ALDEBY

ALDEBY
|71.| Alasan Sebenarnya


__ADS_3

Beby sedang mengantre untuk membayar biaya administrasi Miko saat ia mendengar perawat berkata, "Atas nama pasien Arka, totalnya ...."


Beby yang semula menatap lurus ke depan, beralih pada seorang wanita paruh baya di samping kirinya.


"Tante Chika?"


Gadis itu tak berniat memanggil, tapi rupanya yang punya nama dapat mendengar suaranya.


"Beby?"


Beby menarik kedua ujung bibirnya, membentuk seulas senyum ramah. Langkahnya mendekat ke arah Chika.


"Udah lama nggak ketemu. Kamu apa kabar?"


"Baik, Tan. Tante apa kabar?"


"Baik juga. Ngomong-ngomong, siapa yang sakit?"


"Ah. Kakak aku, tadi habis keserempet motor."


"Oh, ya? Terus gimana? Baik-baik aja, 'kan?"


Beby tersenyum kecil. "Iya. Baik-baik aja, kok. Ngomong-ngomong, Arka sakit, Tan?"


Chika diam sejenak. Kondisi Arka yang semakin memburuk, membuat Chika berpikir untuk memberitahu Beby tentang putranya itu. Sejujurnya, Chika telah menyiapkan mental untuk segala kemungkinan terburuk di kemudian hari. Sebagai ibu, Chika tahu benar bahwa motivasi terbesar untuk Arka bertahan hidup adalah Beby.


"Tan? Arka baik-baik aja, 'kan?"


"Kamu mau ikut Tante? Kita ketemu Arka."


***


Dan di sinilah Beby berada. Pandangannya menatap lurus pada manik mata Arka yang tampak memancarkan isyarat penuh rasa kaget. Beby melangkah perlahan, menyusul Chika yang sudah berdiri di samping anaknya.


"Hai, Ar," sapa Beby seraya mengulas senyum tipis.


Sosok pria tangguh yang selama ini ada di dalam benak Beby, kini telah bertransformasi menjadi pasien tetap dengan penyakit kanker dalam tubuhnya. Pantas saja, terakhir kali mereka bertemu, Arka tampak lebih kurus.


"Mama ngapain bawa dia ke sini?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Arka, Chika malah berkata, "Mama keluar dulu."


Arka menghela napas berat. Sosok Chika yang menghilang di balik pintu membuatnya ingin menyatu dengan tembok di sana.


"Jadi, ini alasan kamu sebenarnya, Ar? Ini alasan kenapa kamu nggak mau temenan sama aku?"


Arka menoleh. Bola matanya menatap lurus pada gadis cantik di hadapannya. Tangan Arka mendadak terasa gatal. Sungguh, ia sangat merindukan gadis ini.


"Putri tahu soal ini? Dia tahu kalau kamu sakit?"


Ah ... rupanya, Beby belum tahu bahwa Arka dan Putri hanya bersandiwara.


Ponsel dalam genggaman Beby bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Miko.


Kak Miko:


Lama banget, sih. Buruan!


Beby mematikan ponselnya. Tatapan Beby kembali terfokus pada Arka. "Oke, kalau kamu nggak mau cerita. Aku pamit."


Baru saja Beby membalikkan badan, Arka membuat langkahnya terhenti.


"By. Sering-sering temuin aku, ya."


"Pasti," balas Beby sembari melempar senyuman manis.


Tak apa. Begini lebih baik. Tak apa Beby menganggap Arka berkhianat, tak apa Beby menganggap Arka memiliki hubungan spesial dengan Putri, tak apa Beby melupakan kisah mereka, asalkan Arka bisa melewati masa-masa terakhir bersama gadis yang ia cintai.

__ADS_1


Tuhan, kali ini aja, izinkan hamba egois.


***


Aldef tersenyum lebar saat gadis yang semula terlelap kembali membuka matanya.


"Nyenyak banget tidurnya."


Tak ada respon apapun dari Celine. Manik matanya menatap lurus pada kedua bola mata Aldef. Saat itu pula, Aldef baru menyadari sesuatu.


"Celine ... kamu?"


"Aku bisa lihat kamu, Al."


Mata Aldef terbuka lebar. Indra pengelihatannya memancarkan isyarat terkejut sekaligus bahagia. "Beneran?"


Celine mengubah posisi menjadi duduk. Bola matanya tak beralih dari Aldef. "Iya. Nih. Aku bisa lihat semuanya. Aku udah nggak buta, Al! Mataku sembuh!"


Aldef merengkuh tubuh Celine. "Syukurlah. Aku seneng dengernya."


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Celine pun membalas pelukan Aldef tak kalah erat. "Makasih, Al. Makasih kamu selalu nemenin aku."


"Gimana kalau kita rayain ini?" usul Celine sesaat setelah aksi saling peluk di antara mereka berakhir.


"Boleh. Mau rayain gimana?"


"Kita makan malam di luar?"


"Yuk!"


Malam itu, adalah malam kesekian yang Aldef habiskan bersama Celine.


***


Karena tangan kanan Miko patah, laki-laki itu tak mungkin mengemudi. Alhasil, Lola yang menjadi korban. Gadis itu terpaksa mengendarai mobil Miko dengan beragam peraturan.


"Hati-hati!"


"Jangan sampai kegores."


"Jangan sampai nabrak."


"Jangan sampai kotor!"


"Bawel lo!" sungut Lola.


"Heh! Tangan gue begini juga gara-gara lo, ya!"


"Gue nggak minta lo tolongin."


"Kalian semobil aja, ya. Lama," ucap Beby.


"OGAH!" sahut Miko dan Lola secara bersamaan.


Beby memutar kedua bola mata jengah. Gadis itu memasuki mobil terlebih dahulu, disusul Miko yang masih setia dengan ekspresi kesal.


"Lo yakin dia bisa nyetir?" tanya Miko saat mobil Beby mulai meninggalkan area rumah sakit.


"Emang tadi yang bawa lo ke rumah sakit siapa?"


"Dia, sih."


"Pakai mobil lo, 'kan?"


"Iya."


"Ya, berarti bisa!"

__ADS_1


"Dih! Biasa aja kali ngomongnya."


Beby memilih mengabaikan Miko. Indra pengelihatannya fokus ke arah depan. Sementara itu, Miko memilih untuk memainkan ponsel. Lelaki itu membuka aplikasi Instagram. Dan apa yang muncul di beranda membuatnya tercengang.


"By."


"Hm?"


"Bisa berhenti sebentar?"


"Ngapain?"


"Bentar aja."


Meski akal Beby bertanya-tanya mengapa Miko meminta berhenti, gadis itu tetap menurut. Tangannya bergerak mengarahkan mobil menepi ke kiri.


"Ada apa?" tanya Beby.


Tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel, Miko bertanya, "Tadi lo bilang, nomor penerbangan mama-papa berapa?"


"A107. Kenapa?"


Miko menoleh ke arah Beby. Tatapannya menyiratkan sesuatu yang besar telah terjadi. Beby pun tak tahu pasti makna di balik tatapan Miko. Tapi, Beby dapat merasakan firasat buruk hingga di relung hatinya.


"Kenapa, sih, Kak?"


Tangan Miko mengulurkan ponsel ke arah Beby. Dengan alis bertaut heran, gadis itu mengambil alih benda pipih dari tangan Miko.


...nomor penerbangan A107 dinyatakan hilang setelah 10 menit lepas landas. Hingga saat ini ....


Otot-otot syaraf Beby seketika tak berfungsi. Tangannya tergolek lemas, membuat ponsel Miko lepas dari genggamannya. Beby mendongak, menatap lurus pada bola mata Miko yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan darinya.


"Ini hoax, Kak." Beby tertawa getir. Gadis itu mengambil kembali ponsel Miko yang terjatuh di kursi kemudi, lalu mengembalikannya ke si pemilik. "Nih! Gue nggak percaya. Itu pasti hoax."


Beby memacu kembali mobil Miko. Sejak beberapa saat lalu, ribuan kali gadis itu mengumpati jantungnya yang berdetak lebih cepat.


"By ...."


"Stop, Kak. Gue nggak percaya. Itu pasti hoax."


Setetes air mata dengan lancang membasahi permukaan pipi Beby. Mewakili bongkahan rasa cemas yang tak lagi dapat dibendung.


"Berhenti, By," ujar Miko. "Bahaya kalau lo nyetir dalam keadaan kayak gini. Kita berdua bisa celaka."


"Apaan, sih, Kak?" Beby menoleh sejenak. Gadis itu tertawa sumbang. "Gue nggak apa-apa."


Miko melihat kedua tangan Beby yang menggenggam setir mobil bergetar hebat. Napasnya pun terdengar memburu. Dan Beby berkata bahwa dirinya baik-baik saja?


"By. Berhenti gue bilang."


Beby mengabaikan Miko. Alih-alih berhenti, gadis itu malah menginjak pedal gas semakin kuat.


"BEBY!"


Lagi-lagi, Beby mengabaikan Miko. Gadis itu seolah tak peduli dengan nyawanya sendiri. Suara klakson kendaraan bermotor terdengar saling bersahutan karena Beby yang terus menambah kecepatan di tengah keramaian.


Dalam perjalanan itu, Miko tak henti meneriaki Beby untuk berhenti. Namun, gadis itu seolah menulikan telinga. Tangan dan kakinya berkombinasi untuk terus memacu mobil Miko. Hingga tibalah mereka di tempat yang sejak awal tertanam dalam benak Beby: bandara.


Gadis itu lantas turun dari mobil. Beby berlari sekuat tenaga memasuki area bandara. Mengabaikan Miko yang tengah dilanda gejolak emosi dalam dirinya.


Bukan mungkin, adiknya itu dapat dipastikan tidak baik-baik saja setelah ini.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2