ALDEBY

ALDEBY
|34.| Official


__ADS_3

Kala sebuah rasa bernama ragu menelusup ke relung hati, sang akal lantas memutar kembali memori-memori yang mendebarkan hati. Kuakui, masa lalu belum sepenuhnya pergi. Lantas, bisakah kamu membantuku melewati hari-hari yang ragu hingga kita mencapai kata pasti?


B.S.A


Beby menutup buku bersampul biru langit miliknya. Lalu, gadis itu menyandarkan diri ke punggung kursi. Kepalanya menengadah, matanya terpejam rapat, membayangkan tiap momen mendebarkan yang melintas dalam gelap. Kedua sudut bibir Beby menukik ke atas tanpa ia sadari. Dua detik berikutnya, sosok Arka dengan muka pucat turut melintas.


Beby kembali membuka mata. Gadis dalam balutan piyama motif garis-garis tegak warna hitam dengan background putih itu kembali menegakkan badan. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.12. Berulang kali Beby mencoba memejamkan mata dan terjun ke alam mimpinya, namun kebimbangan akan dunia nyata tak mengizinkannya.


Jika dipikir-pikir, mungkin sedikit hati Beby masih tertahan oleh manusia bernama Arka. Tapi, pria itu sendiri yang mengatakan bahwa tak ada lagi kemungkinan mereka untuk bersama, 'kan? Lalu, untuk apalagi Beby ragu?


Baiklah. Beby sudah mengambil keputusan.


Gadis berambut panjang sepinggang itu beranjak dari kursinya. Ia meraih hoodie merah marun pemberian Aldef yang tergantung di belakang pintu kamar. Lalu, Beby keluar. Gadis itu akan pergi ke rooftop. Entahlah, Beby ingin sekali ke sana meski sadar waktu telah menunjukkan tengah malam.


Begitu keluar kamar, Beby berjalan dengan langkah mengendap-endap. Lampu ruang tengah dan ruang tamu yang padam menunjukkan bahwa Miko sudah mendekam di kamarnya. Hanya lampu dapur yang menyala.


Beby keluar dari unit apartemen, menaiki lift, dan sampailah ia di rooftop Apartemen Golden. Dan saat membuka pintu rooftop, manik mata Beby terpaku pada seorang pria yang berdiri menatap lampu-lampu kota.


Perlahan, Beby menghampiri pria itu. Dari belakang, sih, sepertinya Beby kenal.


"Al?"


Sang pria menoleh. Dan benar dugaan Beby, orang itu adalah Aldef.


"Ngapain di sini malem-malem?" tanya Beby lagi, sebab Aldef hanya diam dengan bola mata yang menatapnya lekat.


"Lo sendiri ngapain?" Aldef bertanya balik.


"Lagi pengin aja ke rooftop."


"Ohhh," balas Aldef singkat. Ia kembali mengarahkan pandangan ke depan.


Beby yang awalnya berniat menenangkan diri dengan memandang Jakarta pada malam hari, malah kini menatap Aldef dengan penuh tanda tanda. Siapapun yang melihat bagaimana Aldef sekarang, pasti memiliki keyakinan yang sama dengan Beby, bahwa Aldef sedang tidak baik-baik saja.


"Lo ada masalah, Al?"


"Nggak," jawab Aldef tanpa menoleh.


Terjadi keheningan sekitar 3 menit lamanya. Lalu, Beby kembali bersuara.


"Mumpung kita ketemu di sini dan berdua aja, ada yang mau gue omongin sama lo."


"Ngomong aja."


Bukan. Lelaki yang berada di samping Beby kini sama sekali bukan Aldef. Sebab, Aldef bukanlah tipe orang yang irit kata. Apa Aldef punya kembaran?


Ah! Nggak usah ngaco, deh, By! seru Beby pada dirinya sendiri.


"Soal pernyataan cinta lo waktu itu ...."


Beby sengaja menggantung ucapannya. Ia ingin melihat reaksi Aldef terlebih dahulu. Dan satu kalimat dari Beby itu berhasil membuat Aldef menatap kedua bola matanya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Aldef dengan ekspresi yang tak berubah, datar.


"Gue udah punya jawaban."


****! umpat Aldef dalam hati. Kenapa harus sekarang, sih?!


Tidak. Tidak. Aldef tak berharap Beby menolak. Bagaimanapun, Aldef sungguh-sungguh menyayangi Beby. Tapi, Aldef juga belum berharap Beby menerimanya. Jujur, Aldef butuh waktu untuk menatap hatinya yang kacau akibat kembalinya Celine yang secara tiba-tiba.


"Al?"


"Y-ya?"


"Kok, diem?"


Aldef tersenyum memaksa. Bukan tidak tahu, Beby pasti menyadari ada yang salah dengan dirinya. "Apa? Apa jawaban lo?"


Beby menatap Aldef lekat-lekat. Ia mencari cinta dan keyakinan di balik mata hitam itu. Meski kurang yakin, namun sepertinya Beby menemukan apa yang ia cari.


"Gue terima."


Sekarang, bagaimana Aldef harus bereaksi? Sangat tidak mungkin untuknya bersedih, bukan? Tapi, Aldef juga tak begitu merasa senang. Ah! Plin-plan sekali hatinya ini.


Lagi-lagi, Aldef mengulas senyum terpaksa. "Oke."


Beby semakin tak mengerti. Dari segala respon yang ia bayangkan, hanya itu yang Aldef tunjukkan?


"Berarti sekarang kita ... pacaran?" tanya Beby ragu. Aldef hanya menjawab dengan anggukan dan seulas senyum yang sudah pasti dipaksakan.


Tanpa aba-aba, Beby menghambur ke dalam pelukan Aldef. Dengan begitu, Beby dapat merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat.


Tapi, masih ada yang terasa salah. Sebab Aldef belum membalas pelukannya. Beby masih menunggu. Cukup lama. Hingga Aldef balas memeluknya erat.


"Makasih, Sky. Makasih lo udah mau jadi pacar gue."


Bulan sabit di atas langit seolah berpindah ke bibir Beby. Kini, ia semakin yakin dengan keputusannya.


Sementara itu, Aldef yang masih setia memeluk Beby dengan erat, memejamkan mata rapat-rapat. Menikmati sensasi angin malam yang hilir-mudik di pori-pori wajahnya.


Semoga ini semua yang terbaik, ucap Aldef dalam hati.


***


Hari ini seperti ada semangat baru yang mendorong Beby melewati hari-harinya. Pasalnya, sebuah senyum penuh rasa bangga seolah tak pernah surut dari bibirnya. Manik mata Beby tak henti menatap liontin bintang di lehernya. Sebuah kalung tanda official-nya hubungan Aldef dan Beby.


Kini, Aldef dan Beby tengah berada dalam perjalanan menuju FS Agency.


"Mau makan siang dulu nggak, Sky?"


"Boleh."


"Makan apa?"

__ADS_1


"Uuummm .... " Beby bergumam sembari menata fokus ke samping kiri. Memperhatikan tiap kedai makanan yang ia lewati. "Terserah lo aja."


"Lagi kepengin sesuatu nggak?"


"Spesifik kepengin apa, sih, nggak. Cuma mau makan aja berdua sama pacar gue."


Aldef berdecak pelan. Ia mengerling ke arah Beby. "Ternyata, bucin juga lo, ya."


"Gue kalau udah sayang sama orang, pasti bucin. Cuma, dulu gue disia-siain." Kedua bola mata Beby menatap Aldef lamat-lamat. Aldef yang ditatap sedemikian intens pun tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. "Kali ini, nggak akan lagi, kan, Al?"


Aldef menghentikan mobilnya. Kini, manik matanya bisa fokus menatap Beby. "Gue nggak bisa menjanjikan banyak hal sama lo. Tapi, lo bisa percaya sama gue. Nggak. Setidaknya, lo percaya hati gue cuma punya lo."


Bullshit! teriak sebuah suara di kepala Aldef. Dirinya sendiri saja sulit untuk percaya, bagaimana bisa ia meminta orang lain percaya?


Beby melepas sabuk pengamannya, lalu meleburkan diri ke dalam pelukan Aldef. "Gue percaya, Al. Gue akan selalu percaya sama lo."


***


Reading dilakukan di ruang rapat lantai 2 kantor Fresh and Star Agency. Ini ketiga kalinya Beby menginjakkan kaki di gedung kantor, selama ia menjadi model.


Proses reading sudah berlangsung sekitar 2 jam yang lalu.


Sementara itu, Aldef memutuskan untuk menunggu di ruang editing studio 3. Seperti biasa.


Semuanya aman terkendali. Sampai tiba-tiba seseorang menabrak Aldef saat ia hendak ke kamar mandi.


"Eh. Sorry, sorry," ujar Aldef seraya mengambil beberapa alat make up yang jatuh. "Nggak apa-apa ..., kan?"


Hancur sudah. Dinding tebal yang berusaha Aldef bangun sejak semalam, nyatanya sukses diruntuhkan hanya dengan sekali menatap bola mata itu. Mata Celine.


"Nggak apa-apa," balas Celine sambil tersenyum kecil.


Aldef dapat melihat ada yang aneh dengan gadis itu. Wajahnya sedikit pucat, bibirnya membiru, serta langkah yang sempoyongan.


"Beneran nggak apa-apa?" tanya Aldef khawatir.


"Ng ... nggak."


Celine pun tumbang. Beruntung sebab Aldef sigap menangkap tubuhnya, hingga Celine tak terjatuh ke lantai. Jika sudah begini, tak mungkin Aldef mengabaikannya, bukan? Setidaknya, Aldef harus menolong Celine atas dasar kemanusiaan.


Ya. Hanya atas dasar kemanusiaan.


Hanya itu.


Semoga saja, hanya itu.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2