
"Aaa—!"
Refleks, kedua telapak tangan Beby membungkam bibirnya yang baru saja berteriak. Bagaimana tidak? Si pengendara mobil di depan sana kini beringsut sembari memeluk bagian perutnya.
Tanpa pikir panjang, Beby turun dari mobil. Sembari melipat lengan kemeja hingga mencapai siku, langkahnya dengan mantap menghampiri TKP.
"WOY!" teriak Beby saat jarak antara dirinya dan ketiga begal itu tersisa lima meter.
Mendengar suara lantang itu, keempat orang di depan Beby lantas mengarahkan pandangan ke arahnya. Meski demikian, indra pengelihatan Beby tak mampu menangkap gambaran wajah mereka dengan jelas. Pasalnya, tiga orang begal itu mengenakan penutup kepala, sementara si korban beringsut di samping mobilnya. Cahaya lampu jalan yang tamaram membuat jarak pandang Beby terbatas.
Satu orang begal berbadan kurus menahan korban yang Beby duga adalah seorang pria, sementara dua orang begal berperawakan tinggi besar lainnya menghampiri Beby.
Salah satunya tertawa meremehkan. "Wah! Ada cewek, nih."
"Sekali tangkap, dua lalat!" sahut kawan si begal itu. Lalu, mereka kompak terbahak-bahak.
Sembari menguncir rambut ala buntut kuda dan menata kuda-kuda, Beby berseru, "Lepasin orang itu!"
Dua preman di hadapan Beby saling tukar pandang. Lalu, mereka melangkah lebih dekat sembari terbahak-bahak.
"Cewek, bisa apa, sih, lu?" Salah satu di antara dua begal itu menantang Beby.
Gadis cantik itu hanya tersenyum miring. Manik matanya menatap si target dengan intens. Dua detik kemudian, Beby mendahului pertengkaran di tengah gelapnya malam.
***
Aldef keluar dari studio FS sekitar pukul 22.16. Di persimpangan lampu lalu lintas, Aldef melihat seorang anak kecil sedang menyebrang. Kedua mata Aldef terbelalak saat melihat ada sebuah mobil yang melaju tanpa kendali dari arah berlawanan. Dengan cepat, Aldef keluar dari mobilnya dan menolong anak itu.
Akibat aksinya itu, Aldef merasakan perih yang teramat sangat pada bagian tulang kering.
Baru saja Aldef akan melihat kondisi kakinya, seseorang bertanya, "Mas nggak apa-apa?"
Aldef mendongak untuk menatap wajah pemilik suara itu: seorang ibu-ibu. "Nggak apa-apa."
"Makasih udah nolongin anak saya."
Berusaha menyembunyikan rasa perih, Aldef tersenyum dan beranjak bangkit. "Sama-sama, Bu."
Tiba-tiba, suara klakson bersahutan di jalan seberang. Ternyata, penyebabnya adalah mobil Aldef yang menghalangi jalan.
Pria berumur 22 tahun itu bergegas kembali ke dalam mobil. Setelah melewati persimpangan, Aldef berniat berhenti sejenak di pinggir jalan untuk melihat kondisi kakinya. Benar saja, lutut dan tulang keringnya berdarah.
Masa bodoh, Aldef hanya ingin cepat sampai apartemen sekarang. Oleh karena itu, ia mengambil jalan pintas.
Di tengah usahanya untuk fokus menyetir, tiba-tiba kaca jendela mobil Aldef diketuk dari sisi kanan dan kiri. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Aldef mempercepat kecepatan laju mobilnya. Namun, para begal itu berhasil mengadang Aldef.
****! Sial banget gue hari ini!
Saat ia turun dari mobil, tiga orang begal itu langsung menodong Aldef. Enggan menurutinya, Aldef memilih untuk berkelahi.
Tapi, malam ini keberuntungan seolah menghindar dari Aldef. Satu kakinya yang mati rasa membuat fokus Aldef terpecah. Ia kalah dalam pertengkaran itu. Lelaki berkaus hitam polos itu beringsut di bawah pintu mobil sembari memeluk perutnya yang terasa nyeri. Saat Aldef sudah di ambang keputusasaan, tiba-tiba ...
"WOY!"
Kedua mata Aldef yang semula terpejam rapat pun refleks terbuka. Pria itu mengusap-usap kedua pelupuk matanya, agar obyek di depan sana dapat tertangkap lebih jelas. Setelah itu, Aldef memicing, berusaha lebih fokus lagi.
__ADS_1
Tepat saat itu, ia melihat seorang gadis berjalan ke arah para begal yang tadi menyerangnya.
"Lepasin orang itu!"
Bibir Aldef sedikit terbuka sesaat setelah suara itu merasuki gendang telinganya. Bukan. Bukan karena suara gadis itu, melainkan karena si gadis yang tampak menguncir rambutnya dengan gerakan cepat.
Wow! Tanpa sadar, Aldef berdecak kagum dalam hati. Meski wajah gadis itu tak mampu tertangkap manik matanya dengan jelas, entah mengapa, Aldef merasa ... terpesona.
Terpesona ... aku terpesona.
Eh? Kok, bacanya sambil nyanyi?
Tak berapa lama setelah gadis berkemeja dan dua orang begal itu berhadapan, perkelahian pun terjadi. Semula, Aldef bergidik ngeri, membayangkan leburnya raga sang gadis di tangan dua begal itu. Namun, lagi-lagi Aldef dibuat terpana, sebab nyatanya gadis berambut panjang itu mampu mengalahkan si begal.
Melihat dua orang kawannya terbaring lemah, satu begal yang semula menjaga Aldef pun turun tangan. Lagi dan lagi, gadis itu mampu menghajar para begal itu dengan mudah.
Merasa sudah tak ada harapan, tiga orang begal itu lari terbirit-birit menuju motor masing-masing, lalu melesat cepat dari Aldef dan sang gadis yang kini mendekat ke arahnya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya gadis itu.
Aldef mendongak, kedua matanya melebar saat dapat menangkap gambaran wajah gadis di hadapannya dengan jelas. "Beby?"
"Aldef?" Ada sarat keterkejutan di balik pancaran mata Beby.
"Arghhh!!!" ringis Aldef sebab perutnya yang terasa nyeri.
Kepalang tanggung, Beby membawa lengan Aldef hingga melingkari leher belakangnya. Gadis itu berniat membawa Aldef untuk duduk di kursi depan sebelah kiri, dan ia yang akan berada di balik kursi kemudi.
"Lo mau ngapain?" tanya Aldef di sela-sela ringisannya.
Aldef yang merasakan nyeri di sekujur tubuh hanya bisa pasrah. Ia juga siap bila Beby meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi ini. Namun, prasangka itu dipatahkan dengan Beby yang kini sudah berada di samping kanan Aldef.
"Ngapain lo masuk mobil gue?" tanya Aldef dengan kedua alis yang bertaut heran.
Beby menghela napas sejenak. "Lo pikir, mobil lo bisa jalan sendiri kalau nggak ada yang nyetir?" Lalu, gadis itu bergumam pelan, "Bego banget, sih."
"Apa lo bilang?"
Pertanyaan penuh nada curiga itu membuat Beby lantas melempar seulas senyum super-tipis ke arah lelaki di sebelahnya. "Bukan apa-apa."
Aldef menoleh ke belakang. Seingatnya, ia melihat sebuah mobil terparkir tak jauh di belakang mobilnya. Dan ternyata, dugaannya benar.
"Mobil lo gimana?" tanya Aldef seraya menatap ke arah Beby. "Yang di belakang itu mobil punya lo, 'kan?"
"Ada yang ngambil nanti," jawab Beby seraya mulai menginjak pedal gas.
Memang, sebelum Beby masuk mobil Aldef, ia mengambil tas, ponsel, dan kunci mobil terlebih dahulu. Gadis itu lalu meminta bantuan Miko—yang kebetulan sedang meneleponnya saat itu—untuk mengambil mobilnya dengan kunci cadangan di kamar Beby.
Setelah perbincangan itu, tak ada lagi yang berniat untuk mengeluarkan suara. Beby fokus pada jalanan di hadapannya, sedangkan Aldef beberapa kali mencuri pandang ke arah gadis itu.
Bayangan akan Beby yang melangkah menuju para begal tadi dengan penuh percaya diri, serta caranya menguncir rambut dengan gerakan cepat, entah mengapa terus terbayang dalam benak Aldef.
Dari samping, manik mata Aldef dapat menangkap dengan jelas wajah Beby yang terkena semburat sinar lampu. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang, bulu mata lentik, bibir tipis, serta peluh yang mengalir di pelipis. Semua itu seolah memang telah diciptakan untuk mencurahkan aura kecantikan Beby.
Cantik banget, gila!
__ADS_1
Bahkan, batin Aldef pun menyetujuinya. Otaknya saja yang terkubur gengsi, membuat pria itu enggan mengakui isi hatinya.
"Ngapain lo lihatin gue?"
Suara Beby membuat Aldef tersentak kaget barang sejenak. Pria itu bergegas mengalihkan pandangan ke sembarang arah demi menghindari bola mata Beby yang bak tarikan magnet.
Aldef tertawa kecil, berusaha membantah isi hatinya sendiri. "Ge-er banget, sih!"
Melihat respon Aldef, Beby tak berniat untuk melanjutkan obrolan mereka. Gadis itu memilih untuk kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
Sementara itu, akal dan hati Aldef masih saja sibuk berperang.
Setelah cukup lama keheningan menyelimuti mobil Aldef, lelaki itu kembali membuka obrolan. "Ngomong-ngomong, thank's udah nolongin gue."
"Kalau yang kena begal tadi bukan lo juga pasti gue tolongin, kok," balas Beby tanpa mengalihkan fokus dari jalanan di hadapannya.
Aldef berdecak kesal. "Di mana-mana, orang bilang 'makasih' itu jawabnya 'sama-sama'."
"Mulut-mulut gue. Terserah gue, lah."
Satu sudut bibir Aldef menukik ke atas, membentuk senyuman nakal nan mematikan.
Lo emang selalu nolongin gue.
"Apa?" tanya Beby, sebab ia mendengar sebuah suara yang membelai samar gendang telinganya.
"Hah?" Tersadar bahwa suara hatinya sempat terucap, Aldef lantas menggeleng pelan. "Bukan apa-apa."
Gadis di samping Aldef hanya manggut-manggut pertanda paham. Tangannya meraih ponsel untuk melihat pesan dari notifikasi yang baru saja masuk.
Ya. Siapa lagi jika bukan Miko pelakunya?
Melihat tampang serius Beby, Aldef merasa ingin mengarunginya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Beby.
Belum sempat Aldef bersuara, Beby tersadar akan apa yang Aldef lakukan. "Mau ngapain lo?! Jangan macem-macem!"
"Dih! Orang gue cuma mau ngingetin. Kalau lagi nyetir itu fokus, jangan sambil main handphone. Bahaya."
Beby menanggapi ceramah singkat Aldef dengan memutar kedua bola mata malas.
Aldef tersenyum jail. "Jangan jutek-jutek, nanti gue suka," bisiknya yang membuat bulu kuduk Beby kompak berdiri.
Jinjja! (Sial!)
Berbanding terbalik dengan Beby yang mengumpat dalam hati, Aldef tersenyum penuh makna. Lelaki itu menarik ucapannya beberapa saat lalu.
Kayaknya, nggak sial-sial amat.
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!
__ADS_1
Thank you ❤️