
"Kevin?" Beby menatap lekat ke arah lelaki di samping kanannya.
Daren tertawa. "Akhirnya, lo ingat juga sama gue."
"Mau apa lo sebenarnya?" Beby mengangkat sebuah buku dalam genggamannya. "Kenapa buku gue yang selama ini hilang bisa ada di mobil lo?"
"Karena buku itu punya gue."
Sebenarnya, Daren mencuri buku itu dari Aldef. Sejak awal Daren bergabung dengan Fahri, tujuan utamanya adalah Beby.
Beby berdecak kesal. Gadis itu melengos ke arah jendela di samping kirinya. Saat itu pula, Beby menyadari sesuatu. "Ini bukan jalan ke rumah gue."
"Emang siapa yang bilang gue bakal anterin lo pulang?"
Suara itu terdengar layaknya psikopat di telinga Beby. "Stop sekarang!"
Lagi-lagi, Daren terbahak. "Lo pasti mikir kalau Fara dan Zidan adalah couple of devil. Padahal, mereka cuma boneka buat gue."
"Ma-maksudnya?"
"Amanda sayang. Karena selama ini si tengik Zidan itu selalu gagal bunuh lo, terpaksa harus gue yang ambil alih. Tapi karena gue nggak akan sanggup kehilangan lo, jadi kita mati bareng, gimana?"
"Sinting! TURUNIN GUE SEKARANG!"
Daren menoleh sejenak. Beby dapat menangkap kilat amarah di balik tatapan lelaki itu. "Lo, tuh, kenapa, sih, Man? Kenapa lo nggak pernah lihat gue sedikitpun? Padahal, gue selalu ada di dekat lo. Gue bahkan rela masuk jurusan Sastra Indonesia cuma buat sering ketemu lo. Tapi, lo malah jadian sama Aldef!"
Beby mengerti sekarang. Semua kejadian buruk yang menimpa dirinya, itu semua pasti ulah Daren. Mulai dari prom-night, Fara yang sengaja membuat Beby tenggelam di kolam renang, Celine. Daren-lah dalang di balik semua itu. Tapi, satu hal yang Beby tak mengerti.
"Apa? Lo bertanya-tanya kenapa mereka mau jadi boneka gue?" Daren tertawa licik. "Zidan, perusahaan bokapnya bangkrut. Jadi, dia harus putus sekolah dan jadi tulang punggung keluarga. Apalagi, adik-adiknya yang masih bau kencur semua.
"Fara, butuh sokongan untuk jadi model ternama. Dia punya utang 2M ke gue. Dasar goblok emang, tuh, bocah!
"Celine? Jelas, karena adiknya sakit keras."
"Lo gila, Ren!"
Tawa licik Daren kembali menguar. "Ya, terus kenapa?! Lo nggak suka?! ITU SEMUA JUGA GARA-GARA LO! Coba lo nerima gue dari awal. Coba lo mau lihat gue sedikit aja, semua ini nggak akan terjadi. PAHAM?!"
"Berhenti sekarang!"
Tentu saja, dua kata itu malah membuat Daren menginjak pedal gas semakin dalam. Diam-diam, Beby mengambil ponsel dari dalam tasnya. Rasa takut mulai menyelimuti Beby. Namun sayang, Daren menyadari gerakan gadis di sampingnya.
Lelaki itu lantas menyambar ponsel Beby. "Lo pikir bisa kabur dari gue?"
***
Hanya ada satu hal yang memenuhi kepala Aldef sekarang: di mana Beby? Ke mana Daren membawamu pergi?
Setelah mendengar penjelasan Zidan, Fara, Fahri, dan Celine, mereka bergegas mencari keberadaan Beby. Dan karena hal itu pula, Aldef mengambil alih kemudi mobil Fahri.
"Al ..., ini ...."
"Diem!"
Fahri refleks mengunci mulutnya. Kedua tangan Fahri semakin erat memegang sabuk pengaman. Nyatanya, cara Aldef menyetir seribu kali lebih gila dari Fahri tadi.
Manik mata Aldef hanya tertuju ke dua arah. Jalanan di hadapannya, serta ponsel yang menunjukkan keberadaan mobil Daren saat ini. Dalam rangka sedia payung sebelum hujan, Fahri diam-diam memasang pelacak di mobil Daren.
Tentang misi yang Fahri rencanakan bersama Daren, Fahri sengaja melakukannya. Karena dengan begitu, ia bisa mengumpulkan lebih banyak bukti atas kejahatan Daren.
Hari itu adalah pertama kalinya Fahri menemukan kembarannya menangis sesenggukan di sofa ruang tengah. Malam itu, Fahri baru tiba di rumah sekitar pukul 01.17.
__ADS_1
"Fara? Lo kenapa?"
"Gue udah nggak tahu mesti gimana lagi, Ri. Gue bingung."
"Sebentar. Pelan-pelan ngomongnya. Lo cerita ke gue. Ada apa?"
Lalu, mengalirlah cerita tentang Daren yang selama ini ternyata memeras Fara. Sebagai seorang kakak, Fahri merasa gagal.
"DAMN!" teriak Aldef.
"Kenapa?"
"Sinyalnya hilang. Daren pasti udah sadar kalau di mobilnya ada sesuatu."
Tepat saat itu, ponsel Fahri berdering. Panggilan dari Fara. Begitu menjawab, Fahri tak lupa mengaktifkan mode lodspeaker.
"Daren ngirim alamat lokasinya ke gue. Di ...."
Aldef memacu mobil Fahri dengan kecepatan yang makin menggila.
"Kayaknya kita perlu minta bantuan polisi, deh," usul Fahri.
"JANGANNN!!!" Tiga orang yang masih terhubung di ponsel Fahri itu kompak teriak.
"Daren itu nekat. Dia ngancam kita untuk nggak bawa polisi. Beby bisa makin bahaya kalau kita coba-coba," jelas Zidan.
Sambungan terputus. Suasana terasa semakin mencekam. Lalu, sebuah ide terlintas dalam kepala Aldef.
"Ri, ambil handphone gue. Cepet!"
"Buat apa?"
"Kita perlu hubungi satu orang lagi."
***
Beby tak bisa berkutik saat Daren menyodorkan sebuah pisau ke arahnya. Kini, Beby hanya bisa pasrah. Hal yang bisa Beby lakukan adalah berusaha menulikan telinga saat Daren berkata-kata.
Hingga pada akhirnya, di sinilah Beby berada sekarang. Sebuah gedung terbengkalai di daerah Bogor. Beby duduk dengan posisi tangan dan kaki terikat. Pisau yang terus Daren mainkan di dekat leher membuat Beby tak berkutik.
"Yaampun, Sayang ... kamu pasti gerah banget, ya?"
Daren mengusap keringat yang membanjiri pelipis Beby dengan bagian tumpul pada pisau. Membuat sekujur tubuh Beby kian bergetar hebat. Wajahnya pun tampak pucat pasi. Rasa takut yang begitu pekat sangat jelas di balik mata Beby.
"Kenapa, sih? Takut kalau kena pisau, ya? Tenang aja. Kamu aman, kok, sama aku."
Beby tak sudi membalas. Gadis itu menutup mulut rapat-rapat.
"AL!" teriak Beby saat melihat seseorang di depan sana. "Al, tolong ...." Detik itu pula, tangis Beby pecah.
Melihat kedatangan Aldef dan Fahri, Daren yang semula berjongkok di depan Beby, kini melilit gadis itu dari belakang dengan pisau yang siap menghunus leher Beby kapan saja. Merasa nyawanya di ujung tanduk, Beby memejamkan mata rapat-rapat.
"Jaga jarak kalian," tegas Daren. "Kalau berani maju, Beby DIE!"
"Lo mau apa?"
Itu suara Aldef. Beby membuka mata, menatap lelaki yang berjarak lima meter di depannya dengan air mata mengalir deras. Beby dapat menangkap isyarat penuh di balik tatapan Aldef. Laki-laki itu meminta Beby untuk tenang.
"Gue mau, lo putusin Beby sekarang," ucap Daren.
"Jangan!" teriak Beby.
__ADS_1
"DIEM!" Daren mengeratkan lilitan pergelangan tangannya di leher Beby.
"Oke!" sahut Aldef. "Gue bakal nurutin semua permintaan lo, tapi jangan sakiti Beby."
Daren terbahak. "Bagus!"
"Al, lo yakin?" bisik Fahri. Aldef hanyalah mengangguk singkat.
"Sky—"
"Ah! Satu lagi," sela Daren. "Berhenti panggil Beby dengan sebutan Sky. Gue nggak suka kalau ada orang lain yang memperlakukan spesial milik gue."
Aldef menghela napas berat. "By." Bahkan, untuk melanjutkan kata-kata yang sudah berkumpul di ujung lidah saja terasa sukar setengah mati.
"Beby ...." Kalimat Aldef tergantung. Namun, kali ini ada penyebab lain. Tampak sosok Miko dan Zidan yang masuk dari pintu lain dan muncul di belakang Daren. Indra pengelihatan Miko jelas mengisyaratkan agar Aldef mengulur waktu selama mungkin.
Aldef yang menangkap isyarat itu mengedipkan mata. "Beby ... gue ... gue mau ... gue mau kita ... pu ...."
'BUGH!'
Satu pukulan telak yang berasal dari kayu berukuran sedang dalam genggaman Miko membuat Daren tersungkur ke lantai. Daren yang tak terima pun lantas bangkit. Melihat hal itu, Fahri turun tangan. Lalu, terjadilah perkelahian.
Selagi Miko dan Fahri mengalihkan perhatian Daren. Aldef cepat-cepat melepas ikatan Beby. Begitu selesai, gadis itu lantas menghambur ke dalam pelukan Aldef.
"Lo nggak apa-apa, 'kan?" tanya Aldef sembari mengusap lembut kepala Beby. Berharap dapat menyalurkan rasa tenang untuk gadis itu.
"Gue takut, Al ...," lirih Beby.
"Sssttt ... lo aman sekarang."
Beby membuka kedua matanya. Detik itu pula, mata Beby melotot kaget sebab Daren yang melangkah di belakang Aldef dengan pisau dalam genggaman.
"AWAS, AL!"
Mendengar teriakan Miko, Aldef lantas menoleh. Sentuhannya pada Beby pun terlepas. Sayangnya, Aldef terlambat. Beby terlebih dahulu berhasil mengadang pergerakan Daren. Sebuah pisau dalam genggaman lelaki itu akhirnya menembus perut Beby.
"SKY!" Aldef cepat-cepat menghampiri gadis yang berdiri di depannya. Kedua tangan Aldef menumpu tubuh Beby yang mulai limbung.
Gadis itu meringis kesakitan. Telapak tangannya yang semula menyentuh perut, kini berlumuran darah. Beby yang tak sanggup menopang tubuh berakhir ambruk di pangkuan Aldef.
"Arghhh!!!"
"Sky, lihat gue! Buka mata lo, Sky!" Aldef menepuk-nepuk pipi Beby dalam pangkuannya. Sebisa mungkin membuat Beby tetap sadar.
"Sa-sakit, Al ...."
"Sky, bertahan, ya. Please!"
*
*
*
DAH MAU ENDING :')
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️