
..."Cinta memang memberi kita banyak hal baru. Tapi di saat yang bersamaan, cinta juga memaksa kita untuk mengorbankan banyak hal. Terutama perasaan."...
...***...
Lola bingung saat menemukan Beby dalam posisi tidur menyamping dan bahu berguncang. Suara isakan yang dapat dipastikan dari mana asalnya membuat Lola cepat-cepat menutup kembali pintu ruang rawat Beby.
"Beby? Hei. Lo kenapa?"
Beby yang semula berbaring, mengubah posisi menjadi duduk. Tangisnya kembali pecah saat melihat tatapan prihatin yang Lola tampilkan. Lola yang melihat hal itu pun lantas memeluk Beby.
"Kenapa, By? Ada yang jahat sama lo?"
"A-Arka."
Lola melepas pelukannya. Ia menatap Beby lamat-lamat dengan telapak tangan bertengger di bahu Beby. "Arka? Maksudnya?"
Gadis di hadapan Lola itu memejamkan mata. Beby menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Matanya kembali terbuka, membalas tatapan penasaran Lola. "Tadi Arka datang."
"Arka datang? Ngapain?" Lola menarik kursi di samping kanan Beby, lalu memposisikan diri duduk di sana.
Beby menghela napas sejenak. Perlahan, ia kembali normal. "Gue juga nggak tahu. Dia tiba-tiba datang, terus minta maaf."
"Kalian balikan?"
"Haha." Tawa yang terdengar penuh rasa sakit. "Boro-boro balikan, temenan sama gue aja dia nggak mau. Kayaknya, Arka emang udah cinta mati sama first love-nya."
Dari yang Lola lihat, Beby masih mencintai Arka. Terlepas dengan Arka yang secara gamblang menyayat hati Beby sekalipun. Lola jadi semakin takut untuk jatuh cinta. Karena, cinta memang memberi kita banyak hal baru. Tapi di saat yang bersamaan, cinta juga memaksa kita untuk mengorbankan banyak hal. Terutama perasaan.
"Ya udah, tenang aja," ujar Lola sembari menepuk punggung tangan Beby yang bebas dari infus. "Lagian, ada Aldef, 'kan?"
Kedua alis Beby bertaut heran. "Kok, jadi Aldef?"
"Aduh, Beby! Nih, ya. Dengerin gue. Dari video lo sama Aldef yang lagi viral aja, gue tahu Aldef punya perasaan lebih sama lo."
"Tahu dari mana coba?"
"Dari tatapannya, lah!"
"Sotoy! Ketemu Aldef aja lo belum pernah."
Lola mengibas-ibaskan tangannya tepat di depan muka Beby. "Terserah lo, dah," kata Lola. "Terus, lo mau ngomong apa? Katanya ada yang mau diomongin."
"Oh, iya." Beby teringat akan project webseries yang akan ia kerjakan bersama Daren dan Fahri. "Lo bilang, waktu SMA lo pernah jadi pengurus ekskul drama, 'kan?"
"Iya. Kenapa emang?"
"Berarti lo tahu, dong, seluk-beluk akting? Bisa akting, 'kan?"
"Lumayan. Kenapa, sih, emangnya?"
"Gue mau ngajak lo join."
"Join apaan?"
Beby menjelaskan tentang project yang akan dilaksanakan.
"Nggak, ah!" tolak Lola usai mendengar penjelasan Beby. "Nggak mau gue. Kenapa harus gue coba?"
"Coba dulu, dong, Lola. Ya? Ya? Please."
Melihat wajah melas Beby, Lola akhirnya menyerah. "Iya, deh."
Tepat saat itu, ponsel Beby berdering. Panggilan dari Kiran.
"Beby Skyla Amanda! Bisa-bisanya lo nggak kasih tahu gue kalau lo dirawat di rumah sakit!"
Beby terkekeh geli mendengar ocehan sahabatnya itu. "Ya sorry, Ran. Gue juga dirawat baru semalam, kok. Lo pasti tahu dari Aldef, ya?"
"He'em. Nanti selesai kelas gue jenguk lo, ya."
__ADS_1
"Bareng sama Aldef?"
"Oh, nggak. Aldef duluan katanya. Kelasnya udah selesai jam dua nanti. Gue baru beres sekitar jam empat."
"Ya udah kalau gitu."
"Ngomong-ngomong, lo jadi sering bareng Aldef, ya, sekarang?" Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
"Nggak juga," elak Beby.
"Hilih. Sekarang aja lo bisa ngelak. Udah dulu, ya, dosennya mau datang."
***
Waktu menunjukkan pukul 13.12 saat Lola pamit kembali ke kafe. Tak lama setelah itu, seseorang membuka pintu ruang rawat Beby. Kedua bola matanya berbinar saat melihat siapa yang datang.
"Mama?! Papa?!"
"Beby!!!" Maya berlari kecil dan langsung merengkuh tubuh putri kesayangannya. "Mama khawatir banget sama kamu."
"Papa?" Kini, giliran sang papa yang memeluk Beby dengan erat.
"Kamu apa kabar, Sayang?" tanya Billy sambil mengusap lembut puncak kepala Beby.
"Baik, Pa," jawabnya sambil melempar seulas senyum tipis.
"Mama sama Papa, kok, bisa di sini?" tanya Beby sambil menatap ke arah Maya dan Billy, juga dua orang di samping papanya. "Ada Kak Indra sama Kak Sinta juga."
Sinta adalah istri Indra. Mereka baru menikah lima bulan yang lalu. Sewaktu Indra dan Sinta masih pacaran, Beby sering bertemu Sinta. Di hari pernikahan Indra dan Sinta, Beby terpaksa tidak hadir. Karena saat itu Beby sedang melaksanakan ujian akhir semester.
Indra tersenyum tipis. Langkahnya mendekat ke arah Beby. "Kamu sakit apa?"
Di antara Indra, Miko, dan Beby, Indra-lah yang paling pendiam. Dia satu-satunya pemilik sifat introvet di antara kedua adiknya.
"Biasalah, Kak. Kecapekan. Kakak apa kabar?"
Beby tersenyum, membalas senyuman Indra yang hanya ditunjukkan pada orang-orang tertentu.
"Beby." Kini, giliran Sinta yang mendekat. "Lama kita nggak ketemu."
Senyuman yang sama belum luntur dari bibir Beby. "Iya, Kak. Kakak apa kabar? Gimana rasanya jadi istri Kak Indra? Boring banget, ya, pasti."
Sinta tertawa, diikuti semua orang yang ada di ruang itu. Ia menoleh sejenak ke arah suaminya. "Nggak se-boring yang kamu bayangin, kok."
"Ini buktinya," sahut Maya sambil mengusap perut rata Sinta.
Beby menatap heran pada Maya. Gadis itu tak tahu apa maksud—
"Kak Sinta hamil?!" seru Beby setelah menyadari maksud ucapan Maya.
Dengan senyum mengembang, Sinta dan Maya mengangguk.
"Wah! Hebat juga Kak Indra." Beby berdecak kagum. "Cepet banget, lho! Tokcer tuh pasti."
"Hus!" sengkal Maya. "Anak kecil dilarang ngomong gitu."
"Anak kecil gimana? Orang Beby udah bisa cari duit sendiri," protes Beby.
"Buat Papa sama Mama, kamu akan selamanya jadi anak kecil, By," kata Billy.
"Betul itu!" timpal Maya yang membuat seisi ruangan tertawa.
***
Baru beberapa jam tak memandang wajah Beby, rasanya kerinduan Aldef telah menumpuk. Pria itu langsung tancap gas menuju ke rumah sakit.
Aldef mengangkat kresek putih dalam genggaman tangan kanannya. Meski begitu tak sabar bertemu Beby, Aldef menyempatkan diri untuk membeli nasi goreng seafood—makanan favorit Beby. Aldef seratus persen yakin, Beby pasti enggan memakan makanan rumah sakit.
Seiring langkahnya menyusuri koridor, ada begitu banyak adegan romantis di kepala Aldef. Mulai dari menyuapi Beby makan, membahas hal-hal yang tidak penting, sampai jurus gombalnya yang selalu membuat pipi Beby mengeluarkan semburat merah jambu.
__ADS_1
Meski kurang perfect dengan kehadiran Lola. Tapi tak apa. Lagipula, Aldef harus dekat dengan orang-orang yang dekat dengan Beby, bukan?
Masih dengan senyum merekah, Aldef menekan kenop pintu ruang rawat Beby. Pria itu terdiam melihat pemandangan di hadapannya. Bayangan akan segala adegan romantis di kepala, runtuh sudah. Lola memang tidak ada, tapi ....
"Eh? Siapa, nih?" Seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah mirip Beby menghampiri Aldef di ambang pintu. "Temen kamu, By?"
"Iya, Ma," jawab Beby. "Masuk aja, Al."
Ma?
Ma?
Mama?
Mama?
Jadi, wanita di hadapan Aldef ini adalah mama Beby?
Mengingat hal itu, Aldef lantas menarik kedua ujung bibirnya. Membentuk seulas senyum ramah yang terpancar hangat. "Assalamualaikum," ucap Aldef sambil mencium punggung tangan Maya.
"Waalaikumsalam." Semua orang di dalam ruangan itu kompak menjawab. "Ayo masuk."
"Iya, Tante," balas Aldef sopan.
Ada tiga orang lagi yang tertangkap bola mata Aldef. Dan salah satunya dapat Aldef pastikan bahwa itu adalah papa Beby.
"Om," sapa Aldef pada Billy yang sejak tadi sibuk menyuapi Beby. Maklum, sudah lama sekali Beby tidak bermanja-manja dengan sang ayah.
Billy menoleh sejenak. Melempar senyum tipis ke arah Aldef.
"Kenalin, Pa, ini namanya Aldef. Temen kuliah Beby," ujar Beby, memperkenalkan sosok yang berdiri di samping ayahnya. Billy hanya manggut-manggut sebagai balasan.
Memang, sejak zaman pra-sejarah, Billy terkenal cuek dan irit bicara. Satu-satunya keturunan Billy yang mewarisi sifat itu adalah Indra.
"Ini ... bukannya yang ada di video bareng kamu, By?" tanya Sinta yang semula bermanja-manja dengan sang suami di sofa, kini turut menghampiri Beby. "Yang viral itu. Iya, 'kan?"
Sontak, semua pasang mata mengarah ke wajah Aldef. Aldef yang merasa terintimidasi dengan tatapan mereka hanya bisa pasrah.
"Iya. Kakak tahu aja," ucap Beby.
Aldef melotot kaget. Bisa-bisanya Beby menjawab pertanyaan itu dengan santai?! Apa gadis itu tidak memikirkan nasib Aldef setelah ini? Bagaimana jika ia dimaki habis-habisan oleh keluarga Beby?!
"Maaf, Om, Tante," cicit Aldef sambil menatap ke arah Billy dan Maya secara bergantian. "Aldef nggak bermaksud—"
"Ngapain minta maaf?" sela Billy. "Justru saya berterimakasih sama kamu. Karena kamu, udah nolong Beby."
"Tumben papa ngomong lebih dari satu kalimat," sahut Maya.
Lalu, semua orang di ruang itu kompak tertawa. Kecuali Billy—yang menjadi sasaran, dan Aldef.
"Eh, Aldef bawa apa, nih?" tanya Maya, membuat Aldef tersadar dengan kresek putih dalam genggamannya.
"Oh, ini." Aldef mengulurkan kresek berisi sterofoam itu pada Maya. "Tadi Aldef beli nasi goreng seafood buat Beby. Tapi kayaknya Beby udah kenyang."
"Buat gue aja." Indra yang sejak tadi berkutat dengan laptopnya, tiba-tiba datang menghampiri Aldef. Pria itu mengambil alih kresek putih yang belum sempat Maya terima. "Thank's."
Wow! Aldef berdecak kagum dalam hati. Rupanya, tiga bersaudara ini—Indra, Miko, Beby—sama-sama pecinta nasi goreng seafood.
Ada yang sama?
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1