ALDEBY

ALDEBY
|18.| Cerita


__ADS_3

"By, gue mau ngomong serius, deh."


"Hm?" Tanpa berniat mengubah posisi atau bahkan membuka mata, Beby menanggapi Aldef dengan bergumam.


"Lo masih sayang sama mantan lo?"


Pertanyaan itu membuat Beby lantas membuka mata. Menatap Aldef dengan kening berkerut heran. "Maksud lo?"


"Ya ... lo masih sayang atau nggak sama mantan lo?" Aldef mengulang pertanyaannya dengan santai.


"Arka maksudnya?"


Aldef menaikkan kedua bahu. "Kalau mantan lo namanya Arka, berarti ya memang dia."


Beby menatap Aldef lamat-lamat. Tatapannya menyelami mata hitam Aldef lebih dalam, berusaha mencari percikan sebuah canda di dalamnya. "Ini lo nanya serius?"


Aldef memutar bola mata malas. "Gue, kan, udah bilang tadi."


"Harus banget gue jawab?"


"Harus."


"Emang kenapa lo pengin tahu?"


"Jawab dulu pertanyaan gue. Lo masih sayang sama mantan lo? Siapa tadi namanya?"


"Arka."


"Nah! Iya. Lo masih sayang sama dia?"


Beby memalingkan muka. Menatap lurus ke depan dengan sarat menerawang. Seulas senyum getir terbit di bibirnya.


"Arka. Bohong kalau gue udah sepenuhnya move on dari dia."


Oke. Satu kalimat itu sudah bagaikan tombak yang menghunus tepat ke inti jantung Aldef.


Kembali ke Beby.


"Gimanapun juga, Arka itu cinta pertama gue. Dia yang menyembuhkan luka di hati dan badan gue. Nggak cuma menyembuhkan, Arka juga memulihkan bekas lukanya." Beby tertawa getir. "Tapi, dia juga yang bikin luka baru di hidup gue."


"Arka yang menyembuhkan luka hati lo?" tanya Aldef. "Maksudnya, Arka bantu lo move on dari patah hati yang sebelumnya? Bukannya tadi lo bilang Arka cinta pertama lo?"


Beby menoleh. Membalas tatapan penasaran Aldef dengan seulas senyum yang memabukkan. "Selalu ada sebab dan akibat. Lo pikir, ngapain gue pindah jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta? Jauh dari orang tua dan kakak-kakak gue?"


"Cari suasana baru, mungkin?"


"Gue emang ekstrovert, tapi gue bukan anak yang suka jauh dari orang tua. Karena, orang tua gue adalah orang tua terbaik di dunia."


"Terus, apa alasan lo pindah ke Jakarta?"


Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Mengingat kembali masa-masa itu, sama saja menyayat kembali luka yang hampir mengering.


"Gue pernah mengalami depresi."


"What?! Depresi?! Why?! Kenapa?!"


Beby berdecak kesal. "Dengerin dulu mangkanya kalau orang lagi cerita!"


"Oke." Aldef membenarkan posisi duduknya. Siap memasang telinga dengan cerita masa lalu Beby. "Lanjut."


"Iya. Jadi, gue pernah depresi gara-gara something. Lo ingat cowok dan cewek yang tadi sama gue di parkiran FS?"


Aldef mengangguk. Tentu saja ia ingat dua manusia menyebalkan itu.


"Mereka ada hubungannya," lanjut Beby. "Tapi sorry, untuk masalah apa yang menyebabkan gue depresi, gue belum bisa cerita sama lo."


"Gue paham, kok," sahut Aldef sambil tersenyum hangat. "Tapi kalau suatu hari nanti lo merasa gue pantas untuk tahu soal masa lalu lo lebih jauh, jangan sungkan buat cerita, ya. Gue selalu siap kapanpun itu."

__ADS_1


Bulan sabit dengan seberkas sinar hinggap di bibir Beby. Siapapun tahu, Aldef mengutarakan kata-kata tadi dengan segenap ketulusan yang ia punya.


"Putri beruntung banget dicintai sebegitunya sama Arka."


Sebuah nama yang baru keluar dari mulut Beby membuat Aldef lantas menegakkan badan. "Siapa tadi lo bilang?"


"Arka?"


Aldef menggeleng cepat. "Bukan. Nama ceweknya."


"Putri."


"Putri?"


Beby mengangguk.


Pikiran Aldef seolah melayang jauh. Menebak-nebak apakah Putri yang Beby maksud dan Putri yang ia kenal adalah orang yang sama?


"Kenapa, Al?" tanya Beby, penasaran.


"Nggak." Kedua sudut bibir Aldef membentuk seulas senyum. "Nggak apa-apa."


Yang namanya Putri di Indonesia, bukan cuma satu atau dua orang, 'kan? pikir Aldef.


Tentu saja. Putri, nama sejuta umat.


"Sekarang, giliran gue cerita, boleh?" tanya Aldef setelah beberapa saat keduanya diraup keheningan.


"Of course," jawab Beby antusias.


Kini, giliran Aldef yang menatap lurus ke depan. Menerawang pada pintu besi seolah-olah menggambarkan kisah masa lalunya di sana.


"Kata orang-orang, sifat gue ekstrovert sejak kecil. Sebenarnya, gue nggak peduli. Mau itu ekstrovert atau introvet. Yang jelas, bokap selalu bilang 'berteman sama siapa aja, karena kamu nggak tahu, di masa depan, teman mana yang kamu butuhkan. Tolong siapa saja. Meskipun dia orang yang paling kamu benci, tapi sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain."


"Bener banget!" sahut Beby. "Nyokap gue juga selalu bilang gitu."


"Tapi sayangnya, bokap gue pergi begitu cepat." Aldef tertawa getir. Helaan napas berat terdengar dari saluran pernapasannya. "Bokap meninggal lima belas tahun lalu. Waktu itu, umur gue baru enam tahun. Gue tahu, nggak ada yang bisa menghindar dari kematian. Untung ada nyokap yang selalu ada buat gue saat itu. Tapi ..., nyokap juga mutusin buat nikah lagi lima tahun kemudian. Gue yang tadinya anak tunggal, jadi punya ka ... kak."


"By ...." Aldef mengguncang pelan bahu kiri Beby. Dengan gerakan yang sangat pelan itu, mampu membuat kepala Beby nyaris terantuk lantai. Iya, nyaris. Jika kedua tangan Aldef tak sigap menangkapnya. "Bisa-bisanya tidur waktu gue cerita."


Aldef menyandarkan kepala Beby. Dengan begini, indra pengelihatannya dapat leluasa menjelajahi tiap inci wajah Beby.


Melihat gadis di hadapannya terpejam lelap, membentuk senyuman manis di bibir Aldef. Jemarinya menyingkirkan anak rambut Beby yang menutupi kelopak mata. Aldef seolah terhipnotis untuk tak mengalihkan pandangan dari wajah cantik itu.


"BEBY?!"


Teriakan dengan suara bariton itu lantas membuat Aldef terkesiap. Beby pun terbangun dari tidurnya. Ternyata, pintu lift sudah terbuka. Listrik yang semula padam pun telah kembali nyala.


"Kak Miko?" Beby berdiri, mensejajarkan diri dengan sang kakak yang telah berada dalam satu ruangan bersama dirinya dan Aldef.


Miko menekan lantai 20 sebelum menatap Aldef dan Beby secara bergilir. Lalu, manik matanya terhenti pada Beby. "Lo hutang penjelasan sama gue."


***


Putri memasuki ruang rawat berplakat VVIP 004 sembari menenteng tas kresek putih di tangan kanannya.


"Putri?" Seseorang yang tengah duduk bersandar dengan buku dalam genggaman sedikit terkejut melihat kedatangan Putri. "Lo tahu dari mana gue di sini?"


Putri meletakkan kresek putih berisi martabak di atas nakas. Ia menarik kursi di samping ranjang, lalu duduk manis di sana. "Dari anak-anak di UGD. Katanya tadi lo pingsan."


Arka menghela napas sejenak. "Terus, ngapain lo ke sini? Ganggu tahu nggak."


"Orang tua lo nggak ke sini?"


"Kepo banget, sih, lo!"


"Pacar lo juga nggak ke sini?"

__ADS_1


Sebuah buku yang semula dalam genggaman Arka melayang ke arah Putri. Membuat gadis itu tertawa renyah.


"Niat ngeledek emang lo, ya!" kesal Arka.


"Mau sampai kapan, sih, Ar?" tanya Putri, serius. "Mau sampai kapan lo sembunyikan penyakit lo dari semua orang? It's oke kalau lo nggak mau kasih tahu Beby. Tapi, orang tua lo, Ar! Mereka harus tahu."


Sekali lagi, Arka menghela napas berat. Manik matanya menatap lekat ke arah Putri. "Bukan urusan lo."


Putri menggelengkan kepala. Merasa heran dengan sikap Arka. "Ya udah kalau gitu. Gue pamit. Oh, ya, martabak jangan lupa dimakan. Itu makanan kesukaan lo, 'kan?" Tatapan Putri beralih sejenak pada kresek putih di atas nakas.


Sepeninggalan Putri dari ruang rawatnya, Arka meraih kresek putih berisi martabak yang tadi Putri bawa. Tangannya dengan lihai membuka martabak itu, lalu melahapnya bak orang yang tak diberi makan selama satu tahun.


"Gila! Lama banget gue nggak makan martabak," ucap Arka di sela-sela mulutnya yang terisi penuh.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kantuk pun telah lama menggelayuti pelupuk mata Celine. Namun, gadis berusia 21 tahun itu belum juga terjun ke alam mimpi.


Indra pengelihatan Celine tak beranjak sedikit pun dari wajah pucat Poppy yang tengah terlelap. Pikiran Celine melayang jauh pada percakapannya dengan perempuan bernama Fara beberapa jam lalu.


"Lo benar mantan pacar ... Aldef?"


Kening Celine berkerut heran. "Maaf. Maksud Anda, Aldef siapa, ya?"


"Aldefra Mahardika. Dia mantan pacar lo, 'kan?"


Celine terdiam. Tak tahu harus bereaksi apa. Melihat hal itu, Fara melanjutkan kalimatnya, "Dan lo punya adik yang namanya Poppy, right?"


Siapa orang ini sebenarnya? tanya Celine dalam hati.


"Adik lo sekarang lagi sakit gagal ginjal," lanjut Fara dengan ekspresi yang begitu yakin. "Lo lagi butuh dana, 'kan?"


"Saya nggak kenal siapa Anda," balas Celine. "Dan apa yang terjadi di hidup saya, itu bukan urusan Anda."


Celine balik badan, siap meninggalkan perempuan sok tahu bernama Fara itu. Namun, baru beberapa langkah Celine meninggalkan tempat, suara Fara mengurungkan niatnya.


"Gue bisa bantu lo dapat pekerjaan yang layak," ucap Fara seraya maju beberapa langkah untuk mendekati Celine. "Keluarga gue pendiri Fresh and Star Agency. Kalau lo mau, lo bisa jadi karyawan di sana. Lo bisa minta gaji berapa pun yang lo mau."


Mendengar tawaran itu, pendirian Celine goyah. Siapapun yang berada di posisi Celine, pasti juga akan tergiur dengan penawaran itu. Terlebih, kerjaan yang Fara tawarkan ini halal. Bukan open BO atau semacamnya.


"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Celine.


Fara tersenyum miring. "Manggilnya lo-gue aja. Biar lebih akrab."


"Oke. Jadi, apa yang harus gue lakukan?"


"Lo bisa dapat apa yang lo mau, asal lo balikan sama Aldef."


Kedua alis Celine bertaut, bingung dengan maksud Fara. "Kenapa? Kenapa gue harus balikan sama Aldef?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Celine, Fara mengangkat ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Tak lama kemudian, ponsel Celine berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


"Itu nomor gue. Lo pikirin semua baik-baik. Kalau lo setuju, temui gue di studio Fresh and Star jam sepuluh pagi besok."


Sebenarnya, Celine tak ingin lagi terlibat dengan Aldef. Mengingat bagaimana caranya meninggalkan pria itu dulu. Aldef pasti sangat membencinya sekarang.


Tapi, Celine tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini. Berapa pun gaji yang Celine minta, bukan?


Baik. Celine sudah memikirkan berapa gaji perbulan yang akan ia minta.


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2