ALDEBY

ALDEBY
|47.| Kangen Katanya


__ADS_3

"Jepit rambut siapa, nih?" gumam Beby seraya mengamati benda berbentuk bunga matahari berada di tangannya.


"Kenapa, Sky?"


Beby menoleh begitu suara Aldef membelai gendang telinganya. Di atas meja telah tersaji 2 buah es sirup rasa melon.


"Ini." Beby mengangkat telapak tangannya, menunjukkan sebuah jepit rambut di sana. "Punya siapa?"


"Ohhh ... itu ...."


Untuk waktu yang cukup lama, Aldef terdiam. Ia memberi ruang pada otaknya untuk mencari jawaban yang tepat. Sangat tidak mungkin, 'kan, Aldef mengatakan yang sejujurnya? Mengingat jepit rambut itu sudah pasti milik Celine.


"Punya lo," jawab Aldef.


Kening Beby mengernyit heran. "Gue nggak pernah punya jepit rambut bentukan gini."


"Gue tahu. Mangkanya gue beliin buat lo. Daritadi gue nyari-nyari itu jepit. Ternyata keselip di sofa, ya?"


Hm. Lancar sekali bukan cara Aldef mengelak?


Beby tertawa pelan. "Tumben lo ngasih gue bentuk bunga matahari. Gue pikir, lo udah tahu kalau gue suka bintang."


Nah, lo. Alasan apalagi sekarang?


Aldef memang tahu. Sangat tahu bahwa Beby begitu mengagumi bintang. Maka dari itu, salah satu tempat favorit Aldef di dunia adalah rooftop. Karena dari sana, besar kemungkinan Aldef menatap satu obyek yang sama dengan Beby.


"Iya. Tadinya gue mau beli yang bintang, tapi nggak ada. Maaf, ya."


Beby tersenyum tulus. Ia mengulurkan jepit rambut di tangannya ke arah Aldef. "Pasangin."


"Hah?"


"Pasangin di rambut gue."


"Oh. Oke."


Aldef menarik kedua ujung bibirnya dengan sengaja. Menyamarkan ekspresi bingung yang membalut wajahnya. Lelaki itu menghela napas sejenak usai memasang jepit rambut bunga matahari di rambut Beby.


"Cantik," ucap Aldef seraya menatap Beby lekat-lekat.


Beby tersenyum sipu. Kedua permukaan pipinya mendadak terasa panas.


"Dih. Merah, dong, pipinya," goda Aldef sambil terbahak.


Beby yang merasa salah tingkah bergegas bangkit dari sofa. "Katanya mau house tour? Yuk!"


"Lo kalau salting gemesin banget ternyata, ya."


"Aldef!"


"Iya, Sayang. Yuk!"


Aldef memulai langkah terlebih dahulu. Beby yang mengekor dengan jarak selangkah di belakangnya diam-diam mengelus dada.


"Nal michige hae!" (Ini bikin gue gila!) gumam Beby sepelan langkah siput.


***


Daren mengempaskan tubuhnya ke kasur. Kegiatan hari ini sungguh melelahkan. Syuting dari pagi hingga siang, lalu dilanjut kuliah hingga malam hari. Pada akhirnya, Daren baru bisa rebahan sekitar jam sembilan malam. Jangan lupakan tugas yang sudah pasti menumpuk!


Lelaki itu melipat kedua lengan di belakang kepala, menjadikannya sebagai bantal. Bola matanya menatap langit-langit kamar. Tiga detik berikutnya, mata Daren terpejam.


Saat itu juga, bayangan akan wajah Beby dengan senyum merekah muncul seketika.


Alih-alih terkejut dan kembali membuka mata, Daren malah menikmatinya. Tanpa sadar, bulan sabit hinggap di bibir Daren.


Suara dering ponsel membuat Daren terpaksa menyudahi kenikmatan yang ia rasakan. Dengan malas, Daren meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Hm?"


"Lemes amat, Bang."

__ADS_1


Daren tertawa pelan. "Kenapa?"


"Skenario buat besok buruan dikirim."


"Lo pasti belum cek email, ya? Orang udah gue share ke semua kru."


Terdengar suara tawa Fahri di seberang sana. "Iya, nih. Gue masih di studio. Ngomong-ngomong, chemistry lo sama Beby keren banget, dah. Kalian sering latihan bareng?"


"Nggak." Daren mengubah posisi menjadi duduk. Lagi-lagi, seulas senyum berjuta makna menghiasi bibirnya.


"Masa, sih?"


"Iya. Gue sama Beby cuma profesional aja. Masalah chemistry, bonus."


Fahri mendesis panjang. "Kalau profesionalnya Beby, sih, gue percaya."


"Maksud lo apa ngomong gitu?"


"Jangan bilang, lo baper sama Beby."


***


Butuh perjuangan untuk Aldef meyakinkan Beby memasuki kamarnya. Setiap sudut apartemen Aldef telah terjamah indra pengelihatan Beby, hanya kamar pribadi sang pacar yang belum.


"Sky, ayo masuk!" Entah sudah berapa kali Aldef mengucap kalimat itu.


"Nggak apa-apa, nih, gue masuk?"


Aldef menghela napas sejenak. "Gue nggak akan ngapa-ngapain lo kali, Sky. Tuh! Lampunya juga terang gitu. Udah, ayo!"


Beby menatap Aldef lamat-lamat. Lelaki di sampingnya itu mengangguk pelan. Akhirnya, Beby melangkah masuk perlahan.


Kamar Aldef ini bisa dikategorikan rapi sebagai kamar laki-laki. Saat masuk, indra pengelihatan akan disambut sebuah kasur berukuran king size yang dibalut seprai warna abu-abu dan diapit nakas putih di samping kanan-kirinya. Sebuah dinding berbahan kaca yang dilapisi tirai hitam ada di sisi kiri kasur. Tepat di depan kasur, ada sebuah sofa panjang berwarna senada.


Di sudut kanan, terdapat sepasang meja dan kursi yang Beby duga adalah meja belajar. Karena ini lantai 20, baik pagi atau malam, view saat duduk di meja belajar itu akan sangat menakjubkan.


Di belakang kursi belajar, ada sebuah lemari dinding tiga pintu berbahan kayu warna coklat tua. Dan di tengah-tengah meja serta lemari, ada TV LED berukuran 32 inch lengkap dengan bufet di bawahnya.


Terakhir, adalah spot favorit Aldef: balkon. Ada dua buah kursi dan satu meja kecil di tengah-tengahnya. Aldef mengajak Beby untuk duduk di sana.


"Rasi bintang gemini bukan, sih?"


"Iya."


"Bintang lo, dong, berarti?"


Beby menoleh. "Kok, tahu?"


Aldef terkekeh pelan. "Hari ulang tahun lo bentar lagi, ya? Mau minta apa dari gue?"


"Nggak ada, sih. Gue cuma mau kita terus kayak gini. Dan gue mau, kita bisa lebih saling terbuka."


Kedua mata Aldef menyipit curiga. "Serem amat. Terbuka."


"Yeee!!! Bukan gitu maksud gue!" tukas Beby.


Lelaki itu tertawa renyah. Bukan tak menyadari, Aldef sangat paham bahwa ada makna tersirat di balik ucapan Beby. "Pasti, Sky."


Panggilan dari Miko membuat ponsel Beby berdering.


"Siapa?" tanya Aldef.


"Kak Miko."


Aldef tertawa. "Angkat aja."


Beby menekan tombol answer, lalu mengaktifkan loud speaker. Indra pengelihatannya saling bersitatap dengan bola mata Aldef.


"Udah dua jam, ya, Beby! Di mana lo?"


Kedua insan di bawah pantulan sinar rembulan itu mati-matian menahan tawa mendengar nada ketus dari suara Miko.

__ADS_1


"Gue lagi di—"


"Jangan bilang di jalan. Gue nggak percaya. Sharelock sekarang!"


"Apaan, sih, Kak? Gue udah di apartemen, kok, daritadi."


"Nggak usah bohong."


"Beneran."


"Gue daritadi di ruang tamu, ya. Nggak usah bohongin gue, deh, lo!"


Beby terbahak-bahak. "Gue di apartemen Aldef."


"Ngapain?!"


"Santai, dong!" seru Aldef seraya tertawa bersama Beby.


"Berani lo, ya, bawa-bawa adik gue tanpa izin. Balikin sekarang!"


"Emang gue barang mesti dibalikin?" sahut Beby.


"Buka pintunya. Gue di depan."


"Eh?"


"Eh?"


Aldef dan Beby saling menatap bingung. Dua detik berikutnya, mereka kembali terbahak-bahak.


"Buruan, Al. Kak Miko serem kalau ngamuk," ucap Beby di sela-sela tawanya.


"Oke-oke."


Mereka keluar dari kamar, lalu menuju pintu apartemen Aldef dengan langkah beriringan. Sejenak, Aldef dan Beby saling pandang. Keduanya mengangguk bersamaan, meyakinkan Aldef untuk segera membuka pintu.


Sosok Miko dengan tatapan setajam silet menghunus Aldef dan Beby begitu pintu terbuka. Tanpa aba-aba, Miko meraih pergelangan tangan Beby, lalu menyeretnya keluar.


Beby yang terpaksa mengekori langkah sang kakak menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Gadis itu memberi sinyal pada Aldef untuk melakukan panggilan setelah ini.


Tak lama kemudian, Beby dan Miko telah berdiri di ruang tengah apartemen mereka. Lelaki dalam balutan kaus merah itu melepas genggaman tangannya. Meski tak ada satu patah katapun keluar dari bibirnya, tapi Beby tahu, Miko sangat kesal sekarang.


"Besok gue nggak ada kelas. Lo berangkat bareng gue." Miko menghunus bola mata Beby dengan tatapannya. "Nggak ada penolakan! Gue udah dapat jadwal kegiatan lo dari Anggi."


"Oke." Beby menarik kedua sudut bibirnya selebar mungkin, berniat merayu.


"Besok-besok kalau lo mau masuk ke apartemen Aldef lagi, bilang dulu sama gue."


"Ngapain? Kan, nggak jauh—"


"Beby!"


"Iya-iya." Belum sampai di kamar, Beby cepat-cepat membalikkan badan. "Eh, Kak!"


"Apa lagi?"


"Dapat salam dari Lola." Beby buru-buru lari memasuki kamarnya. "KANGEN KATANYA!"


Melihat tingkah sang adik, Miko menggelengkan kepala heran. Senyumnya merekah tanpa Miko sadari.


"Untung lo adik gue, ya, By."


"Eh!" Sadar akan reaksi yang ia tunjukkan berbanding terbalik dengan yang seharusnya, Miko lantas menggelengkan kepala kuat-kuat. "Kok, gue malah senyum-senyum?"


"DIH!"


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2