ALDEBY

ALDEBY
|80.| Neo Chossarang


__ADS_3

"Oh, jadi ini alasan lo nggak bisa dihubungi dari tadi pagi? Lagi sibuk berduaan sama mantan?! Bagus, Sky! LANJUT!"


Arka yang mendengar hal itu sontak menatap bingung ke arah Beby dan Aldef. Sementara Beby tampak tidak peduli.


Aldef memasuki ruang rawat Arka. Lelaki itu meraih pergelangan tangan Beby, berniat menyeret gadis itu secara paksa.


"Ikut gue."


"Eits! Jangan kasar, dong," sahut Arka sembari menepis cengkraman tangan Aldef di pergelangan Beby.


"Nggak usah ikut campur," tegas Aldef sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Arka. Ia kembali menatap Beby. "Ikut gue!"


Begitu mendapatkan pergelangan tangan Beby, Aldef lantas menyeretnya keluar. Namun, gadis itu enggan beranjak dari posisinya. Beby berdiri. Manik matanya menatap tajam ke arah sang pacar.


Dengan sekuat tenaga, Beby menyentak sentuhan Aldef. "Lepas!"


"Gue mau ngomong sama lo, Sky."


"Apa? Ngomong apa?" Kedua mata Beby memerah. Aldef mendapati kilat amarah sekaligus rasa sakit di balik tatapan gadis itu. "Lo mau nyalahin gue? Karena apa? Karena lupa sama hari ulang tahun lo?"


'Deg!'


Mata Aldef membulat seketika. Apa maksudnya ini? Jadi, Beby ingat bahwa hari ini adalah hari ulangtahunnya? Lalu, mengapa gadis itu malah ada di sini?


Atau jangan-jangan ....


Aldef mengambil ponsel yang terselip di saku jaketnya. Lelaki itu menyodorkan layar ponsel yang menunjukkan foto Beby dan Arka di dalamnya.


"Ini bener lo?"


Beby melirik sejenak ke arah ponsel Aldef. Tiga detik kemudian, gadis itu mendengkus keras. "Kalau iya, kenapa?"


"Kenapa lo bilang? Sky! Gue di sini mati-matian berusaha untuk nggak balik ke sana! Gue pengin banget stay di sana, tapi lo nolak! Dan setelah lihat foto ini, 'kenapa' lo bilang?!"


"Boleh gue lihat fotonya?" Suara Arka menginterupsi. Namun, Aldef tak mengacuhkannya.


"Foto kita di studio foto," ujar Beby. Menjawab rasa penasaran Arka.


"Kayaknya, Aldef salah paham, deh."


"NGGAK USAH IKUT CAMPUR!"


"Lo yang nggak usah teriak-teriak! Ini rumah sakit!"


"So? Lo pikir gue peduli? Nggak, Sky! Gue nggak habis pikir, ya. Bisa lo kayak gini, Sky. Di saat gue khawatir sama lo, lo malah—"


"Yakin lo khawatir sama gue?" potong Beby. "Tadi gue lihat di apartemen, lo kayaknya fine-fine aja."


Satu lagi pernyataan yang membuat Aldef tercengang. Detik itu pula, Aldef menyadari sesuatu. Kue itu ....


"Sky, itu—"


"Apa?! Gue nggak boleh kelihatan berdua sama Arka, sedangkan lo bebas di apartemen sama Celine? GITU?!"


"Bukan gitu—Celine cuma ...."


"Cuma peluk-pelukan sama lo? Iya, 'kan?!" Beby tertawa sumbang. "Lo pikir selama ini gue nggak tahu? Lo sering jalan sama Celine. Ngajak dia nonton. Ngasih perhatian lebih. Pulang malem bahkan sampai nggak pulang waktu di rumah dia. Dan lo tahu yang paling parah?"


Beby meraih sesuatu dari dalam saku celana jeans-nya. Sebuah jepit bunga matahari pemberian Aldef. Gadis itu melemparkannya tepat ke dada sang pacar.


"Lo ngasih gue barang yang jelas-jelas itu punya Celine!"


"Sky, dengerin dulu—"


"Oh! Satu lagi. Lo bahkan pakai sebutan 'aku-kamu' sama Celine. Panggilan yang lo bilang lebay waktu gue minta."


"Sky—"


"ARGHHH!!!"


Ringisan itu membuat Aldef dan Beby kompak menoleh ke belakang. Beby yang melihat Arka menangkup kepalanya lantas menghampiri lelaki itu.


"Ar? Kamu kenapa?!"


Arka tak sanggup berkata-kata. Rasa sakit begitu hebat di kepala membuat lelaki itu hanya bisa meringis kesakitan.


"Biar gue panggil dokter," ujar Aldef yang lantas beranjak keluar.


"Please. Please, maafin aku, Ar." Beby memeluk Arka yang masih tampak kesakitan. Tangan gadis itu menjalar lembut di kepala Arka.


Beby tak kuasa menahan tangis. Semua ini salahnya. Arka pasti kesakitan sebab pertengkaran Aldef dan Beby. Andai saja gadis itu bersedia diajak keluar oleh Aldef tadi.


"Maaf, Ar."


"Sa-sakit, By."


Detik itu pula, kesadaran Arka menghilang.


***


Indra pengelihatan Beby menatap kosong pada gedung-gedung pencakar langit di hadapannya. Angin yang membaur dengan polusi seolah membuat kedua manusia itu malah betah duduk di area rooftop.


"Jadi, Arka sakit?"


Beby mengangguk singkat.


"Kenapa lo nggak kasih tahu gue?"

__ADS_1


"Gue juga baru tahu belakangan ini. Itu pun dari mantannya Arka yang waktu itu bantuin dia sandiwara di depan gue."


"Siapa mantannya?"


Beby menoleh sejenak. "Putri."


"Ohh ... Put—Putri?!" Aldef terbelalak. "Putri kakak gue?"


Lagi-lagi, Beby mengangguk. "Gue juga baru tahu kalau pacar Putri yang lo maksud itu bukan Arka."


Aldef manggut-manggut. Mengerti alur cerita yang Arka rangkai sedemikian rupa demi kebahagiaan Beby. Jujur, Aldef merasa salut pada mantan Beby itu. "Pantes reaksi lo waktu ketemu Putri kayak aneh gitu."


Terdengar helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Beby. Gadis itu bungkam. Kedua matanya menyipit, menghalau teriknya sinar matahari yang menyilaukan. Inilah alasan Beby lebih menyukai bintang kecil di malam hari daripada sang surya, sinarnya terasa menyakitkan saat dipandang langsung dengan mata telanjang.


"Sky, soal Celine ...."


Beby yang tiba-tiba menoleh membuat kalimat Aldef terpotong. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu saat mata mereka bersitatap. "Kenapa diem? Lanjutin. Gue mau denger."


"Soal Celine ... gue—"


Ponsel Aldef berdering. Saat Beby melirik ke sumber suara, nama Celine Anastasya terpampang jelas di sana. Beby kira, Aldef akan mengangkatnya, namun ternyata tidak. Lelaki itu menekan simbol telepon berwarna merah.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Beby.


"Karena gue mau nggak ada yang ganggu kita berdua."


Beby tertawa sumbang. "Bisa-bisanya lo ngomong gitu. Padahal, lo sendiri yang izinin Celine ganggu hubungan kita."


Aldef meraih kedua bahu Beby, lalu memutarnya hingga mereka berhadapan. "Soal Celine, gue minta maaf, Sky."


"Kenapa? Kenapa lo malah minta maaf? Padahal, gue berharapnya lo ngelak. Gue berharap semua tuduhan gue ke lo itu nggak benar."


Lelaki itu menghela napas berat. Ia melepas sentuhannya di bahu Beby. "Jujur, Sky. Gue ngerasa bingung sama perasaan gue sendiri. Gue nggak tahu hati gue sebenarnya punya siapa."


"Kayaknya, hati lo emang nggak pernah jadi punya gue, Al."


"Kok, lo ngomong gitu, sih?" Terdengar nada protes di balik kalimat Aldef barusan.


"Buktinya, lo ngerasa bimbang, 'kan? Sekarang gue tanya sama lo, apa yang bikin lo suka sama gue?"


"Karena ...."


Ponsel Aldef kembali berdering. Kali ini, panggilan dari Putri. Sama seperti telepon dari Celine tadi, Aldef memilih tak mengacuhkannya.


"Gue suka sama lo karena—"


Lagi. Benda bibih itu memotong kalimat Aldef. Membuat si empunya mendengkus keras.


"Angkat aja. Penting kali," ucap Beby.


Aldef pun dengan terpaksa menjawab panggilan ketiga dari Putri.


" .... "


Ekspresi Aldef langsung berubah. Raut muka kesal yang semula membingkai wajahnya, kini berubah menjadi tegang.


"Oke. Gue ke sana sekarang."


"Ada apa?" tanya Beby.


"Arka mau ketemu sama lo."


***


Celine memutar-mutar ponsel dalam genggamannya. Sejak beberapa saat lalu, kepalanya penuh oleh kata-kata Fahri. Celine merasa ragu.


Di tengah-tengah keraguan itu, sebuah panggilan masuk dari Fara. Celine pun lantas menekan tombol answer.


"Ya, Far?"


"Ini gue."


Punggung Celine yang semula bersandar di sofa lantas menegak. Ia tahu betul siapa pemilik suara ini.


***


Ruang ICU memang tempat yang lebih mengerikan daripada ruang jenazah. Nyawa seseorang yang berada di ambang hidup dan mati, suara mesin pendeteksi jantung, serta beragam alat penyangga hidup sejauh mata memandang.


Ya. Arka masuk ICU. Kabar itu membuat Beby yang semula ada di rooftop bersama Aldef melesat cepat ke ruang ICU. Di lorong depan ruangan itu, sudah ada Chika dan Putri yang tengah terduduk lesu.


Melihat kedatangan Aldef dan Beby, Putri berdiri. "Langsung masuk aja, By. Udah ditunggu sama Arka."


Beby menghela napas sejenak. Kemudian, ia mengangguk. Kakinya melangkah pelan memasuki ruang ICU. Tak lupa memakai pakaian steril terlebih dahulu.


Sosok Arka yang beberapa saat lalu berbincang hangat dengannya, kini terbaring lemah di atas brankar ruang ICU. Terdapat selang oksigen yang menyumbat lubang hidungnya. Kedua mata Beby memanas. Ini semua salahnya. Andai saja ia tak berdebat dengan Aldef di hadapan Arka, pasti lelaki itu baik-baik saja sekarang.


Jemari Beby bergerak lembut menyentuh pipi Arka. Membuat mata pria yang semula terpejam itu menjadi terbuka. Setetes air mata Beby mengenai permukaan pipi Arka.


Arka tersenyum. Dan hal itu membuat tangis Beby semakin pecah.


"Maaf, Ar. Maafin aku."


"Ssstttt ...." Tangan Arka yang dibalut infus bergerak menumpu jemari Beby di permukaan pipinya. "Jangan nangis, By. Aku nggak suka."


Lelaki itu memang dapat bicara dengan lancar. Namun, suaranya terdengar lirih dan lemah.


"Kamu ... kamu kayak gini pasti gara-gara aku tadi, ya?"

__ADS_1


Seulas senyum tipis kembali hinggap di bibir Arka. "Gwenchanna."


Dalam tangisnya, Beby tertawa sumbang. Arka ini benar-benar ....


"Kamu sedih karena kasihan, kan, By? Bukan karena kamu masih sayang aku, 'kan?"


Beby menggeleng kuat-kuat. "Aku nyesel, Ar. Aku nyesel dulu udah mutusin kamu. Aku nyesel udah ngasih hatiku sepenuhnya ke orang lain. Aku nyesel nggak bisa cinta lagi sama kamu. Aku—"


"Nggak boleh ngomong gitu, By. Kamu nggak boleh menyesali apapun yang udah terjadi. Semua yang kamu alami, itu takdir."


"Tapi, Ar ...."


"By, dengerin. Siapapun laki-laki yang mendampingi kamu nanti, janji sama aku, ya, By. Kamu harus bahagia. Kamu harus bisa ciptakan kebahagiaan kamu sendiri. Kamu jago beladiri, 'kan? Pakai itu kalau ada cowok yang berani nyakitin kamu. Termasuk Aldef.


"Beby, aku minta kamu datang ke sini, cuma mau mastiin. Kamu bener-bener udah move on dari aku, 'kan?"


Bagaimana Beby harus menjawab sekarang?


Memang benar, hati Beby telah sepenuhnya diambil alih oleh Aldef. Tapi, Beby pun tak ingin menyakiti hati lelaki di hadapannya dengan kenyataan itu.


"By, jawab ...."


Akhirnya, Beby mengangguk. Hal itu membuat Arka kembali tersenyum lebar. Senyum yang jelas sekali isyarat patah hati di dalamnya.


"Aku emang udah move on, Ar. Tapi, aku pernah mencintai kamu sedalam itu. Neo chossarang." (Kamu cinta pertamaku).


"Ara. Aku tahu aku cinta pertama kamu. Hal yang sama juga berlaku buat aku." (Aku tahu).


Bola mata Arka menyelami manik mata Beby semakin dalam. Jemarinya bergerak pelan mengusap jejak air mata di pipi Beby.


"Makasih, ya. Udah pernah cinta aku."


***


Butuh waktu yang sangat lama untuk akhirnya Beby memutuskan pulang. Ia ingin bersama Arka di sana. Beby ingin menebus semua waktu dan segala kesalahpahaman. Andai Beby bisa mengendalikan laju hatinya, ia ingin kembali bermuara ke arah Arka. Laki-laki yang rela mengorbankan kebahagiannya sendiri untuk Beby.


Gadis itu melangkah gontai memasuki kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 22.26 saat itu. Kedua mata Beby terasa seperti ketumpahan lem perekat. Bantal di atas kasurnya pun telah melambai manja. Tapi, Beby memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Sebelum itu, Beby mengambil pakaian ganti di lemari. Begitu tangan Beby membuka pintu, manik matanya lantas tertuju pada hoodie biru langit hadiah ulang tahun dari Arka.


Beby tersenyum tipis. Jemarinya bergerak meraih hoodie itu. Beby berniat memakainya malam ini.


Tak butuh waktu lama untuk Beby selesai membersihkan diri. Baru saja keluar dari kamar mandi, suara ketukan pintu kamar terdengar bersamaan dengan suara seseorang.


"By? Lo di dalam, 'kan?"


Itu suara Miko.


"Iya, Kak. Masuk aja."


Pintu kamar Beby terbuka. Menampilkan sosok Miko dalam balutan kemeja biru dongker. Lelaki itu menghampiri sang adik yang telah duduk di atas kasur.


"Kenapa?" tanya Beby.


"Gue udah denger semuanya dari Aldef."


"Soal?"


"Arka. Dan lo."


"Terus? Lo, kan, emang udah tahu dari awal."


"Kayaknya, bukan jawaban itu yang lo mau dari gue." Miko menatap lekat ke arah bola mata Beby. "Ada hal lain yang gue belum tahu, ya?"


"Aaa ... uuummm ...."


Kata-kata Beby tertahan. Jujur, Beby ingin mengutarakan segala kegundahan hatinya pada Miko. Tentang Celine, siapa Celine, bagaimana perasaan Aldef sekarang, pun tentang kejadian siang tadi. Namun, lidahnya seolah enggan membiarkan Beby melakukan hal itu.


"Apa?" tanya Miko.


"Nggak ada. Keluar sono, ah. Gue ngantuk." Beby mengambil posisi baring dengan arah membelakangi Miko.


"Yakin?"


"He'em. Jangan lupa tutup pintu."


"Oke."


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu ditutup. Beby lantas menoleh. Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasannya saat sosok Miko tak terjangkau indra pengelihatan.


"Oh, ya, By."


Suara itu refleks membuat Beby menoleh ke arah pintu. Tampak sosok Miko yang tengah menyembulkan kepala.


"Wae?"


"Tadi gue lihat Aldef mau keluar. Kira-kira dia ke mana, ya, malam-malam gini?"


Detik itu pula, satu nama terlintas dalam otak Beby.


"Bodo amat. Gue ngantuk."


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2