ALDEBY

ALDEBY
|16.| Membaik


__ADS_3

"Mau apa kalian?" tanya Beby sinis pada pria dan wanita di hadapannya.


"Gue?" Si wanita menunjuk dirinya sendiri. "Jelas gue ada di sini. Udah seharusnya gue di sini. Karena gue memang artis Fresh and Star. Kenapa?"


Beby diam. Sebenarnya, ia malas menanggapi kedua manusia laknat ini. Namun, sepertinya mereka memang niat cari gara-gara. Terbukti dengan keduanya yang tidak memberi Beby jalan untuk lewat.


"Kalau Zidan, ya, dia nemenin gue, lah." Si wanita kembali bersuara seraya menatap dengan sarat menantang ke arah Beby. Rasa gatal menjalari jari-jari lentik Beby. Ingin sekali Beby mencakar wajah wanita di hadapannya. "Zidan, kan, tunangan gue."


"Minggir," ucap Beby dingin.


"Kita lama nggak ketemu, lho. Lo nggak mau reunian, gitu? Mengingat masa-masa indah kita waktu SMA. Apalagi, waktu prom-night." Kali ini, si pria yang bersuara.


"Minggir." Beby masih berusaha sabar. Meski ingin sekali rasanya Beby menghajar dua manusia itu.


"Amanda, gue heran, deh, sama lo. Bukannya waktu SMA lo suka sastra, ya? Kenapa sekarang malah jadi model?" Wanita berbalut dress selutut warna marun tanpa lengan itu maju selangkah. "Oh, gue tahu! Lo pasti salah satu model plus-plus, ya?"


'Plak!'


Beby tak tahan lagi. Kesabarannya sudah melampaui batas. Kali ini, Beby tak akan tinggal diam. "Jaga mulut lo, ya. Asal lo tahu, Fara. Tunangan lo yang sangat-amat lo banggain ini, nggak lebih dari laki-laki brengsek yang nggak punya hati nurani. Kalian berdua, sama-sama sampah!"


"Lo—"


"APA?!" teriak Beby lantang. Kedua matanya melotot ke arah Fara dan Zidan. "Segitu nggak bahagianya, ya, kalian. Sampai-sampai harus ganggu hidup gue. Segitu putus asanya kalian? Hah?!"


Fara mendesis. Kedua bola matanya memerah. Dadanya naik-turun tak beraturan sebab amarah yang mendidih di setiap aliran darahnya. "Lo bener-bener, ya!"


Tangan Fara sudah siap melayangkan sebuah tamparan menuju pipi Beby. Namun, seseorang terlebih dahulu menangkap pergelangan tangan Fara.


Masih dalam tangan yang mencengkeram pergelangan tangan Fara, orang itu menoleh ke arah Beby yang berdiri di belakangnya. "Lo nggak apa-apa?"


Yang ditanya hanya menggeleng. Tangannya bergerak meraih pergelangan Aldef yang tengah menganggur. "Kita masuk aja."


Aldef mengangguk singkat. Lelaki itu kembali menoleh ke arah Fara dan Zidan. Dengan keras, Aldef mengempaskan tangan Fara. Manik matanya menatap tajam pada dua manusia itu. "Gue nggak tahu siapa kalian. Tapi yang jelas, kalau kalian ganggu Beby lagi, kalian berurusan sama gue."


***


Adzan magrib telah lewat beberapa saat lalu. Aldef pun sudah menunaikan ibadah salat magrib di mushola yang berjarak sekitar 15 meter dari studio FS. Sebenarnya, Aldef berniat untuk langsung pulang usai salat. Namun, sosok Beby yang tengah sibuk memainkan ponsel sembari duduk santai di teras studio 3 mengurungkan niat Aldef.


"Belum pulang?" tanya Aldef usai mengambil posisi duduk di kursi tepat depan Beby. Kini, hanya sebuah meja kotak berbahan kayu yang membatasi mereka.


"Itu pertanyaan atau pernyataan?" balas Beby. "Jelas-jelas gue masih di sini."


"Udah salat?"


"Udah."


Aldef tersenyum kecil. "Kenapa masih di sini? Bukannya sesi pemotretan lo udah beres sejam yang lalu?"


Beby mengernyitkan dahi. Gadis itu memiringkan kepala seraya menatap Aldef heran. "Lo tahu dari mana jadwal permotretan gue?"


Mendengar pertanyaan itu, Aldef lantas memalingkan muka. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Salah tingkah, misalnya?


Belum sempat Aldef menjawab, Beby kembali bersuara. "Lagi nunggu Kak Miko. Katanya, sih, mau jemput gue habis selesai kelas."


"Udah coba ditelepon?" tanya Aldef yang dijawab gelengan oleh Beby. "Coba telepon aja. Tanya udah di mana."

__ADS_1


Beby mengangguk, menyetujui saran Aldef. Tangannya meraih ponsel dan mendial nomor Miko. Panggilan Beby diterima pada nada sambung ketiga.


"Ya, By? Kenapa?" Suara Miko membelai gendang telinga Beby.


"Lo di mana, Kak? Masih lama?"


"Kayaknya iya, deh. Gue kejebak macet, nih."


"Emang udah posisi di mana?"


"Baru sekitar lima puluh meter dari area kampus, hehehe."


"Haish!" umpat Beby. "Kenapa nggak ngabarin dari tadi coba?! Bisa jamuran gue nunggu lo lama-lama!"


"Ya, sorry. Mau gimana lagi, dong? Orang macet gini."


"Gue balik sendiri aja, ya? Kita ketemu di apartemen."


"Gitu? Tapi masa lo pulang sendiri? Nggak apa-apa malam-malam gini?"


Beby berdecak kesal. "Lo lupa udah berapa lama gue tinggal di Jakarta sendiri?"


"Tapi, kan, kondisinya beda, By. Lo, kan, lagi ...."


"Udah, ah! Pokoknya, kita ketemu di apartemen aja. Gue balik sendiri. Bye!"


'Tut!'


Beby menekan simbol telepon berwarna merah dengan kesal.


"Kak Miko, tuh. Masa jam segini baru keluar dari kampus. Mana jalanan macet lagi. Kalau nggak bisa jemput, harusnya, kan, ngabarin. Males banget gue nunggu berjam-jam. Jamuran yang ada, nih, badan!"


Rentetan kalimat dengan nada menggerutu itu berhasil Beby ucapkan dalam satu tarikan napas. Aldef tersenyum kecil mendengar ocehan gadis di hadapannya.


Sungguh menggemaskan!


Seolah tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, Beby mengarahkan pandangan ke arah Aldef. "Sorry, gue jadi ngomelnya sama lo."


Aldef terkekeh pelan. "Ya udah. Mau pulang sekarang?"


"Thank's sebelumnya. Tapi, gue bawa mobil sendiri."


Kedua alis Aldef bertaut heran. "Emang gue lagi nawarin lo pulang bareng?"


Skak!


Baboya! (bodoh!) umpat Beby pada dirinya sendiri. Sejak kapan Beby tumbuh menjadi gadis yang super ge-er seperti ini?


"Gue balik duluan." Demi menyelamatkan harga dirinya, Beby melenggang pergi tanpa berniat untuk melihat reaksi Aldef.


Sementara itu, Aldef yang tak beranjak dari posisinya hanya memfokuskan manik mata ke arah Beby dengan bulan sabit yang begitu lebar menghiasi bibirnya.


***


Usai memarkir mobilnya di basement Apartemen Golden, Beby bergegas turun. Hal itu bertepatan dengan Aldef yang baru saja memarkir mobilnya tepat di samping mobil Beby.

__ADS_1


"By," panggil Aldef yang membuat si pemilik nama menoleh.


"Ya?"


"Mau makan dulu, nggak? Di Kafe Pelangi."


Beby berpikir sejenak. Nalurinya sibuk memikirkan keputusan untuk menerima atau menolak tawaran Aldef. Dari pesan yang Miko kirim sekitar sepuluh menit lalu, Beby mendapat informasi bahwa sang kakak sepertinya akan telat pulang malam ini. Pasalnya, alih-alih langsung pulang, Miko malah menyetujui ajakan kawannya untuk nongkrong.


"By?" Melihat Beby hanya diam, Aldef kembali memanggil gadis itu. "Gimana?"


Seulas senyum manis terukir di bibir Beby. "Boleh, deh. Lo yang traktir, 'kan?"


Bulan sabit yang semula hinggap di bibir Beby menjalar pula ke bibir Aldef. "Iya. Yuk!"


Berkat kejadian tadi siang, kecanggungan yang terjadi antara Aldef dan Beby perlahan sirna. Mereka memang belum banyak bicara, mengingat selama di FS Beby sibuk dengan pemotretan dan endors-nya. Tapi, setidaknya Aldef dan Beby sama-sama tahu, bahwa tak ada lagi amarah di antara mereka.


Sampai di Kafe Pelangi, Aldef dan Beby menghampiri meja pemesanan. Mereka lantas disambut hangat oleh Malik: si barista dengan gelar 'laki-laki paling cerewet'. Teman-teman barista Malik yang memberinya gelar itu.


"Eh! Kita kedatangan pasangan yang lagi viral, nih," celetuk Malik yang membuatnya mendapat pelototan dari dua pasang mata sekaligus.


"Lo bener-bener, ya!" kesal Aldef.


Bukannya takut, Malik malah tertawa terbahak-bahak. "Habis. Gue capek, deh. Tiap denger pelanggan kafe ini ngobrol, pasti topiknya tentang Beby si selebgram yang habis dicium sama partner kerjanya."


'Plak!'


Sebuah tamparan dari tangan Aldef mendarat mulus di bibir Malik. "Suara lo bisa dikecilin, nggak?!"


"Awh! Dower, nih, bibir gue!" gerutu Malik.


"Bodo amat!"


"Ekhem!" Beby berdeham, membuat tatapan Aldef dan Malik kompak terarah padanya. "Gue bisa pesan sekarang? Laper."


"Oh. Boleh banget!" sahut Malik. "Jadi, mau pesan apa, Beby?"


Malik menyebut nama Beby seraya mengerling ke arah Aldef. Enggan kembali memancing perdebatan, Aldef hanya melempar tatapan membunuh yang membuat Malik cekikikan.


Usai memesan, Aldef dan Beby memilih duduk di sebuah bangku berisi dua orang yang letaknya tak jauh dari meja pemesanan.


"By, gue ke toilet bentar, ya."


Beby memberi anggukan sebagai jawaban. Sepeninggalan Aldef, Beby mengeluarkan buku bersampul biru langit lengkap dengan bulpoin miliknya dari dalam tas. Lalu, Beby tenggelam dalam tiap kata yang mengalir dalam imajinasinya.


Sementara Beby sibuk dengan pena, kertas, dan aksara, Aldef yang selangkah lagi menginjak lantai toilet, mendadak berhenti melangkah. Ada seorang gadis yang tampak familiar duduk di salah satu meja tak jauh dati toilet Kafe Pelangi. Memang tidak ada yang aneh dengan gadis itu, tapi ....


"Gue salah lihat nggak, ya?"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2