ALDEBY

ALDEBY
|63.| Satu-Satunya, atau Nomor Satu?


__ADS_3

Daren dan Beby sama-sama menatap ke arah pintu ruang UGD saat mendengar suara pintu terbuka. Tampak sosok Aldef dengan keringat mengucur dan napas tersengal-sengal. Aldef bergegas menghampiri Beby yang menatap lekat ke arahnya.


"Sky, lo nggak apa-apa, 'kan? Mana yang sakit? Kata Lola tadi lo kena pisau. Sekarang gimana? Udah diobatin? Hah? Gimana?"


"Al." Tangan kanan Beby bergerak mengusap peluh yang membanjiri kening Aldef. Posisi sang pacar yang tengah membungkuk membuat Beby mudah melakukan hal itu. "Ngomongnya pelan-pelan. Napas dulu yang bener."


Aldef berdiri tegak. Ia menarik-narik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu mengembuskannya lewat mulut. Pelan tapi pasti, deru napas Aldef kembali normal.


Aldef mengambil langkah maju. Lengannya melingkari leher Beby dengan hati-hati, takut mengenai luka di bahu kiri gadis itu. "Maaf, Sky. Gue telat datangnya."


Beby yang berada dalam pelukan Aldef tersenyum lebar. "Nggak apa-apa."


Kedua melepas aksi saling peluk. Netra Aldef menatap lamat-lamat ke arah Beby. "Sekarang gimana? Perlu rawat inap nggak?"


"Nggak perlu, Al. Udah dijahit, kok, sama dokter. Udah boleh pulang."


Aldef meringis ngilu. Membayangkan rasa sakit akibat luka menganga di bahu kiri Beby. "Sampai harus dijahit, ya?"


"Lagian itu bahu lo kenapa, sih, By?" tanya Lola yang entah sejak kapan ada di ruangan itu. "Parah banget kayaknya."


"Besok aja ceritanya," jawab Aldef. Ia kembali menatap ke arah Beby. "Sekarang kita pulang, ya?"


"Tapi syutingnya belum selesai. Masih ada beberapa scene."


"Lo pulang aja," ujar Daren. "Besok kalau masih butuh istirahat juga nggak apa-apa. Take a rest."


"Thank's, Bro," balas Aldef sambil menepuk bahu kiri Daren lumayan keras. Lelaki itu menoleh ke arah Lola. "Lo baliknya sama Daren aja."


"Kalau gue bilang nggak juga lo tuli, 'kan?" sinis Lola.


Beby terbahak. "Emang lo mau bareng gue?"


"No, thank's! Yang ada gue jadi obat nyamuk."


"Kali aja lo mau sekalian mampir apartemen. Biar ada alasan pulang diantar kak Miko."


Mendengar nama Miko, kedua mata Lola melotot. "Ogah! Ketemu aja ogah, apalagi pulang bareng! Idih!"


"Di mulut sama di hati emang suka beda, ya."


"Sotoy lo, babi kampret!"


Tanpa sadar, umpatan itu membuat kedua lelaki di sana menatap tajam ke arah Lola. "Lo berdua kenapa, dah? Gue colok juga, tuh, mata!"


***


"Al."


"Hm?" Aldef yang semula fokus di balik kemudi, menoleh sejenak ke arah Beby.


"Gue laper."


Aldef terkekeh geli. Tangan kirinya mengacak puncak kepala Beby gemas. "Mau makan apa, Sayang?"

__ADS_1


"Hhmmm ... siomay?"


"Boleh. Ini dekat sekolah SMP gue dulu, ada siomay enak di sana. Tapi, nggak tahu masih ada atau nggak. Mau coba?"


"Okeh."


Terjadi keheningan barang sesaat. Beby menerima email dari Anggi untuk daftar endors yang harus ia lakukan besok. Ada pula pesan masuk dari Miko yang meminta-memerintahkan-Beby untuk tidak pulang terlalu larut.


Beby kembali mendongak dan menoleh ke arah Aldef yang tengah fokus menyetir. "Al."


"Iya, sabar, Sky."


"Ish! Bukan itu," balas Beby kesal.


Aldef tertawa. "Kenapa, hm?"


"Tadi lo telat, kenapa?"


Sisa-sisa tawa di bibir Aldef, luntur seketika. "Itu ... handphone gue tiba-tiba hilang." Jawaban yang terlintas di benak Aldef, berbanding terbalik dengan apa yang keluar dari mulut. Meskipun keduanya sama-sama fakta yang ada.


"Kok, bisa?"


"Gue juga nggak tahu. Tadi gue nyari-nyari dulu, tapi nggak ketemu."


Beby manggut-manggut, paham akan penjelasan Aldef. Pilihannya untuk tidak berburuk sangka memang tepat.


Sesaat kemudian, ponsel Beby berdering. Nama Celine terpampang di sana. Beby lantas menekan tombol answer. "Hallo?"


"By, lo lagi sama Aldef?"


"Iya. Gue lagi sama Aldef. Kenapa?"


"Handphone Aldef ketinggalan di sini. Tadi Poppy yang nemuin."


"Hah?" Beby kembali menoleh. Manik matanya menatap penuh arti ke arah Aldef. "Apa tadi lo biang?"


"Handphone Aldef ketinggalan. Siapa tahu penting dan dia mau ambil."


Apa lagi ini, Tuhan? rintih Beby dalam hati. Udara di sekelilingnya seolah lenyap. Pasukan oksigen dalam paru-paru Beby seakan tersedot perlahan keluar. Dadanya terasa sesak.


Beby tak tahu harus berkata apa. Otot-otot pergelangan Beby seakan tak berfungsi. Ponsel dalam genggamannya mendadak terasa berat. Beby menjatuhkan ponselnya ke pangkuan tanpa memutus sambungan telepon.


Bola mata Beby menatap lurus ke depan. Ia ingin mengenyah pikiran-pikiran negatif yang bermunculan. Namun, fakta tetaplah fakta. Bukan saat Aldef menghampiri Celine ke rumah sakit yang membuat Beby marah, tapi kenyataan bahwa sang pacar berbohong padanya.


"Sky!" Sentuhan di bahu kanan menyeret paksa Beby dari alam lamunan. "Udah sampai."


"Oh." Beby lantas menarik kedua sudut bibirnya secara paksa. "Iya."


"Tunggu sebentar."


Aldef turun dari kursi kemudi, lalu mengitari mobil dengan berlari kecil. Aldef membuka pintu di samping kiri Beby. "Yuk!" ucap Aldef sembari mengulurkan tangan.


Lo memperlakukan gue seperti ratu. Tapi, apa posisi gue di hati lo, Al? Satu-satunya? Atau cuma nomor satu? Atau bahkan bukan keduanya?

__ADS_1


Kalimat itu menggema di setiap sudut ruang hati Beby. Ia meraih tangan Aldef, membuat sang pacar lantas tersenyum senang. Manik mata Beby menatap lekat ke arah Aldef. Seolah dengan cara seperti ini, Beby akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi.


Aldef melempar senyum ke arah Beby sebelum membawa gadis itu melangkah bersamanya. Beby yang tak berniat mengalihkan pandangan pun membalas senyuman Aldef. Sampai saat mereka duduk di bangku panjang warung siomay, Aldef memesan makanan serta minuman untuk mereka, bola mata Beby seolah mesin otomatis yang setiap saat mengintai gerak-gerik Aldef.


"Emang gue secakep itu, ya? Sampai lo lihatin gue nggak berhenti," ucap Aldef setelah kembali duduk di hadapan Beby.


Biasanya, Beby akan langsung tertawa mendengar kalimat super-pede itu. Namun sayangnya, situasi saat ini sedang tak biasa.


"Kenapa, Sky?" Aldef merasa ada yang janggal dengan sang pacar. Lelaki itu mulai memasang ekspresi serius. "Ada apa?"


"Nggak ada yang mau lo ceritain ke gue?"


"Cerita, ya ...." Aldef menatap langit-langit, tampak berpikir. "Oh, ada. Tadi waktu kelas terakhir, ada teman sekelas gue yang dihukum sama dosen gara-gara tidur di kelas. Awalnya, sih, nggak ketahuan, sampai seisi kelas denger suara orang ngorok." Aldef terbahak-bahak. "Gila! Bisa-bisanya ngorok di kelas. Mana dosennya killer banget."


"Oh, ya?" Beby terkekeh pelan, sekadar menanggapi candaan Aldef. "Apa lagi?"


"Apa lagi, ya? Nggak ada yang seru, deh, kayaknya. Nggak ada lo soalnya." Aldef kembali tertawa.


"Kalau tentang Celine?"


Tawa Aldef lenyap seketika. Lelaki itu tiba-tiba merasa gugup. "Ma-maksudnya?"


Dua porsi siomay lengkap dengan dua es teh manis pesanan Aldef dan Beby datang di sela-sela obrolan serius mereka. Beby tersenyum ramah sembari mengucap kata terima kasih pada pria paruh baya berbadan kurus yang menjadi pemilik warung ini.


Beby bukan tidak tahu Aldef tengah menatapnya lekat. Ia hanya tak ingin membalas tatapan sang pacar. Beby tak sanggup jika harus menangkap adanya sinyal kebohongan di balik tatapan Aldef.


"Tadi Celine telepon gue. Katanya, Poppy nemuin handphone lo di sana." Beby mendongak. "Bukannya handphone lo hilang di kampus?"


***


"Zidan bebas."


"Apa?!" Miko yang semula duduk damai sembari mengerjakan tugas kuliah, lantas berdiri mendengar kabar ini. "Kok, bisa?"


"Seperti kasus sebelumnya, ada yang menjamin dia."


Rahang Miko mengeras. Tangan kirinya yang bebas terkepal kuat. "Siapa? Siapa yang berani bebasin penjahat itu?!"


"Gue juga nggak tahu. Polisi menutup rapat indentitasnya. Tapi yang jelas, keluarga Zidan yang menjamin."


"Sekarang lo di mana?"


"Gue lagi ikutin Zidan. Kayaknya dia mau kabur ke luar negeri."


Miko cepat-cepat meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas. "Ikuti terus. Jangan sampai lepas. Gue mau bunuh dia pakai tangan gue sendiri!"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2