di depan sana menyambut kehadiran Beby. Berkat obrolannya bersama Arka semalam, gadis itu jadi lebih berlapang dada atas takdir yang telah Sang Pencipta tentukan.


"Hai, Ar. Apa kabar?"


Arka tertawa. "Nggak ada pertanyaan lain, ya?"


"Ada." Beby duduk di kursi samping kiri Arka usai meletakkan buah-buahan yang tadi ia beli sebelum kemari. "Gwenchanna?"


"Harusnya pertanyaan itu buat kamu, By."


Kedua sudut bibir Beby menukik ke atas. "Karena kamu, Ar. Aku baik-baik aja sekarang."


"Syukurlah kalau gitu."


Bola mata Beby mengarah pada nakas di samping kiri Arka. Di sana, terdapat piring berisi apel yang tersisa setengah. Masalahnya buka di sana, tetapi pisau yang tergeletak di samping piring.


Melihat hal itu, Arka lantas mengambil pisau di sana dan memasukkannya ke dalam laci. Beby yang melihat hal itu pun melayangkan tatapan heran pada Arka.


"Kamu tahu?" tanya Beby.


Arka tersenyum kecil sembari mengangguk.


"Tahu dari mana?"


"Apa, sih, yang aku nggak tahu tentang kamu, By."


"Soal orang tuaku yang kecelakaan pesawat, kamu juga tahu dari mana?"


"Kalau soal itu ... emang penting, ya, aku tahu dari mana?"


"Nggak juga, sih." Jeda sejenak. "Ada yang lebih penting."


"Oh, ya?"


"Soal Putri."


Arka lantas terdiam. Ia pikir, hubungannya dengan Beby jauh lebih baik sekarang. Rupanya, rasa sakit yang Arka torehkan masih membekas di hati Beby.


"Kalau soal itu, aku minta maaf."


"Jadi, bener?"


Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Arka. Lelaki itu tak menyangka, bahwa dampak dari sandiwara malam itu sangat menyakitkan. "Iya."


"Bener kalau semua itu cuma sandiwara?"


Arka yang semula tak berani menatap manik mata Beby, kini melayangkan tatapan terkejut pada gadis itu. Di saat yang sama, memori Beby  terlempar kembali pada kejadian beberapa menit lalu.


Seseorang menyentuh bahu kanan Beby dari belakang, membuat gadis itu lantas menoleh.


"Putri?"


"Hai." Putri tersenyum ramah. "Ngapain ke sini?"


Beby diam sejenak. Haruskah ia jujur bahwa kedatangannya kemari untuk menemui Arka?


"By?"


"Ah. Iya. Gue mau minta izin sama lo."


Kedua alis Putri bertaut heran. "Minta izin? Sama gue? Buat apa?"


"Buat ketemu Arka."


"Ohhh ... jadi, lo udah tahu kalau Arka sakit?"


Beby mengangguk.


"Terus, kenapa minta izin sama gue?"


"Karena lo pacarnya?"


Gadis berpakaian serba putih di hadapan Beby itu lantas terbahak. "Arka belum kasih tahu lo?"

__ADS_1


Sekarang, Beby yang dibuat bingung dengan maksud pertanyaan Putri.


"Kasih tahu apa?"


Telapak tangan Putri mendarat dengan mantap di bahu kanan Beby. Netranya menatap Beby lamat-lamat. "By, dengerin, ya. Gue sama Arka, nggak ada hubungan apa-apa."


"Ma-maksudnya?"


"Malam itu, Arka minta bantuan ke gue buat jadi pacar pura-pura dia. Karena dia butuh alasan untuk mutusin lo. Dan Arka mau, lo benci dia. Arka nggak mau lo sedih karena penyakitnya."


Rentetan kalimat itu layaknya tumpahan lem yang mengenai mulut Beby. Semua ini terlalu tiba-tiba untuknya. Jadi, selama ini Arka tak pernah selingkuh? Dan alasan sebenarnya mengapa Arka terus menghindar adalah karena lekaki itu tak ingin Beby tahu soal penyakitnya?


"Tapi, kalau soal gue cinta pertama Arka, itu benar," lanjut Putri. "Ya udah. Sok atuh ketemu Arka."


"Kamu ... tahu dari mana?" tanya Arka, membuat Beby kembali ke masa kini. "Ah! Pasti Putri."


"Kenapa, Ar? Kenapa kamu nggak jujur dari awal? Kenapa kamu nggak cerita ke aku?"


"Sssttt!" Arka tak kuasa menahan refleks tangannya untuk mengusap cairan bening yang membasahi pipi Beby. "Maaf, By. Harusnya kamu nggak pernah tahu sampai kapanpun. Maafin mamaku yang udah cerita ke kamu. Maafin Putri yang udah jujur ke kamu."


"Ar ...."


"Aku nggak punya banyak waktu, By. Aku nggak bisa terus jagain kamu. Mangkanya aku cari cara biar kamu bisa lepas dari aku."


"Kamu bisa sembuh, Ar."


"Kata dokter, waktuku nggak lebih dari enam bulan."


"Ar." Beby menyentuh punggung tangan Arka yang tergeletak di atas brankar. "Kamu calon dokter. Kamu tahu sendiri kalau dokter bukan Tuhan, 'kan?"


"Aku tahu, By. Tapi, aku juga nggak mau terlalu banyak berharap."


"Nggak bisa aku cukup jadi harapan buat kamu? Nggak bisa aku yang jadi motivasi kamu untuk tetap hidup?"


"Kamu selalu jadi motivasi aku, By."


"Itu berarti, kamu harus berencana sembuh, Ar."


"By." Arka mengambil alih jemari Beby yang semula menumpu punggung tangannya. "Cukup ingat semua kata-kata motivasi yang bikin kamu semangat. Cukup kamu hidup bahagia. Jangan biarin rasa sayang kamu buat aku muncul lagi."


Hati Beby, sudah benar-benar menjadi milik Aldef.


***


Aldef berniat mengajak Beby melakukan aktivitas pagi yang biasa mereka lakukan bersama: gym. Tapi, lelaki itu tak mendapati keberadaan sang pacar di mana pun. Informasi yang Aldef dapat dari Miko, Beby pergi sejak pukul 06.00 tadi.


Aldef mencoba menghubungi Beby, namun tak ada jawaban dari gadis itu. Lokasi yang terlintas dalam benak Aldef hanya kampus dan FS Agency. Karena hari ini Aldef ada jadwal kuliah, ia memutuskan untuk menemui Beby nanti.


Pukul 13.00, Aldef keluar dari kelas. Indra pengelihatannya menangkap keberadaan Kiran yang juga baru keluar kelas.


"Kiran!"


Mendengar namanya dipanggil, Kiran menoleh. "Apa?"


"Lo lihat Beby nggak?" tanya Aldef sesaat setelah berdiri tepat di hadapan Kiran.


"Ya mana gue tahu. Kan, lo pacarnya," jawab Kiran sewot.


"Oh, oke. Thank's."


***


Meninggalkan Kiran, Aldef bergegas menuju area parkir mobil. Laki-laki itu memacu mobilnya menuju FS Agency. Kata Fahri, Beby yang harusnya ada jadwal pemotretan sore ini meminta izin. Kini, Aldef tak tahu lagi harus mencari Beby ke mana.


Baru saja menduduki permukaan kursi ruang editing yang biasa Aldef singgahi, sosok Celine muncul di ambang pintu.


"Hai, Al."


"Hai." Aldef tersenyum kecil. "Udah mulai kerja lagi?"


"Iya. Ngomong-ngomong, kenapa muka kamu lesu gitu? Laper?"


Aldef menggeleng pelan. "Nyari Beby nggak ketemu-ketemu."

__ADS_1


"Emang dia ke mana?"


"Kata Fahri, Beby izin. Nggak tahu ke mana. Aku coba telepon nggak diangkat."


"Coba lagi aja."


Aldef berpikir sejenak. Tak ada salahnya ia mengikuti saran Celine. Maka dari itu, Aldef mendial nomor Beby. Dan benar, pada nada sambung keempat, Beby mengangkat telepon Aldef.


"Hallo, Sky? Lo di mana?"


"Lomera Cafe."


Saat itu juga, Aldef bergegas menuju Lomera Cafe.


***


Terkadang, berprasangka buruk lebih baik, daripada merasakan sakit saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Sensasi menyengat yang dulu hanya tercipta oleh sentuhanmu, sialnya kini telah diambil orang lain.


B.S.A


"Jadi, selama ini lo salah sangka?"


Beby menutup buku bersampul biru langit miliknya. Gadis itu menyeruput milkshake taro di hadapannya sembari mengangguk, memberi jawaban 'iya' secara non-verbal pada Lola.


"Gila, ya, By. Terus, rencana lo gimana?"


"Rencana apaan?"


"Lo mau balikan sama Arka?"


"Neo michyeosseo?!" (Kamu gila?!) sungut Beby. "Terus Aldef mau dikemanain kalau gue balikan sama Arka?"


"Ya, lo putus dulu sama Aldef. Beres."


"Mulut lo emang perlu disekolahin, ya, Lol."


"Gue serius, By." Lola menatap Beby lamat-lamat. Sangat jarang bagi seorang Lola menatap lawan bicaranya seserius ini. "Lagian, lo sendiri yang ngeluh ke gue gimana Aldef belakangan ini. Kiran juga bilang, kan, kalau dia sering lihat Aldef jalan bareng Celine?"


"Itu karena Aldef mau bantuin Celine."


"By, buka mata lo! Aldef itu perlu dikasih pelajaran. Bahkan kemarin, lo lihat sendiri, 'kan? Bisa-bisanya dia lupa minuman favorit lo yang semua orang tahu!"


"Lagi pada ngomongin apa?"


Suara bariton yang menyela pembicaraan Beby dan Lola itu membuat mereka kompak menoleh. Sosok Aldef dalam balutan kaus biru dongker dengan lengan dilipat mencapai siku mengambil posisi di samping kiri Beby.


"Gue cabut dulu," ucap Lola yang lantas beranjak dari posisinya.


"Udah makan?" tanya Aldef pada sang pacar.


"Belum. Baru minum doang."


"Ngomong-ngomong, lo ke mana seharian ini?"


"Ada urusan."


"Urusan apa?"


Belum sempat Beby menjawab, ponselnya yang tergeletak di atas meja berdering. Nama Miko yang terpampang di layar ponsel membuat Beby lantas menekan tombol answer.


"Hallo, Kak?"


"By ...."


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2