
Di kursi tunggu depan ruang UGD, ponsel Beby yang sejak tadi dalam genggaman Aldef berdering. Terdapat panggilan dari Miko.
"Hallo, By? Lo di mana? Kok, belum pulang?"
"Ini Aldef, Kak."
"Aldef? Kenapa lo yang ngangkat telepon gue? Beby mana? Kalian di mana sekarang? Lo jangan macem-macem, ya, sama adek gue!"
Aldef menghela napas sejenak. "Gue lagi di rumah sakit, Kak. Tadi Beby pingsan."
"Beby pingsan?! Rumah sakit mana?"
"Rumah Sakit Sentosa. Kak Miko mau ke si ... ni?"
Miko memutus sambungan telepon secara sepihak. Aldef dapat membayangkan bagaimana paniknya pria itu.
Aldef kembali menunduk. Terhitung lima belas menit sejak ia membawa Beby ke rumah sakit. Dan sejak saat itu, hati Aldef tak henti diterpa gelombang kecemasan.
"Aldef?" Suara familiar itu membuat Aldef mendongak. "Ngapain lo di sini?"
Kening Aldef mengernyit heran. "Lo sendiri ngapain di sini?"
"Kerja, lah!" seru Putri.
"Oh." Aldef manggut-manggut. "Jadi lo kerja di sini."
"Lo belum jawab pertanyaan gue. Ngapain di sini?"
"Tadi temen gue pingsan. Mangkanya gue bawa ke sini."
Putri memicing, menatap adik tirinya dengan tatapan curiga. "Temen atau temen?"
"Sekarang, sih, temen."
"Dia masih di UGD?"
Mendapat anggukan dari Aldef, Putri mengintip ke dalam ruang UGD melalui kaca yang menampilkan situasi di dalam sana. Bola mata Putri membulat sempurna begitu melihat siapa 'teman' yang dimaksud Aldef.
Tanpa pikir panjang, Putri bergegas enyah dari posisi semula. Aldef yang melihat hal itu malas berpikir aneh-aneh. Ia hanya menganggap bahwa kakaknya itu sedang sibuk.
"Al?" Miko datang dengan napas sedikit ngos-ngosan. "Gimana keadaan Beby?"
Aldef menggeleng lemas. "Masih ditangani dokter."
Lalu, keduanya menunggu dengan suasana hati yang sama-sama gelisah. Aldef yang sibuk menerka ada apa dengan Beby, dan Miko yang khawatir tentang 'bagaimana jika depresi Beby kambuh?'
***
Suasana ruangan serba putih menyambut indra pengelihatan Beby begitu ia membuka mata. Kapala yang seperti dihantam sebuah batu besar membuat Beby kembali memejamkan mata, mengusir pening yang bersarang di sana. Setelah dirasa kepalanya lebih ringan, Beby kembali membuka mata.
Sosok Aldef dan Miko yang sama-sama tersenyum lega adalah objek pertama yang terpantul ke manik mata Beby.
"Syukurlah lo udah sadar, Sky," ucap Aldef.
"Gue kenapa?" tanya Beby bingung.
"Kena penyakit kronis!" sahut Miko dengan nada kesal.
"Jinjja?!" Beby yang semula berbaring lantas duduk tegang. Gadis itu seketika meringis ngilu akibat rasa sakit di kepalanya.
"Pelan-pelan dong, Sky," ucap Aldef lembut.
"Sejak kapan Beby ganti nama jadi Sky?" tanya Miko seraya melempar tatapan aneh ke arah Aldef.
"Beby Skyla Amanda, right?" balas Aldef.
"Kak!" Beby sedikit berteriak. "Gue sakit apa?! Lo jangan nakut-nakutin, deh!"
Miko memutar kedua bola mata malas, sementara Aldef malah tertawa.
"Kok, lo ketawa, sih, Al?!" kesal Beby.
"Lo nggak kenapa-napa, Sky," ujar Aldef. "Nggak ada penyakit kronis. Lo cuma kecapekan sama kurang tidur aja. Makannya juga nggak teratur. Jadi tumbang, deh."
"Hufttt!!!" Beby bernapas lega seraya menyandarkan diri pada bantal yang—tadi dipakai tidur—sudah Aldef siapkan di belakangnya. "Syukurlah."
"Mangkanya, pulang, tuh, jangan malem-malem!" sungut Miko. "Sakit, kan!"
"Lo bisa nggak, sih, lembut dikit, Kak?" protes Beby. "Ini adik kesayangan lo lagi sakit, lho!"
Miko mendengkus kesal. "Bodo amat!"
"Kalian emang biasa berantem gini, ya?" tanya Aldef.
"Nggak usah ikut campur!" Seruan itu kompak keluar dari mulut Miko dan Beby.
__ADS_1
"Wow!" Aldef berdecak kagum. "Kakak adik yang sangat kompak!"
Miko dan Beby sama-sama memalingkan muka. Tiada hari tanpa pertengkaran. Mungkin, seperti itulah situasi yang menggambarkan Miko dan Beby. Tapi, hanya Miko dan Tuhan yang tahu, betapa besar rasa sayangnya terhadap Beby. Betapa besar rasa ingin menjaga adik semata wayangnya itu. Dan memang benar, alasan utama Miko memutuskan untuk lanjut S2 di Jakarta adalah karena Beby.
"Oh, iya, Sky." Aldef memecah suasana hening yang menyergap barang sesaat. "Maaf banget, nih, gue nggak bisa nemenin lo. Ada kelas pagi soalnya."
Beby menatap ke arah Miko. "Lo gimana, Kak?"
"Pakai nanya?!" sungut Miko. "Ya, gue jagain lo, lah!"
Aldef dan Beby saling pandang. Tiga detik berikutnya, mereka terbahak-bahak.
"Apa kalian ketawa-tawa?!" kesal Miko.
"Lo kenapa dari tadi emosi, sih, Kak?" tanya Beby. Gadis itu memicingkan mata, menatap sang kakak dengan pandangan curiga. "Lo khawatir, ya, sama gue?"
"Enggak!" bantah Miko cepat. "Ngapain gue khawatir sama lo? Nggak penting!"
"Nggak tidur semalaman, bukan khawatir namanya?"
Miko menatap tajam ke arah Aldef yang baru saja melontarkan pertanyaan itu.
"Tuh, kan!" seru Beby. "Ngaku aja kenapa, sih, Kak? Sama adik sendiri gengsi amat."
"Lo mending tidur, deh. Biar nggak banyak bacot," ujar Miko.
"Sekarang jam berapa?" tanya Beby seraya menatap ke arah Aldef.
"Jam enam."
"Lo ada kelas jam berapa?"
"Jam delapan."
"Lo nggak ada kelas, Kak?"
"Nggak," jawab Miko cepat.
"Tadi katanya ada," sahut Aldef yang lantas mendapat tatapan tajam dari Miko.
"Nanti sore." Miko mengelak.
"Bukannya tadi lo bilang ada kelas pagi?" Aldef menimpali dengan tampang seolah tak memiliki dosa.
"Lo bener-bener, ya," geram Miko.
"Bener?" tanya Aldef yang dijawab anggukan oleh Beby.
"Lo telepon Lola sekarang, gue tunggu," ujar Miko.
"Ya nggak sekarang juga, dong, Kak," balas Beby. "Ini masih pagi banget. Yang ada Lola masih molor."
"Ya udah, kalau gitu gue di sini."
"Kak ...."
"Ya udah. Iya-iya! Ngusir gue banget, sih, lo."
"Lo mau bareng gue, Kak?" tanya Aldef pada Miko.
"Nggak. Gue naik taxi online aja."
"Yakin? Nanti gue antar ke apartemen, ambil mobilnya Beby biar bisa lo bawa."
"Nah! Bener, tuh!" sahut Beby. Gadis itu menoleh ke arah tas selempang miliknya yang tergeletak di atas nakas. "Kunci mobilnya ada di tas gue."
Miko menghela napas sejenak. Bola matanya menatap serius ke arah Beby. "Handphone jangan sampai nggak aktif. Awas aja lo!"
Seulas senyum lebar terbit di bibir pucat Beby. "Siap!"
"Kita berangkat sekarang? Takut kena macet ntar," kata Aldef.
"Emang kapan Jakarta nggak macet?" gerutu Miko.
"Udah. Sana kalian berangkat."
"Lo ngusir gue, Sky?"
Beby tertawa. "Iya. Kenapa emang?"
Aldef menampilkan ekspresi seolah dirinya tersakiti dengan berlebihan. "Jahat lo, Sky."
"Ini jadi berangkat nggak?" Suara dingin Miko menyudahi aksi drama yang Aldef tampilkan.
Entah kekuatan apa yang bersarang di tubuhnya, tangan Aldef bergerak mengacak puncak kepala Beby. "Gue tinggal dulu—"
__ADS_1
'Plak!'
Miko menepis tangan Aldef dari kepala adiknya. Aldef pun meringis ngilu seraya mengusap-usap bekas pukulan Miko.
"Nggak usah pegang-pegang. Bukan muhrim!"
"Galak amat, sih, Kak," protes Beby.
"Maklumlah, Sky. Takut adiknya diambil orang."
Beby dan Aldef sama-sama tertawa cekikikan. Tak peduli dengan Miko yang tengah melempar tatapan tajam ke arah mereka.
"Dah, ah! Lama lo!" sungut Miko. "Gue berangkat duluan. Bye!" Dengan muka masamnya, Miko meninggalkan tempat.
"Idih! Ngambek dia," ucap Beby seraya mengekori Miko dengan tatapannya.
Aldef terkekeh geli melihat kelakuan Miko. Lelaki itu menoleh ke arah Beby dan berkata, "Gue berangkat dulu, ya, Sky. Kalau ada apa-apa langsung telepon aja."
"Iya," jawab Beby sambil mengulas senyum manis.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Jam tujuh pagi, Beby memutuskan untuk menghubungi Lola. Gadis cantik berpakaian serba biru khas pasien rumah sakit itu merasa bosan. Ia butuh teman bicara.
Tadi, Anggi mengirim pesan bahwa Beby harus istirahat total selama di rumah sakit. Managernya itu mendapat informasi langsung dari Miko. Beby kira, dirinya masih harus berurusan dengan endors meski terbaring di rumah sakit. Tapi ternyata, Anggi masih memiliki sisi peri kemanusiaan juga.
"Aigooo! Pagi-pagi udah nelepon. Ada apaan?" (Astagaaa!) Terdengar suara serak khas orang bangun tidur di seberang sana.
"Yaampun, Lol. Matahari udah beraktivitas, lo masihhh aja molor. Nggak ke kafe?"
"Bos mah bebas mau datang jam berapa aja. Kenapa, sih? Lo lagi di kafe?"
"Nggak ...."
"Terus?" Gendang telinga Beby menangkap suara menguap sahabatnya. "Kalau nggak ada apa-apa. Gue mau tidur lagi, nih."
"Ehhh!!! Tunggu-tunggu! Penting ini. Penting banget!"
"Apaan?"
"Lo bisa ke rumah sakit sekarang?"
"Rumah sakit?" Nada suara Lola yang tadinya ogah-ogahan berubah menjadi bingung. "Ngapain?"
"Temenin gue. Gue lagi rawat inap di sini."
"WHAT?! KOK, BISA?!"
Refleks, Beby menjauhkan layar ponselnya dari daun telinga. Jemari lentik gadis itu mengusap-usap indra pendengarannya yang terasa mendengung.
"Nggak usah teriak-teriak, Lol!" protes Beby.
"Hehehe. Sorry. Habisnya gue kaget. Sejak kapan lo di rumah sakit? Kok, gue baru tahu?"
"Semalem. Udahlah. Lo ke sini sekarang, ya. Gue tunggu. Gabut banget, nih, gue nggak ada temen ngobrol."
"Tumben. Biasanya lo ngobrol sama makhluk ghaib di sekitar lo. Ngomongin drakor."
"Gue serius, Lola. Sekalian mau ada yang gue bicarain."
Terdengar suara decakan kesal di seberang sana. "Sebenernya gue mager banget pagi-pagi udah bangun. Tapi karena lo sahabat gue, ya udah deh. Di rumah sakit mana?"
Beby tertawa. "Rumah Sakit ...," Manik mata Beby melirik tanda pengenal yang melingkar di pergelangan kanannya."Rumah Sakit Sentosa."
"Oke."
Tepat saat Beby mengakhiri obrolan bersama Lola, seseorang mengetuk pintu ruang rawatnya dari luar.
"Masuk," ucap Beby sambil menatap ke arah pintu.
Dan begitu pintu terbuka, sekujur tubuh Beby menegang seketika. Indra pengelihatannya seolah tersedot jauh ke dalam mata orang itu. Beby baru menyadari sesuatu.
Ini kan ....
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️