ALDEBY

ALDEBY
|73.| Are You Okay, By?


__ADS_3

..."Kehilangan adalah sesuatu yang pasti, tapi nggak akan pernah cukup waktu untuk manusia mempersiapkan diri."...


...***...


"Nyokap-bokap gue pasti selamat, kan, Lol?"


Entah sudah berapa kali Beby melontarkan pertanyaan itu. Dan entah sudah berapa kali Lola menghela napas pasrah, lalu menjawab, "Iya, By. Kita berdoa yang terbaik, ya."


Kiran dan Daren telah beranjak dari apartemen Beby sejak dua jam lalu. Kiran diminta pulang oleh tunangannya yang terkenal posesif, sementara Daren sibuk mempersiapkan rencana project terbarunya. Karena Lola satu-satunya yang tak begitu sibuk, ia berinisiatif menemani Beby.


Yang membuat Lola tak habis pikir adalah, sejak hampir empat jam Lola di apartemen Beby, ia tak menemui tanda-tanda keberadaan Aldef.


Masih dalam perjalanan kesabaran Lola untuk menenangkan Beby, pintu kamar gadis itu diketuk dari luar.


"Itu pasti mama," ucap Beby yang lantas beranjak dari kasurnya.


Dengan senyum merekah dan angan akan kehadiran sosok Maya, Beby membuka pintu kamarnya. "Mama—"


Senyum yang semula membingkai bibir Beby, luntur seketika. Ekspektasi pelukan hangat yang ia rindukan, dilebur paksa dengan sosok Aldef yang berdiri di hadapannya.


Lola yang berdiri beberapa langkah di belakang dua sejoli itu mendapati sosok Miko yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Mengerti akan maksud lelaki itu, Lola pun berinisiatif keluar. Memberi ruang pada Aldef dan Beby untuk berbincang.


"Lo kenapa, Sky?" tanya Aldef sesaat setelah menutup pintu kamar Beby. Mereka masih berdiri di depan pintu. Aldef memegang permukaan pipi Beby. "Muka lo pucet gini. Lo sakit?"


"Mama. Papa." Dua kata yang begitu menyayat hati Beby, membuat tetesan air mata kesekian kembali tumpah. Sekeras apapun Beby membangun dinding berupa pikiran positif, tak cukup kuat untuk membendung realita yang begitu pahit.


Aldef tak kuasa melihat bagaimana kalutnya sang pacar. Lelaki itu membawa Beby ke dalam dekapannya. Tangan Aldef bergerak lembut menjalari rambut panjang Beby. Kini, Aldef merasa payah. Bagaimana bisa ia menjadi orang terakhir yang tahu kabar tentang kedua orang tua Beby? Bagaimana bisa ia tak ada di samping Beby saat gadis itu benar membutuhkannya? Yang lebih parah, Aldef malah merayakan kembalinya fungsi indra pengelihatan Celine dengan menghabiskan waktu bersama perempuan itu.


Pintu kamar Beby kembali terbuka. Di sana, Aldef mendapati sosok Miko yang melempar tatapan penuh peringatan padanya. Aldef pun pasrah, ia membiarkan pintu kamar Beby tetap terbuka.


"Mereka pasti baik-baik aja, kan, Al?"


"Semua yang terjadi itu atas izin-Nya, Sky. Jadi, terus berdoa untuk orang tua lo, ya?"


Beby melepas pelukan Aldef. Gadis itu mengukir senyum manis di bibirnya. "Temenin gue makan, ya? Laper."


Aldef terkekeh pelan. "Pas banget berarti, gue bawa makanan favorit lo."


Melihat kresek bening berisi sterofoam dalam genggaman Aldef, senyum Beby kian melebar. Gadis itu menyeret Aldef ke meja makan. Tak lupa memanggil Miko dan Lola.


Detik itu pula, Aldef teringat kejadian beberapa saat lalu. Saat ia bertemu Daren di FS Studio.


"Lo ngapain di sini?" tanya Daren dengan nada bicara yang Aldef tak tahu maknanya.


"Habis berduaan sama mantannya kali," sahut Fahri sewot.


"Lo nggak tahu kabar soal Beby?"

__ADS_1


"Gue tahu, kok," jawab Aldef. "Dia lagi sakit, 'kan? Habis ini gue mau jenguk dia, sekalian pulang."


"Wahhh." Daren berdecak kesal. "Lo beneran nggak tahu ternyata."


"Maksud lo?"


"Lo tahu nggak kenapa Beby sakit? Dia syok karena pesawat yang dinaiki orang tuanya dinyatakan hilang kemarin."


"Eh, serius lo?!" sahut Fahri. "Gue baru tahu beritanya."


"Gue juga baru tahu dari Kiran. Kakaknya Beby cuma ngasih tahu Kiran dan Lola soal itu."


Suara Beby di samping kanan membawa kembali Aldef ke realita.


"Itu apaan, Al?" tanya gadis itu sambil menunjuk kresek lain yang Aldef bawa.


"Oh, ini. Minuman. Buat lo."


"Minuman favorit gue, ya?"


Mendapat anggukan dari Aldef, Beby tersenyum sipu. Gadis itu lantas membuka kresek dan mengeluarkan isinya. Begitu melihat isi di dalam gelas plastik yang Aldef bilang 'minuman favorit Beby', senyum gadis berumur 22 tahun itu lenyap seketika.


Beby, Miko, dan Lola, sama-sama menatap lurus ke arah Aldef. Aldef yang ditatap sedemikian intens pun merasa risih. "Kenapa?"


"Sejak kapan Beby suka kopi?" sarkas Miko.


Sial! umpat Aldef pada dirinya sendiri. Gara-gara sering menghabiskan waktu bersama Celine yang amat-sangat mencintai kopi, Aldef lupa akan minuman favorit Beby.


Malam itu, Aldef dapat merasakan kecepatan angin yang mengombang-ambing hatinya semakin kencang. Antara Beby dan Celine, Aldef tak tahu mana yang hatinya butuhkan.


***


"Tunggu, Al," ujar Lola, sesaat setelah ia dan Aldef keluar dari apartemen Beby. Gadis itu sengaja mengikuti Aldef, karena ada sesuatu yang ingin Lola bicarakan.


"Kenapa?" Aldef yang tangannya sudah menggapai pintu unit apartemennya pun kembali membalikkan badan.


"Bisa kita ngobrol sebentar?"


"Bisa. Mau ngobrol di dalam?"


"Nggak usah. Di sini aja. Sebentar."


"Oke. So, ada apa?"


"Beberapa hari yang lalu, Kiran cerita sama gue. Katanya, dia lihat lo beberapa kali bareng sama Celine. Kiran juga bilang, kalau kalian, tuh, mesra banget. Pertanyaan gue, lo selingkuh dari Beby?"


Aldef tertawa pelan. "Nggak. Gue sama Celine nggak ada hubungan apa-apa. Gue sering bareng Celine itu karena cuma mau bantuin dia aja. Kasihan, adiknya sakit gagal ginjal. Lo tahu, kan, kalau Celine buta? Mangkanya, gue mau bantu mereka. Lo, kan, tahu gue orangnya gimana."

__ADS_1


Lola manggut-manggut, mengerti akan arah pembicaraan Aldef. Tapi, bukan itu jawaban yang ia mau.


"Terus, orang yang suka kopi itu siapa?"


***


Beby menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Pikiran tentang kedua orang tuanya yang hingga detik ini belum ada kabar, serta Aldef yang kian jelas perubahannya, membuat otak Beby terasa seperti jalan raya yang banyak persimpangan tanpa rambu lalu lintas.


Ponsel yang tergeletak di atas nakas membuat bola mata Beby beralih.


Arka.


Nama yang sudah cukup lama tak menampilkan diri di layar ponsel Beby. Tadinya, gadis itu tak berniat melakukan aktivitas apapun hingga alam mimpi mengambil alih dunianya. Namun, alam bawah sadar Beby menggerakkan tangannya untuk mengangkat panggilan dari Arka.


"Assalamualaikum."


Entah mengapa, suara bariton di seberang sana membuat kedua sudut bibir Beby otomatis tertarik ke atas. "Waalaikumsalam."


"Are you okay, By?"


Kalimat itu, selayaknya bom waktu yang meledak dalam hati Beby. Napasnya kembali terasa sesak. Jejak air mata yang belum lama mengering, kembali basah. Beby mengigit bibir bawahnya kuat-kuat agar hujan badai dalam dirinya tak mencuat keluar. Namun, usahanya sia-sia. Tiga kata dari Arka itu sukses meruntuhkan dinding pertahanan Beby.


"By ... nggak apa-apa. Nangis aja. Aku tahu, kamu pasti syok berat. Aku nggak akan janji ke kamu kalau semua bakal baik-baik aja. Aku juga nggak bisa janji kalau orang tua kamu bakal selamat."


Beby tahu itu. Sangat tahu. Tak ada yang pasti sebelum raga kedua orang tuanya ditemukan. Entah itu dalam keadaan bernyawa atau tidak.


"Mungkin, kamu udah bosen denger kalau semua bakal baik-baik aja. Aku bukannya mau jahat atau nakutin kamu. Tapi, kecil kemungkinan orang selamat dalam kecelakaan pesawat. Satu-satunya yang harus kamu lakuin sekarang, ikhlas, By. Pasrahin semua sama Tuhan."


Suara isak tangis Beby kian terdengar memilukan. Di bawah langit-langit kamarnya yang gelap, Beby menangis sejadi-jadinya. Luruh segala emosi yang memuakkan dalam hati Beby. Pelan tapi pasti, gadis itu mendapat rasa ikhlas yang Arka katakan.


"Kamu inget nggak kata-kata aku dulu?"


"Kehilangan adalah sesuatu yang pasti, tapi nggak akan pernah cukup waktu untuk manusia mempersiapkan diri."


Tanpa sepengetahuan Beby, Arka tersenyum di tempatnya berada. "Aku seneng dengernya, By."


"Ar ...."


"Hm?"


"I miss you."


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2