
Semalaman? Maksudnya ...?
"Celine."
"Eh? Siapa?"
Beby yang semula berdiri di belakang Celine, maju beberapa langkah untuk mengikis jarak di antara mereka. Celine pun memutar badan searah 180°.
"Beby, ya?" tanya Celine.
"Iya."
"Ada apa?"
Beby diam sejenak. Indra pernapasannya menarik oksigen sebanyak mungkin, lalu mengembuskannya secara perlahan. Beby butuh menata hati untuk kemungkinan terburuk.
"Tadi, maksud lo apa?"
"Yang mana?" Celine berlagak bingung.
"Yang nemenin lo semalaman. Siapa?"
"Aduhhh ... lo denger, ya, tadi? Maaf, ya."
"Kenapa malah minta maaf? Emang lo salah apa?"
"Duh. Gimana, ya, ngomongnya. Nggak enak gue, By."
"Nggak apa-apa, Cel. Jujur aja sama gue."
"Beneran nggak apa-apa?"
"Iya."
"Aldef."
'Deg!'
Jantung Beby terasa seperti ada yang meremas sangat kuat. Napasnya mendadak berat. Apa iya Aldef melakukan itu?
"By? Lo nggak apa-apa, 'kan?"
Beby tertawa pelan, menyamarkan keterkejutannya. "Iya. Nggak apa-apa, kok."
"Maaf, ya, sekali lagi. Sebenarnya, tadi malam itu Aldef datang cuma buat ngambil HP-nya. Tapi, gue malah minta ditemenin. Kita keasyikan ngobrol sampai lewat tengah malam. Akhirnya, gue ketiduran. Awalnya gue kira Aldef langsung pulang, ternyata dia ada di samping gue sampai pagi.
"Ah. Maaf sekali lagi. Gue lupa kalau lo pacarnya."
"Nggak apa-apa," ucap Beby, berbanding terbalik dengan apa yang hatinya rasakan. Kata-kata Celine, seperti api yang membakar sumbu kegelisahan dalam hati Beby. "Gue duluan, ya."
Beby melenggang pergi dengan perasaan campur aduk. Sementara itu, Celine yang ditinggalkan menatap lurus ke punggung Beby. Satu sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman licik khas pemeran antagonis dalam film.
***
Sepanjang perjalanan menuju mall, Aldef sama sekali tak mendengar suara Beby. Berulang kali Aldef tanya, "Lo kenapa?" Berulang kali pula Beby menjawab, "Nggak apa-apa."
Hal itu terus berulang sampai akhirnya mobil Aldef berhenti di area parkir mall. Aldef yang sudah tak tahan dengan kebungkaman Beby menarik hand-rem dengan sekuat tenaga. Manik matanya menatap Beby lamat-lamat.
"Sky."
"Al."
Tanpa diduga, mereka memanggil nama masing-masing secara bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Aldef. "Ada yang mau lo omongin?'
Manik mata Beby menembus ke inti mata Aldef. Menerobos seluruh lapisan hingga mencapai saraf terdalam. Beragam pertanyaan yang berpusat di kepalanya sudah mencapai ujung lidah, namun radar Beby tak mengizinkan pertanyaan-pertanyaan itu lolos dari mulutnya.
"Gue mau nonton film horror."
Aldef tahu, bukan itu yang ingin Beby katakan sebenarnya. Ada suatu hal yang lebih besar tersirat dari bola matanya. Namun, Aldef memilih untuk meminum kopi yang sudah dingin, daripada harus memantik api untuk membuat kopi baru.
"Yuk! Gue juga pengin nonton yang serem-serem," balas Aldef sembari tersenyum lebar, membuat Beby yang melihatnya pun turut mengulas senyum.
Seperti biasa, Aldef turun terlebih dahulu, lalu berlari kecil mengitari mobil dan membuka pintu di sisi kiri Beby. Tak lupa, Aldef memegangi puncak kepala Beby agar tidak terbentur.
Usai memastikan mobil terkunci, Aldef meraih jemari tangan kiri Beby, lalu memasukkan ke saku hoodie. Kemudian, keduanya melangkah beriringan menuju gedung bioskop.
***
Karena posisi duduk di deretan tengah, baik Aldef maupun Beby sama-sama dapat melihat sebagian besar reaksi penonton. Mengingat luka di bahu kiri Beby, Aldef duduk di samping kanan sang pacar. Ia ingin Beby bisa bersandar kapanpun gadis itu mau.
Pada menit-menit terakhir film berlangsung, Aldef tersadar bahwa dirinya terlalu asyik menonton. Dan saat Aldef menoleh ke kanan, senyumnya merekah. Gadis cantik yang menjadikan bahunya sebagai sandaran itu tengah tertidur pulas. Hingga film selesai dan para penonton sudah meninggalkan gedung bioskop, Aldef masih setia mengamati tiap inchi wajah sang pacar.
"Sky ...." Aldef berbisik pelan tepat di daun telinga Beby, namun gadis itu hanya bergerak sedikit, lalu kembali melanjutkan penjelajahan di dunia mimpi.
"Sayang ... bangun ...." Kali ini, Aldef mengusap permukaan pipi Beby.
Gadis berhoodie merah marun itu pun terbangun. Tatapannya menjelajah ke seisi ruangan, lalu terhenti pada bola mata Aldef.
"Gue ketiduran, ya?" tanya Beby.
Aldef terkekeh pelan. "Nyaman banget kayaknya bahu gue, ya."
"Ish!" Beby memukul pelan bahu Aldef. "Lo kenapa nggak bangunin gue daritadi coba?"
"Ih. Gue udah bangunin lo daritadi, ya. Lo-nya aja yang kebo."
Beby hanya membalas dengan mengerucutkan bibir. Di tengah keheningan yang terjadi dalam beberapa detik itu, terdengar sebuah suara yang membuat Aldef dan Beby refleks saling pandang.
"Anniyo! Lo kali!"
"Mana ada? Orang gue nggak laper."
"Gue juga enggak, tapi kalau diajak makan, ya, ayo." Beby tertawa di ujung kalimat. Suara perut tadi memang berasal darinya.
"Ishhh!!! Untung lo pacar gue," ucap Aldef sambil mengacak-acak puncak kepala Beby.
"Al! Geumanhae! Berantakan rambut gue!" (Al! Berhenti! Berantakan rambut gue!) seru Beby kesal.
Alih-alih berhenti, Aldef malah kembali melakukan aksi yang membuat Beby berdebar. Lelaki itu mempertanggungjawabkan perilakunya dengan merapikan kembali rambut Beby.
"Mau makan dulu nggak?" tanya Aldef dengan tangan yang masih bergerak lembut merapikan rambut Beby.
Beby bergeming. Manik matanya menatap lurus ke dalam mata hitam Aldef. Indra perabanya sibuk memfokuskan diri dengan gerakan Aldef. Lidah Beby seolah kelu, tak ada satu kata pun yang bergerak ke ujung lidah.
"Iya, gue tahu gue ganteng. Nggak usah gitu banget lihatnya."
Kalimat bernada super-pede itu lantas membuat Beby beranjak dari tempat semula. Meninggalkan Aldef yang tercengang dengan kelakuan sang pacar.
"Sky! Tungguin, dong!"
Aldef bergegas menyusul Beby. Mereka kembali melangkah beriringan tepat setelah keluar dari gedung bioskop.
"Lo, tuh, ya, main ninggal-ninggal aja. Ntar pacar lo diambil orang gimana?" protes Aldef sambil meraih tangan kiri Beby dan memasukannya ke saku hoodie, seperti yang biasa Aldef lakukan.
"Bodo amat! Siapa juga yang mau sama lo?" Meski terdengar jutek, Beby tak menolak genggaman tangan Aldef. Gadis itu selalu dapat merasakan kehangatan yang menjalar sampai ke inti hati.
__ADS_1
"Ada, dong!"
"Siapa?"
"Mantan gue."
Detik itu juga, Beby berhenti melangkah. Topik yang mereka bangun dengan maksud bergurau mendadak berubah menjadi sangat serius. Entah mengapa, Beby merasa ada yang ....
"Kenapa berhenti, Sky? Lo mau makan di sini?"
Pertanyaan Aldef lantas membuat Beby mendongak. Rupanya, mereka berdiri tepat di depan restoran seafood. "Iya," jawab Beby yang lantas memasuki area restoran. Meninggalkan Aldef yang tercengang sebab Beby melepas genggaman tangannya.
Mengusir pikiran-pikiran negatif, Aldef menyusul Beby yang terlebih dahulu duduk di sebuah meja berisi dua orang dekat kasir. Melihat Beby melamun di sana, Aldef dapat memastikan bahwa gadis itu belum memesan apapun. Maka dari itu, Aldef memesan dua porsi nasi goreng seafood, serta milkshake taro dan susu coklat dingin.
Selesai pesan sekaligus membayar, Aldef lantas menghampiri sang pacar. Keanehan kian diperjelas dengan Beby yang tetap melamun meski Aldef sudah ada di hadapannya.
Aldef menyentuh pelan punggung tangan Beby yang tergeletak di atas meja, membuat tatapan Beby mengarah pada pusat sentuhan Aldef. "Kenapa, Sky? Gue salah ngomong, ya?"
Beby menaikkan pandangan. Menatap lurus pada mata hitam Aldef yang tiap detik membuatnya terpikat. Beby tersenyum lebar untuk meyakinkan Aldef. "Nggak. Lagi pengin ngelamun aja."
"Bener? Bukan lagi pengin pegangan tangan sama gue?"
Jika biasanya Beby berseru kesal mendengar kalimat itu, kini ia tertawa renyah. Beby menumpukan tangannya yang lain di atas tangan Aldef.
"Al, kalau lo disuruh milih, lo milih meninggalkan atau ditinggalkan?"
"Kenapa nanya gitu?"
"Pilih aja."
"Hhmmm ... kalau gue disuruh milih, gue milih meninggalkan."
"Alasannya?"
"Jelas. Karena gue nggak pernah siap kehilangan orang-orang yang gue sayang."
Beby manggut-manggut. Mengerti akan maksud sang pacar.
"Kalau lo?" Kini, giliran Aldef yang bertanya. "Meninggalkan atau ditinggalkan?"
"Ditinggalkan," jawab Beby cepat.
"Kenapa gitu?"
"Karena ditinggalkan itu berat. Gue nggak mau orang-orang yang gue sayang sedih waktu gue ninggalin mereka. Jadi, biar gue aja yang sedih."
Terjadi keheningan yang cukup lama menyelimuti mereka. Suara-suara dalam restoran itu terdengar riuh-redam. Dalam diam, Aldef dan Beby saling menjelajah bola mata satu sama lain.
"Al."
"Hm?"
"Lo tahu nggak, apa yang bikin mantan lo lebih cantik dari gue?"
"Apa? Bibirnya? Rambutnya?"
Detik itu juga, Beby melepaskan tangannya dari genggaman Aldef.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️