ALDEBY

ALDEBY
|2.| Detak Jantung


__ADS_3

..."Ternyata, peduli sama kepo nyaris nggak ada bedanya, ya."...


...***...


Sudah menjadi hukum alam bahwa segala yang sakit memerlukan obat untuk sembuh. Seperti luka, entah yang kasat mata maupun tidak. Tetapi, jika luka itu sudah sangat parah, maka satu-satunya pengobatan yang harus ditempuh adalah amputasi.


Lalu, sanggupkah Beby mengamputasi hubungannya bersama Arka yang sudah berjalan 2 tahun?


Pasalnya, satu bulan belakangan ini, Beby merasa ada jarak yang kian melebar antara dirinya dan Arka. Pria yang menyandang status sebagai pacar Beby itu sangat disibukkan dengan skripsi. Arka juga sering membantu para dokter di Rumah Sakit Sentosa untuk menambah bahan skripsi.


Masalahnya bukan di sana, tetapi sikap Arka yang seolah menghindar tiap kali Beby mengajaknya untuk melepas rindu. Bukankah feeling kaum hawa sudah tidak diragukan lagi kebenarannya?


"Woy!" Sentakan itu menyeret paksa radar Beby dari lamunan. "Ngelamun aja lo. Mikirin apa?"


"Lo, kok, ada di sini?" tanya Beby bingung.


"Emang kenapa? Nggak boleh gue ke rumah sahabat gue?" 


"Orang nanya, tuh, dijawab. Bukan malah ditanya balik."


Gadis yang duduk di samping kiri Beby itu menyipitkan mata. "Lo kenapa, dah? Sewot amat."


Helaan napas berat meluncur dari saluran pernapasan Beby. Gadis berkaos navy lengan panjang itu kembali menatap lurus ke depan dengan sarat menerawang. Memanjakan indra pengelihatannya dengan persembahan bintang-bintang yang tampak elok dari balkon apartemennya.


Sementara itu, Kiran yang merasa tak akan mendapat jawaban kembali bertanya, "Arka lagi?"


Beby menoleh sejenak. Seolah bertanya pada Kiran secara non-verbal 'lo ini cenayang, ya?'. Namun, ia kembali menatap langit sedetik kemudian. Beby hanya mengedikkan kedua bahu sebagai jawaban.


"Sebenarnya, hubungan lo sama Arka itu gimana, sih?" tanya Kiran.


Pertanyaan itu membuat Beby lantas menoleh dan melempar tatapan curiga ke arah Kiran. "Sejak kapan lo kepo gini?"


Sebelum menjawab, Kiran meneguk es teh dalam botol kemasan yang tadi ia beli di minimarket. "Gue itu peduli, By. Bukan kepo."


Beby terkekeh pelan. "Ternyata, peduli sama kepo nyaris nggak ada bedanya, ya. Pantas aja banyak cewek yang ketipu sama cowok-cowok yang peduli sama mereka. Padahal, cowok itu cuma kepo. Ceweknya aja yang merasa dipeduliin."


"Kok, lo jadi ngelantur, sih?"


Lagi-lagi, helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Ia menatap Kiran lamat-lamat, siap mencurahkan segala isi hati yang membuat dadanya terasa sesak. 


"Gue bingung."


"Bingung kenapa?" tanya Kiran.


"Enaknya, gue sama Arka putus atau terus, ya?"


"Lo sama Arka sedang mempertahankan hubungan atau hanya sekadar menunda perpisahan?"


"Itu lirik lagu, bego!"


Keduanya tertawa renyah. Tapi kalau dipikir-pikir, lagu Judika itu memang sangat cocok dengan situasi hubungan Beby dan Arka sekarang.


"Emangnya Arka kenapa?" tanya Kiran, sesaat setelah mereka kembali mengaktifkan mode serius.


"Gue ngerasa, hubungan yang gue jalani sekarang ini nggak sehat."


"Maksudnya?"


"Ya ... gue sama Arka udah jarang banget ketemu. Tiap gue ajak ketemuan, dia selalu bilang sibuk. Weekend pun, dia nggak pernah nyempetin waktu buat ketemuan. Kita juga udah nggak pernah komunikasi."


"Kenapa lo nggak coba samperin dia?"


"Dia jarang di rumah, Ran. Gue mau nyamperin dia ke mana?"


"Emang Arka seringnya ada di mana?" 

__ADS_1


"Rumah sakit, lah!"


"Nah!" Kiran menjentikkan jari. "Maksud gue, kenapa lo nggak coba samperin Arka ke rumah sakit?"


"Gue udah pernah coba beberapa kali. Tapi tetap aja, Arka selalu punya alasan untuk nggak nemuin gue."


Kedua alis Kiran bertaut. Kini, otaknya berputar dua kali lebih cepat. "Biasanya, lo kalau mau ketemu dia, gimana?"


"Ya, gue telepon dia dulu, bilang kalau mau ke rumah sakit buat ketemuan."


"Kalau gitu, kali ini lo langsung samperin dia."


Beby diam sejenak. Kedua bola matanya menatap Kiran ragu. Dua detik berikutnya, Beby tertawa sumbang. "Gue serius, Ran."


"Siapa bilang gue bercanda, Beby?"


"Gue nggak paham sama maksud lo."


Kiran yang semula duduk bersandar, kini menegakkan badan. "Oke. Gini aja. Besok setelah pulang kuliah, gue temenin lo ke rumah sakit buat ketemu Arka, gimana?"


"Tapi, kalau rencana lo gagal, gimana?"


"Coba dulu aja."


Beby menaikkan kedua alis, mempertimbangkan saran dari sahabatnya itu. "Kude." (Oke.)


"Tapi ...."


"Wae?" (Kenapa?)


"Sebelum ke rumah sakit, temenin gue ke toko buku, ya?"


"Ngapain?"


"Beli makanan. Ya, beli buku, lah!"


Pertanyaan Beby membuat ekspresi wajah Kiran mendadak berubah. Kedua sudut bibirnya tampak menukik ke bawah. "Nggak usah bahas dia, deh. Males gue."


Alih-alih curiga, Beby malah terbahak-bahak.


"Kok, lo ketawa, sih?" sinis Kiran.


Beby mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Kiran. "Jangan bilang, kalau Pak Gino nyium lo di depan anak-anak kampus 'lagi'."


"BEBYYY!!!"


***


Pintu apartemen Beby terbuka bersamaan dengan pintu unit apartemen tepat di depannya. Kening Beby berkerut heran saat melihat seorang laki-laki yang ia kenal keluar dari sana. "Aldef?"


Jika kebingungan begitu pekat melanda seorang Beby Skyla Amanda, maka berbanding terbalik dengan Aldef yang berdiri di hadapannya. Pria itu tak menampilkan ekspresi apapun, seolah pertemuannya dengan Beby memang sudah seharusnya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Beby, sebab melihat Aldef tak berniat membuka suara.


Aldef menunjuk ke arah pintu tempatnya keluar tadi. "Rumah gue."


Kedua bola mata Beby membulat sempurna. "Sejak kapan?"


Bukannya menjawab, Aldef melenggang pergi begitu saja. Membuat gadis yang ia abaikan merasa kesal setengah mati.


Aldef dan Beby sudah mengenal sejak dua tahun terakhir. Meski bukan teman sefakultas, tapi Beby cukup paham bagaimana tabiat Aldef. Lelaki itu terkenal dengan sifatnya yang ekstrovert.


Satu hal yang membuat Beby heran, mengapa sifat Aldef berubah seratus delapan puluh derajat saat berhadapan dengan dirinya? Dari sosok yang hangat dan ramah, berubah menjadi pribadi yang cuek nan dingin.


"Woi, kampret! Kalau orang nanya, tuh, dijawab!"

__ADS_1


Beby berdecak kesal. Sepanjang bola matanya mengamati Aldef di depan sana, Beby merasa Aldef akan menghampiri lokasi yang akan ia datangi juga. Gadis itu pun melangkah cepat hingga ia berada tepat di samping Aldef. "Lo mau ke mana? Nge-gym, ya?"


"Bukan urusan lo," jawab Aldef cuek sembari tetap melangkah.


Mereka sama-sama memasuki lift. Melihat Aldef menekan lantai lobby, keyakinan Beby akan asumsi ke mana Aldef pergi semakin mantap dalam dirinya. Ditambah lagi dengan gaya pakaian Aldef serta handuk kecil warna hitam yang melilit belakang lehernya.


Sementara itu, Aldef yang merasa terintimidasi oleh tatapan Baby tetap berusaha tenang. Sebisa mungkin ia berupaya agar suara detak jantungnya yang menggila tak sampai membelai gendang telinga Beby. Bisa gawat jika hal itu terjadi. Gadis itu pasti ke-ge-er-an.


Sampai di lobby dan beberapa langkah keluar dari lift, Aldef sudah tidak tahan lagi. Langkahnya lantas terhenti, tubuhnya berputar seratus delapan puluh derajat untuk menghadap Beby yang berdiri tiga langkah di belakangnya. 


"Lo ngikutin gue?"


Kening Beby berkerut heran. "Siapa yang ngikutin lo?"


"Terus, ngapain lo jalan di belakang gue?"


Beby menunjuk sesuatu di depannya, membuat Aldef mengarahkan pandangan ke arah yang sama. "Gue mau nge-gym."


Bego! umpat Aldef pada dirinya sendiri.


***


Selama satu jam terus membakar kalori, berulang kali bola mata Aldef terdistraksi oleh Beby yang berada dalam satu ruangan dengannya. Apalagi, gaya rambut bak buntut kuda yang membuat leher jenjang Beby terekspos, pakaiannya yang tanpa lengan, seolah memanggil tangan-tangan jail untuk membelainya. Ditambah dengan keringat yang membasahi kening serta pelipis Beby, membuat aura menarik gadis itu semakin terpancar.


Jika Aldef sibuk mengendalikan indra pengelihatannya—yang berulang kali gagal, Beby dengan napas tersengal-sengal selepas melakukan jumping jack merasa risih. Bagaimana tidak? Gadis itu merasa seperti buronan yang diintai selama 24 jam.


Demi menghindari tatapan Aldef, Beby berpindah tempat. Namun, mata hitam itu terus saja mengekorinya. 


Sebuah ide tiba-tiba merasuki otak Beby. Ia berjalan ke sudut ruangan tempat fasilitas gedung gym—sebuah kulkas yang menyediakan minuman berupa air mineral dingin. Gadis itu mengambil dua botol. Satu untuk ia teguk hingga tandas, satu lagi untuk Aldef. 


Usai menghabiskan satu botol air mineral miliknya, Beby melangkah santai ke arah Aldef yang tengah sibuk mengusap peluh menggunakan handuk hitam kecil di lehernya.


Tanpa aba-aba, Beby mengulurkan botol berisi air mineral yang semula dalam genggamannya. Tindakan Beby yang tiba-tiba ini tentu saja membuat Aldef lantas menatapnya heran.


"Minum," ucap Beby.


Aldef mengambil alih botol dari tangan Beby. Lagipula, kerongkongannya memang sedang butuh dibasahi. Pria itu membuka penutup botol, lalu meneguk air di dalamnya.


Manik mata Beby terpatri pada jakun Aldef yang naik-turun seirama dengan surutnya air dalam botol. Keringat yang menetes dari pelipis Aldef, membuat Beby benar-benar speechless.


"Lo dari tadi ngelihatin gue," ucap Beby.


Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang Beby yakini kebenarannya.


"Uhuk! Uhuk!" Dan ya, pernyataan itu sukses membuat Aldef tersedak. Terpaksa, Aldef harus menghentikan aktivitas minumnya.


"Nggak usah ge-er," sinis Aldef.


"Jelas-jelas gue lihat lo merhatiin gue dari tadi," kukuh Beby.


Aldef memiringkan kepala, seolah tengah mencari sesuatu dalam wajah Beby. Gadis di hadapan Aldef yang ditatap sedemikian intens pun merasa seolah tenggelam di dalamnya.


"Terserah," ucap Aldef yang kemudian melenggang dari hadapan Beby.


"Gitu doang?" gumam Beby dengan tatapan yang melekat ke punggung Aldef. 


Baru saja Beby akan meneriaki nama pria itu, tapi Aldef mendadak berhenti melangkah. Ia kembali memutar tubuh untuk menghadap Beby. Tanpa beranjak dari posisinya, Aldef mengangkat botol air mineral dalam genggamannya. Lalu, ia berkata, "Thank's."


Yang tidak siapapun ketahui adalah, detak jantung Aldef terasa menggila sejak saat Beby datang menghampirinya.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!


Thank you ❤️


__ADS_2