
"Bukannya handphone lo hilang di kampus?"
Aldef diam. Ia sama sekali tak membayangkan bahwa Celine akan menelepon Beby untuk memberi informasi itu.
Melihat sang pacar diam, kedua mata Beby memanas. Pupus sudah harapan yang ia bangun dengan pondasi berupa keyakinan. Tadinya, Beby akan menerima apapun alibi Aldef. Bahkan jika lelaki itu berbohong, tak apa, Beby tetap menerima. Ia akan menonaktifkan kepekaannya agar tak mendapati kebohongan di balik alibi Aldef.
Tapi, bagaimana bisa Beby melakukan hal itu saat Aldef tak mengelak sama sekali?
"Al, please!" Setetes cairan bening meluncur dari mata kiri Beby. "Bilang sama gue kalau Celine salah. Dia bohong. Iya, 'kan?"
Aldef menggeleng pelan. "Celine nggak bohong. Gue emang jenguk dia ke rumah sakit sebelum nyamperin lo. Dan gue sadar kalau handphone gue nggak ada emang setelah dari sana. Tapi, gue nggak mau balik buat nyari. Gue nggak mau lo nunggu lebih lama lagi. Maaf—"
"Udah gue duga," potong Beby dengan ekspresi datar. Gadis itu mengusap kasar jejak air mata di pipinya. "Udah gue duga kalau lo emang bisa dipercaya."
Beby mengambil sendok di piring berisi siomay miliknya. Lalu, gadis itu memakannya dengan lahap. Aldef yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Beby begitu mudah percaya dengan alasan Aldef? Mengapa pula pertanyaan Beby hanya berhenti di sana? Apa gadis itu tak memikirkan sedikitpun hal-hal yang Aldef dan Celine lakukan bersama di belakangnya?
Melihat Aldef hanya diam dengan tatapan melekat ke arahnya, Beby mendongak. "Al, makan. Nikmat siomaynya berkurang kalau dingin." Beby melanjutkan aktivitas makannya. "Gila, sih, ini enak banget! Sering-sering ajak gue ke sini, ya."
"Sky, lo nggak marah?"
"Marah kenapa?"
"Soal Celine."
"Kenapa harus marah? Emang salah kalau jenguk orang sakit? Lagian, lo sama Celine, kan, udah kenal lama. Wajar, dong."
"Tapi—"
"Buruan makan. Gue nggak mau denger omelan kak Miko karena pulang kemalaman."
Aldef menghela napas sejenak. Mengingat apa saja yang sudah Aldef lakukan bersama Celine di belakang Beby, lelaki itu merasa seperti daun yang mudah terbawa angin.
***
Keesokan harinya, Beby yang sudah siap dengan pakaian olahraga keluar dari kamar. Gadis itu melihat Miko tengah sibuk di dapur.
"Semalam lo ke mana, Kak?" tanya Beby setelah duduk di salah satu kursi meja makan.
Mendengar suara Beby, Miko menoleh sejenak. Pria itu membawa roti dan selai untuk sarapan ke meja makan. "Ada urusan."
Sangat tidak mungkin untuk Miko memberitahu adiknya bahwa Zidan kembali dibebaskan.
"Gue udah di belakang mobil lo," ucap Miko pada Rama melalui telepon.
"Mobil yang dinaiki Zidan ada di depan gue. Lo ngikutin dari belakang aja."
"Oke."
Tanpa memutus sambungan telepon, Miko menginjak pedal gas semakin dalam. Ia terus membuntuti mobil Rama dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang menggenggam erat setir mobil. Miko terus memacu mobilnya. Hingga tiba di suatu persimpangan sebelum mencapai bandara, mobil Rama berhenti.
Miko mencabut earphone wireless yang sejak tadi menyumbat indra pendengarannya. Ia lantas turun dari mobil, melangkah cepat melewati mobil Rama. Namun, sesuatu yang Miko cari tidak ada. Pria itu lantas membalikkan badan, melangkah cepat munuju Rama yang berdiri di depan mobilnya.
"Mana? Mana Zidan?" tanya Miko.
__ADS_1
"Sorry, Bro. Gue ketipu."
"Maksud lo?"
"Yang gue lihat masuk ke mobil itu bukan Zidan. Kayaknya, mereka tahu kalau ada yang ngintai Zidan selama ini."
"Bangs*t! Kenapa nggak lo pastiin?!"
"Sorry."
Dan sangat tidak mungkin untuk Miko mengatakan bahwa Zidan berhasil kabur dari genggamannya.
Miko beranjak dari kursinya, mengambil pisau untuk mengoles selai strawberry pada roti tawar. Beby yang melihat hal itu lantas berdiri dari kursinya, lalu menepis tangan Miko.
Gerakan Beby yang tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Miko lantas terlempar ke lantai. Tentu saja hal itu membuat Miko kaget.
"By!" teriak Miko sambil menatap tajam ke arah Beby. "Lo apa-apaan, sih?!"
Beby termenung. Tatapannya melekat ke arah pisau yang tergeletak di atas lantai. Rekaman memori akan kejadian malam itu singgah kembali. Beby merasakan napasnya yang sesak saat lehernya terhimpit. Ia juga merasakan sakit saat benda tajam itu menyayat kulitnya.
"By?" Cara Beby menatap pisau itu, mengingatkan Miko pada kondisi Beby tiga tahu lalu.
"Beby?" Miko terus berusaha memanggil nama Beby, namun gadis itu masih dengan posisi dan tatapan yang sama. Tatapan penuh amarah dan rasa takut.
"By ...." Tangan Miko menyentuh bahu kanan Beby, dan gadis itu masih diam.
"Beby, lihat gue!" Kali ini, Miko mengguncang bahu Beby.
Guncangan di bahu kanan membuat gendang telinga Beby terbebas dari suara Zidan pada malam itu. Bola matanya menatap Miko. Saat itu juga, kedua mata Beby meneteskan cairan bening.
"Pi-pisau ...."
"Kenapa?"
"Jangan."
"Jangan pakai pisau?"
Beby mengangguk cepat.
Miko mengembuskan napas berat. Kini, ia tahu mengapa Beby bereaksi demikian. Gadis itu mengalami trauma.
"Duduk dulu," kata Miko sambil menuntun Beby duduk di kursi. Setelah itu, Miko mengambil segelas air mineral, meminta Beby meminumnya.
Segelas air mineral masuk lewat kerongkongan Beby dengan sempurna. Setelah itu, Beby berdiri. "Gue mau nge-gym."
"Lo nggak apa-apa?"
Beby mengangguk sambil tersenyum singkat, berusaha meyakinkan Miko. "Gwenchanna."
Gadis berpakaian olahraga itu melenggang dari hadapan Miko. Saat Beby keluar dari pintu apartemen, manik matanya bertemu dengan pintu apartemen Aldef. Ia sempat berpikir untuk mengetuk pintu itu, namun niatnya terurungkan. Beby butuh pelampiasan untuk membersihkan sisa-sisa memori kelam akibat melihat pisau tadi.
***
__ADS_1
Beby menghabiskan waktu 90 menit di gedung gym. Gadis itu memacu tenaganya tanpa henti. Kini, napasnya terasa sangat lega. Hal itu bahkan terpikirkan saat kecepatan detak jantung Beby hampir jauh di atas rata-rata.
Sebotol air mineral dingin meluncur sempurna di kerongkongan Beby. Karena waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan, Beby bergegas kembali ke unit apartemen. Ia harus siap-siap ke lokasi syuting jam sepuluh nanti.
Baru saja keluar dari gedung gym, indra pengelihatan Beby menangkap sosok Aldef dalam balutan hoodie hitam memasuki area lobby. Gadis itu pun buru-buru menghampiri sang pacar.
"Al!"
Aldef yang mendengar suara Beby dari arah kanan itu lantas menoleh. Alih-alih senyuman, ekspresi kaget yang Aldef tunjukkan. "Sky?"
"Habis dari mana?" Beby mengiringi langkah Aldef menuju lift.
Pintu lift terbuka. Keduanya sama-sama masuk sebelum Aldef menjawab, "Rumah sakit."
Beby menoleh cepat. Tangannya bergerak menyentuh kening Aldef. "Lo sakit?"
Aldef meraih tangan kanan Beby yang menyentuh keningnya. Kepala Aldef menggeleng pelan sambil tersenyum simpul. Satu tangannya yang bebas meraih ponsel dari saku hoodie. "Gue habis ambil ini."
"Oh." Ekspresi Beby langsung berubah. Sembilan puluh menit yang ia gunakan untuk menaikkan mood direnggut paksa oleh pernyataan Aldef.
"Sky."
"Hm?" Beby menarik kedua sudut bibirnya secara paksa.
"Tadi ... gue sekalian nganter Celine pulang."
Kenyataan bahwa hari ini Aldef lebih dahulu bertemu Celine saja sudah membuat Beby badmood, apalagi ditambah dengan kalimat barusan.
"Iya," balas Beby tanpa menoleh.
Pintu lift terbuka. Beby melangkah keluar terlebih dahulu. Di sini, Aldef bukan lelaki bodoh yang tak merasakan euforia menyesakkan akibat pernyataannya tadi.
"Sky."
"Hm?"
"Lo nggak marah, 'kan?"
Beby baru menoleh ke arah Aldef saat mereka sudah berada di depan pintu apartemen masing-masing. Lagi-lagi, Beby mengulas senyum paksaan di bibirnya.
"Nggak, kok." Cuma bete. "Kalau gitu, gue duluan, ya. Ada syuting pagi soalnya."
Gadis itu melenggang pergi tanpa menunggu respon Aldef. Sementara itu, Aldef yang ditinggalkan menatap nanar pada pintu tempat Beby menghilang.
"Apa lo bakal marah kalau tahu cerita utuhnya, Sky?"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️