
"Arka."
"Oh ...."
Entah mengapa, nama itu seperti sindiran yang menampar telak ke muka Aldef. Hubungan Arka dan Beby berakhir sebab Arka yang masih menaruh rasa pada sang mantan. Lantas, apa kabar dengan Aldef? Akankah hubungannya dan Beby berakhir karena hal yang sama?
"Al ..., lo nggak marah, 'kan?"
Mendengar nada lirih Beby, Aldef menoleh sembari melempar senyuman lebar. "Nggak, kok. Dia datang ke apartemen?"
Beby menggeleng. "Cuma ngirim kado."
"Apa isinya?"
"Hoodie."
Aldef tersenyum masam. "Masih inget, ya, dia barang kesukaan lo."
"Al ...."
"Ke arah mana, nih?"
Beby bukan orang polos yang tak mengerti makna di balik respon Aldef. Ia hanya tak ingin memperburuk suasana. "Lurus."
***
Arka membanting punggungnya ke sandaran kursi. Niat hati melanjutkan revisi, tapi jiwa dan raganya enggan bekerjasama.
Ketik, hapus, ketik, hapus.
Itu yang Arka lakukan sejak satu jam yang lalu. Otaknya terdistraksi dengan dua orang gadis yang ia lihat seruangan dengan Aldef.
Arka meraih fotonya bersama Beby dalam balutan pigora yang sengaja ia letakkan di atas meja belajar. Layaknya sengatan listrik, Arka turut tersenyum saat melihat gadis dalam foto itu tersenyum manis.
"Suka sama hadiahnya, By?" Ibu jari Arka bergerak mengusap wajah Beby dalam foto itu. "Barang kesukaan kamu masih sama, 'kan? Apa perasaan kamu ke aku juga masih sama?"
Arka tertawa getir. Menertawakan pertanyaan yang terlontar dari bibirnya. "Iya. Aku tahu, kok. Aku emang bodoh. Udah jelas-jelas kamu move on. Mana mungkin masih punya perasaan buat aku?"
"Bagus, By. Kamu melakukan hal yang benar. Emang itu yang aku mau."
Masih dengan tangan yang menggenggam pigora, tatapan Arka beralih dari sana. "Tapi ..., siapa cewek yang bareng Aldef tadi, ya?"
Bola mata Arka kembali menatap ke wajah Beby dalam foto. "By, izinin aku ngelakuin hal yang berguna buat kamu, ya? Anggap aja, tebusan karena aku udah bikin kamu sakit hati."
***
Sebuah gedung bertuliskan 'Planetarium Jakarta' di bagian tengah menyambut indra pengelihatan Aldef dan Beby. Ya. Maksud dari 'suatu tempat' yang Beby katakan adalah Planetarium.
Dua-tiga, satu untuk Miko-tiket masuk telah berada dalam genggaman Aldef. "Kenapa kita ke sini?"
Dengan senyum merekah, Beby menjawab, "Lihat benda langit favorit gue dari dekat."
"Star?"
Beby mengangguk yakin. "Yuk!"
Semangat, Beby menarik lengan Aldef. Namun, sang pacar yang tak bergerak membuat Beby kembali menoleh ke belakang.
"Kenapa?" tanya Beby heran.
"Bentar."
Tangan kiri Aldef yang bebas meraih ponsel dari saku celananya. Dari pandangan Beby, Aldef tampak menonaktifkan benda pipih itu.
"Kenapa dimatiin?" Beby kembali bertanya.
Aldef memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia menatap Beby seraya melempar senyum manis. "Biar nggak ada yang ganggu."
__ADS_1
Tanpa menunggu respon Beby, Aldef yang tangannya digenggam, beralih menggenggam tangan Beby. Rasanya, tangan Beby memang diciptakan untuk berada dalam genggaman Aldef. Lelaki itu lalu memasukkan tangan sang pacar ke dalam saku hoodie. Kemudian, keduanya melangkah beriringan.
Beby yang mendapat perlakuan romantis itu lantas mengeluarkan semburat merah di pipinya. Ia mengekor seiring langkah Aldef membawanya. Tatapan gadis itu terus mengarah pada tangan kirinya.
***
"****! Kenapa mati, sih, HPnya?!"
Berulang kali Celine mencoba menghubungi Aldef, namun tak sekalipun lelaki menjawab. Bahkan, handphone Aldef mati. Sepertinya, laki-laki itu sengaja menghindar.
Atau mungkin tidak?
Ah! Pasti Aldef sedang bersama Beby. Dari yang Celine tahu, hari ini memang hari ulang tahun Beby. Pasti gadis itu juga yang membuat Aldef tak bisa dihubungi.
Seseorang memasuki ruang rawat Celine tepat saat gadis itu melempar ponselnya ke atas kasur. Ternyata, orang itu adalah Fara dan Zidan.
"Gimana? Berhasil, 'kan?" tanya Fara seraya tersenyum lebar.
"Tadi iya, berhasil," jawab Celine dengan nada menggerutu.
"Terus? Ke mana, tuh, bocah?" sahut Zidan sambil menatap ke seisi ruangan.
"Lo bego?" balas Celine, kesal. "Kalau dia ada, nggak akan gue suruh kalian ke sini!"
"Tunggu dulu, deh." Fara menyela pembicaraan. Kedua matanya menatap Celine lamat-lamat. "Kok, kayaknya lo kesel banget?"
"Ya iyalah! Rencana gue bikin ulang tahun Beby berantakan jadi gagal!"
"No. Menurut gue, lo berhasil."
Celine diam. Tanpa sadar, ada sesuatu yang terjadi di luar rencana.
Fara yang semula bersandar, kini menegakkan badan. "Lo masih suka, 'kan, sama Aldef?"
'Ceklek!'
Celine yang melihat dokter masuk bersama perawat lantas menyandarkan punggung. Ia cepat-cepat mengosongkan pandangan, berlagak layaknya orang buta.
"Selamat pagi, Celine," sapa sang dokter yang malah dijawab oleh Poppy. "Saya periksa dulu, ya."
Seorang suster yang datang bersama dokter tadi membantu Celine berbaring. Setelah itu, barulah sang dokter memeriksa.
"Kapan Kakak saya bisa pulang, Dok?" tanya Poppy saat melihat sang dokter usai memeriksa.
"Kalau kondisinya stabil, besok udah bisa pulang," jawab dokter, ramah. "Kalau gitu, saya permisi."
"Makasih, Dok," ucap Poppy yang dijawab anggukan serta senyum ramah oleh sang dokter.
Sepeninggalan dokter dan suster, Zidan tiba-tiba menatap Celine dan Fara secara misterius. "Kalian ngerasa ada yang aneh nggak, sih, sama suster tadi?"
***
"Waktu umur tujuh tahun, gue pernah diajak kabur ke planetarium sama kak Miko. Waktu itu, kak Miko lagi berantem sama papa gara-gara kakek. Gue juga nggak tahu masalahnya apa. Karena rumah kakek-nenek gue di Surabaya dekat planetarium, jadilah gue dibawa kabur."
Seiring langkahnya bersama Aldef di ruang pameran planetarium, Beby terus berceloteh tentang pengalamannya ke Planetarium Surabaya bersama Miko. Alih-alih merasa bosan, Aldef justru tertarik dengan cerita masa kecil sang pacar.
"Oh, ya?" balas Aldef. "Terus? Orang tua lo nggak nyariin?"
"Pastinya! Kak Miko dimarahin habis-habisan waktu sampai rumah."
"Ngomong-ngomong, orangnya ada di belakang kita," bisik Aldef yang membuat keduanya lantas terbahak-bahak.
Memang. Dari jarak sepuluh meter, Miko tengah memantau dua insan yang tengah dimabuk asmara itu.
"Kayaknya, kak Miko harus dicariin jodoh, deh," ujar Beby.
"Emang kak Miko belum pernah pacaran?"
__ADS_1
"Setahu gue, sih, belum. Kak Miko selalu cerita semua tentang dia ke gue, kecuali soal cewek."
Aldef manggut-manggut. "Kalau emang kak Miko belum pernah pacaran, dia pasti pernah suka sama seseorang."
"Masa, sih?"
"Entahlah. Gue cuma asal ngomong. Gimana mau pacaran kalau kak Miko posesif tingkat dewa ke lo? Bisa-bisa, pacarnya cemburu sama lo."
Beby terbahak. "Iya juga."
Langkah Beby terhenti di depan pintu sebuah ruangan. Dari yang ia baca di internet, ruangan ini adalah tempat pertunjukan teater bintang.
"Tutup, ya?" tanya Aldef.
"Iya. Teater bintang cuma buka di akhir pekan buat umum. Kalau hari biasa, buat kelompok, semacam sekolah-sekolah gitu."
Aldef dan Beby kembali melangkah.
"Gue mau nanya, dong, Sky."
"Tanya aja."
"Kenapa lo suka bintang?"
Beby tersenyum lebar. Tentu saja, ia memiliki alasan tersendiri dalam menggemari benda langit yang satu itu.
"Karena bintang satu-satunya benda langit yang mandiri."
"Maksudnya?"
"Dia memancarkan cahaya sendiri. Nggak peduli siang atau malam. Nggak cuma itu, bintang bahkan rela bantu benda langit lain untuk bersinar. Bulan, misalnya."
"Dari delapan planet yang berotasi sama matahari, lo paling suka yang mana?"
Beby berhenti melangkah. Ia memutar tubuh searah sembilan puluh derajat ke arah Aldef. "Kalau lo?"
"Hhhmmm." Aldef berpikir sejenak. Jujur, ia bukan orang yang punya alasan menggemari benda-benda langit seperti Beby menyukai bintang. "Bumi?"
"Alasannya?"
"Karena tempat kita tinggal."
"Kalau gue, paling suka mars." Beby kembali melangkah.
"Kenapa?" Aldef mengekori langkah Beby seraya menatap penuh penasaran.
Tanpa berhenti melangkah, Beby menoleh sejenak ke arah Aldef. Bibirnya menyinggung senyum manis misterius. "Karena kalau bumi kita hancur, kita bakal pindah ke mars."
Mendapat jawaban seperti itu, Aldef lantas berhenti melangkah. "Jawaban yang luar biasa," gumam Aldef sambil menggelengkan kepala heran.
***
"Namanya Celine. Cewek rambut sebahu itu adiknya, Poppy. Celine dirawat karena kecelakaan. Dan sekarang, cewek itu buta."
"Penyebabnya?"
"Dari hasil rekam medis, nggak ada cidera serius di bagian kepala atau mana pun yang bisa menyebabkan kebutaan. Gue udah tanya dokter. Dan dokter juga nggak dapat jawaban pasti kenapa Celine tiba-tiba buta, meskipun udah dites berulang-ulang."
"Ini aneh."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️