
"Ar! Hidung lo!"
Miko yang sejak tadi berkutat dengan laptopnya dan duduk di samping kiri Arka, mendadak heboh saat melihat cairan merah keluar dari hidung laki-laki itu.
"Nih. Tisu," ucap Miko sambil mengulurkan beberapa lembar tisu yang lantas diambil alih oleh Arka.
"Thank's, Kak."
"Lo nggak apa-apa?"
Arka menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, kok."
Laki-laki itu berusaha membuat gerakan selembut mungkin agar gadis yang tengah bersandar di bahunya tak terusik. Namun, usaha Arka gagal. Beby tiba-tiba terbangun.
"Ar? Kenapa?"
Arka tersenyum simpul. "Nggak apa-apa."
"Itu hidung kamu mimisan, loh. Yakin nggak apa-apa?"
Kupu-kupu bertebaran di hati Arka saat gendang telinganya mendapati nada khawatir di balik ucapan Beby.
"Nggak apa-apa, By. Udah biasa."
"Kamu tidur aja, ya. Istirahat."
Arka mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
"Sini. Sandaran di bahu aku," ucap Beby.
"Hah?"
"Iya. Nih. Biar kamu enak tidurnya."
"Nggak perlu, By. Nggak apa-apa, kok."
Sementara kedua manusia yang berstatus mantan itu berdebat, Miko yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menghela napas pasrah. Entah apa lagi yang akan terjadi pada adiknya setelah ini.
***
Aldef berbohong soal dirinya yang akan pergi ke kampus. Ia hanya mencari alasan untuk menyudahi obrolan bersama sang pacar. Mood Aldef sungguh buruk hari ini.
Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi, bukan Beby orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal, Aldef berharap sang pacar meneleponnya tepat di jam dua belas dini hari tadi.
Beby yang ditunggu, tapi malah Celine yang mengirim pesan pada Aldef. Jadilah lelaki itu curhat tentang rasa kesalnya pada sang pacar.
Suara notifikasi pesan masuk menarik Aldef dari kekesalannya. Sebuah chat dari nomor tak dikenal. Penasaran, Aldef pun membukanya. Kedua mata lelaki itu memicing, memastikan indra pengelihatannya tak salah menangkap bayangan.
"Ini ... beneran Beby?"
Dalam foto itu, terlihat Beby sedang bersama seorang laki-laki di sebuah studio foto. Jelas sekali tawa lepas Beby di sana. Aldef memperbesar layar ponselnya, saat itulah tertangkap wajah laki-laki yang tengah bersama sang pacar.
"Arka?"
Enggan termakan hoax, Aldef mencoba mendial nomor Beby. Sekali, dua kali, tiga kali, tak ada satu respon pun dari sang pacar.
Aldef menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Mengenyah perlahan pikiran-pikiran negatif yang mendadak muncul. Kali ini, Aldef mencoba mengirim pesan lewat aplikasi WhatsApp.
^^^Me:^^^
^^^Ini bener lo sama Arka, Sky?^^^
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dan bermenit-menit selanjutnya, tak ada respon pula dari Beby. Bahkan, pesan yang Aldef kirim menunjukkan centang satu abu-abu. Pertanda bahwa ponsel Beby sedang non-aktif.
Kemana gadis itu sebenarnya?
Aldef meraih kunci mobil dan dompetnya. Ia merasa butuh sesuatu untuk menenangkan diri sekarang. Aldef berencana ke studio FS.
Namun, baru saja Aldef membuka pintu apartemennya, seorang gadis dalam balutan dress selutut polos warna marun berdiri di sana dengan tangan membawa kue tart.
"Happy birthday!"
Aldef tertawa renyah. "Ngapain sampai datang ke sini, sih, Cel? Lagian, kamu tahu dari mana coba aku ada di rumah?"
"Ini nggak disuruh masuk dulu? Berat kuenya."
"Iya. Masuk aja." Aldef membuka pintu lebih lebar. Membiarkan Celine memasuki kediamannya.
Celine meletakkan kue tart berukuran besar di atas meja ruang tamu. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam sling bag coklat miliknya. Sebuah kotak berbalut kertas kado bermotif garis-garis warna putih Celine ulurkan ke Aldef.
"Apa, nih?" tanya Aldef sembari menatap sejenak ke arah kotak di tangan Celine.
"Kado ulang tahun."
Sembari tertawa renyah, Aldef mengambil alih kado pemberian Celine. "Boleh dibuka?"
"Boleh, dong."
Dengan rasa penasaran, Aldef membuka kertas kado itu. Kemudian, membuka kotak hitam di dalamnya. Ternyata, sebuah jam tangan ber-merk yang menjadi kado ulang tahun dari Celine.
__ADS_1
"Cel ..., ini, kan ...?"
"Jam incaran kamu, 'kan?"
"Ini mahal banget, lho, Cel."
Celine tertawa. "Terima, ya. Aku seneng banget kalau kamu mau nerima."
Aldef tersenyum tulus. Lelaki itu membawa Celine ke dalam dekapannya. "Thank's, ya."
Dalam dekapan Aldef, Celine mengulas senyum penuh makna. "Sama-sama, Al"
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya dari ambang pintu apartemen Aldef yang lupa ditutup kembali.
***
Begitu sampai di Jakarta, Beby dan Miko langsung mengantar Arka kembali ke rumah sakit. Setelah itu, ketiganya berpisah. Miko ke kampus, Arka stay di rumah sakit, dan Beby sibuk merealisasikan rencana kejutan untuk Aldef.
Kado ulang tahun sudah berada dalam genggaman. Tapi, rasanya belum lengkap tanpa kue tart. Maka dari itu, Beby mampir sebentar ke sebuah toko kue. Ia membeli kue tart berukuran sedang lengkap dengan lilin-lilin kecil yang memagari pinggiran kue, serta tulisan 'Aldef's Birthday' di atasnya.
Di tengah perjalanan menuju apartemen, Beby teringat akan ucapan Aldef.
Sky, lihat, deh, jamnya. Keren, ya?
Bola mata Beby mengekori arah pandang Aldef ke sebuah etalase berisi jam tangan. "Mahal itu."
"Iya, tapi keren."
"Lo mau beli?"
"Boleh?"
"Jangan, deh. Jam tangan lo, kan, udah banyak di rumah."
"Iya, sih."
Mengingat momen itu, Beby menyempatkan diri untuk mampir ke tempat yang sama. Gadis itu membeli jam tangan ber-merk warna biru langit. Tentu saja, ada alasan mengapa Beby memilih warna itu.
"Sky! Mampus lo, Al. Nggak akan bisa lupain gue," gumam Beby seraya tersenyum puas.
Semakin dekat jarak Beby dengan apartemen, semakin tinggi pula ekspektasi yang tercipta dalam benaknya. Gambaran akan ekspresi terkejut sekaligus senang dari sang pacar, membuat Beby tak sabar untuk segera menemui Aldef.
Namun, semua ekpektasi itu dipatahkan dengan pemandangan yang Beby lihat di ruang tamu apartemen Aldef. Pergelangan tangan Beby seolah lumpuh seketika. Kue tart di tangannya pun terjun bebas ke lantai.
De javu.
Beby seolah melihat reka ulang saat Arka bersama Putri dulu. Tapi, kali ini rasanya lebih sakit.
Mengapa pula pintu apartemen Aldef terbuka? Seolah semesta dengan sengaja mematahkan hati Beby. Dengan mata yang mulai menetaskan cairan bening, Beby membalikkan badan. Berlari ke arah lift dan melupakan segala rencana yang tersusun dalam benaknya.
***
Kini, Aldef dan Celine tengah berada di ruang tengah. Mereka sama-sama menikmati kue tart yang tadi Celine bawa.
Aldef mengangguk. "Enak. Tapi, kenapa kamu beli yang gede banget, sih? Kan, mubazir kalau nggak habis."
"Buat kamu, aku maunya totalitas."
Aldef menanggapi itu dengan bercanda. "Bisa aja."
"Ngomong-ngomong, hari ini nggak ada rencana keluar?"
"Ada. Nanti sore ada jadwal ngampus. Kenapa?"
"Aku nebeng pulang, ya."
"Nggak kerja?"
Celine menggeleng. "Aku sengaja kosongin jadwal hari ini. Ulang tahun kamu soalnya."
Ponsel Aldef yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Putri.
Putri:
Beby ada di rumah sakit, lo tahu?
^^^Me:^^^
^^^Nggak usah ngaco. Orang dia masih di Surabaya.^^^
Putri:
Ke sini kalau nggak percaya. Gue tadi habis papasan sama dia di lobby.
Putri:
Katanya, Beby mau jenguk Arka.
Rahang bawah Aldef mengeras seketika. Jadi, foto yang dikirim dari nomor tak dikenal tadi pagi itu benar?
"Eh? Mau ke mana, Al?" tanya Celine saat melihat Aldef beranjak dari posisinya.
"Aku anter kamu pulang sekarang, ya. Lupa, siang ini ada janji sama temen."
"Oh ... oke."
__ADS_1
Ada yang aneh dengan Aldef. Celine jelas dapat melihat hal itu di balik gerak-gerik sang mantan. Rupanya, ada sesuatu yang telah terjadi.
Tak lama kemudian, Aldef kembali dalam balutan jaket kulit warna coklat tua. Lelaki itu meminta Celine untuk melangkah terlebih dahulu. Saat mereka telah di luar unit apartemen Aldef, tak lupa lelaki itu mengunci pintu.
Sementara itu, Celine yang tengah menunggu Aldef merasa heran saat mendapati sebuah kue tart tergeletak di lantai lorong. Gadis itu melangkah perlahan, lalu membungkukkan badan untuk meneliti lebih dekat kue tart itu.
"Aldef's Birthday?" gumam Celine.
"Yuk!"
"Tunggu, deh, Al." Celine berdiri. "Coba lihat, deh. Ada kue jatuh."
Pandangan Aldef beralih sejenak pada kue yang Celine maksud. "Oh. Ya udah. Nanti minta tolong cleaning service buat bersihin."
"Coba lihat tulisannya."
Kedua alis Aldef bertaut heran. Penasaran, ia pun menuruti permintaan Celine. Sederet huruf yang berarti memperingati hari ulang tahunnya.
"Dari siapa, ya, kira-kira?"
Nggak mungkin Beby, 'kan? tanya Aldef dalam hati.
***
"Ma, please, deh. Arka bisa makan sendiri," protes Arka pada Chika yang sejak tadi bersikukuh menyuapinya makan siang.
"Anggap aja ini hukuman karena kamu berani kabur." Chika kembali mengulurkan sendok berisi bubur ayam. "Ayo. Buka mulutnya."
Arka menurut saja. Lagipula, ia menyadari kesalahannya. Dan Arka tidak menyesal sama sekali.
"Ar, jangan gitu lagi, ya." Suara Chika terdengar berat. Arka jadi merasa bersalah sudah membuat sang ibu khawatir. "Mama takut, Ar. Serius."
"Iya, Ma. Maaf, ya. Aku panik banget soalnya. Apalagi, aku tahu gimana sikap pacarnya Beby akhir-akhir ini."
"Terus? Beby udah baik-baik, 'kan?"
"Ya ... lumayan—udah, ah, Ma. Arka udah kenyang."
"Habisin, dong. Ini tinggal beberapa suap doang."
"Tapi—"
'Ceklek!'
Suara pintu yang terbuka membuat tatapan Arka dan Chika kompak mengarah ke sumbernya. Mereka sama-sama terkejut mendapati sosok Beby masih dengan koper yang berada di tangannya.
"Assalamualaikum," ucap Beby seraya melangkah masuk. Gadis itu tak lupa menutup kembali pintu ruang rawat Arka.
"Waalaikumsalam," jawab Chika dan Arka secara bersamaan.
"Kenapa, By? Ada yang ketinggalan?" tanya Arka.
"Aku ... mau di sini, boleh?" Manik mata Beby mengarah pada Chika. "Boleh, 'kan, Tante?"
"Boleh." Chika meletakkan mangkuk putih yang semula dalam genggamannya ke atas nakas. "Kalau gitu, Mama balik ke kantor dulu, ya. Beby, Tante pamit, ya."
Selepas kepergian Chika, Beby duduk di samping kiri Arka. Mengabaikan sensasi menusuk di sekujur tubuhnya akibat tatapan sang mantan. Arka pasti bertanya-tanya mengapa Beby kembali dengan keadaan yang sudah pasti tampak kacau di mata lelaki itu.
"Kenapa, By?"
Beby menunduk. Tak berani membalas tatapan penasaran yang Arka lontarkan. Beby bingung harus menjawab apa. Saat emosi menguasai dirinya, entah mengapa kakinya melangkah kemarin. Mengapa Beby tidak masuk saja ke apartemennya?
"By." Jari telunjuk Arka mengangkat pelan dagu Beby. Kini, bola mata Arka dapat menangkap cairan bening yang menetes di pipi Beby. Dan Arka sangat membenci hal itu. "Ada apa, By?"
Lidah Beby terasa kelu. Begitu banyak keluh-kesah yang bersarang di kepalanya, namun tak ada satu suara pun keluar dari mulut Beby. Air mata semakin deras membanjiri permukaan pipinya. Gadis itu menangis tersedu di hadapan Arka.
Jujur, Arka ingin memeluk Beby. Sangat. Tapi, ia terhalang oleh dinding berukuran besar dan kuat yang ia buat sendiri.
Tiba-tiba, Beby memeluk Arka. Arka yang tak siap dengan gerakan itu pun merasa terkejut.
"Please, Ar. Bikin aku jatuh cinta lagi sama kamu. Aku nggak sanggup, Ar."
"Hey, Beby." Arka berusaha melepas pelukan Beby. Lelaki itu menatap kedua manik mata Beby lamat-lamat. "Ada apa? Cerita sama aku."
"Tadi, aku udah sampai di apartemen. Aku udah nyiapin semua kejutan untuk Aldef. Tapi ...."
"Tapi, kenapa?"
Beby kembali terisak. Rasa sakit saat melihat bagaimana interaksi Aldef dan Celine tadi seperti belati kecil yang menyayat perlahan hatinya. Perih.
"Aldef ... dia ...."
Pintu ruang rawat Arka tiba-tiba terbuka. Menampilkan sosok lelaki dalam balutan jaket kulit warna hitam dengan rahang yang mengatup keras.
"Oh, jadi ini alasan lo nggak bisa dihubungi dari tadi pagi? Lagi sibuk berduaan sama mantan? Bagus, Sky! LANJUT!"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1