ALDEBY

ALDEBY
|6.| Bersamamu


__ADS_3

Air, definisi sesungguhnya dari pedang berkepala dua. Tanpa air, bumi serta isinya tak 'kan ada. Tapi jika terlalu banyak air, kita tenggelam. Air memberi kehidupan, sekaligus penyebab kematian seseorang.


Entah sudah berapa lama Beby berdiam diri di pinggir jembatan. Mengabaikan suara klakson kendaraan bermotor yang saling bersahutan. Menikmati terpaan angin yang menyatu dengan asap kendaraan.


Dari sini, Beby bebas menatap benda langit kesayangannya yang tak pernah redup.


Hanya Beby yang dapat merasakan dahsyatnya tsunami dalam dirinya. Tak ada secuil ekspresi yang Beby tunjukkan. Meski demikian, berulang kali tangannya bergerak cepat saat merasakan cairan bening merembes dari kedua matanya.


Lelah, Beby berniat untuk menaiki pagar jembatan, lalu duduk di sana. Beby belum ingin bertemu dengan dinding-dinding yang membatasi indra pengelihatannya. Ia masih ingin mengamati bintang-bintang di langit dan pantulannya yang seolah terbawa arus air sungai.


Namun, belum sempat Beby berhasil duduk di pagar jembatan, seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya ke belakang. Beby yang tak siap dengan gerakan itu pun berakhir tersungkur ke trotoar. Gadis itu mendongak untuk melihat wajah si pelaku.


"LO GILA, YA?!" teriak Beby, sembari bangkit dari posisi duduk. "Ngapain lo narik-narik gue?!"


Aldef pun turut berdiri di hadapan Beby. "Lo yang gila! Mau mati lo?! Hah?!"


Kening Beby berkerut heran. Detik berikutnya, ia baru menyadari apa yang Aldef maksud. "Gue nggak mau bunuh diri kali!"


"Terus, ngapain lo manjat?" Tatapan Aldef beralih sejenak pada besi tempat Beby memijakkan kaki tadi.


Alih-alih menjawab, Beby malah melakukan niatnya yang sempat tertunda. 


Melihat hal itu, kedua mata Aldef lantas terbelalak. Tangannya kembali meraih pergelangan Beby. Namun, kali ini gadis itu lebih sigap.


"Lo beneran mau mati?"


Sebelum menjawab, Beby memposisikan diri terlebih dahulu. Usai merasa duduk dengan benar, Beby menoleh ke arah Aldef yang kini berdiri di samping kirinya. Lelaki itu masih menatap Beby lekat-lekat.


"Gue mau duduk di sini," ucap Beby. "Bukan mau mati!"


Aldef menghela napas sejenak. Sedikit lega mengingat apa yang terlintas dalam benaknya adalah sebuah kesalahan.


"Ikut gue," ujar Aldef sembari meraih pergelangan tangan Beby.


"Ke mana?" 


"Ikut aja."


"Tapi, mobil gue?"


"Siapa bilang lo naik mobil gue?"


Mampus! umpat Beby pada dirinya sendiri. 


Demi keselamatan harga dirinya, Beby memutus aksi saling tatap antara dirinya dan Aldef. "Terus?"


"Ke Apartemen Golden. Lo jalan duluan," ucap Aldef.


"Gue belum mau balik."


"Siapa yang ngajak lo balik?"


"Tapi, kan—"


"Terserah kalau lo nggak mau. Gue tinggal."


Apa yang harus Beby lakukan sekarang? Ia masih ingin tinggal, tapi rasa penasaran akan apa yang ingin Aldef lakukan membuatnya ragu. Melihat Aldef yang sudah memasuki mobilnya, membuat Beby berakhir memutuskan untuk turut memasuki mobil merah miliknya.


***


Ternyata, Aldef mengajak Beby ke rooftop apartemen. Gemerlap lampu yang tersaji di hadapan Beby, sungguh menakjubkan. Ini pertama kalinya Beby menginjak lantai teratas Apartemen Golden.


"Biasanya, kalau lagi galau, gue nenangin diri di sini," ucap Aldef, membuat Beby lantas menoleh ke samping kanan.


"Siapa yang galau?"


Dengan ekspresi datar, Aldef menatap Beby sembari berkata, "Lo."

__ADS_1


"Hah?" Di dalam hati, Beby terus merapalkan doa agar Aldef termakan oleh bakat akting-nya. "Nggak! Gue nggak galau."


Masih dengan ekspresi dan cara menatap yang sama, Aldef menepis jarak antara wajahnya dan wajah Beby secara perlahan. Melihat Aldef memajukan wajah, Beby pun mundur untuk kembali mengais jarak.


"Mata lo sembab," ucap Aldef. "Hidung lo merah. Tatapan lo nggak fokus." Pria itu kembali ke posisi semula, membuat Beby bisa kembali bernapas lega. "Masih mau bohong?"


"Kenapa lo jadi kepo sama urusan gue?"


Ah! Aldef melewatkan saat-saat di mana ia harus menyiapkan jawaban dari pertanyaan Beby yang satu itu. Tapi, bukan Aldef namanya jika tak mampu berkelit.


"Karena lo tetangga apartemen gue. Kalau ada tragedi bunuh diri di unit apartemen lo, pasti gue diminta jadi saksi. Ribet."


Beby yang semula hampir mencapai langit ketujuh, kembali dihempaskan oleh jawaban Aldef. Gadis itu melengos dan kembali menatap langit. "Kirain dia peduli."


"Jadi, lo mau gue peduliin?"


Embusan angin hangat yang menerpa daun telinga Beby membuatnya lantas menoleh ke kanan. "Nggak!"


Setelah itu, Beby bergegas enyah dari area rooftop. Meninggalkan Aldef yang mendadak betah dimanja oleh angin malam dan gemerlap lampu-lampu kota. Kedua sudut bibirnya menukik ke atas, membentuk senyuman penuh makna yang disaksikan oleh seluruh penghuni semesta.


***


Beby memasuki unit apartemen berplakat 255 dengan langkah gontai. Sampai di ruang tengah, sebuah suara membuatnya terlonjak kaget.


"Dari mana aja lo?"


"Kak Miko?!"


Miko yang semula duduk santai di sofa, beranjak untuk menghampiri adiknya. Bola mata pria berbalut hoodie warna hitam itu seakan melucuti raga Beby.


Saat posisi mereka sudah berhadapan, Miko kembali bertanya, "Dari mana?"


"Gue ...." Sial! Bisa-bisanya lupa Kak Miko bakal datang malam ini.


Belum sempat Beby menjawab, Miko kembali berkata, "Rambut berantakan, mata sembab, muka kucel. Disangka orang gila baru tahu rasa lo."


"Miannhe, Oppa. Gue lupa kalau mesti jemput lo di bandara." (Maaf, Kak).


Mengenal Beby sejak di dalam kandungan ibunya, Miko tahu benar bagaimana tabiat adiknya itu. Beby memang memiliki bakat ber-akting, tapi itu tak berlaku di hadapan Miko.


"Diteleponin dari tadi nggak diangkat-angkat. Dari mana gue tanya?"


Entah mengapa, melihat bola mata Miko membuat Beby kembali merasa sesak. Bibirnya kelu, tak sanggup berkata-kata.


Sekeras apapun Beby mencoba, air matanya tumpah juga.


Miko yang melihat hal itu pun refleks mengusap air mata Beby dengan ibu jarinya. Kemudian, pria itu membawa sang adik ke dalam dekapan. 


Benar saja, dalam pelukan Miko, isak tangis Beby terdengar semakin keras dan memilukan. 


Jika sudah seperti ini, Miko hanya bisa menunggu kapan Beby mau bercerita. 


***


Tadinya, Beby ingin mengajak Miko gym bersama pagi ini. Tapi ternyata, sang kakak sudah harus pergi sejak pukul 06.00 tadi.


Beby menekan tombol power off pada treadmill saat mendengar nada dering pada ponselnya. Melihat siapa yang menelepon, Beby pun tak segan menekan tombol answer. Lalu, gadis berjaket abu-abu itu bergegas keluar dari gedung gym.


"Ya, Ran?"


"Sorry, semalam gue nggak bisa hubungi lo. Kak Gino seharian di rumah kemarin. Padahal, gue penasaran banget gimana waktu lo ketemu Arka semalam."


Rentetan kalimat itu usai tepat saat Beby telah duduk di kursi depan kolam renang yang lokasinya tak jauh dari gedung gym. 


Sebelum berkata-kata, Beby menghela napas sejenak. "Gue putus sama Arka."


"Hah? Putus? Kok, bisa? Kenapa?"

__ADS_1


Jujur, kedua indra pengelihatan Beby terasa panas saat kilasan memori tentang kemesraan sang mantan dengan perempuan bernama Putri kembali menghampirinya. Tak mengizinkan air mata membasahi pipinya, Beby mendongak.


"By? Kok, lo diem?"


Mendengar suara Kiran, Beby kembali menatap lurus ke depan. Dengan sengaja, gadis itu menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk bulan sabit.


"Ternyata, selama ini Arka selingkuh."


Satu kalimat itu, sukses meruntuhkan dinding pertahanan yang susah payah Beby bangun. Sekuat apapun Beby menahan, desakan cairan bening dari matanya lebih kuat. 


Sial! umpat Beby pada air mata yang lancang membasahi pipinya.


"Nanti malam gue ke apartemen lo," ucap Kiran yang menjadi akhir dari perbincangan mereka pagi itu.


***


Siapapun tahu, bahwa Aldefra Mahardika adalah orang yang tak pernah melewatkan sehari pun tanpa olahraga. Namun, sejak pindah ke apartemen ini, niatnya ke gedung gym menjadi bertambah. Bukan hanya berolahraga, tapi juga mengamati seorang gadis yang entah sejak kapan memenuhi isi kepalanya.


Aldef meletakkan beban yang semula berada di genggaman tangan kirinya saat melihat Beby keluar dengan ponsel yang menempel ke daun telinga. Sepertinya, gadis itu sedang menerima telepon.


Penasaran, Aldef pun menyudahi aktivitasnya di gedung gym dan bergegas menyusul Beby diam-diam. Ternyata, Beby duduk di kursi panjang depan kolam renang. 


Tak jauh dari tempat Beby duduk, Aldef berdiam diri dan siap memasang telinga. Kini, pria berkaus lengan pendek warna hitam itu dapat menangkap ekspresi Beby dari samping.


Seseorang yang sedang berbincang dengan Beby rupanya adalah Kiran. Tapi, Aldef melihat ada sesuatu yang aneh. 


Benar saja, tak lama kemudian, Beby menangis. Lalu, gadis itu kembali menggenggam ponselnya, memberi tanda bahwa obrolan Beby dan Kiran telah berakhir.


Melihat Beby tak ada niat untuk beranjak dari posisinya, Aldef mendekat. Ia mengambil posisi duduk di samping kanan Beby, membuat gadis itu lantas menoleh ke arahnya.


"Aldef? Ngapain lo di sini?" tanya Beby. 


Alih-alih menjawab, Aldef malah mengulurkan sebuah sapu tangan. "Hapus air mata lo."


Kalimat itu membuat Beby tersadar dengan jejak air mata yang masih ada di pipinya. Cepat-cepat, gadis itu mengusapnya.


Tapi, belum sempat niat itu terlaksana, tangan Aldef meraih pergelangan Beby. Membuat gerakan Beby seketika terhenti. 


"Cengeng banget, sih," ejek Aldef sembari mengusap air mata Beby menggunakan sapu tangan dalam genggamannya.


Beby diam. Otaknya mendadak berhenti berputar. Ia tak tahu harus berkata apa. 


"Putus cinta itu hal yang biasa," ujar Aldef. "Apalagi putusnya karena cowok lo selingkuh. Harusnya lo happy, bisa lepas dari laki-laki yang nggak baik."


"Lo nguping?" tuduh Beby.


"Nggak sengaja dengar." 


Oke. Aldef tahu berbohong memang tidak dianjurkan. Tapi, demi keselamatannya, berbohong sekali tidak apa-apa, 'kan?


Keheningan menyelimuti keduanya. Beby menatap lurus ke arah genangan air kolam yang tampak tenang. Sementara Aldef terus mengamati wajah Beby. Bukan tidak tahu, Beby hanya pura-pura tak menyadari bahwa tatapan Aldef tak beralih darinya.


"Ngomong-ngomong, sorry, ya," ucap Aldef, membuat Beby menoleh ke arahnya.


"Sorry kenapa?"


Aldef menunjukkan sapu tangan dalam genggamannya. "Bekas keringat gue."


Tiga kata itu sukses membuat kedua mata Beby melotot. Jika bukan ciptaan Tuhan, dapat dipastikan bola mata gadis itu sudah menggelinding ke lantai.


"ALDEFFF!!!"


***


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2