ALDEBY

ALDEBY
|33.| Move On


__ADS_3

..."Cowok juga manusia biasa yang butuh kepastian."...


...***...


"Nanti nggak usah jemput gue. Gue pulang bareng Kiran aja. Dia bawa mobil," ucap Beby seraya melepas sabuk pengaman yang semula melilit tubuhnya. Kini, mobil Miko berhenti tepat di depan Lomera Cafe.


"Nggak. Gue jemput aja."


"Nggak usah, Kak. Nanti lo malah mundar-mandir. Sekalian aja gue pulang bareng Kiran. Searah, kok."


"Tapi—"


"Kak, please, deh. Gue udah gede. Udah bukan bocah yang dulu harus lo antar-jemput ke mana-mana."


Miko tersenyum kecut. Manik matanya menatap lekat pada mata coklat Beby. Telapak tangannya bergerak mengusap lembut puncak kepala Beby.


"Iya, ya. Adik gue udah gede sekarang. Udah bukan bocah lagi."


Beby menatap geli pada sang kakak. "Kenapa, dah? Takut gue lihat lo gini."


Belum sedetik Beby usai mengucap kalimat itu, tangan Aldef yang masih bertengger di kepalanya tiba-tiba mendorong kening Beby menggunakan jari telunjuk.


"Nah, ini baru kakak gue," kata Beby sembari terbahak-bahak.


"Kalau ada apa-apa kabarin gue. Jangan pernah matiin handphone! Inget!"


"Siap, Kak Miki Sayang!"


"Kurang ajar lo, ya!"


Beby yang masih terkikik geli sebab berhasil menggoda Miko bergegas turun dari mobil, sebelum lelaki itu kembali menjitak kepalanya. Begitu Beby turun, mobil Miko lantas kembali melesat.


Gadis ber-hoodie marun itu melangkah santai memasuki area outdoor Lomera Cafe. Sore-sore begini, pasti Lola dan Kiran memilih area outdoor untuk berbincang santai. Tak jauh melangkah, indra pengelihatan Beby berhasil menemukan keberadaan Lola dan Kiran. Namun, ada seorang laki-laki dengan posisi memunggungi Beby yang duduk semeja dengan kedua sahabatnya.


"Daren?"


Ketiga pasang mata dalam satu meja itu lantas menoleh ke arah Beby.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap Kiran, bersamaan dengan Beby yang mengambil posisi duduk di samping kanan Daren.


"Wah!" Beby berdecak kagum, sebab telah ada segelas milkshake taro extra es batu yang tersaji di hadapannya. "Minuman favorit gue, nih."


"Udah lama, kan, lo nggak minum milkshake taro buatan kafe gue?" tanya Lola yang dijawab anggukan oleh Beby.


Beby meletakkan gelas kaca miliknya usai menyeruput milkshake taro yang begitu terasa nikmat di lidah. Setelah itu, Beby menoleh ke arah Daren.


"Ada Daren juga, ngapain ke sini?"


"Habis ngomongin project webseries bareng Lola," jawab Daren. "Kata Fahri, besok kita reading, 'kan?"


"Iya. Sorry, ya, Ren, gara-gara gue sakit, project kita jadi tertunda."


Daren tersenyum tipis. "Santai aja kali. Kalau gitu, gue cabut duluan, ya?"


"Lho, kok, buru-buru?" tanya Beby.


"Dia udah daritadi di sini," sahut Lola.


"Iya." Daren pun mengiyakan. "Masih ada urusan juga habis ini. Bye, guys!"


Beby, Lola, dan Kiran sama-sama melambaikan tangan lengkap dengan seulas senyum manis ke arah Daren. Kini, tinggalah mereka bertiga.

__ADS_1


Beby kembali meneguk milkshake taro di hadapannya.


"Si Daren boleh juga, ya," celetuk Lola yang tengah senyum-senyum sendiri.


"Tapi, nih, ya, dari yang gue lihat, udah ada cewek yang diincar sama Daren," sahut Kiran.


"Siapa?" tanya Beby.


Lola dan Beby menatap serius ke arah Kiran, sementara Kiran membalas tatapan kedua sahabatnya secara bergantian.


"Beby."


"Hahaha! Ngaco lo!" Beby yang terlebih dahulu bereaksi.


"Serius!" seru Kiran. "Cara Daren natap Beby, tuh, beda banget."


"Gue nggak suka sama Daren."


"Berarti, Daren boleh buat gue, 'kan?" sahut Lola.


"Emang gue emaknya lo tanya begitu?" sinis Beby. "Kalau lo mau, ya, ambil aja. Gue nggak tertarik."


Kiran tersenyum miring. Sepertinya, ada yang ia lewatkan dari Beby. "Terus, lo tertariknya sama siapa?"


"Aldef!" sahut Lola dengan menggebu-gebu.


Terjadi keheningan barang sesaat. Ketiga gadis dalam satu meja itu saling melempar tatapan kikuk.


"Salah, ya?" Lola yang terlebih dahulu memecah keheningan. Gadis itu tampak salah tingkah sebab merasa terlalu percaya diri.


"Nggak seratus persen salah, sih," sahut Kiran.


"Maksud lo?" tanya Lola.


Bukan, guys. Salah jika kalian mengira bahwa Kiran adalah cenayang. Gadis itu hanya terlalu peka terhadap orang-orang terdekatnya. Terutama Beby.


"Emang iya, By?" Lola pun menatap penasaran ke arah Beby.


Beby menghela napas berat. Gadis berhoodie marun itu menyeruput milkshake taro miliknya sejenak sebelum mulai bersuara.


"Sebenarnya ..., ada yang belum ceritain ke kalian."


"Udah gue duga!" sahut Kiran penuh percaya diri. Lola menatap Kiran heran, sementara Beby memutar kedua bola mata malas. Tak diragukan lagi kadar kepekaan dalam diri Kiran.


"Apa? Apa yang lo belum ceritain ke kita?" tanya Lola penasaran.


"Gue habis ditembak cowok," aku Beby.


"Aldef?" sela Kiran.


Beby mengangguk.


"Daebak!" (Hebat!) Lola berdecak kagum. "Terus, lo terima dia?"


Beby menggeleng.


"Lo tolak?!"


Beby menggeleng lagi.


"Terus?"

__ADS_1


Sekali lagi, helaan napas berat menguar dari saluran pernapasan Beby. "Gue belum kasih jawaban apa-apa ke Aldef."


"Gila lo!" sungut Lola. "Anak orang digantung. Secakep Aldef pula!"


"Lo kalau ngincar Daren, ya, Daren aja!" pungkas Kiran sembari menatap Lola jengkel.


Lola tersenyum meringis. Menampilkan deretan gigi grahamnya yang tersusun rapi.


"Itu hoodie, dari dia?" tanya Kiran sambil menatap lekat ke arah hoodie merah marun yang membalut tubuh Beby.


Beby mengangguk.


"Mata lo jeli banget, ya, Kir," ucap Lola.


"Mau gue kasih saran nggak?" Kiran kembali bertanya pada Beby, mengabaikan celetukan Lola.


"Apa?" balas Beby.


"Saran gue, jangan terlalu lama ngegantung anak orang. Lo boleh mikir. Tapi, jangan terlalu lama. Kalau memang lo belum siap untuk mulai hubungan yang baru, ngomong aja apa adanya. Atau kalau Aldef mau, lo bisa minta bantuan dia untuk move on. Mungkin, lo tipe orang yang lebih cepat move on kalau ada orang baru. Tapi, yah ..., semua keputusan ada di tangan lo. Bukan cuma cewek, By. Cowok juga manusia biasa yang butuh kepastian."


Lola melongo mendengar penuturan Kiran. Perputaran otaknya yang memang agak lemot dari lahir menjadi lebih lambat sekarang. Lola tak mengerti, apa yang Kiran dan Beby bicarakan?


"Gue nggak mau ambil risiko." Setelah cukup lama diam, akhirnya Beby beruara. "Gue nggak mau nyakitin Aldef dengan gue nerima dia, padahal hati gue belum sepenuhnya lepas dari Arka."


"Kalau gitu, jangan," sahut Kiran. "Mending, lo kasih ruang untuk hati lo istirahat. Cintai diri sendiri. Biarin semua ngalir aja."


"Tapi, kalau Aldef direbut cewek lain, gimana?" celetuk Lola, membuat Kiran dan Beby yang semula saling tatap, mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Kalau emang Aldef cintanya sama Beby, dia nggak akan kasih celah untuk cewek lain mengusik hatinya," ujar Kiran.


***


Aldef menghela napas sejenak. Langkahnya terasa begitu berat saat hendak memasuki Kafe Pelangi yang terletak tepat di depan apartemennya.


Satu jam yang lalu, Celine mengirim pesan bahwa gadis itu ingin bertemu di sana. Entah Celine tahu Aldef tinggal di Apartemen Golden atau tidak, Aldef pun tak tahu. Cukup lama Aldef berpikir untuk menemui Celine atau tidak, namun di sinilah ia berada sekarang.


Seorang gadis berambut panjang lurus di sudut selatan kafe melambaikan tangan seraya tersenyum lebar ke arah Aldef. Ya. Gadis itu adalah Celine. Celine Anastasya. Seseorang yang pernah begitu berkuasa di hati Aldef. Atau mungkin, masih?


"Mau ngomong apa?" tanya Aldef begitu ia duduk berhadapan dengan Celine.


Alih-alih menjawab, Celine malah kembali bertanya, "Mau minum apa? Susu atau kopi? Kamu masih suka dua-duanya, 'kan? Sekarang lagi mood minum yang mana?"


Sekeras apapun Aldef mengelak, hatinya tetap mengirim sinyal bahwa Aldef sangat merindukan gadis di hadapannya itu.


"Terserah," jawab Aldef malas.


"Ya udah. Kalau gitu, aku pesenin coffe latte aja, ya? Biar sama kayak aku."


Celine beranjak dari kursinya dengan semangat. Terasa sekali euforia kebahagiaan yang terpancar dari Celine.


Sementara itu, Aldef melipat kedua lengan, lalu ia menunduk dalam. Kini, pada siapa Aldef harus bertanya tentang orang yang menyandang gelar ratu di hatinya?


Beby, gadis yang telah ia tunggu jawabannya, kah? Atau Celine, orang dari masa lalu yang kini masih terasa cintanya?


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2