ALDEBY

ALDEBY
|17.| Kalau Gue Serius, Gimana?


__ADS_3

Aldef kembali tepat saat Beby menyelesaikan sebait puisi tanpa judul di bukunya.


"Buku apaan, tuh?" tanya Aldef dengan bola mata yang mengarah pada buku bersampul biru langit di bawah telapak tangan Beby.


"Biasa, buku catatan pribadi."


"Buku diary?"


Beby terkekeh. "Bukan. Gue nggak suka nulis diary."


Aldef manggut-manggut, seolah baru saja memahami sesuatu. "Iya, sih. Lo, kan, sukanya nulis puisi."


Kata-kata Aldef barusan memanggil rasa bingung sekaligus penasaran dalam diri Beby. "Hah? Lo tahu dari mana?"


"Hah?" Entah pengelihatan Beby yang salah, atau memang Aldef tampak bingung dan ... panik? "Oh. Itu. Ya iyalah gue tahu! Lo, kan, anak sastra."


Kedua mata Beby tak henti menatap Aldef lamat-lamat. "Gitu, ya?"


Aldef mengangguk cepat. Kali ini keberuntungan masih berpihak padanya, sebab menu pesanan mereka yang datang dan membuat perhatian Beby teralihkan.


"Al," panggil Beby di sela-sela kunyahannya.


"Hm?"


"Gue minta maaf, ya."


Empat kata itu saja, cukup membuat Aldef paham ke mana arah pembicaraan Beby. "Gue juga minta maaf. Apa yang udah gue lakukan waktu itu memang salah. Gue nggak berpikir panjang saat itu."


Beby menggeleng cepat. "Lo nggak salah, Al. Harusnya gue ngertiin posisi lo saat itu. Harusnya gue paham dengan niat baik lo. Gimanapun juga, gue nggak tahu gimana nasib gue kalau nggak ada lo. Thank's, Al, lo udah nolongin gue."


Aldef tersenyum lebar. Jujur, bunga-bunga dalam hati Aldef mendadak mekar. Memberi sensasi hangat sekaligus menyegarkan.


"Dan soal perasaan lo ke gue ...."


"Uhuk! Uhuk!"


Baru saja Aldef merasa hatinya berbunga-bunga, kalimat yang Beby lontarkan selanjutnya sukses membuat makanan yang sedang Aldef kunyah menyusup ke tenggorokan.


"Lo salah paham," ucap Aldef usai meneguk es kopi miliknya. "Bukan itu maksud ucapan gur kemarin."


Satu alis Beby terangkat, menandakan bahwa gadis itu merasa bingung. "Terus? Maksud lo apa?"


"Maksud gue, gue sayang sama lo sebagai sahabat." Aldef tahu—sangat tahu—bahwa berbohong adalah tindakan tercela. Namun, yang Aldef lakukan saat ini bukanlah berbohong, melainkan bermain strategi. Ibaratnya, mundur selangkah untuk maju seribu langkah.


"Oh," Beby menggumam pelan. "Berarti gue salah paham, ya?"


Aldef melempar seulas senyum tipis ke arah Beby. "Iya."


"Padahal gue berharapnya nggak salah paham."


"Hah?"


***


Usai makan malam, Aldef dan Beby melangkah beriringan memasuki Apartemen Golden. Obrolan-obrolan ringan, serta candaan receh dari Aldef menjadi pengiring langkah mereka. Seperti ....


"Gue kadang suka kepikiran, deh. Kenapa seminggu cuma ada tujuh hari? Kenapa nggak delapan? Atau sekalian aja sepuluh, biar pas gitu, lho."


"Ya, mana gue tahu," balas Beby dengan ogah-ogahan.


"Karena yang pas itu cuma kalau lo masuk ke hati gue."


"Ih! Jijay!"


Keduanya terbahak-bahak. Meski demikian, Beby ngedumel dalam hati. Mungkinkah Aldef lupa Beby pernah berkata bahwa dirinya baperan dan ... jomlo? Mungkin. Mungkin saja Aldef lupa.


Pintu lift di depan Aldef dan Beby terbuka. Mereka membiarkan orang-orang yang semula di dalam lift untuk keluar terlebih dahulu. Setelah tak ada orang di dalam, Aldef dan Beby sama-sama melangkah masuk.

__ADS_1


Dan obrolan mereka pun berlanjut.


"By, gue punya tebak-tebakan."


"Apa?"


"Berapa jumlah rambut lo?"


Kening Beby mengernyitkan heran. "Hah? Ya, mana gue tahu!"


"Ish! Tebak dulu, dong!"


"Seribu?"


"Salah."


"Sepuluh ribu?"


"Salah."


"Seratus sembilan puluh sembilan lima ratus empat puluh lima?"


"Salah."


"Ya, terus berapa?!"


"Nyerah?"


Beby mengangguk pasrah.


"Jumlah rambut lo itu tak terhingga."


Jawaban Aldef yang absurd itu membuat Beby memutar kedua bola mata malas. "Semut juga tahu kali kalau itu!"


"Ada kelanjutannya."


Aldef tersenyum penuh makna. "Jumlah rambut lo itu tak terhingga, sama kayak rasa cinta gue ke lo."


Lelaki di samping Beby itu terbahak-bahak di ujung kalimat. Berbeda jauh dengan Beby yang berusaha keras untuk menutupi rona merah di pipinya. Meski sadar bahwa tak ada yang serius di balik ucapan Aldef, tapi tetap saja sukses membuat sensani panas menjalari kedua permukaan pipi Beby.


"By? Kok, diem?" tanya Aldef saat menyadari bahwa Beby tak ikut tertawa bersamanya. "Candaan gue garing, ya?"


Beby menunjukkan senyum lebar yang dipaksakan. "Akhirnya lo sadar juga."


Tiba-tiba ....


"Eh, eh! Kenapa, nih?"


Tatapan Beby dan Aldef lantas mengarah pada langit-langit, tempat sumber cahaya di ruangan sempit yang mereka pijak tiba-tiba mati.


"Kenapa, nih, Al? Lift-nya kenapa mati?" tanya Beby panik.


"Gue juga nggak tahu," sahut Aldef yang juga merasa bingung sebab lift yang tiba-tiba mati. "Coba gue hubungan center service, ya."


Aldef merogoh saku celananya dan meraih benda pipih yang terselip di sana. Beby pun melakukan hal yang sama. Bedanya, ponsel Beby lowbat.


"Hallo. Iya, Pak. Ini kenapa lift tiba-tiba mati, ya? Listrik padam atau gimana? Ini saya ada di dalam lift soalnya," ucap Aldef sesaat setelah berhasil menghubungi center service.


" .... "


"Oh, gitu. Kira-kira berapa lama, Pak?"


" .... "


"Oke. Saya tunggu, ya. Secepatnya, Pak. Tolong, ya. Baik. Terima kasih."


Melihat Aldef telah mengakhiri obrolan dengan seseorang di seberang sana, Beby lantas bertanya, "Gimana, Al?"

__ADS_1


"Lagi ada perbaikan. Tadi ada kebakaran kecil gitu di unit apartemen lantai lima belas. Itu yang bikin listrik sengaja dibikim padam."


"Terus, kita gimana?"


"Kata orangnya, sih, perbaikannya paling cepat lima belas menit."


"Paling lama?"


Aldef meringis, tak kuasa memberi jawaban pada wajah melas Beby. "Sejam."


"WHAT?!"


"Ya udah, sih, santai aja. Nunggu di sini sejam nggak bakal bikin kita mati kelaparan, 'kan?"


Beby mendesis kesal. "Mati kelaparan, sih, nggak. Mati kehabisan napas yang ada. Lo, kan, rakus orangnya. Oksigen nggak mau bagi-bagi." Gadis berambut panjang itu duduk di pojokan lantai lift.


Melihat Beby duduk, Aldef pun turut mengambil posisi di sampingnya. "Siapa bilang? Jangankan dibagi. Kalau sama lo, mah, seluruh napas gue juga gue kasih."


"Ih!" Beby menyentil daun telinga Aldef. "Bisa-bisanya bercanda di situasi begini."


Belum sempat Beby menarik tangannya kembali, telapak tangan Aldef terlebih dahulu meraih pergelangan Beby. Pria itu menatap lamat-lamat pada gadis di sebelahnya. Beby heran, mengapa binar mata Aldef tampak sangat serius?


"Kalau gue serius, gimana?"


Satu pertanyaan itu sukses memicu detak jantung Beby yang menggila. Gawat! Ini gawat! Bagaimana jika gendang telinga Aldef menjangkau suara detak jantung Beby? Bagaimana jika ....


"Hwahahaha!" Tiba-tiba, Aldef terbahak-bahak.


Hal itu lantas membuat Beby geleng-geleng kepala. Merasa takjub dengan kelakuan lelaki. "Emang sinting lo, ya."


"Bercanda kali, By." Aldef masih berusaha meredakan tawanya. "Serius amat mukanya."


Lelah terus menanggapi kegilaan Aldef, Beby memilih untuk memejamkan mata. Menikmati jiwa dan raganya yang sama-sama dirundung rasa lelah. Mengapa pula Beby harus terjebak di dalam lift seperti ini?


"By, gue mau ngomong serius, deh."


***


Pukul 21.30, Celine baru saja usai mengganti seragam office girl yang ia gunakan sejak sore tadi. Beginilah keseharian Celine: pagi menjadi barista di sebuah kafe yang tak jauh dari kontrakannya, lanjut siang hari menjadi kurir sebuah toko bunga, lalu saat sang surya tenggelam, Celine menjadi office girl di sebuah perusahaan. Terkadang, Celine pun turut membantu di pasar saat pengeluarannya sedang banyak.


Semua ini, Celine lakukan dengan suka rela. Mau tak mau, suka atau terpaksa, Celine harus banting tulang dari pagi ke pagi untuk membiayai pengobatan adiknya. Belum lagi, kebutuhan sehari-hari mereka, serta biaya pendidikan Poppy. Bagaimanapun, Celine tak ingin Poppy mengikuti jejaknya yang tidak memiliki pekerjaan tetap.


Setiap hari Rabu dan Jum'at, Celine izin kerja di siang hari. Sebab ia harus menemani Poppy melakukan cuci darah.


"Celine Anastasia?"


Mendengar namanya disebut, Celine yang tengah berjalan keluar dari gedung perusahaan menghentikan langkah. Gadis berumur 21 tahun itu lalu mengarahkan pandangan ke sumber suara.


Seorang perempuan dalam balutan dress di atas lutut dengan lengan seperdelapan warna hitam, sepatu high heels yang panjangnya Celine taksir mencapai 20 sentimeter, rambut panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai, serta make up yang sedikit—sangat—menor.


"Ya? Anda mencari saya?" tanya Celine sesaat setelah mereka berhadapan.


"Lo bener Celine Anastasia, 'kan?"


Celine mengangguk. Meskipun ia masih bertanya-tanya tentang siapa perempuan asing di hadapannya ini. "Iya. Ada apa, ya?"


"Celine Anastasia." Kedua bola mata perempuan di hadapan Celine tampak mengamatinya dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Lo benar mantan pacar ... Aldef?"


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2