
Celine bergegas masuk kembali ke dalam rumah begitu mobil Aldef melaju. Tak lupa, Celine mengunci pintu dan jendela. Gadis itu tak sabar untuk menelepon seseorang yang kini pasti tengah menunggunya.
Benar saja. Seseorang menjawab panggilan Celine di nada sambung kedua.
"Gimana?" tanya Fara.
"Sesuai rencana kita."
"Bagus. Tetap pastikan kalau Aldef cinta sama lo. Jangan kasih kesempatan cewek lain dapat perhatian lebih dari dia. Termasuk pacarnya, Beby."
"Mereka pacaran?"
"Aldef nggak ngasih tahu lo?"
"Nggak."
Fara terbahak-bahak di seberang sana. "Bagus. Berarti Aldef emang bener masih sayang sama lo. Karena kalau nggak, dia pasti bilang tentang status hubungannya sekarang."
"Oke. Lo bisa cek saldo rekening sekarang. Udah gue transfer," lanjut Fara.
Celine tersenyum lebar. "Thank's."
Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Celine begitu sambungan telepon.
"Iya, sih, berhasil. Gue yang gagal jaga hati buat nggak baper lagi sama Aldef."
***
Lima belas menit Beby menunggu, namun tak ada satu taxi pun yang lewat. Maka dari itu, Beby memutuskan untuk memesan ojek online. Gadis itu hanya bisa berharap pada abang ojol sekarang.
Namun, belum sempat Beby memesan ojol, seseorang menyahut ponselnya. Beby yang terkejut pun lantas mendongak. Dan sialnya, sosok Zidan kini berdiri di hadapannya.
"Hai, Beb," sapa Zidan seraya tersenyum miring. Senyum yang membuat Beby ingin muntah.
"Balikin HP gue," ketus Beby. Jujur, lututnya terasa sedikit lemas sekarang.
"Mau pulang, ya? Gimana kalau gue antar?"
Enggan menanggapi ocehan Zidan, Beby berusaha meraih ponselnya dari tangan pria brengsek itu. Tapi sayangnya, Zidan lebih sigap. Tinggi badan Beby yang lebih pendek dari Zidan pun membuatnya kesusahan.
"Balikin HP gue," ulang Beby dengan mata tajam dan napas memburu.
"Santai dulu, dong. Kalem."
Dengan lancang, telapak tangan Zidan mendarat di bahu kiri Beby. Gadis itu melirik ke arah bahunya. Dalam hitungan ketiga, Beby dengan cekatan menarik tangan Zidan dan melayangkan sebuah pukulan telak di hidung pria itu.
Zidan yang tak menyangka akan mendapat serangan dari Beby pun hilang keseimbangan. Pria itu terjatuh ke tanah. Kedua tangannya refleks memegang area hidung yang kini mengeluarkan darah.
"****!" umpan Zidan seraya terus menekan hidungnya.
Melihat Zidan kesakitan, Beby tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Gadis itu bergegas meraih ponselnya dan lari sekencang mungkin. Setidaknya, Beby harus tiba di kantor polisi terdekat.
Beby terus berlari. Seolah ada sistem otomatis yang membuat kakinya berlari kencang. Beby enggan menoleh ke belakang sedikitpun. Fokusnya hanya pada jarak sejauh mungkin dari Zidan. Hingga pada akhirnya, Beby menemukan sebuah gang sempit. Gadis itu buru-buru masuk dan menyalakan ponselnya.
__ADS_1
Lagi-lagi, Beby sial malam ini. Ponselnya lowbatt. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?
Pelan-pelan, Beby melangkah keluar gang. Kepalanya menoleh ke kanan, kiri, dan segala penjuru yang memungkinkan keberadaan Zidan. Setelah memastikan pria itu kehilangan jejaknya, barulah Beby bisa bernapas lega.
"Gila! Capek banget gue," ucap Beby seraya mengusap peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya.
Beby terus berjalan. Menyusuri jalanan Ibu Kota yang tak pernah sepi. Ia pun berharap segera menemukan taxi atau kendaraan umum yang bisa membawanya pulang.
Lima menit melangkah, Beby merasakan ada seseorang yang mengekorinya. Firasat Beby mengatakan itu bukan pertanda baik. Maka dari itu, ia berjalan lebih cepat. Beby tak ingin berlari, sebab bisa saja orang di belakangnya tahu dan ternyata membawa senjata tajam.
Alih-alih demikian, Beby merasa langkah orang di belakangnya pun semakin cepat. Panik, Beby pun mulai berlari.
Tapi sayangnya, Beby lupa dengan tenaganya yang telah terkuras habis. Beby tak sanggup lagi berlari kencang. Karena hal itu, seseorang yang sejak tadi mengikuti Beby berhasil menggenggam pergelangan tangannya.
"Lepasin! Lepasin gue! Tolonggg!!!" Dengan sisa tenaga dalam dirinya, Beby meronta. Ia berusaha melepas tangannya yang digenggam erat entah oleh siapa. Beby tak ingin melihat wajahnya.
"Lepassss—!!!"
"SKY!" Tangan orang yang tadi menggenggam pergelangan Beby, beralih pada kedua bahunya. "Ini gue."
Ya. Kalian benar. Orang itu adalah Aldef.
Dalam beberapa detik, Beby terdiam. Napasnya yang semula ngos-ngosan berangsur normal sebab menyadari bahwa dirinya aman.
Sementara itu, Aldef yang melihat Beby tampak kacau pun langsung membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Beby yang saat itu merasa kehabisan tenaga hanya bisa diam.
"Maaf, Sky. Maaf karena gue udah ninggalin lo," ujar Aldef, masih dalam posisi memeluk Beby erat.
Beby tersenyum kecil. Gadis itu menyudahi aksi peluk yang mereka lakukan. Sembari menatap lamat-lamat kedua bola mata Aldef, Beby menjawab, "Nggak apa-apa. Lo nggak salah, kok. Oh, iya. Gimana keadaan Celine? Kata Ana, lo pergi karena nolongin Celine yang pingsan, ya? Dia baik-baik aja?"
"Syukurlah kalau gitu."
"Lo kenapa lari tadi? Ada yang ngejar?"
Belum sempat Beby menjawab, ada tangan lain yang menarik pergelangan tangan Beby.
"Lo. Pulang sama gue," ucapnya telak. Beby yang merasa tak ada tenaga untuk berdebat hanya bisa menurut.
Tentu saja. Orang itu adalah Miko Algahfa. Kakak Beby yang sangat lembut dan baik hati.
***
"Gue, kan, udah bilang. Handphone jangan sampai mati, Beby!"
Berulang kali Beby spontan mengelus dadanya sendiri akibat teriakan Miko. Hampir satu jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda Miko akan menamatkan ocehannya.
"Beby! Lo denger gue nggak, sih?!"
Beby menghela napas berat. "Gue, kan, udah bilang. Handphone gue lowbatt, Kak."
Miko menatap tajam ke arahnya. Pria berumur 24 tahun yang semula mundar-mandir di depan Beby itu, kini turut mengambil posisi di atas sofa ruang tengah.
"Ini udah abad 21, ya, By." Nada bicara Miko sudah jauh lebih santai. "Alasan kayak gitu udah nggak berlaku. Ada power bank. Pakai itu. Atau mau gue beliin?"
__ADS_1
"Iya. Besok gue beli," cicit Beby.
Miko menghela napas sejenak. "Mulai besok, lo nggak usah lagi berangkat bareng Aldef. Udah berapa kali lo ditinggalin kayak tadi? Mending lo bawa mobil sendiri."
"Bukan salah Aldef, Kak."
"Salah dia!" Dan Miko kembali berteriak. Salahkan Beby yang sangat-amat keras kepala. "Dia yang nawarin lo berangkat bareng, 'kan? Harusnya dia juga yang nganter lo. Apapun keadaannya, dia harus tanggung jawab. Lagipula, dia juga janji ke gue bakal jagain lo. Tapi nyatanya apa? Lo selalu kacau kalau pagi berangkat bareng Aldef!"
"Tapi, Kak. Aldef tadi, tuh, nolongin kru FS yang pingsan."
"Apa cuma Aldef? Cuma Aldef yang bisa nolongin? Terus, emang yang ditolong itu nggak punya keluarga sampai harus Aldef yang jagain?"
"Ya ..., gue juga nggak tahu. Kita, kan, nggak tahu gimana situasi saat itu. Tapi tetap aja, semua itu bukan salah Aldef."
"Udah deh, Kak. Gue capek. Pengin tidur," lanjut Beby.
Percuma. Sungguh percuma mulut Miko berbusa demi memberi ceramah pada Beby. Sejak awal, Miko sudah menduga hari ini akan tiba.
"Terserah," ketus Miko yang kemudian beranjak dari posisinya.
Melihat Miko akan masuk kamar, Beby pun turut beranjak dari sofa. Baru saja Beby berdiri, Miko yang sudah beberapa langkah di depan kembali membalikkan badan.
"Tidur! Nggak usah hubungi Aldef!"
"Iya." Beby hanya bisa menurut.
***
"Gimana?" Fara yang sejak tadi menunggu kabar dari Zidan langsung menekan tombol answer begitu nama pria itu terpapar di layar ponselnya.
"Sorry, gue gagal."
"What?!" Fara lantas berdiri dari sofa. "Kok, bisa?"
"Beby bisa bela diri sekarang."
"Hah? Serius lo?"
"Iya. Hidung gue, nih, buktinya!"
'Tut!'
Fara menutus sambungan telepon secara sepihak. Gadis berbusana dress sepaha itu menghentakkan kaki, kesal.
"Berarti, cuma ada satu kelemahan Beby sekarang."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️