ALDEBY

ALDEBY
|23.| I Miss You


__ADS_3

Arka tengah dalam mode serius untuk merevisi skripsi saat seseorang tiba-tiba masuk ke ruang rawatnya.


"Ar, Ar, Ar. Gue ada berita penting!"


"Gue lagi sibuk. Males nggibah," balas Arka dengan tatapan yang tak beralih dari layar laptopnya.


'Tap!'


"PUTRI!" bentak Arka. "Lo apa-apaan, sih?! Gue lagi bikin skripsi!"


Putri menggeleng kuat-kuat. Gadis itu menatap serius ke arah Arka. Kedua alis Arka lantas bertaut heran, sebab Putri jarang sekali menatapnya seserius itu. "Gue jamin lo nggak akan nyesel kalau lo dengerin gue sekarang."


Arka menghela napas berat. "Berita apaan?"


"Ngomong-ngomong, nyokap lo mana?" tanya Putri seraya celingukan, mencari sosok wanita paruh baya yang sudah beberapa hari ini menemani Arka.


Setelah kemoterapi pertama yang Arka lakukan, pria itu memutuskan untuk memberitahu ibunya. Tentu saja wanita yang Arka panggil mama itu sangat kaget. Ibu Arka yang semula dinas di Medan, langsung ke Jakarta hari itu juga.


"Kerja," jawab Arka singkat. "Jadi, berita apa yang lo bawa? Awas aja kalau nggak penting!"


Putri manggut-manggut. Ia kembali menunjukkan tampang serius. "Gue lihat Beby di UGD."


Arka yang semula duduk bersandar, kini menegakkan badan. Ekspresi kesal akibat aktivitas merevisi skripsi yang terganggu enyah seketika. Tergantikan dengan raut muka penasaran. "Siapa tadi lo bilang?"


"Beby. Beby Skyla Amanda. Pacar lo!"


"Mantan," ralat Arka.


"Ya, itu deh pokoknya."


"Beby sakit apa?


Putri mengedikkan kedua bahu. "Gue juga nggak tahu."


Satu pertanyaan yang terlintas dalam benak Arka: apa ini ada hubungannya dengan depresi yang Beby alami dulu?


"Woy!" Putri meninju pelan bahu Arka. "Malah bengong."


Helaan napas sekali lagi terdengar dari saluran pernapasan Arka. "Terus, lo mau gue ngapain?"


Pertanyaan Arka itu membuat kening Putri berkerut heran. "Kok, lo nanya gitu, sih? Emang lo nggak mau nyamperin dia? Jelasin semua ke dia. Alasan kenapa lo minta putus. Jelasin kalau kita nggak ada hubungan apa-apa."


"Buat apa?"


Putri memutar kedua bola mata malas. Sungguh. Ia muak dengan Arka yang terus-menerus menyiksa diri sendiri. "Ar, lo masih sayang, kan, sama dia? Ini kesempatan lo, Ar! Lo bisa perbaiki hubungan lo sama Beby."


Tak ada balasan lisan yang keluar dari mulut Arka. Pria itu membalas tatapan antusias Putri. Kemudian, Arka membuka laptopnya kembali.


"Lo keluar sekarang. Gue mau lanjut bikin skripsi."


***


Nyatanya, tak ada satu kata pun yang terselesaikan. Skripsi Arka masih sama seperti sebelum Putri memasuki ruangannya. Otak lelaki itu kini hanya dipenuhi oleh satu nama: Beby.


Apa iya Arka harus menghampiri Beby? Tapi, bagaimana jika Beby tak ingin bertemu dengannya?


Bukan tidak mungkin, Beby pasti sangat membenci Arka sekarang.


Akibat memikirkan hal ini, Arka terjaga semalaman. Bahkan sampai Chika—ibunya—kembali berangkat kerja pun, Arka belum tidur sama sekali.


Bola mata Arka mengarah pada jam dinding di sudut kanan ruangan. Pukul 07.15, Beby pasti sudah bangun, 'kan? Setelah memikirkan semua matang-matang, akhirnya Arka memberanikan diri untuk menghampiri Beby.

__ADS_1


Arka turun dari kasur. Saat itu pula, ia menyadari sesuatu. Pria itu tak ingin Beby melihat dirinya yang sekarang. Arka yang dalam balutan baju berwarna biru khas pasien rumah sakit, serta selang infus di tangan kanan.


Maka dari itu, Arka melepas jarum infus yang menancap di tangannya. Masa bodoh dengan prosedur rumah sakit. Arka sama sekali tak peduli. Setelah infus terlepas, Arka mengganti pakaiannya dengan kemeja putih polos, serta bawahan jeans panjang.


Saat Arka keluar kamar, ia menemukan seseorang dalam balutan pakaian serba putih khas perawat tersenyum penuh arti sembari melayangkan tatapan menggoda.


"Ruangan Mawar nomor lima," ucap Putri dengan senyuman penuh arti yang masih bertengger di bibirnya.


"Thank's, Put." Arka menepuk dua kali pundak kiri Putri. Ia melenggang pergi begitu saja. Putri yang ditinggalkan hanya bisa geleng-geleng kepala heran. Sudah ia duga bahwa Arka akan bereaksi demikian.


Beberapa meter dari ruang rawat Beby, Arka melihat dua orang lelaki keluar dari sana. Salah satunya Arka ingat betul. Miko, kakak kedua Beby yang sering gadis itu ceritakan.


Arka menghela napas sejenak. Mengumpulkan sekali lagi keberanian yang tersisa dalam dirinya. Arka harap, Beby sedang tidak bersama siapapun.


Dengan langkah mantap, Arka menghampiri ruang rawat Beby. Tangannya mengetuk pintu ruangan yang tertutup.


"Masuk."


Terdengar suara dari dalam sana. Mendengarnya saja, mampu membuat bulan sabit hinggap di bibir Arka. Meski malam telah berlalu, dan bulan terganti dengan matahari.


Perlahan, Arka menekan kenop pintu. Ia melempar senyum pada gadis yang tampak terkejut di dalam sana.


"Hai," sapa Arka. "Boleh masuk nggak?"


Beby yang masih dalam ekspresi kaget hanya mengangguk singkat. Manik matanya mengekor seiring gerakan Arka mulai melangkah masuk, menutup pintu, hingga berjalan menghampirinya.


Suasana hening nan canggung begitu pekat menyelimuti dua insan di dalam ruangan itu. Tak ada satu patah kata pun yang terucap, namun bola mata mereka sama-sama enggan berpindah tempat. Seolah-olah, Arka dan Beby sedang berbincang melalui tatapan.


Arka tersenyum ramah, berharap dapat sedikit menepikan kecanggungan yang ada. "Apa kabar, By?"


Gadis di hadapannya masih terpaku dengan arah tatapan yang sama. Beby tak tahu harus merespon bagaimana. Mengingat terakhir kali mereka bertemu, membawa kembali rasa sakit dalam hati Beby yang telah Arka ciptakan.


Harusnya Beby cukup menjawab 'baik' sembari mengulas senyum singkat. Tapi mengapa rasanya susah sekali?


Sifat ekstrovert dalam diri Beby yang membuatnya terbiasa mengungkapkan isi hati, kini menjadi boomerang baginya.


"Kamu ... sakit apa?" tanya Arka lagi, mengabaikan ucapan Beby yang membuat hatinya berdenyut nyeri. Ingin sekali Arka membawa gadis yang ia cintai itu ke dalam dekapannya. Namun nyatanya, Arka sendiri yang membuat dirinya tidak berhak mewujudkan keinginan itu.


Beby memutus aksi saling tatap di antara mereka. Mata cokelatnya menatap lurus ke depan dengan sarat menerawang. "Biasa. Kecapekan."


Arka manggut-manggut. Ia kembali menarik kedua ujung bibir dengan sengaja. "Aku datang ke sini karena mau minta maaf."


"Tahu dari mana aku di sini?" Rupanya, Beby sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Dari temen. Semalam dia lihat kamu dibawa ke UGD."


Beby menoleh ke arah Arka sambil tertawa getir. "Temen atau pacar?"


"Aku ganggu kamu, ya?"


"Bukannya kamu yang harusnya nggak punya banyak waktu?


Dasar wanita. Diberi pertanyaan, malah dibalas dengan pertanyaan juga.


Arka mengangguk. Seperti yang ia duga, kehadirannya tidak diharapkan di sini. "Aku permisi kalau gitu. Maaf udah ganggu kamu."


"Ar."


Panggilan itu membuat senyum tulus mengembang di bibir Arka. Ia membalikkan badan, kembali menghadap ke arah Beby. "Ya?"


"Boleh nggak, kalau aku kangen kamu?"

__ADS_1


'Deg!'


Jantung Arka seolah berhenti berdetak. Semua cacian yang ia bayangkan keluar dari mulut Beby rontok seketika. Ini sungguh di luar dugaan. Jadi, selama ini Beby merasakan hal yang sama dengan dirinya?


Arka mengambil langkah mendekat. Indra pengelihatannya terpaku pada kedua mata Beby yang tengah berkaca-kaca. Begitu jarak di antara mereka benar-benar terkikis habis, Arka memberanikan diri untuk membawa Beby ke dalam dekapannya.


Sekali lagi, sebuah senyum dari hati menguar di bibir Arka, sebab Beby yang tak membalas pelukannya dengan penolakan.


"I miss you so bad, Ar," ucap Beby di sela-sela isakannya.


"Me too, By. I miss you more."


Dan suara Arka barusan, berhasil membuat tangisan Beby pecah.


Arka tak ingin mengganggu Beby. Pria itu membiarkan gadis dalam pelukannya mengeluarkan segala emosi lewat tangisan. Bagi Arka, Beby adalah pusat kebahagiaannya. Bahkan hingga detik ini. Hanya dengan mengingat setiap momen bahagia bersama Beby, Arka dapat melupakan bahwa ada sebuah penyakit ganas bersarang dalam dirinya.


Puas menangis, Beby melerai pelukannya. Gadis itu mengusap kasar jejak air mata yang membasahi pipi.


"Sorry," ucap Beby. "Harusnya aku sadar kalau sekarang kamu milik orang lain."


Setetes lagi air mata terjun dari indra pengelihatan Beby. Arka mengusap air mata itu sambil tersenyum hangat. "It's okay, By."


"Mending kamu keluar sekarang. Nggak enak kalau ada yang lihat kita berdua di sini."


"Kenapa? Ada hati yang harus kamu jaga?"


Beby mengangguk. Gadis itu tak peduli dengan apa yang kini bermunculan di kepala Arka. Lagipula, Beby masih butuh waktu untuk menata hatinya kembali. Tentang Aldef ... entahlah.


"Ya udah. Aku pamit, ya," ucap Arka sembari membalas tatapan mata Beby. "Jaga kesehatan. Jangan capek-capek. Jangan stres. Banyak yang sayang kamu, By. Kamu harus bahagia."


"Ar?"


"Hm?"


"Apa kita masih bisa jadi teman?"


Ingin sekali Arka menjawab, 'lebih dari teman juga bisa.' Tapi, yang keluar dari mulut Arka adalah ...


"Maaf, By. Aku nggak bisa. Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi."


Karena satu-satunya tujuan Arka membuat citranya buruk di mata Beby adalah agar mereka tak perlu bertemu lagi. Arka cukup memastikan gadisnya bahagia. Dengan demikian, Arka bisa pergi dengan tenang.


Entah kapan itu.


*


*


*


TIM ALDEF ATAU ARKA? 🤔


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2