ALDEBY

ALDEBY
|53.| Ragu


__ADS_3

"Mas! Mas! Bangun, Mas!" Fahri terbangun saat mendengar suara itu. "Kok, mas-nya tidur di toilet?"


Alih-alih menjawab, Fahri mengarahkan pandangan pada jam yang melilit pergelangan tangan kirinya, 02.47. Tanpa mempedulikan pria paruh baya berseragam satpam yang baru saja membangunkannya, Fahri berlari menuju rooftop.


Lelaki itu terkesiap saat melihat Beby yang duduk di kursi dengan kedua lengan dilipat dan kepala menunduk. Angin berembus ganas di atas sini, sedangkan Beby tak memakai pakaian tebal sedikitpun. Lalu, di mana Aldef?


"By?" panggil Fahri seraya menyentuh bahu Beby.


Gadis itu lantas mendongak. Matanya yang sejak tadi menahan kantuk tampak sayu, bibirnya pun membiru akibat udara dingin. "Al—eh, gue kira Aldef yang datang." Suara Beby terdengar serak.


Kalimat Beby itu sontak membuat Fahri melotot. "Aldef nggak datang? Maksudnya? Gue nggak ngerti—ah! Kita turun dulu, ya. Lo pasti kedinginan di sini."


Fahri berniat untuk menggandeng Beby dan membantu gadis itu berdiri, tapi Beby menolak. "Tunggu dulu, Ri. Nanti kalau Aldef datang gimana? Kayaknya, dia masih nyiapin surprise yang lebih, deh. Ribet. Mangkanya lama."


Fahri semakin dibuat heran. Ia mengambil ponselnya yang tertinggal di sana, lalu menghubungi Aldef. Tapi, berapa kali pun Fahri mencoba, ponsel Aldef mati.


Apa yang sebenarnya terjadi? Semua ini, sungguh terasa janggal.


"Aldef harusnya ada di sini. Dia yang harusnya nungguin lo. Nggak ada surprise lagi. Semuanya udah diatur bareng-bareng. Kalian cuma tinggal makan di sini. Udah. Nggak ada lagi yang mesti disiapin."


"Tapi ...."


"By, ayo. Di sini dingin banget. Mana baju lo tipis gitu."


Beby menoleh ke kanan dan kiri, serta seluruh penjuru rooftop, memastikan memang tak ada keberadaan Aldef. Gadis itu menghela napas pasrah, lalu meninggalkan rooftop bersama Fahri.


Sampai di depan pintu unit apartemen Beby, gadis itu berhenti melangkah. Bola matanya menatap lekat ke arah Fahri. "Ri, gue boleh minta tolong?"


"Apa?"


"Lo langsung pulang aja, ya. Nggak usah ketemu kakak gue. Nggak usah jelasin apa-apa. Dan kejadian ini, cukup keep di antara kita aja. Gue nggak mau Aldef diapa-apain sama kakak gue."


"Nggak bisa gitu, dong, By ...."


"Ri, tolong. Kali ini aja. Langsung pulang, ya?"


Fahri menghela napas berat. Benar memang, Beby sungguh gadis yang keras kepala. "Oke. Tapi janji, ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi gue. Kalau udah ketemu Aldef, kabari gue. Heran gue sama, tuh, anak."


Beby tersenyum kecil. "Iya. Makasih, ya."


Sepeninggalan Fahri, Beby membuka pintu apartemennya perlahan. Semula, Beby mengira bahwa Miko dan Rama ada di kamar sang kakak. Sebab Miko bilang, Rama akan menginap di sana malam ini.


Tapi, sosok Miko mengadang Beby begitu ia masuk.


"Hai, Kak," sapa Beby seraya mengulas senyum semanis mungkin.


Miko menatap setiap detail wajah sang adik lamat-lamat. Ekspresi datar yang membingkai wajahnya justru membuat bulu kuduk Beby meremang.


"Muka lo kenapa pucet gini?"


"Hhhmmm ... itu ...."

__ADS_1


"Kenapa lama di atas? Makan doang butuh waktu sampai hampir tiga jam?"


"Ng ... itu ... soalnya ...."


Punggung tangan Miko tiba-tiba menyentuh kening Beby. "Lo demam," ujar Miko santai. "Masuk kamar. Tidur. Kalau butuh apa-apa, telepon gue. Makanan gue bawa ke kamar lo nanti. Hari ini gue bakal di rumah seharian. Nggak ada alasan-alasan. Stay di kamar, tidur. Jangan coba-coba keluar kamar kalau masih demam. Apalagi keluar rumah."


Beby melongo mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Miko. Pasalnya, cara Miko mengucapkan kata-kata itu seperti orang yang sedang menghapal sebuah kalimat.


"Tunggu apa lagi? Buruan masuk kamar."


"O-oke."


Beby menatap Miko ragu. Sementara Miko membalas tatapan Beby dengan melirik ke arah kamar, meminta gadis itu untuk segera ke sana.


"Oh, satu lagi." Mendengar suara Miko, Beby kembali menghadap ke arah sang kakak. "Nggak ada Aldef hari ini. Ngerti?"


Kak Miko ... tahu?


***


"Aldef? Kenapa diem, sih? Tolong nyalain lampunya."


Berulang kali Celine mengucap kalimat yang sama, namun Aldef malah menjawab, "Sebentar."


Jujur. Aldef bingung. Sangat bingung. Bagaimana bisa Celine mendadak buta? Bukankah tadi dokter bilang bahwa gadis itu baik-baik saja?


Poppy kembali bersama seorang pria paruh baya berjas putih yang tadi menangani Celine. Karena sebelumnya Poppy telah menjelaskan, sang dokter lantas memeriksa keadaan Celine.


"Keluarga pasien bisa ikut saya? Ada yang perlu saya jelaskan."


"Baik, Dok," sahut Poppy.


"Mau ditemenin?" Aldef bertanya pada Poppy.


"Ini sebenernya ada apa, sih? Ini juga. Kenapa lampunya mati? Masa rumah sakit bisa mati listrik?"


Melihat keadaan Celine, Poppy berkata pada Aldef, "Nggak usah. Kakak tolong jagain kak Celine aja, ya."


***


Kian jauh langkah ini menjelajah, kian buram bayangan yang kudapat. Semesta, apa kali ini, lagi-lagi aku salah arah?


B.S.A


'Ceklek!'


Pintu kamar Beby yang terbuka, membuat aktivitas menulisnya terhenti. Sosok Miko dalam balutan kaus oblong warna hitam dan celana boxer biru dongker masuk dengan nampan berisi piring serta segelas air mineral.


"Lagi ngapain?" tanya Miko saat Beby berpindah tempat dari meja belajar ke kasur.


"Kepo," ketus Beby.

__ADS_1


Miko yang usai meletakkan nampan di atas nakas, menatap lurus ke arah Beby. Adiknya itu masih tampak kesal. "Kenapa, sih?"


"Nggak apa-apa."


"Sarapan dulu, tuh. Gue pesenin nasi goreng seafood tadi."


"Nggak laper."


"Beby. Please, deh. Bukan salah gue kalau gue tahu semua yang terjadi di rooftop tadi. Gue cuma mau ngecek lo. Itu aja."


"Ngapain ngecek-ngecek segala, sih? Gue udah gede, Kak! Gue bukan anak kecil yang harus lo pantau dua puluh empat jam!"


Miko yang semula berdiri, mengambil posisi duduk di atas kasur tepat samping kanan Beby. "Iya. Gue tahu lo udah gede. Tapi, peran gue di sini buat gantiin papa. Lo anak perempuan papa satu-satunya. Lo pikir, gimana perasaan papa kalau sampai tahu lo diperlakukan buruk sama pacar lo?"


Beby diam. Membayangkan saat Miko diam-diam melihatnya di rooftop tadi membuat Beby merasa kurang bebas. Jika sudah begini, bagaimana caranya melindungi Aldef dari amukan Miko?


Telapak tangan Miko mendarat di bahu Beby. "Tenang aja, gue nggak akan bikin Aldef mati, kok. Paling cuma babak belur." Kalimat itu lantas membuat Beby menatap tajam tepat ke bola mata Miko. "Iya-iya. Gue nggak akan apa-apain Aldef. Tapi, gue mau tahu alasan dia tiba-tiba pergi dan bikin kacau surprise yang udah kita siapin."


"Kak ...." Nada sewot dan tatapan tajam yang tadi Beby tunjukkan, kini berganti dengan suara lirih nan ragu. Matanya pun tampak berkaca-kaca. "Gue nggak salah pilih lagi, 'kan, Kak? Aldef nggak akan kayak Arka, 'kan?"


"Kenapa lo tanya gitu?"


Beby mengedikkan bahu, tanda ia pun tak tahu dari mana pertanyaan itu berasal.


"Kalau emang bener Aldef ternyata sama kayak mantan lo, gue bunuh dia."


"Sok-sokan! Lihat darah aja nangis."


"Itu dulu, ya!"


Beby tertawa puas melihat ekspresi kesal sang kakak. Mengingat masa kecil Miko yang pasti menangis saat melihat darah, membuat perut Beby terasa seperti ada yang menggelitik.


"Dah, ah! Makan, tuh. Gue mau nugas. Bhay!"


***


Seorang wanita bertopi hitam mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku jaket yang membalut tubuhnya.


"Ini bayaran Bapak."


Tanpa ragu, pria paruh baya berseragam satpam di hadapannya mengambil alih amplop coklat itu. Tangannya bergerak lihai membuka isi amplop. Senyumnya merekah saat melihat puluhan lembar uang merah di dalamnya.


"Lain kali, kalau ada tugas lagi, kabari saya, ya, Neng."


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2