
"Buat apa lo nyimpan ini?"
Beby yang semula berbaring sontak terduduk kaku dengan mata melotot. "I-i-itu ...."
Miko mendekat. Memakan jarak yang tersisa di antara dirinya dengan Beby. Manik matanya menatap Beby dalam. "Jadi—" Miko menghela napas berat. Bahkan, untuk mengatakannya saja ia tak sanggup. Tangannya mengangkat botol kaca yang tadi ia temukan di lemari Beby sejajar dengan wajahnya. "Jadi, selama ini lo masih minum obat sialan ini?"
Nada bicara Miko memang tak naik sedikitpun. Pria itu masih bicara dengan lembut. Namun, justru hal itulah yang membuat bulu kuduk Beby meremang. Tatapan Miko tak mampu menyembunyikan adanya gejolak kemarahan dalam dirinya.
"Jawab gue, By."
Tak mampu lagi menangkal terjangan mata tajam Miko, Beby menunduk. Gadis itu mengangguk takut.
"Kenapa?" tanya Miko. "Kenapa lo masih minum ini? Kenapa, By?! Jawab!"
Miko menarik dagu Beby, membuat mata gadis yang telah berlinang air mata itu terpaksa menatapnya. "Gue ... gue ...."
Merasa tak akan mendapat penjelasan dari Beby, Miko melepas sentuhannya pada dagu sang adik. Pria itu beralih meraih ponselnya, hendak menelepon seseorang.
"Lo mau ngapain?" tanya Beby panik. Meski demikian, Miko tak berniat untuk menjawab pertanyaan Beby. "Kak! Lo mau ngapain?!"
"Telepon Nita."
"Nggak. Jangan."
"Hallo—"
Belum sempat satu kata lolos dari bibir Miko, Beby tiba-tiba berdiri dan menyahut ponselnya. "Jangan dokter Nita. Kalau sampai dokter Nita tahu, dia pasti bilang ke mama atau papa sebagai wali gue. Gue nggak mau mereka khawatir, Kak. Please!"
Miko menghela napas berat. Pria itu memalingkan muka sejenak, lalu kembali menatap Beby sedetik kemudian. "Fine. Asal dengan satu syarat."
"Apa?"
"Gue mau lo stop jadi model."
"Hah?" Beby menganga lebar. "Maksudnya? Stop jadi model? Lo nyuruh gue mengundurkan diri dari FS Agency, Kak?"
"Iya. Gue mau lo keluar dari FS Agency. Gue mau lo fokus kuliah."
"Nggak bisa gitu, dong, Kak!"
"Kenapa? Kenapa nggak?"
"Gue mau ada project bareng Fahri."
"Batalin!"
"Kak!" Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Ia sungguh tak menyangka Miko akan menuntut hal ini. "Lo inget, kan, apa aja yang bikin gue pulih dari depresi? Inget, kan? Atau perlu gue ingetin? Kuliah, modeling, endors, dan ... Arka."
"Tapi, By. Lo tahu, kan, kalau Fara itu saudara kembar Fahri? Anak pemilik FS Agency!"
__ADS_1
"Terus kenapa?" tantang Beby. "Kenapa kalau Fara ada? Kenapa gue harus menghindar? Kenapa gue harus kabur, lagi? Kenapa? Gue capek, Kak!" Seluruh emosi dalam diri Beby runtuh berbentuk air mata.
"Tapi, By ... Zidan. Dia ada, By! Dia berkeliaran di luar sana!"
"Persetan Zidan." Beby melempar ponsel Miko tepat di dada lelaki itu. Untung saja Miko sigap menangkapnya. Jika tidak, benda pipih itu dapat dipastikan kemalangan nasibnya. "Gue mau tidur."
"By—"
"NO DEBAT! NO KECOT!"
Gadis itu lantas berbaring di atas ranjang. Bola matanya menatap lurus ke manik mata Miko. "Kalau lo masih berharap gue hengkang dari FS Agency, mending sekarang lo tidur. Lihat semua itu di dalam mimpi!"
***
Sepanjang langkahnya menyusuri koridor rumah sakit, kepala Aldef tak henti mereka ulang interaksi antara Beby dan Putri. Sekeras apapun Aldef mencoba, sedalam apapun ia mencari, Aldef tetap tak menemukan alasan kedua perempuan itu saling bermusuhan. Jalan satu-satunya untuk Aldef menemukan jawaban atas segala pertanyaan dalam benaknya adalah Putri.
"KAK PUT!" Aldef meneriaki nama kakaknya tepat sesaat sebelum Putri menghilang di ujung persimpangan koridor.
Mendengar namanya dipanggil, Putri pun berhenti melangkah dan balik badan. Kedua matanya menyipit curiga. "Pasti ada maunya," gumam Putri. Mengingat Aldef memanggilnya dengan embel-embel 'Kak'.
Aldef berlari kecil menghampiri sang kakak. "Gue mau ngomong bentar, boleh?"
Putri menghela napas sejenak. Sudah sejak awal ia menduga bahwa Aldef akan bereaksi demikian. "Oke. Kita bicara di taman."
***
"Iya. Lo sama Beby udah saling kenal?"
Putri menghela napas berat. Sejujurnya, ia tak ingin mengingkari janjinya terhadap Arka. Tapi jika sudah begini, jalan satu-satunya adalah menceritakan sedetil mungkin pada Aldef. "Iya."
Aldef menatap heran pada sang kakak. "Kok, bisa?"
Manik mata Putri menatap Aldef lamat-lamat. "Gue bakal ceritain semuanya. Lo jangan nyahut sebelum gue selesai."
Dengan demikian, Aldef mengangguk.
***
"Huft! Huft! Huft! Huft!"
Beby terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin pun telah membasahi pelipisnya. Mimpi itu. Mimpi buruk itu datang lagi.
Gadis berambut panjang itu bangun dari posisi baring. Dengan tangan gemetar hebat, Beby berusaha meraih obatnya yang tergeletak di atas nakas. Namun sayang, botol kaca itu terjatuh sebelum berada dalam genggaman Beby.
Mendengar suara beling dan kramik yang saling beradu, Miko lantas terbangun. Pria itu sontak melompat dari sofa saat melihat sang adik yang tengah gemetaran. Air mata mengalir deras di pipi Beby, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Kedua lengannya memeluk lutut dengan sangat erat. Menggambar sebuah rasa takut yang luar biasa.
Miko mengambil terlebih dahulu botol kaca yang tadi terjatuh. Tanpa ia bertanya pun, Miko tahu apa yang terjadi pada Beby. Tangannya dengan sigap meraih gelas kaca berisi air mineral lengkap dengan sebutir kapsul yang siap mendarat di lidah Beby.
Lebih dari siapapun, Miko sungguh tersiksa melihat adiknya seperti sekarang ini.
__ADS_1
Usai memastikan Beby menelan obatnya, Miko membawa gadis itu ke dalam pelukan. Terjadi keheningan cukup lama. Miko sibuk menenangkan Beby dengan cara mengusap lembut puncak kepalanya. Sementara Beby berusaha mengenyah mimpi buruk dalam benaknya.
Merasa tubuh Beby tak lagi gemetar, Miko melepas pelukannya. "Udah tenang?" tanyanya lembut.
Setetes air mata terjun dari indra pengelihatan Beby begitu mendengar suara teduh Miko menyapa gendang telinganya. "Maaf, Kak."
"Ssstttt!!!" Miko kembali membawa Beby ke dalam dekapannya. "Lo nggak perlu minta maaf. Lo hebat, By. Lo adik kesayangan gue yang paling kuat. Lo bisa ngelewatin semua ini. Gue akan selalu ada di samping lo. Kapan pun dan di mana pun. Gue janji. Gue akan selalu berusaha melindungi lo."
Alih-alih menjadi lebih tenang, isak tangis Beby malah terdengar semakin keras. Kedua lengannya memeluk Miko erat-erat. Memang. Sejak kecil, Miko-lah yang paling dekat dengan Beby di antara keluarga lainnya.
"Nggak apa-apa. Nangis aja," ucap Miko. "Nangis kalau itu bisa bikin lo lega."
Keheningan lagi-lagi menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara isak tangis Beby yang sesekali terdengar. Dan setelah merasa jauh lebih tenang, Beby melepas pelukannya.
"Tidur lagi, ya?" tanya Miko sambil mengusap jejak air mata di pipi Beby.
Beby mengangguk pelan. "Temenin gue, ya, Kak."
"Pasti. Gue pasti selalu nemenin lo."
***
Setelah mendengar cerita bak novel bergenre romantis dari Putri, Aldef langsung pamit pulang. Sepanjang perjalanan lelaki itu melamun. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.
Satu. Hanya satu yang Aldef takutkan: bagaimana jika Beby mengetahui apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana reaksi gadis itu? Bagaimana jika Beby tahu bahwa cintanya terhadap sang mantan tak pernah dikhianati?
Suara dering ponsel membuat lamunan Aldef buyar seketika. Tangan kirinya bergerak meraih ponsel di dashboard mobil. Sebuah nomor tak dikenal terpampang di layar ponsel.
"Halo?"
Tak ada suara lain yang menjawab. Aldef menjauhkan layar ponsel dari daun telinga, memastikan bahwa telepon masih tersambung. Dan memang benar dugaan Aldef.
"Hallo? Ini siapa, ya?"
Beberapa detik menunggu, masih tetap tak ada suara yang menjawab. Aldef jadi kesal sendiri.
"Kalau masih nggak mau ngomong, saya matiin, nih."
"Al." Aldef menegang mendengar suara itu. Suara seseorang yang masih tersimpan rapi di sebuah sudut ruang hati Aldef. "Ini aku."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1