
Sebenarnya, Miko lebih lega membunuh Zidan dengan tangannya sendiri daripada menjebloskan laki-laki brengsek itu ke penjara. Belum lagi, Miko harus mengurus segala *****-bengek yang biasa disebut prosedur. Miko berjanji pada dirinya sendiri, bahwa jika kali ini Zidan lolos lagi, ia yang akan menjadi pencabut nyawa bagi pria sycho itu.
"Zidan."
Suara itu membuat polisi, Zidan, dan Miko menoleh. Seorang perempuan dalam balutan dress ketat merah jambu sepaha lengan pendek, make up abnormal, lipstik merah merona, rambut yang tercepol rapi, serta sepatu high heels yang panjangnya sekitar 20 senti.
Ya. Kalian pasti tahu siapa perempuan dengan gaya khas tante-tante itu: Fara.
Tatapan Fara dan Miko bertemu, namun terputus sedetik kemudian. Miko beranjak dari posisinya. Ia menatap lekat ke arah pria paruh baya di hadapannya yang tengah memakai pakaian polisi.
"Pak. Tolong, ya. Orang ini jangan sampai lepas." Telunjuk Miko mengarah pada Zidan yang tengah terkapar akibat lara di sekujur tubuhnya. "Karena kalau sampai lepas, saya yang akan masuk penjara."
Tanpa menunggu respon dari pihak manapun, Miko meninggalkan kantor polisi. Jika ditahan lebih lama lagi, bisa-bisa Miko benar akan membunuh Zidan di sana.
Sembari melangkah menuju tempat parkir mobil, Miko menelepon Rama.
"Cari tahu semua informasi tentang Zidan dan Fara. Jangan sampai ada yang kelewat. Awasi juga laki-laki brengsek itu di penjara. Kalau dia berhasil kabur, bunuh aja!"
***
"Ada hubungan apa lo sama Celine?"
"Hah? Maksudnya?"
"Tadi pagi, gue lihat lo ada di ruang rawat dia. Jadi, gue tanya sekali lagi, ada hubungan apa lo sama Celine?"
"Celine? Oh ... Celine itu temen SMA gue."
Aldef tak menyangka bahwa kehadirannya di ruang rawat Celine akan diketahui oleh Putri. Nada bicara sang kakak yang terdengar penuh kecurigaan membuat Aldef berpikir untuk tidak memberi informasi lebih banyak.
"Temen SMA?" tanya Putri ragu.
Aldef mengangguk cepat. Berusaha terlihat meyakinkan.
"Terus? Ngapain lo di sana?"
"Ya ... kebetulan gue yang nolong dia."
"Berarti lo tahu kenapa dia bisa sampai buta?"
Aldef terkekeh pelan. Ia semakin merasa heran akan tingkah laku Putri. "Kalau lo emang se-kepo itu sama Celine, kenapa nggak tanya dokternya langsung? Lo pasti kenal, 'kan?"
"Bahkan dokter pun nggak menemukan kepastian penyebab Celine buta."
"Oh, ya? Terus? Kenapa? Lagian, kebutaan Celine itu sementara. Udah, deh. Malah kemana-mana gini bahasannya. Di mana plaster?"
"Udah gue bawa ke luar."
Putri membuka pintu kamarnya kembali, keluar dari sana tanpa mempedulikan Aldef yang masih menatapnya heran.
__ADS_1
Daripada pusing memikirkan Putri, Aldef pun keluar dari kamar sang kakak. Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat Beby sudah mulai pulih dari syok akibat kejadian tadi. Terbukti dengan gadis itu yang sesekali tersenyum ramah saat berbincang dengan Fitri.
"Sky, kita pulang, yuk! Takut kak Miko nyariin."
Beby menoleh dan mengangguk ke arah Aldef. Gadis itu pun berdiri. Diikuti Fitri yang turut beranjak dari posisi duduk.
"Ma, aku pulang dulu, ya," pamit Aldef sembari mencium punggung tangan Fitri. Beby pun melakukan hal yang sama.
"Salah itu istilahnya," protes Fitri. "Mau pulang ke mana coba? Orang rumah kamu di sini."
"Rumah Putri ini, mah," sahut Putri yang datang dari arah dapur.
"Iya, dah. Hak milik lo sepenuhnya!" balas Aldef dengan penuh penekanan.
Fitri menatap Beby dan Aldef secara bergilir. "Hati-hati di jalan, ya. Al, jagain pacarnya."
Aldef tertawa renyah. "Siap, Ma! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Putri yang menjawab salam Aldef dan Beby berupa gumaman menatap lurus ke punggung adik angkatnya. Setelah mendengar penjelasan tentang Celine tadi, Putri semakin merasa ada yang janggal.
***
Miko berpapasan dengan Aldef dan Beby di lobby Apartemen Golden. Ia menatap heran pada lengan kiri Beby yang sudah terbalut perban.
"Kalian baru datang?" tanya Miko sambil menatap penuh intimidasi ke arah Aldef.
"Dari rumah sakit?"
"Kita nggak dari rumah sakit," sahut Beby.
Miko terkejut mendengar Beby mengeluarkan suara. Pasalnya, ia paham benar bagaimana kondisi Beby tadi. "Lo ... baik-baik aja?"
Beby tertawa pelan. Ketiganya memasuki lift yang terbuka sebelum Beby menjawab, "Bisa jadi."
"Kalau nggak dari rumah sakit, terus dari mana?"
"Rumah orang tua Aldef."
"Orang tua lo di Jakarta?" tanya Miko seraya menatap Aldef. Yang ditanya mengangguk. "Kenapa lo tinggal di apartemen kalau ada rumah?"
"Panjang ceritanya," jawab Aldef, tampak malas berbicara panjang lebar.
Pintu lift terbuka. Beby, Aldef, dan Miko keluar dari sana, melangkah beriringan menuju unit apartemen masing-masing.
"Kalau gitu, jelasin ke gue gimana ceritanya bisa kejadian kayak tadi."
"Gue masuk duluan," ucap Beby yang dijawab anggukan oleh Miko.
__ADS_1
"Good night, Sky," kata Aldef seraya tersenyum lebar ke arah Beby.
Beby pun tak segan membalas senyuman Aldef. "Night too, Al."
Lalu, gadis berambut panjang itu memasuki unit apartemennya. Kaki jenjang Beby melangkah gontai menuju kamar. Menekan kenop pintu pun seolah tengah kehabisan tenaga. Beby menuju lemari pakaian, membuka laci di dalamnya, lalu mengambil botol kaca berisi obat anti-depresan sebanyak dua butir. Tanpa dorongan air, Beby sanggup menelan dua butir obat itu sekaligus.
Setidaknya, malam ini ia ingin tidur nyenyak.
***
Keesokan harinya, Beby terbangun saat matahari tampak tersenyum di ufuk timur. Terbukti dengan cahayanya yang masuk di sela-sela slambu. Kedua sudut bibir gadis cantik itu tertarik saat mengingat obrolannya bersama Fitri semalam.
Ditinggalkan Putri dan Aldef, Fitri lebih mendekat ke arah Beby. Dari yang ia lihat, gadis itu tampak tidak baik-baik saja.
Tangan Fitri bergerak mengusap bahu kanan Beby yang bebas luka. Mendapat sentuhan seperti itu, Beby menoleh. Senyum Fitri menyambut indra pengelihatannya.
"Tante nggak minta kamu cerita. Tante juga nggak mau kepo sama urusan kamu. Tapi yang pasti, Tante tahu kamu lagi nggak baik-baik aja. Kamu marah, sedih, takut. Kamu bahkan nggak bisa nutupi itu semua karena terlalu banyak. Tante boleh cerita sesuatu nggak?"
Beby mengangguk pelan. Tatapan yang semula kosong, kini memancarkan isyarat akan sedikit ketertarikan. Meski sedikit, hal itu membuat Fitri yakin akan satu hal: Beby adalah gadis yang kuat.
"Aldef pasti udah cerita sama kamu tentang Tante yang akhirnya ada di sini. Sampai detik ini, Tante masih ingat betul gimana rasanya. Hari di mana papa Aldef meninggal. Semua itu terlalu mendadak untuk Tante. Apalagi, saat itu Aldef masih kecil.
"Sejak saat itu, Tante bergelut sama perasaan sendiri. Sedih, nangis, marah, tapi nggak tahu gimana cara melampiaskannya. Akhirnya, mental Tante yang kena."
Beby menatap Fitri terkejut. "Tante pernah ...?"
Fitri mengangguk. Mengiyakan apa yang terlintas dalam pikiran Beby. "Tante pernah depresi. Sampai akhirnya, Tante ketemu sama Farhan. Istrinya meninggal saat melahirkan Putri. Dia berperan besar dalam kesembuhan mental Tante. Bahkan, Putri pun turut andil. Meskipun dia dimusuhi Aldef, tapi Putri nggak pernah nyalahin Tante."
Telapak tangan Fitri mendarat di punggung tangan Beby. Memberi sensasi hangat yang menjalar hingga ke inti hati.
"Jadi, Tante cuma mau kamu ambil pelajaran dari cerita tadi. Semua orang pernah sakit. Semua orang punya traumanya masing-masing. Nggak apa-apa. Itu normal. Tapi satu yang harus kamu ingat, semua itu cuma tentang waktu. Akan ada saatnya, kita bebas dari semua yang menyakitkan. Dan saat itu tiba, kita akan bangga sama diri sendiri karena nggak milih menyerah."
Beby bangkit dari kasur. Gadis itu melangkah santai seraya mencepol rambutnya secara asal. Kemudian, ia mengambil setelah baju olahraga dari lemari.
Usai melakukan segala aktivitas di kamar mandi, Beby keluar dari kamar. Tepat saat itu, tatapannya bertemu dengan bola mat Miko.
"Pagi, Kak!" sapa Beby seraya mengulas semyum lebar.
"Pagi." Bola mata Miko menatap Beby lamat-lamat. Antara heran dan senang, sebab melihat Beby tampak semangat pagi ini.
"Ngapain pagi-pagi di depan kamar gue?"
"Ada yang nyariin lo."
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️