ALDEBY

ALDEBY
|52.| Happy Birthday, By


__ADS_3

Beby menatap pantulan dirinya di cermin. Dress biru muda lengan pendek dengan sedikit sentuhan bintang-bintang di bagian pinggang, rambut panjang terurai dengan bandana silver di kepala, kalung berbandul bintang, flat shoes transparan bak sepatu kaca, serta make up natural yang membuat aura kecantikannya kian terpancar.


"Ini lebay nggak, sih, Guys?" tanya Beby pada Kiran dan Lola yang tengah malam ini menjadi penatasa riasnya.


"Nggak, lah!" sahut Lola. "Ayo buruan. Bentar lagi jam dua belas, nih!"


Beby menatap Kiran. Kiran yang ditatap ragu seperti itu pun lantas mengangguk.


Lalu, mereka bertiga keluar dari kamar Beby. Di depan pintu, sudah ada Miko dan Rama.


"Tambah tua, kurang-kurangin keras kepalanya," ujar Miko.


Beby mengerucutkan bibir kesal mendengar ucapan Miko. Padahal, dalam bayangannya, Miko mengucap kata-kata manis sembari tersenyum lebar. Kakaknya ini memang tak terduga.


"Bilang juga ke Aldef nanti, nggak usah lama-lama di rooftop," lanjut Miko.


"Adiknya ultah, tuh, diucapin selamat ulang tahun, kek! Happy birthday, saengil chukkae. Eh, malah gitu!" protes Beby.


Miko tertawa renyah. Telapak tangannya bergerak menepuk-nepuk puncak kepala Beby pelan. "Doa gue nggak pernah berubah, By. Lo harus jadi pribadi yang lebih baik dan bahagia selalu."


Beby tersenyum penuh arti. Tangannya menengadah ke arah Miko. Membuat sang kakak menatapnya heran.


"Apa, nih?"


"Kadonya?" kata Beby sambil cengengesan.


Malas menanggapi sang adik, Miko memilih kembali melangkah menuju kamar. "Kapan-kapan!"


Rama yang ditinggalkan pun buru-buru mengekori Miko. Sebelum meninggalkan tempat, ia berkata pada Beby, "Happy birthday, By."


"Thank's, Kak."


Dua lelaki itu telah tak terlihat. Saat itu pula, Beby dan Kiran sedikit tercengang dengan apa yang mereka lihat. Tampak sosok Lola dengan pandangan yang melekat ke arah tempat Miko menghilang.


Diam-diam, Beby dan Kiran kompak menahan tawa.


"Ikut aja sana!"


Seruan dari Kiran yang terdengar menggelegar di telinga Lola membuat gadis itu lantas tersadar. "Apaan, sih? Orang gue lagi merhatiin sekitar."


Beby manggut-manggut, seolah percaya dengan alasan Lola. "Iya. Merhatiin sekitar. Sekitar-sekitar juga, 'kan?"


"Nggak jelas lo berdua!" pungkas Lola yang membuat Kiran dan Beby kompak terbahak.


***


Pas di tangga menuju rooftop, Beby menatap kedua sahabatnya lamat-lamat. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Kini, Beby resmi bertambah umur.


"Happy birthday, By," ucap Kiran.


"Jangan lupa traktirannya nanti," sahut Lola.


Beby tersenyum penuh arti. Kedua lengannya direntangkan, siap memeluk Kiran dan Lola. "Thank's, ya. Kalian udah mau jadi sahabat gue."


Aksi saling peluk bak Teletubbies itu berakhir. Ulang tahun Beby kali ini, terasa sangat 'berbeda'.


"Udah buruan naik!" seru Lola.


"Iya. Udah ditunggu pangeran lo di atas," timpal Kiran.

__ADS_1


Ketiganya kompak tertawa renyah.


"Kalau gitu, gue naik, ya."


Mendapat anggukan dari kedua sahabatnya, Beby lantas menaiki anak tangga menuju rooftop. Senyum Beby merekah sepanjang kaki jenjangnya menginjak tiap anak tangga. Pikirannya dipenuhi oleh adegan-adegan romantis yang membuat dada Beby berbunga-bunga. Kiranya, malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan oleh Beby.


***


Aldef duduk berdampingan dengan Poppy di depan ruang UGD, menanti dengan gusar akan kabar Celine yang tengah berada dalam penanganan dokter.


Otak Aldef bercabang. Ia memikirkan bagaimana keadaan Beby sekarang. Ingin rasanya Aldef kembali untuk menghampiri sang pacar, namun radarnya meminta untuk tetap bersama Celine di sini.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hingga detik ini, keraguan yang teramat pekat menyelimuti jiwa Aldef. Jika ia tak datang menemui Beby, gadis itu pasti kecewa dan sedih. Sementara jika Aldef meninggalkan Celine, hanya ada Poppy yang bersamanya. Aldef masih punya hati untuk tidak meninggalkan gadis SMP itu sendirian.


Setidaknya, Aldef bertahan atas dasar kemanusiaan.


"Maaf, Kak."


Suara lirih Poppy membuat Aldef menoleh. "Kenapa?"


Poppy yang semula menunduk, kini mendongak. Menatap lurus pada kedua manik mata Aldef. "Maaf karena ...." Kata-kata Poppy menggantung. Ia tiba-tiba merasa ragu.


"Karena...?"


"Maaf karena udah ngerepotin Kakak."


Ya Allah ..., tolong maafin Poppy.


Aldef terkekeh pelan. "Nggak apa-apa."


"Aku nggak tahu mesti minta tolong siapa lagi. Di handphone kak Celine riwayat panggilan terakhirnya Kak Aldef. Maaf, Kak."


"Tapi ...."


Seorang pria paruh baya berjas putih khas dokter keluar dari ruang UGD, membuat Aldef dan Poppy kompak berdiri.


"Keluarga pasien Celine?"


"Saya adiknya, Dok," sahut Poppy. "Kakak saya baik-baik aja, 'kan?"


Sang dokter tersenyum ramah. "Celine baik-baik aja. Tadi pingsan hanya karena syok saat jatuh dan tertatap benda keras."


Mendengar penjelasan itu, Aldef menghela napas lega. "Bisa kita jenguk Celine sekarang, Dok?"


"Bisa. Setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan."


Setelah mengucap terima kasih dan sang dokter meninggalkan area UGD, dua orang suster membawa Celine yang terlelap di atas ranjang keluar dari UGD. Aldef dan Poppy pun mengikutinya.


Setelah melewati lorong yang panjangnya kisaran sepuluh meter, sampailah mereka di Ruang Melati 1. Ruangan ini terdiri atas dua ranjang pasien. Satu ditempati Celine, dan satu lagi kosong.


Di permukaan tembok samping ranjang, Aldef melihat stop contact. Lelaki itu menoleh ke arah Poppy. Gadis berambut sebahu itu tampak menenteng sling bag warna putih.


"Pop, di tas lo ada charger?" tanya Aldef.


"Ada, Kak. Punya kak Celine. Tadi aku lihat baterainya tinggal sepuluh persen." Poppy mengeluarkan charger dari dalam tasnya.


"Thank's, ya."


Aldef bergegas menyambungkan charger dengan ponselnya. Tak lama kemudian, benda pipih berwarna hitam itu menyala. Kedua alis Aldef bertaut heran saat melihat notifikasi yang bejibun, serta 33 missed-call.

__ADS_1


Belum sempat Aldef membuka satu-persatu pesan yang masuk, suara Celine mengalihkan perhatiannya.


"Al ...."


***


Semilir angin malam menggelitik permukaan kulit Beby begitu langkahnya menginjak anak tangga terakhir. Dingin yang terasa menusuk tulang. Masih dengan senyum merekah, Beby berjalan perlahan di arah sepasang meja dan kursi di tengah-tengah.


Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Aldef. Bahkan di saat seperti ini, lelaki itu masih saja menyiapkan kejutan lain.


Beby terus menunggu kemunculan Aldef. Menunggu dan menunggu, hingga 30 menit berlalu. Beby mulai bertanya-tanya, kejutan macam apa yang sedang lelaki itu siapkan hingga membutuhkan waktu selama ini?


^^^Me:^^^


^^^Spesial banget, ya, kejutannya? :D^^^


Kedua tangan Beby mulai mengusap-usap lengannya yang bebas. Angin malam ini benar-benar ganas. Seperti ada pesan tersirat, namun Beby tak mampu menangkapnya.


Tak ingin menyerah atau berburuk sangka, Beby memutuskan untuk tetap menunggu. Menunggu dan terus menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 02.52.


Dan Aldef belum juga menampakkan batang hidungnya.


***


"Al ...."


Aldef lantas menoleh ke arah Celine begitu mendengar namanya dipanggil. "Ya?"


Mata Celine terbuka lebar. Tapi, tatapannya mengisyaratkan kekosongan. "Ini lampunya kenapa mati?"


'Deg!'


Aldef dan Poppy saling bertukar pandang. Jelas-jelas lampu di ruangan tempat mereka berada saat ini begitu terang.


"Kak ... ini Poppy." Poppy menggenggam tangan Celine.


Sang kakak tersenyum lebar. "Di mana? Kamu di mana? Kakak nggak bisa lihat kamu. Nyalain lampunya, dong, Pop."


Lagi, Poppy dan Aldef saling pandang. Merasa heran dengan tingkah Celine.


"Celine, ini aku."


"Ah ... Al, bisa tolong nyalain lampunya? Gelap banget."


"Aku panggil dokter, ya, Kak," bisik Poppy yang dijawab anggukan oleh Aldef.


Dalam langkahnya menuju keluar ruangan, tangis Poppy pecah. Gumpalan awan hitam yang bersarang di dadanya tak dapat lagi terbendung.


Kenapa, Kak? Kenapa harus sampai kayak gini?


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2