ALDEBY

ALDEBY
|5.| Yang Disembunyikan


__ADS_3

..."Semua orang punya waktunya sendiri untuk merasakan kehilangan."...


...***...


Sejak kepergian Beby beberapa jam lalu, Arka terus menatap kosong ke arah lampu-lampu kota di hadapannya. Raga pria berusia 24 tahun itu sedang berada di rooftop rumah sakit, namun jiwanya berkelana entah ke mana.


Jangan heran bila Arka lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Sebagai calon dokter bedah, Arka sering membantu mereka yang bertugas di UGD. Juga dipercayai untuk turut andil dalam sebuah operasi. Hitung-hitung untuk menambah pengalaman sebelum koas.


Sebenarnya, ada banyak operasi yang harus Arka bantu malam ini. Tapi, mengingat pikirannya yang terus bercabang, membuat Arka memutuskan untuk menyerahkan seluruh tugasnya pada rekan Arka yang tengah mengambil cuti hari itu: Abdi. Beruntung Abdi bersedia menukar jadwal cutinya, meski sebelum itu Arka harus mendengar ocehan bak rel kereta yang panjangnya bukan main.


Arka butuh menenangkan jiwa dan raganya sekarang.


"Mau di sini sampai kapan?"


Suara itu membuat Arka menoleh ke kanan dan menangkap sosok Putri dalam balutan pakaian serba putih yang masih lengkap.


Putri melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Udah hampir setengah sebelas, waktunya pulang."


Arka menghela napas berat, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Perdebatan dalam otak Arka sudah cukup berisik lelaki itu.


"Kenapa nggak jujur aja, sih, Ar?" tanya Putri. "Hubungan lo sama Beby nggak harus berakhir kalau lo jujur."


Pria dalam balutan jas putih khas dokter itu tertawa getir. "Cepat atau lambat, gue sama Beby tetap akan berujung ke perpisahan."


Putri yang semula menatap ke arah gemerlap lampu-lampu kota, kini menoleh cepat ke arah Arka. Gadis itu sedikit—sangat—tidak terima dengan kalimat Arka barusan.


"Lo pikir, perpisahan cuma bakal terjadi dalam hidup lo? Semua orang di dunia ini juga pasti mengalami yang namanya perpisahan, Ar! Semua orang punya waktunya sendiri untuk merasakan kehilangan!"


Arka menoleh. Membalas tatapan nyalang yang Putri lontarkan. "Gue tahu. Tapi kalau gue jujur ke Beby, dia akan lebih sakit saat hari perpisahan itu datang."


"Terus? Dengan cara lo ini, menurut lo Beby nggak akan sakit hati, gitu?"


"Setidaknya, dengan cara ini, Beby bisa move on lebih cepat."


Putri berdecak pelan. Gadis berusia 24 tahun itu kembali melengos ke arah pemandangan. "Gue pasti laknat banget di mata Beby sekarang. Udah nggak pernah muncul, tiba-tiba ngerusak hubungannya."


Arka terkekeh. "Thank's, ya. Lo udah bantuin gue."


Alih-alih menjawab, Putri malah memutar kedua bola mata malas. "Lo masih mau di sini?"


Yang ditanya mengangguk. "Malam ini gue pengin nginep aja. Sekalian latihan membiasakan diri sama suasana rumah sakit."


"Ini, nih!" seru Putri sembari melayangkan jari telunjuknya tepat di hadapan Arka. "Gue heran deh, Ar. Kok, bisa, sih, lo masuk kedokteran? Semangat hidup aja lo nggak punya."


Arka mengedikkan kedua bahu. "Takdir kali."


"Serah lo, dah!" Putri mengibaskan tangannya. "Gue cabut."


"Sekali lagi, thank's udah bantuin gue," ucap Arka sesaat sebelum Putri melenggang pergi.


Putri mengangguk. Ia menepuk dua kali bahu kanan Arka sebelum mengambil langkah. Namun, tepat di ambang pintu rooftop, Putri kembali.


"Ar?"


Arka balik badan, melayangkan tatapan heran pada cinta pertamanya itu. "Kenapa? Ada yang ketinggalan? Atau lo mau bilang kalau sebenarnya lo belum move on dari gue?" Kedua mata Arka menyipit curiga. "Jangan-jangan, lo mau ngajak gue balikan, ya?"


"Bisa diem nggak? Bawel banget lo!" pungkas Putri.


Arka tertawa pelan. "Iya-iya, gue tahu lo udah ada yang punya. Kenapa?"


"Gue cuma mau bilang, sebaiknya lo jujur sama Beby. Sebelum semua terlambat."


***


Masih di tempat yang sama. Memori Arka melayang kembali pada detik-detik sebelum bencana alam di hatinya terjadi.

__ADS_1


Putri tengah berbincang dengan perawat lain saat tiba-tiba ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya begitu kencang. 


"Arka?!" seru Putri sembari terus mengekori langkah Arka yang tergesa-gesa.


Mereka berhenti di persimpangan koridor. Dari pengelihatan Putri, Arka tampak sedang mengamati situasi sebelum memfokuskan pandangan ke arahnya.


"Ada apa, sih?" tanya Putri heran. "Ada siapa?"


Kedua tangan Arka mencengkeram erat bahu Putri. Pria yang menduduki bangku fakultas kedokteran itu menatap Putri lamat-lamat.


"Put, kita teman, 'kan?"


Satu alis Putri menukik ke atas. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Arka barusan. "Kenapa lo nanya—?"


"Jawab aja! Buruan!"


"I-iya," sahut Putri cepat, sebab Arka yang mengguncang bahunya cukup kencang.


"Gue boleh minta bantuan lo, 'kan?" Kali ini, suara Arka semakin terdengar mendesak.


Akhirnya, Putri menghela napas sejenak, kemudian mengangguk singkat. Pernah memiliki hubungan spesial dengan lelaki di hadapannya ini membuat Putri hapal bagaimana Arka jika menginginkan sesuatu. Menurut pengamatan Putri, satu hal yang sama sekali tak berubah dari Arka: pemaksa.


"Bantuan apa?"


"Lo lihat ke sana," ucap Arka seraya mengalihkan pandangan ke arah lobby. Putri pun mengekori arah pandang Arka.


"Cewek yang lagi nenteng kresek itu?" 


Arka mengangguk. "Dia pacar gue."


Putri tersenyum lebar. "Cantik. Dia pasti ke sini nyamperin lo, ya? Nggak kelihatan sakit soalnya."


"Justru itu. Lo harus bantuin gue."


"Kita pura-pura pacaran."


Kalimat Arka barusan membuat Putri seketika melotot kaget. "Lo gila, ya?!"


"Gue serius!"


"Tapi, kenapa?"


Tak ada kata yang keluar dari bibir Arka. Pria itu hanya menatap Putri lamat-lamat. Seolah menyuarakan jawaban dari balik manik matanya.


Putri menyipit curiga. "Jangan bilang, dia nggak tahu soal penyakit lo."


Pandangan Arka beralih ke tempat di mana Beby berada. Gadis itu sedang berdiri di depan meja resepsionis.


Tak ada waktu lagi. 


Arka menarik pergelangan tangan Putri, lalu membawa gadis itu ke arah kantin rumah sakit. Arka pun tak mempedulikan Putri yang terus protes akibat ulahnya.


***


Siapapun yang melihat adegan pertengkaran antara Arka dan Beby di area parkir pasti memikirkan hal yang sama seperti Putri. Dan memang benar, bahwa hubungan Arka dan Beby berakhir.


Tampak sekali dari raut wajah Arka yang lesu nan suram, serta kakinya yang melangkah gontai seolah tanpa tenaga.


"Gimana?" tanya Putri saat Arka berdiri tepat di hadapannya.


Sejak tadi, Putri memang menyaksikan interaksi antara Arka dan Beby di depan lobby. 


Arka menatap Putri cukup lama sebelum menjawab, "Kami putus."


"Terus? Kenapa muka lo lesu gitu?" Ada sedikit nada menantang di balik suara Putri. "Itu, 'kan, yang lo mau?"

__ADS_1


Arka mengangguk lemah. Putri yang melihat hal itu pun berdecak kesal. Gemas sendiri melihat cara Arka memperlakukan pacarnya. Ralat. Mantan pacarnya.


"Gue tahu lo bohong, Ar," ucap Putri setelah beberapa saat keheningan menyelimuti mereka. "Lo sebenarnya nggak mau putus, 'kan, dari pacar lo?"


"Nggak," sangkal Arka. "Gue memang mau putus. Gue udah mikirin semuanya baik-baik."


"Yakin?"


Pria di hadapan Putri itu mengangguk singkat. "Gue masuk dulu," ucap Arka yang kemudian melenggang dari hadapan Putri.


Putri yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menghela napas sembari geleng-geleng kepala.


"Udah gue duga kalau lo nggak yakin, Ar."


"Arka?"


Suara bariton dari arah pintu rooftop membuyarkan lamunan Arka. Ia pun menoleh ke sumber suara. Ternyata Rohim, seorang mahasiswa tingkat akhir dari universitas tetangga yang juga sering membantu di ruang UGD.


"Rohim? Ngapain lo di sini?"


Rohim tersenyum ramah. Ia melangkah hingga berdiri tepat di samping kanan Arka. "Semenjak bantu-bantu di rumah sakit ini, hampir tiap selesai praktik gue ke rooftop, Ar. Suasana di sini menenangkan soalnya."


Arka tersenyum kecil. "Lo benar."


"Lo sendiri ngapain di sini?"


"Sedang menenangkan diri."


"Ah! Gue baru sadar malam ini lo nggak kelihatan. Ternyata dari tadi lo di sini?"


Lagi-lagi, Arka tersenyum kecil sembari mengangguk singkat. "Iya."


"Lagi ada masalah, ya, Ar?"


Tak ada jawaban dari Arka. Mereka memang cukup dekat, namun hanya sebatas hubungan antarsesama rekan kerja.


Selanjutnya, Arka dan Rohim menghabiskan malam itu dengan topik seputar dunia kedokteran.


***


Aldef melajukan mobilnya menuju Apartemen Golden dengan kecepatan sedang. Ia ingin segera merebahkan diri di atas kasurnya yang hangat dan nyaman. Namun, kepadatan jalan raya Ibu Kota membuat Aldef harus memperpanjang batas kesabarannya. Padahal, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. 


'Cittt!!!'


Kaki Aldef refleks menekan pedal rem saat melihat seorang gadis yang berdiri di pinggir jembatan. Tak ingin gegabah, Aldef mengamati gadis itu lebih lekat. 


Gadis itu tampak menunduk, lalu membuang muka ke arah samping. Saat itu, indra pengelihatan Aldef dapat menangkap wajah si gadis dengan jelas.


"Beby?"


Tadinya, Aldef tak ingin ikut campur. Dalam pikirannya, Beby tak mungkin berniat melakukan sesuatu yang nekat, bukan?


Tapi, asumsi itu dipatahkan dengan kaki Beby yang memanjat pagar jembatan. Tanpa pikir panjang, Aldef bergegas turun dari mobilnya. Dengan tatapan yang fokus ke arah sang objek, Aldef melesat cepat. 


Saat sudah di depan mata, Aldef meraih pergelangan tangan Beby dan menariknya dengan kencang.


'Bruk!' 


"LO GILA, YA?!"


***


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2