
"SIAPA LO?!" Beby berteriak histeris saat mendapati sosok pria bertopi hitam di samping kanannya.
"Orang yang ada di pikiran lo."
Orang yang ada di pikiran Beby? Orang yang selalu cari gara-gara dengan mengganggu Beby adalah Fara dan Zidan. Tapi, mengingat seseorang di samping kanannya ini berjenis kelamin laki-laki. Itu artinya ....
"Zidan?"
Lelaki itu menoleh untuk sekedar melempar senyum licik.
Tak ingin tinggal diam, Beby berusaha merebut setir mobil dari tangan Zidan. "Stop! Stop gue bilang! Lo mau apa, sih?!"
Zidan tertawa jahat. "Lo udah bikin gue dipenjara. Gue nggak mau balik dipenjara lagi karena kasus pembunuhan. Itu artinya, gue mau kita mati bareng."
"GILA LO! STOP!"
Percuma Beby terus memaksa pita suaranya untuk teriak. Jalanan yang sepi dengan penerangan minim, serta kecepatan laju mobil di atas rata-rata harus diatasi dengan tindakan.
Beby menarik hand-rem dengan sekali gerakan. Membuat bunyi decitan nyaring yang memekakkan telinga.
Zidan menoleh dan melotot ke arah Beby. Dalam beberapa detik, mereka saling melempar tatapan membunuh.
'Bugh!'
Sikut Beby mendarat tepat di batang hidung Zidan. Membuat si korban meringis kesakitan seraya menekan hidungnya yang mengeluarkan cairan merah.
Sial! umpat Zidan. Ini kedua kalinya hidungnya mimisan akibat ulah Beby.
Bukan. Lebih tepatnya, akibat ulah Zidan sendiri.
Melihat kesempatan yang ada, Beby bergegas turun dari mobil. Tangannya bergerak cepat menekan-nekan layar ponsel yang sejak tadi dalam genggaman. Beby bermaksud menelepon sang kakak.
Beruntung, sebab panggilan Beby terjawab di nada sambung kedua.
"KAK! TOLONGIN GUE! PLEASE! CEPETAN TOLONGIN GUE—!"
Ucapan Beby terpotong sebab Zidan yang tiba-tiba menyambar ponselnya. Benda pipih yang malang itu kini terbagi menjadi beberapa bagian di atas tanah.
Berbeda dengan yang tadi, kali ini Zidan menodongkan senjata tajam berupa belati. Beby memang ahlinya bela diri, tapi tidak dengan senjata tajam.
Dengan senyum iblis menakutkan, Zidan melangkah maju, mendekat pada Beby seraya tetap mengacungkan belati ke arah mangsanya.
Beby yang melihat hal itu tak memikirkan cara lain selain melangkah mundur. Rasa takut menjalar cepat ke sekujur tubuhnya. Memeluk Beby seiring napasnya yang kian memburu. Bola matanya tak beralih dari ujung belati dalam genggaman Zidan.
"SEKARANG LO MAU APA, HAH?!" tantang Zidan.
Tak ingin menyerah. Beby terus melangkah mundur. Rasa takut dalam jiwanya perlahan mencuat ke permukaan. Membuat kedua bola matanya mendadak panas. Mati-matian Beby menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Situasi ini, mengingat ia pada kejadian 3 tahun lalu.
"Kenapa? Takut, ya?" Suara Zidan kian terdengar menyebalkan di telinga Beby. Ingin rasanya ia mencabik-cabik mulut pria itu. "Aduh, aduhhh. Beby matanya berkaca-kaca. Jangan nangis, dong, Sayang. Sini-sini, biar gue peluk."
'Dugh!'
Suara itu menandakan langkah terakhir Beby. Punggungnya menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Jarak antara Beby dan Zidan semakin dekat. Beby pun tak mampu lagi membendung cairan bening yang semula menggumpal di pelupuk mata. Beby menangis tanpa suara.
Napas Beby kian tercekat saat jarak antara dirinya dan Zidan tinggal selangkah. Tangan kotor lelaki itu dengan lancang mengusap air mata Beby.
"Lo tahu nggak, Man? Betapa bahagianya gue lihat lo ketakutan kayak gini. Udah lama banget soalnya." Zidan terbahak-bahak. Berbanding terbalik dengan Beby yang mengunci mulut rapat-rapat sembari melayangkan tatapan tajam. "Eh, tapi. Panggilan lo sekarang udah berubah, ya? Beby? Or, Sky?"
Rahang Beby kian mengeras. Matanya memerah akibat campuran rasa takut dan amarah.
"Tapi bagi gue, lo tetap Amanda yang sama. Amanda yang 'gampangan'."
__ADS_1
Beby semakin meradang. Amarahnya kini melampaui batas rasa takut.
"Kenapa? Marah? Takut?"
"Gue nggak takut sama lo." Akhirnya, kalimat itu keluar dari mulut Beby.
"Oh, ya?" Gelak tawa Zidan semakin menjadi-jadi. "Terus apa? Lo marah? Mau nusuk gue pakai ini?" Zidan menodongkan belati tepat di depan muka Beby. "Nih, ambil! Ayo ambil! Ayo bunuh gue!"
Beby ketakutan setengah mati. Ia tak bisa bergerak barang sedikitpun. Sebab jika Beby bergerak satu milimeter saja, belati itu dapat dipastikan menembus kulitnya.
"Kenapa diem? Ayo, Manda! Ayo, ambil!"
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Zidan terbahak-bahak. Lalu tawanya berubah menjadi raut wajah penuh amarah. "Lo nggak mau ambil? Oke! Fine!"
"ARGHHH!"
Beby refleks memegang lengan kirinya, sebab belati dalam genggaman Zidan dengan lancang menembus kulitnya. Kain yang melapisi lengan Beby pun sobek.
"Sakit, ya?"
Suara itu kembali membuat Beby mendongak. Bibirnya mendesis akibat rasa sakit di lengan kiri. Tangannya yang lain senantiasa menekan sumber luka.
"Owh ... kasihan ...." Lagi-lagi pria sycho itu tertawa. "Gimana kalau gue tusuk di jantung aja? Biar nggak sakit."
Sekujur raga Beby bergetar hebat. Zidan tampak mengambil ancang-ancang dengan mengangkat belati di tangannya yang ternodai darah Beby. Dengan tatapan penuh dendam, lelaki itu siap menebas leher gadis di hadapannya.
Tangis Beby semakin pecah saat mendapati sosok Aldef dan Miko. Belati dalam genggaman Zidan kini tergeletak di atas tanah. Dan lelaki itu tengah dihajar mati-matian oleh Miko.
"Sky, lo nggak apa-apa?" tanya Aldef. Lelaki itu memegang kedua bahu Beby.
"Argh!" Beby pun refleks meringis kesakitan. Karena hoodie yang ia kenakan berwarna gelap, noda darah menjadi tak terlihat.
"Yaampun, Sky, lo berdarah gini! Kita ke rumah sakit sekarang, ya? Tunggu—"
Kalimat Aldef terjeda sebab Beby yang tiba-tiba memeluknya. Gadis itu mengabaikan lengan kirinya yang terasa seperti terbakar. Beby menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Aldef. Tumpah semua emosi yang sejak tadi ia pendam.
"Gu-gue takut ...," lirih Beby di sela-sela isakan tangisnya.
"Sssttt!!!" Jemari Aldef mengusap lembut rambut panjang sang pacar. Berharap dengan begini, ketenangan yang Aldef salurkan dapat mengenai inti hati Beby. "Lo aman sekarang. Ada gue di sini."
Beby masih tersedu-sedu saat Aldef melepas pelukannya. Tatapan Aldef beralih pada kain di lengan kiri Beby yang sobek.
"Kita obatin luka lo dulu, ya?"
Tanpa menunggu respon Beby, Aldef menoleh ke arah Miko. Miko masih dengan semangat menghabisi lelaki sycho yang telah berani melukai adiknya.
Tepat saat itu, bola mata Aldef dan Miko bertemu. Kakak Beby itu berdiri. "Gue urus, nih, orang! Lo, jagain adik gue bener-bener! Kalau dia kenapa-napa lagi, gue bunuh lo!"
Aldef mengangguk mantap. "Gue bawa Beby ke rumah sakit."
Mendapat anggukan dari Miko, Aldef kembali menatap Beby. Saat itu pula, manik mata mereka saling bertemu.
"Gue nggak mau ke rumah sakit."
***
__ADS_1
Karena permintaan sang pacar, Aldef membawa Beby ke rumah orang tuanya. Sebab Aldef merasa tak cukup mampu mengobati luka Beby. Sedangkan di rumah orang tuanya ada Putri yang ahli dalam bidang merawat dan mengobati luka. Kecuali luka patah hati, tentunya.
"Astagfirullah! Ini Beby kenapa?!"
Fitri yang membukakan pintu lantas terkejut melihat tangan Beby yang berlumuran darah. Dalam perjalanan, Beby memang melepas hoodie yang ia kenakan. Hingga tersisalah kaus oblong lengan pendek warna hijau lumut yang membalut tubuhnya.
Beby yang masih syok akibat kejadian tadi tak berniat membuka suara. Tatapannya kosong. Melangkah pun karena Aldef yang menyeretnya.
"Putri ada, kan, Ma?" tanya Aldef saat ia membawa Beby masuk ke rumah.
"Ngapain lo nyari gue?"
Kedatangan Putri membuat Fitri dan Aldef sama-sama menoleh. Sementara Beby, gadis itu senantiasa menatap kosong ke depan.
"Tolong obatin Beby, Kak," ucap Aldef.
Putri meringis ngilu melihat darah yang membanjiri lengan kiri Beby. Meski hal-hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari, Putri tetap manusia normal yang kerap bergidik ngeri tiap kali melihat darah.
Sebelum mengobati luka Beby, Putri mengambil kotak P3K dari kamarnya.
"Kenapa bisa gini?" tanya Putri pada siapapun yang mendengarnya.
"Habis kena rampok," sahut Aldef. Karena Beby tak mungkin menjawab, Aldef pun enggan mengatakan yang sejujurnya pada Putri.
"Astagfirullah. Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja?"
"Parah emang lukanya?"
"Lumayan dalam, sih. Tapi masih aman."
"Minum dulu." Fitri kembali membawa dua gelas teh hangat.
Aldef mengambil segelas, lalu mengulurkannya pada Beby. Gadis itu lantas mengambilnya dari tangan Aldef. Tepat saat itu, ponsel Aldef yang tergeletak di atas meja berdering.
Nama Celine terpampang di sana. Aldef lantas menekan tombol reject. Hal itu membuat rasa curiga menghampiri Putri. Gadis itu diam-diam melirik Aldef.
"Al, tolong ambilin plaster di kamar gue. Ketinggalan," ucap Putri yang langsung disanggupi oleh Aldef.
Sepeninggalan Aldef, Putri beranjak dari posisinya. Beby dan Fitri menatap heran pada plaster yang telah menutup luka Beby.
"Ma, temenin Beby bentar, ya," kata Putri yang meninggalkan tempat tanpa menunggu respon Fitri atau Beby.
Sampai di kamar, Putri melihat Aldef yang tengah mengacak-acak laci mejanya.
"Di mana plasternya?"
Alih-alih menjawab, Putri malah menutup pintu kamarnya. Aldef lantas menatap Putri heran.
"Kenapa?" tanya Aldef sambil melangkah ke arah sang kakak.
Putri menatap Aldef lamat-lamat. "Ada hubungan apa lo sama Celine?"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1