
Pagi ini, Beby terbangun dengan suasana hati secerah sang mentari. Pasalnya, gadis itu sudah membuat list mengenai apa saja yang akan ia lakukan bersama Aldef seharian ini. Mengingat sejak mereka jadian, belum ada acara 'nge-date' karena keduanya sama-sama sibuk. Beby pun telah memberi tahu pada Anggi untuk mengosongkan jadwalnya.
Hari ini, khusus untuk Aldeby-time.
Dimulai dari jam 6 pagi yang Aldef dan Beby sepakati untuk jogging bersama.
Saat keluar kamar, Beby tak menemukan keberadaan Miko. Pasti kakaknya itu masih berkelana di alam mimpi.
'Ding dong!'
"Pas banget!" seru Beby dengan senyum merekah. Sebab ia yakin bahwa seseorang yang berada di balik pintu unit apartemennya kini adalah Aldef.
Dan ternyata, dugaan Beby memang benar. Tapi ....
"Kok, baju lo gini?" tanya Beby heran.
Aldef menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar. "Gue mau ajarin lo renang."
"Hah?!" Karena terlampau kaget, Beby sampai membuka mata lebar-lebar. Nyaris saja bola matanya menggelinding ke lantai. "Renang?"
"Iya. Renang. Yuk!"
Jemari Aldef sudah siap menggenggam pergelangan tangan Beby, namun gadis itu menolak mengekorinya langkahnya.
"Nggak, nggak! Tunggu dulu, Al!"
"Apa lagi, sih, Sky?"
"Lo nggak lupa, kan, gue trauma sama kolam renang?"
"Justru itu! Gue mau bantu lo mengatasi rasa trauma lo itu. Udah, ah, ayok!"
"Anniyo! Gue nggak mau!" (Tidak!)
"Beby Skyla Amanda. Nih, ya, dengerin gue. Lo emang jago bela diri. Tapi, gimana nanti kalau lo diceburin lagi ke kolam renang? Lo mau nyerah gitu aja? Nggak mungkin, 'kan? Jadi, sekarang, ayok! Gue ajarin."
"Nggak mau, Al!"
Aldef menghela napas sejenak. Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain. Dalam hati, Aldef menghitung mundur dari tiga, dua, satu. Dengan segenap kekuatan yang ada dalam dirinya, Aldef menggendong Beby ala bridal style.
"Eh, eh! Lo mau ngapain?! Aldef, turunin gue!!!" teriak Beby histeris. Namun percuma saja, sebab Aldef sengaja menulikan telinga.
Sementara itu, Miko yang sejak beberapa saat lalu melihat kehadiran Aldef dan Beby di ambang pintu, hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua sejoli itu.
"Dasar bucin."
***
"Sky, ayo! Siniin tangannya."
Entah sudah berapa stok kesabaran Aldef yang terkuras akibat ulah Beby. Pasalnya, gadis itu sejak 15 menit yang lalu hanya berdiri kaku di pinggir kolam. Padahal Aldef sudah ada di dalam kolam.
"Gue takut, Al." Dan entah berapa banyak pula Beby mengulang jawaban itu.
Percuma saja menunggu Beby mengulurkan tangan dan menuruni tangga kolam renang. Sebab hal itu tak akan terjadi dengan sendirinya.
__ADS_1
Maka dari itu, Aldef naik kembali. Ia menghampiri Beby yang kini telah dalam balutan pakaian renang lengan panjang warna ungu-pink.
Aldef mengulurkan tangannya. "Ayo! Ada gue yang jagain lo."
"Tapi, Al ...."
Pandangan Aldef beralih ke seberang kolam. Tampak seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun tengah berenang didampingi sang ayah.
"Tuh! Lihat anak itu, tuh. Masa lo kalah sama bocil, sih, Sky? Ayo, dong. Harus berani."
Beby berdecak kesal. Percuma juga ia menolak. Aldef akan tetap kukuh pada keinginannya untuk membawa Beby ke dalam air terkutuk itu.
"Iya. Iya. Sabar!" sungut Beby.
Aldef kembali mengulurkan tangan. "Ayo."
Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Dengan ragu, ia meletakkan telapak tangannya ke tangan Aldef. Belum sedetik kulit mereka bersentuhan, Aldef langsung menarik Beby menuju tangga kolam renang.
"Duduk," pinta Aldef yang lantas dilakukan oleh Beby tanpa bantahan.
"Jangan lepasin tangan gue," lanjut Aldef sesaat setelah Beby melakukan perintahnya.
Pria dalam balutan pakaian renang warna hitam tanpa lengan itu turun terlebih dahulu. Di anak tangga terakhir, Aldef menoleh ke arah Beby. "Sekarang, lo turun pelan-pelan."
Tatapan Beby beralih pada kakinya yang sudah tergenang air. Hanya butuh menuruni tiga tangga terakhir, dan Beby sudah berada di dalam kolam.
"Ayo, Sayang."
Lagi-lagi, Beby menghela napas berat. Perlahan, kakinya bergerak menuruni anak tangga. "Jangan dilepas!" seru Beby saat merasakan genggaman tangan Aldef sedikit loggar.
Aldef terkekeh pelan. "Nggak akan, Sky."
Gadis itu buru-buru memejamkan mata saat merasakan pijakannya benar-benar menyentuh lantai kolam.
"Hei." Aldef menepuk-nepuk pelan pipi kiri Beby menggunakan tangannya yang bebas. "Buka matanya, dong, Sayangku."
"Nggak. Nggak. Nggak mau. Gue takut!!!"
"Sky, lo percaya sama gue, 'kan?"
Beby menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Pelan-pelan, Beby membuka kedua matanya. Sebuah senyuman bangga dari Aldef menyambut indra pengelihatan Beby. Sejenak, Beby lupa di mana dirinya berada sekarang.
"Pinter banget pacar gue," ucap Aldef bangga. "Sekarang, tangan lo yang satu, coba pegang tangga."
Tangga yang Aldef maksud adalah tangga yang berada di pinggir kolam.
Kali ini, Beby menurut.
"Oke. Sekarang, gue lepasin tangan lo, ya."
"Hah?! Enggak. Enggak. Jangan dilepas!"
"Lo, kan, udah pegangan tangga."
Dengan sedikit paksaan, Aldef melepas genggaman tangan Beby yang sudah seerat ikatan antara ibu dan anak. Beby yang tak sanggup lagi mempertahankan genggaman tangannya, refleks memegang tangga di pinggiran kolam.
__ADS_1
"Sky." Aldef mengulurkan tangan. Berharap Beby meraihnya. Dan memang benar, gadis itu bergerak maju tanpa sadar. Beby sama sekali tak menyadari taktik Aldef untuk membawanya ke tengah kolam.
"Aldefff!!! Sini nggak tangan lo!" teriak Beby saat menyadari dirinya sudah tak berada di pinggir kolam lagi.
***
Miko dibuat takjub dengan adiknya yang kembali dengan wajah semringah. Perasaan, tadi ekspresi yang Beby tampilkan tak ada senangnya sama sekali.
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Kesambet baru tahu rasa!" ujar Miko ketus.
Alih-alih menjawab dengan ketus pula, Beby malah menunjukkan senyum manis terbaiknya. "Eh. Ada kakak gue tersayang. Good morning, Kak!"
Miko bergidik ngeri melihat tingkah aneh Beby. "Sinting, nih, anak." Lalu, Miko beranjak kembali ke kamarnya.
Sementara itu, Beby yang tersadar dari kegilaan pagi itu pun turut kembali ke kamarnya. Gadis itu bergegas menyiapkan diri untuk acara nge-date selanjutnya.
Sepuluh menit kemudian, Beby telah siap dengan kaus crop putih bertuliskan 'QUEEN' di bagian depan, dibalut dengan jaket jeans warna biru dongker, serta bawahan berupa celana jeans panjang warna biru muda. Karena rambutnya masih basah, Beby memutuskan untuk membiarkannya teruai.
"Udah siap?" Aldef dalam balutan kaus putih yang dilapisi jaket jeans warna biru dan bawahan celana pendek selutut berbahan katun menyambut Beby begitu ia membuka pintu unit apartemennya.
"Ih. Lo ngikutin gue, ya? Kok, bisa sama, sih, bajunya?"
"Itu berarti kita jodoh," balas Aldef santai. "Yuk!"
Beby tersenyum sipu melihat Aldef mengulurkan tangan. Tanpa pikir panjang, Beby meraih uluran tangan Aldef, membiarkan lelaki itu menggenggam tangannya dengan hangat.
Keduanya melangkah beriringan menuju lift, lalu turun ke lantai basement. Tentu saja selama mereka berjalan, diiringi oleh gombalan receh dari Aldef dan balasan sewot dari Beby.
"Ngomong-ngomong, nanti kalau ada waktu libur lagi, kita berenang lagi, ya?" ucap Beby sesaat setelah mereka memasuki mobil Aldef.
Aldef terkekeh seraya mengacak-acak puncak kepala Beby dengan gemas. "Gitu, dong! Itu baru namanya pacar gue." Jeda sejenak. "Sabuk pengaman jangan lupa."
Tanpa sepengetahuan Aldef, Beby mengembuskannya napas pelan-pelan. Jantungnya mendadak berdetak kencang sebab Aldef yang mengacak puncak kepalanya tadi. Selalu seperti ini. Tiap kali Aldef mengacak puncak kepala Beby, hatinya pun turut berantakan.
"Sekarang kita ke mana?" tanya Aldef yang membawa kesadaran Beby kembali.
"Dufan."
***
"Pop, mau ikut Kakak nggak?" tanya Celine pada sang adik yang tengah membaca buku biologi.
"Ke mana?"
"Jalan-jalan. Udah lama, kan, kamu nggak keluar rumah selain ke sekolah? Mumpung libur juga."
"Iya. Tapi ke mana? Aku nggak mau kalau nggak jelas tujuannya."
Celine mengambil posisi lebih dekat ke arah Poppy. "Kita ke ... DUFAN?"
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️