
Kini, tersisa Aldef dan Beby di ruangan serba putih itu. Keluarga Beby baru saja meninggalkan tempat. Dari yang Aldef dengar, mereka semua pamit 'pulang'.
"Pasti banyak yang mau lo tanyain, ya?" tebak Beby setelah Aldef kembali duduk di kursi samping kiri ranjangnya.
Aldef tersenyum simpul. "Kelihatan banget, ya?"
Beby terkekeh. "Banget."
"Yang lo panggil kak Sinta itu, kakak kandung lo juga?"
"Bukan," jawab Beby. "Kak Sinta itu istrinya kak Indra. Mereka baru nikah lima bulan lalu. Tapi, gue nggak datang ke pernikahan mereka."
"Kenapa?"
"Soalnya hari pernikahan mereka itu bentrok sama jadwal ujian akhir semester. Jadi, ya, gue nggak datang."
"Terus, tadi nyokap lo bilang 'pulang' itu langsung balik ke Surabaya? Atau ke apartemen lo?"
"Bukan dua-duanya."
"Terus?"
"Bokap gue punya rumah di Jakarta."
"Oh, ya? Terus kenapa selama ini lo tinggal di apartemen? Kenapa nggak di rumah lo aja?"
Beby menghela napas berat. "Gue merasa lebih aman tinggal di apartemen. Keamanannya lebih ketat."
"Kan, bisa sewa satpam di rumah."
"Gue ngantuk, Al. Tidur dulu, ya?"
Satu pertanyaan timbul di benak Aldef: mengapa Beby tampak enggan membicarakan soal 'rumah'?
***
Daren dan Kiran datang tepat saat adzan magrib berkumandang.
"Ren, salat di mushola, yuk!" ajak Aldef yang dijawab anggukan oleh Daren.
"Kami duluan, ya," ucap Daren pada Beby dan Kiran. Kedua gadis itu kompak mengangguk. Kebetulan, hari ini Beby sedang halangan. Untuk Kiran, dia beda keyakinan dengan Beby.
"Lo, kok, bisa bareng Daren?" tanya Beby sesaat setelah kepergian Aldef dan Daren.
"Kebetulan aja," jawab Kiran. "Tadi ketemunya di parkiran rumah sakit, kok."
"Lo ke sini bawa mobil?"
"Iya."
"Tumben. Ke mana bodyguard lo?"
Kiran berdecak kesal. "Gue lagi marahan sama kak Gino."
Beby tertawa. "Sabar banget, ya, Pak Gino. Mau gitu ngadepin lo yang tukang ngambek."
"Sembarangan!" sungut Kiran tak terima. "Gue ngambek juga ada alasannya kali. Masa iya dia mau-mau aja dirayu sama sekretarisnya yang ganjen itu. Enek gue lihatnya!"
Lagi-lagi, Beby tertawa. "Ya udah, sih. Yang penting pak Gino cintanya sama lo. Aman. Nggak usah terlalu overthinking."
"Ya, tapi, kalau kak Gio ninggalin gue gimana?"
"Gue yang ditinggalin Arka biasa aja."
Kiran menatap sinis ke arah Beby. "Lo mah enak, punya Aldef sebagai cadangan."
Kalimat itu sontak membuat Beby melempar bantal tepat ke muka Kiran. "Sembarangan ya, mulutnya!"
Kiran terbahak-bahak.
"Suruh aja pak Gino pecat sekretarisnya," usul Beby.
"Ya kali! Ntar yang ada gue dikira posesif."
"Emang lo posesif."
"Beby, ih!"
Melihat raut muka kesal Kiran, giliran Beby terbahak-bahak.
"Oh, iya, Ran. Gue mau cerita."
"Cerita apaan? Males, deh, gue kalau lo cerita soal drama korea. Ogah gue!"
"Idih! Gue racunin baru tahu rasa lo!" Jeda sejenak. "Bukan. Bukan itu. Kali ini serius."
Kiran menatap Beby lamat-lamat. Memang, sahabatnya itu kini tampak sangat serius. Kiran menghela napas sejenak. "Cerita apa? Tentang Arka? Dia ke sini?"
Kedua bola mata Beby membulat sempurna. "Daebak! Lo bisa ngeramal sekarang? Belajar dari mana?" (Hebat!)
"Ngaco! Tadi gue ketemu Arka pas lagi jalan ke sini. Tapi, By, kenapa dia pakai baju pasien, ya?"
"Hah?" Kening Beby berkerut heran. Seingatnya, Arka datang dengan pakaian biasa. Tapi memang wajahnya tampak sedikit pucat.
__ADS_1
"Apa dia dirawat juga di sini?"
"Nggak mungkin, lah! Arka, kan, emang hampir tiap hari di rumah sakit ini."
"Tapi dia pakai baju pasien, Beby!"
"Ah! Nggak penting," putus Beby setelah terdiam beberapa saat. "Mending sekarang lo buka, tuh. Bawa apa aja, sih?" Pandangan Beby mengarah pada tiga kantung kresek putih di atas nakas.
"Gue, sih, bawa apel buat lo. Yang dua, dari Daren."
Tangan Beby yang terpasang infus meraih satu kresek berisi minum pemberian Daren. Gadis itu takjub melihat isi di dalamnya. "Wah! Milkshake taro!"
"Minuman favorit lo?" tanya Kiran.
Beby mengangguk antusias. "Yah! Tapi nggak ada es batu."
Kiran meninju pelan baju kiri Beby. "Lagi sakit juga. Masih aja mau minum es!"
"Nggak usah kayak kak Miko, deh. Ngeselin!"
"Tapi, By. Itu, kan, cuma ada satu minumannya. Kayaknya Daren sengaja, deh. Dia tahu dari mana, ya, kalau lo suka milkshake taro?"
"Entahlah. Dia sering gue lihat minum ini kali di kafetaria kampus. Kan, sering, tuh, kita ketemu dia di sana."
"Iya juga, sih. Tapi masa sedetil itu dia merhatiin lo?"
"Ya udah, sih. Nggak usah mikir aneh-aneh."
"Jangan-jangan ...."
"Assalamualaikum."
Suara bariton dari arah pintu itu menginstrupsi Beby dan Kiran. Seorang pria bertubuh jangkung berbalut kemeja kotak-kotak dan celana jeans panjang sebagai bawahan, serta kamera yang melingkar di leher. Itu Fahri.
"Waalaikumsalam," jawab Beby.
Kedatangan Fahri disusul oleh Aldef dan Daren yang baru selesai shalat magrib.
"Fahri?" sapa Beby.
"Hai, By. Gimana keadaan lo?"
"Udah jauh lebih baik. Oh, ya. Gue nggak salah milih lo dan Aldef sebagai model. Menang, dong, gue!"
"Jinjja?!" Kedua bola mata Beby berbinar.
"Iya! Juara satu pula!"
Fahri tersenyum lebar. "Thank you."
"Sorry, ya, gara-gara gue sakit diskusi kita soal webseries jadi tertunda."
"It's okay," jawab Fahri. "Sekarang, fokus aja sama kesehatan lo dulu."
"Webseries?" sahut Aldef yang tak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. "Webseries apaan?"
"Oh, iya. Gue belum kasih tahu lo, ya?" tanya Fahri yang dijawab gelengan oleh Aldef. Melihat hawa-hawa Fahri akan menjelaskan sesuatu, Kiran yang juga merasa penasaran pun turut pasang telinga. "Jadi, gue sama Daren lagi ada project bareng. Kita mau bikin webseries yang bakal tayang di youtube channel-nya Daren."
"Genre romance?" tanya Kiran.
Daren mengangguk. "Yang jadi peran utamanya gue sama Beby. Sekalian minta tolong Beby buat promosi. Dia, kan, selebgram."
"Bisa aja lo," timpal Beby sambil terkekeh pelan.
"Yang main kalian berdua aja?" tanya Aldef sambil menatap Beby dan Daren secara bergilir.
"Nggak," jawab Beby. "Ada Tristan sama Lola juga."
"Temen lo jadi bisa?" tanya Fahri.
Beby mengangguk. "Tadi gue udah ngomong ke dia, dan dia setuju."
"Bagus kalau gitu," sahut Daren. "Tinggal tunggu Beby sembuh, terus kita reading."
"Emang naskahnya udah jadi?" Fahri kembali bertanya.
"Udah," jawab Daren. "Nanti gue bawa pas reading." Tatapan Daren beralih pada Beby. "Oh, iya, By. Gue tadi udah fotocopy catatan materi kuliah hari ini buat lo."
Beby menerima tiga lembar kertas HVS dari tangan Daren. "Thank's, ya. Lo emang temen gue yang paling pengertian."
"Ada tugas juga. Jangan lupa dikerjain."
"Iya-iya. Biar lo bisa cepet-cepet nyalin, 'kan?"
Daren dan Beby kompak tertawa. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi menatap tak suka pada interaksi Daren dan Beby.
Ya. Siapa lagi pemilik sepasang mata itu jika bukan Aldefra Mahardika?
***
"Wahhh!!! Makanannya enak-enak banget, Kak!" seru Poppy dengan mata berbinar-binar.
"Iya, dong!" balas Celine bangga.
__ADS_1
"Ini cuma kita berdua yang makan? Nanti kalau nggak habis, kan, sayang, Kak."
"Nggak. Ada teman Kakak juga."
"Siapa?" tanya Poppy penasaran.
"Nanti kamu juga tahu."
"Hai!"
Seorang wanita berpakaian dress warna merah menyala sebatas paha tanpa lengan mengambil posisi di hadapan Celine dan Poppy. Riasan wajah yang tampak sangat menor membuat Poppy bergidik ngeri.
"Udah lama nunggu, ya, kalian?"
"Nggak, kok," sahut Celine.
Tatapan wanita berbaju merah itu mengarah pada Poppy. "Ini pasti Poppy. Adiknya Celine, right?"
"Iya. Poppy!" Celine menyikut tangan Poppy, membuat adiknya itu tersadar dari aksi mengamati wajah mengerikan Fara.
"Eh? Iya, Kak. Aku Poppy." Gadis berumur 15 tahun itu berusaha menampilkan senyum seramah mungkin. "Kakak siapa namanya?"
"Fara."
"Sayang. Sorry, ya, kamu lama nunggu." Tiba-tiba, seorang pria bertubuh jangkung menghampiri meja mereka. Lengan pria itu melingkar di leher belakang Fara. Dan Fara, ia membalasnya dengan mengecup bibir pria itu.
Poppy sontak memejamkan mata rapat-rapat. Tidak tahukah mereka bahwa ada anak dibawah umur di sini?!
***
"Yang tadi itu, beneran temen-temen Kakak?" tanya Poppy saat sedang dalam perjalanan ke kontrakan baru dengan mengendarai taxi online.
"Iya. Kenapa emang?"
"Tampangnya nyeremin banget." Poppy bergidik ngeri. "Mana nggak sopan lagi. Ciuman bibir! Padahal, kan, ada aku di sana. Mereka suami istri bukan, sih?"
"Sssttt!!! Kamu, nih, ya. Nggak usah kepo sama urusan orang."
"Kakak kenal mereka di mana?"
"Kan, udah Kakak bilang, Poppy, nggak usah kepo."
"Terus, Kakak sebenarnya kerja apa?"
"Pertanyaan itu bukannya udah Kakak jawab, ya? Kakak itu sekarang jadi stylish para model. Kak Fara yang tadi kenalan sama kamu, dia anak pemilik perusahaan," jelas Celine. "Udah, ah. Nggak usah nanya-nanya lagi."
Sekelebat adegan saat Fara dan pacarnya ciuman bibir kembali melewati otak Poppy. Gadis itu lantas menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia menoleh ke arah Celine yang tengah berselancar di dunia maya.
"Poppy nggak mau ketemu mereka lagi."
***
Entah perasaannya atau bagaimana, Beby merasa ada yang aneh dengan Aldef sejak obrolan mereka bersama Daren, Fahri, dan Kiran tadi. Buktinya, terhitung sepuluh menit sudah Aldef dan Beby hanya berdua di ruangan itu, tapi Aldef tak berniat membuka suara. Pria itu sibuk berkutat dengan ponselnya sembari menunjukkan ekspresi jutek. Tak biasanya Aldef seperti ini.
"Lo kenapa, sih, Al? Dari tadi diem mulu. Ada masalah?"
Aldef masih diam. Ia sama sekali tak menghiraukan Beby.
"Al?"
"Aldef."
"Sayang."
Refleks, Aldef mendongak. Dua detik kemudian, Beby terbahak-bahak. Hal itu membuat Aldef tersadar dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sejak kapan nama lo berubah jadi 'Sayang'?" Beby masih tertawa.
Kesal. Aldef kesal sekali. Ingin rasanya ia merubuhkan sebuah rumah.
"Lo kenapa, sih, Al? Serius, deh. Nggak enak tahu diem-dieman gini. Mending lo pulang kalau nggak mau nemenin gue ngobrol."
Aldef menghela napas berat. Manik matanya menatap lurus ke bola mata Beby. "Jadi, lo bakal main film bareng Daren?"
Beby mencium adanya keanehan di sini. Gadis itu menyipitkan kedua mata. Menatap Aldef dengan penuh selidik. "Lo cemburu?"
"Kalau iya, kenapa?"
Beby terdiam sejenak. Lalu, ia tertawa pelan. "Bercanda lo nggak lucu, Al."
Tiba-tiba, Aldef bangkit dari posisi duduknya. Kedua tangan Aldef menggenggam erat bahu Beby. Beby sendiri merasa kaget dengan gerakan Aldef yang tiba-tiba.
"Gue serius."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1