ALDEBY

ALDEBY
|7.| Buku Bersampul Biru Langit


__ADS_3

..."Memang lebih baik mengakhiri hubungan yang sudah jelas-jelas memakan hati, daripada memaksa keadaan dan menyiksa diri sendiri."...


...***...


"Balik dulu, Ri!"


"Yoi, By! Hati-hati di jalan, ya!"


"Siap!"


"Jangan lupa besok pagi."


"Okay!"


Meski badai dalam hati Beby belum sepenuhnya sirna, tapi gadis itu tetap kuliah dan melaksanakan pemotretan hari ini dengan profesional. Ia juga diajak turut andil dalam lomba fotografi yang akan Fahri ikuti. Dengan senang hati, Beby menerima tawaran itu. 


Pemotretan untuk lomba fotografi itu akan dimulai besok pukul 08.30. Pas sekali, Beby tak ada jadwal kuliah besok.


Beby keluar dari studio FS saat senja tengah menyingsing. Melihat padatnya arus lalu lintas di jam pulang kerja seperti ini, Beby berniat untuk mengubah lokasi pertemuannya dengan Kiran.


"Ran, lo lagi di mana?" tanya Beby sesaat setelah dirinya tersambung dengan Kiran via telepon.


"Masih di kampus, bentar lagi balik."


"Kita ketemunya di Lomera Cafe aja, ya? Sekalian gue mau ketemu Lola."


By the way, pertemuan Beby dan Lola bisa dibilang dramatis. Malam itu, Beby menolong Lola yang nyaris kerampokan di gang sempit dekat studio FS. Setelahnya, mereka bersahabat hingga detik ini.


"Oke."


***


🎶


Setiap ingat dirimu, rasanya ingin kembali


Mungkin, ingin bertemu masih ada


Ingin memeluk masih ada


Sayang kini tak bisa


Kau telah memilihnya ...


🎶


"Kurang ajar emang, nih, lagu!" gerutu Beby yang baru memposisikan diri duduk di salah satu kursi Lomera Cafe.


Tadinya, Beby ingin stay di area indoor saja, mengingat betapa panasnya cuaca siang menjelang sore ini. Tapi, lagu yang diputar membuat kuping Beby terasa panas. Maka dari itu, Beby keluar dan memilih duduk di salah satu bangku area outdoor.


Suasana outdoor Lomera Cafe memang paling tepat untuk perputaran otak Beby dalam merangkai kata.


Pada suatu purnama, firasat buruk tiba-tiba melanda. Segala upaya telah kucoba untuk menepisnya dari alam nyata. Namun nyatanya, cintamu yang terbagi turut andil dalam duniaku yang runtuh seketika.


Semesta, apa ini yang dinamakan cinta? Ketika bungah dan patah menyatu dalam balutan rasa.


B.S.A


"Nih, milkshake taro extra es batu," ucap Lola yang kini sudah duduk di hadapan Beby.


Melihat kedatangan Lola, Beby cepat-cepat menutup buku sampul biru langit yang selalu ia bawa ke mana-mana. "Thank's."


"Tiap gue ketemu lo, pasti ada buku itu," ujar Lola seraya melirik ke buku milik Beby. "Buku apaan, sih, itu?"


"Biasa, buat catatan aja," jawab Beby.


"Bukan buku diary, 'kan?"


Beby tertawa renyah. "Bukan."


Memang benar. Meski hobi merangkai kata, Beby tidak pernah curhat kepada buku miliknya itu. Sembilan puluh sembilan persen isi buku bersampul biru langit itu adalah puisi ciptaan Beby. Sisanya, kalimat atau kata yang tiba-tiba muncul di kepala.


"Boleh gue lihat?"

__ADS_1


Dengan santai, Beby menjawab. "Boleh."


Lola memang termasuk dalam kategori orang terdekat Beby. Maka dari itu, Lola diizinkan untuk membaca isi buku miliknya.


"Gue tahu, sih, lo jago bikin puisi," ujar Lola dengan tangan dan mata yang masih berkolaborasi untuk mengamati isi buku milik Beby. 


"Tapi ...?" tanya Beby penasaran.


Lola meletakkan kembali buku bersampul biru langit itu di atas meja. "Tapi, gue nggak nyangka lo sejago itu."


"Maksudnya?"


Gadis di hadapan Beby mengambil kembali buku miliknya, lalu membuka halaman terakhir. "Nih," tunjuk Lola. "Gue ikutan sedih pas baca ini."


Manik mata Beby yang semula fokus pada wajah Lola, beralih pada tulisan dalam buku miliknya yang baru ia tulis beberapa saat lalu.


"Lo lagi galau?" tanya Lola yang sialnya adalah sebuah kebenaran.


"Hai, guys!" 


Belum sempat Beby menjawab, Kiran datang dan mengambil posisi di antara Lola dengan Beby.


"Sendirian aja?" tanya Lola pada Kiran.


"Emang mau sama siapa lagi?"


"Lo, kan, punya bodyguard yang senantiasa menjaga dan menemani." Lola tertawa. Ia beralih menatap Beby. "Ya, nggak?"


Beby mengangguk. "Ne." (iya)


Malas membahas soal Gino, Kiran membenarkan posisi duduknya agar terasa lebih nyaman. Lalu, manik matanya menatap lekat ke arah Beby. 


"Jadi, gimana?"


"Gimana apanya?" balas Beby.


"Lo beneran putus sama Arka?"


Setelah dirasa keadaan kembali normal, Lola kembali menghadap ke arah Beby dan Kiran. "Serius lo, Ran? Kenapa? Why Beby putus sama Arka?"


Jujur, topik pembicaraan yang satu ini terasa menyedot sisa oksigen dalam paru-paru Beby secara perlahan. Bedanya, kali ini ia tak ada lagi keinginan untuk menangis.


"Arka selingkuh." Beby menjawab pertanyaan Lola.


"Hah?" Satu lagi fakta yang membuat seorang Lola terkejut. "Selingkuh?"


Beby mengangguk. "Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Arka selingkuh sama perawat di rumah sakit. Cewek itu ternyata cinta pertamanya Arka. Namanya Putri." Mengingat kejadian malam itu, Beby tertawa miris. "Bahkan, Arka nggak mengakui gue sebagai pacarnya di hadapan Putri."


Merasa sedikit sesak, Beby menghirup udara sebanyak yang ia bisa sebelum kembali berkata-kata. "Tapi, ya ... itu kemarin. Sekarang, status Putri udah bukan selingkuhan, tapi pacar."


"Gila!" seru Lola. "Ternyata, itu alasan Arka selama ini terus-terusan menghindar dari lo."


"Setelah Arka ketahuan selingkuh, dia nggak coba hubungi lo?" tanya Kiran.


Beby menggeleng. Memang benar, sejak malam itu, tak ada satu pesan pun dari Arka. Berarti, sudah jelas bukan? Arka memang menginginkan perpisahan.


"Lo pasti sedih banget, ya?" tanya Lola, membuat Beby lantas tertawa.


"Yang namanya putus cinta, sedih itu wajar. Tapi gue nggak mau berlarut-larut. Lagian, masih banyak kali cowok yang ngantre buat jadi pacar gue."


"Ye ... dasar narsis lo!" cibir Lola. "Mentang-mentang selebgram."


"Nggak apa-apa narsis sesuai kenyataan. Daripada narsis tapi cuma bualan. Tengsin, cuy!" seru Beby dengan kepercayaan diri tingkat dewa.


Bila dilihat dari sisi mana pun, candaan mereka memang terbilang receh. Tapi, justru kerecehan itulah yang membuat persahabatan mereka terasa saling mengisi.


Ketiga gadis dalam satu meja itu sama-sama menyembur tawa. Seolah tak ada sedikitpun beban yang memberatkan pundak mereka. Namun, Kiran tahu pasti, bagaimana hancurnya perasaan Beby saat hubungan yang telah sahabatnya itu pertahanan selama dua tahun berakhir kandas.


Memang lebih baik mengakhiri hubungan yang sudah jelas-jelas memakan hati, daripada memaksa keadaan dan menyiksa diri sendiri.


"By the way, itu buku punya lo, kan, By?" tanya Kiran dengan tatapan yang mengarah pada buku bersampul biru langit di atas meja.


"Iya," jawab Beby.

__ADS_1


"Boleh gue lihat?"


Tanpa ragu, Beby menyodorkan buku miliknya ke arah Kiran. "Lihat aja."


Sebenarnya, Kiran sudah pernah melihat dan membaca isi buku Beby. Tapi, ada satu hal yang ingin ia tanyakan sejak lama.


Kiran membuka halaman pertama. "Ini lo yang nulis?"


Tulisan yang dimaksud oleh Kiran adalah:


Setidaknya, ada 1 orang di dunia ini yang merasa dunianya hancur kalau lo pergi.


"Bukan," jawab Beby.


"Loh, bukannya itu buku punya lo?" tanya Lola heran.


"Buku itu memang punya gue, tapi tulisan di halaman pertama itu bukan tulisan gue," jelas Beby.


"Emang lo dapat buku ini dari mana?" tanya Kiran.


Beby menatap dengan sarat menerawang, mengingat kembali saat ia menemukan buku bersampul biru langit itu. "Ada yang ngirimin buku ini sehari setelah buku gue hilang."


"Hah?" sahut Lola. "Maksudnya?"


Sejenak, Beby menatap Lola dan Kiran secara bergilir. Lalu, manik mata Beby fokus pada Kiran. "Lo ingat, 'kan, hari pertama ospek?"


"Agak lupa sih," jawab Kiran sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Emang kenapa?"


"Sebelum gue punya buku ini, gue punya buku dengan warna yang sama," jelas Beby. "Ada awan-awan putih kecil di tengah-tengahnya. Nah, pas gue sampai rumah, bukunya tiba-tiba hilang."


"Lo udah coba cari?" tanya Kiran.


"Udah. Bahkan gue udah nanya ke kakak-kakak yang ngospek kita. Dan nggak ada yang nemuin buku gue."


Dalam beberapa saat, baik Beby, Kiran, maupun Lola tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Jika dipikir-pikir, perkara buku milik Beby itu memang terasa ganjil.


"Sebelum lo sampai rumah, ada sesuatu nggak?" tanya Kiran. "Lo jatuh mungkin."


Beby mendesis pelan. "Gue lupa."


"Mungkin nggak, sih, kalau ada yang ngambil?" tanya Lola.


Beby tertawa renyah. "Siapa yang mau nyolong buku gue coba? Lagian, buku gue waktu itu halamannya udah full."


"Iya juga, sih," gumam Lola. "Ah! Kenapa kita jadi mikirin yang nggak penting gini, sih?"


Kiran menatap Lola dan Beby secara bergilir. "Pertanyaan, siapa yang ngirim buku ini buat Beby?"


***


Pukul, 22.20. Beby, Kiran, dan Lola memutuskan untuk mengakhiri obrolan seru mereka malam itu. Meski masih bertanya-tanya, ketiganya sepakat untuk tak lagi membahas soal buku bersampul biru langit milik Beby.


Lola menutup kafenya setelah memastikan sudah tak ada lagi pengunjung. Kiran dijemput Gino, sementara Beby—tentu saja—pulang sendiri.


Seperti yang kita ketahui, kapan pun itu, jalanan Ibu Kota dapat dipastikan kepadatannya. Demi menghindari kemacetan, Beby memilih untuk lewat jalan pintas.


Di tengah perjalanan, indra pengelihatan Beby terpaku pada tikungan di depan sana. Usai menghentikan mobil, gadis itu pun memicingkan mata, berusaha lebih fokus meneliti apa yang berada di bawah lampu jalan itu. Lima detik kemudian, kedua mata Beby melebar.


"Begal?!"


Tampak sebuah mobil hitam yang diapit dengan dua motor di samping kanan-kiri, serta satu motor di depannya. Awalnya, si pengendara mobil itu tak menunjukkan batang hidung. Namun, orang itu terpaksa keluar sebab kaca mobilnya yang dilempar batu besar.


Beby terdiam kaku di posisinya. Ingin kembali melaju, namun keraguan memaksanya untuk tetap membatu. Pasalnya, jalanan tempat Beby berada saat ini memang terkenal sepi. Terlebih, kapasitas penerangan jalan yang dapat dibilang minim.


Terjadi perkelahian antara si pengendara mobil dan tiga orang begal itu. Bola mata Beby tak mampu berkutik ke lain arah. 


"Aaa—!"


***


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2