
Seminggu berlalu.
Aldef semakin menyembunyikan banyak hal tentang Celine. Beby pun kian pandai bersandiwara, seolah dirinya tak tahu apa-apa. Mulai dari Aldef yang sering datang ke rumah Celine, makan bareng, antar-jemput Celine, menemani gadis itu hingga larut malam, semua itu Aldef lakukan di belakang Beby.
Semakin ke sini, angin yang mengombang-ambing hati Aldef terasa semakin kencang.
Ponsel Beby berdering saat ia sedang istirahat usai melakukan sesi pemotretan. Nama Lola yang terpampang di layar ponsel membuat Beby tak ragu menekan tombol answer.
"Yeoboseyo? Tumben lo nelepon gue sore-sore. Pasti kangen, ya? Iya, deh, nanti gue mampir ke kafe—" (Hallo?)
"Kak Miko kecelakaan!"
Kedua mata Beby melotot seketika. Bersamaan dengan kakinya yang refleks berdiri. "Lo jangan bercanda."
"Gue serius. Sekarang gue sama kak Miko ada di RS Sentosa. Ruang UGD. Tapi—"
Beby memutus sambungan telepon secara sepihak. Tangan dan kakinya berkombinasi meraih tas, lalu melesat keluar dari ruang make up.
"Mau ke mana?" tanya Ana yang tengah membawa tiga baju untuk Beby dan berdiri tepat di ambang pintu.
"Permisi. Gue ada urusan penting."
Beby yang sudah merasa panik tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan Ana. Akibat ulah Beby yang menerobosnya, Ana hampir saja menjatuhkan baju-baju dalam dekapannya. Gendang telinga Beby menangkap suara Ana yang meneriaki namanya, namun Beby tak peduli.
Kakinya menekan pedal gas sedalam mungkin. Manik mata Beby fokus ke depan. Tangannya bergerak lihai untuk mengendalikan setir mobil. Si merah milik Beby itu melesat cepat, berkelok-kelok untuk menyalip mobil di depannya. Beby seolah tengah menyetir mobil di bawah alam sadarnya.
Sepuluh menit kemudian, Beby sampai di RS. Sentosa. Gadis itu lantas turun dari mobil. Memasuki area rumah sakit dengan berlari. Langkah Beby terhenti tepat di depan pintu ruang UGD yang terbuka lebar.
Napas Beby terasa berat. Bahunya naik-turun tak beraturan. Bola matanya fokus pada sosok Miko yang duduk di atas brankar dengan lengan kanan di-gips.
"By?" Miko menatap lekat pada sang adik yang tampak ngos-ngosan. Lelaki itu tertawa pelan sebab mendapati ekspresi cemas di balik wajah Beby. "Panik banget mukanya."
Wajah Beby mulai memerah. Bola matanya tampak berkaca-kaca. Tangannya bergerak memukul bahu kiri Miko.
"Eh? Kok, nangis?" tanya Miko.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang kakak, Beby kembali memukul-mukul bahu Miko. Cairan yang menggumpal di pelupuk matanya mulai menetes.
"Hey. Gue nggak apa-apa." Miko terkekeh pelan. Lelaki itu merentangkan tangan kirinya yang bebas, meminta Beby untuk mendekat.
Benar saja, gadis berambut panjang itu lantas menghambur ke dalam pelukan sang kakak. "Lo jahat, Kak! Gue takut, tahu! Kalau lo mati gimana?"
Miko tertawa. Telapak tangannya bergerak lembut mengusap rambut panjang Beby. "Gue nggak bakalan cepet mati. Nggak ada yang jagain lo nanti. Udah, ya, nangisnya. Nanti lo makin jelek."
"Bodo!" Beby melepas pelukannya, lalu menoleh ke arah Lola yang berdiri tepat di belakang Beby. "Lo ngapain di sini?"
"Gue ...."
"Lo pikir gue begini gara-gara siapa?"
Ucapan Miko itu membuat Beby menatap heran ke arahnya. Lalu, Beby kembali menatap Lola.
"Temen lo, tuh, nyabrang nggak lihat-lihat," lanjut Miko.
Satu detik.
Tiga detik.
Lima detik.
__ADS_1
Ah! Beby sepenuhnya memahami situasi sekarang. Gadis itu menyipitkan mata, menatap curiga pada kakak dan sahabatnya.
"Kalian ...."
"APA?!"
Respon yang datang bersamaan dari Miko dan Lola itu membuat keduanya lantas saling tatap.
"Tuh, kan!" seru Beby.
"Nggak usah mikir aneh-aneh," sangkal Lola. "Tadi, tuh, cuma kebetulan."
"Oh, ya?"
Belum sempat Lola menjawab, ponsel Beby berdering. Sebuah panggilan video dengan tulisan 'Mama' terpampang di layar ponsel Beby. Gadis itu pun lantan menekan tombol answer.
"Assalamualaikum, By," ucap Maya sembari tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam, Ma. Udah mau take off, ya?"
Hari ini memang jadwal keberangkatan Billy dan Maya ke Singapura. Dan sepasang suami-istri itu sudah berada di dalam kabin pesawat.
"Iya, nih. Lima belas menit lagi. Kamu di mana itu?"
Beby mengarahkan layar ponselnya di depan Miko. "Hai, Ma," sapa laki-laki sembari melambaikan tangan.
"Miko? Kamu kenapa?"
"Biasa, Ma."
"Nggak apa-apa, kan, tapi?"
"Ada ini juga, nih, Ma," kata Beby sembari menampilkan sosok Lola pada sang mama. Lola yang tak siap dengan tindakan Beby itu lantas melotot ke arah sahabatnya.
"Siapa, tuh?" tanya Maya bingung.
"Hai, Tante." Lola yang biasa bar-bar, kini bertransformasi menjadi gadis manis yang bertutur kata lembut. "Saya—"
"Ceweknya kak Miko."
"BEBY!"
Beby mengerling sambil menjulurkan lidah pada dua orang yang baru saja meneriakkan namanya.
"Wah ... diem-diem jago juga kamu, ya, Ko."
"Cantik. Papa setuju kamu sama dia, Ko." Suara Billy di seberang sana terdengar menimpali.
Miko mengambil alih ponsel Beby. "Bukan, Ma, Pa. Yang tadi itu sahabatnya Beby. Miko masih singel!"
"Yaelah, Ko. Sama orang tua sendiri nggak usah malu-malu gitulah."
Baik Lola atau Miko merasa canggung. Sementara Beby tak henti menertawai mereka.
"Ya udah kalau gitu. Kalian baik-baik, ya, di sana. Harus saling jaga. Jaga kesehatan, jaga pola makan, istirahat yang cukup."
"Pasti, Ma," ucap Beby sesaat setelah mendapatkan kembali ponselnya. "Mama sama Papa juga hati-hati di jalan, ya."
"Beby, jaga diri baik-baik, ya," ujar Billy. "Papa sayang kamu."
__ADS_1
"Mama juga."
"Aku juga sayang kalian."
"Miko mana?"
Atas permintaan Billy, Beby menyerahkan benda pipih di tangannya pada sang kakak.
"Miko, jagain Beby baik-baik, ya. Pastikan adik kamu selalu baik. Jangan biarin orang lain nyakitin dia, termasuk pacarnya sekalipun."
"Berarti, aku boleh bunuh pacar Beby kalau dia nyakitin Beby, Pa?"
Billy tertawa. "Boleh."
"Emang udah berani lihat darah?" sahut Maya.
Bukan hanya Maya dan Billy, Beby serta Lola yang berada dalam satu ruangan dengan Miko pun tertawa. Karena itu, Miko langsung mengembalikan ponsel Beby.
"Oh, iya. Mama sama Papa dapat nomor penerbangan berapa?" tanya Beby.
"A107. Kenapa nanya gitu, By?" balas Maya.
"Nggak apa-apa. Cuma nanya aja. Yaudah kalau gitu. Bye, Ma, Pa!"
"Bye, Sayang! Love you!"
***
Helaan napas berat lolos dari saluran pernapasan Arka. Untuk kesekian kalinya, laki-laki itu harus berbaring di atas brangkas runah sakit lengkap dengan seragam pasien yang membalut tubuhnya. Selepas kemoterapi kemarin, kondisi Arka kembali drop. Hal itulah yang menyebabkan ia harus dirawat.
Rasanya, Arka ingin menyerah. Apalagi, dengan revisi skripsi yang terus tertunda. Fisik sakit, tekanan mental sebab skripsi yang tak kunjung selesai, lengkap sudah penderitaan Arka. Jika ditanya mengapa memilih menyerah, banyak alasan yang bisa ia berikan saat menghadap Sang Pencipta nanti.
Tapi, Arka pun memiliki alasan kuat mengapa ia memilih bertahan: ibunya dan Beby, gadis yang hingga detik ini masih menjabat gelar ratu di hatinya. Arka ingin memastikan Beby baik-baik saja, Arka ingin memastikan Beby bahagia, Arka ingin memastikan Beby bersama orang yang tepat, sebelum dirinya melepas predikat sebagai makhluk bumi.
Pintu ruangan Arka terbuka saat jarinya sibuk menari di atas keyboard laptop. Aktivitas Arka lantas terhenti. Angin yang berembus dari luar seolah membawa seseorang yang mengejutkan bagi Arka. Namun, laki-laki itu tersenyum lega saat melihat sosok Chika yang berdiri di ambang pintu.
"Mama. Kirain siapa," ucap Arka.
Sambil memasang senyuman lebar, Chika melangkah masuk.
"Lagi ngapain, Ar?" tanya Chika setelah sesaat berdiri tepat di samping kanan Arka.
"Biasa, Ma," balas Arka dengan tatapan yang tak beralih dari layar laptop.
"Ada yang mau ketemu sama kamu."
Lagi. Aktivitas Arka terhenti mendengar kalimat Chika barusan. Tatapannya mengarah pada pintu, dan Arka baru menyadari bahwa pintu yang tadi Chika buka belum ditutup kembali.
"Siapa, Ma?"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1