
Beby berlari menyusuri koridor rumah sakit. Tak peduli pada orang-orang yang beberapa kali ia tabrak. Pun tak peduli dengan luka di bahu kirinya yang masih terasa perih. Air mata Beby semakin deras seiring kakinya melangkah. Hingga sampai di depan ruang jenazah, Beby berhenti.
"Kita bisa balik kalau lo mau," ucap Aldef yang senantiasa menemani sang pacar.
Beby menghela napas sejenak, memasok oksigen di paru-parunya yang mulai terasa menipis. Gadis itu menoleh ke arah Aldef. "I'm okay."
Perlahan, keduanya melangkah masuk. Di dalam sana, sudah ada Miko dengan kedua mata sembab dan tangan kanan yang di-gips. Melihat kedatangan adiknya, Miko lantas mendekat. Tangan kirinya yang bebas meraih jemari Beby. Berharap sisa kekuatan yang ada dalam diri Miko dapat tersalurkan.
Tatapan Beby terpaku pada dua jenazah yang tertutup kain putih. Kakinya melangkah pelan ke arah sana. Tangannya yang gemetar hebat berusaha meraih bagian terasa kain. Perlahan, Beby membuka kain putih itu.
"Ma ...."
Tangis Beby pecah saat itu juga. Otot-otot syaraf di lututnya seolah lumpuh. Gadis ber-hoodie coklat muda itu beringsut di samping jenazah sang ibu.
Aldef yang melihat hal itu berniat untuk menghampiri Beby. Namun, Miko mencegahnya. Laki-laki itu tahu bahwa Beby masih ingin di sini. Gadis itu belum melihat ayahnya.
Beby berusaha bangkit. Ia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk berdiri. Beby menyeret paksa langkahnya menuju samping, tempat jenazah Billy berada. Tangan Beby gemetar begitu hebat. Isakan tangisnya kian terdengar keras nan memilukan.
Lagi-lagi, Beby beringsut usai membuka kain putih yang menutupi wajah Billy. Untuk kali kesekian, Beby berusaha bangkit. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya secara paksa. Tangannya yang gemetar menyentuh permukaan pipi sang ayah. Sensasi dingin bak es batu menjalari kulit Beby. Air matanya semakin mengalir deras.
"Pa ... Beby—" Kalimatnya terpotong, seolah ada sesuatu yang menyekat pita suara Beby. Namun, gadis itu tak ingin menyerah. Ia yakin, bahwa lelaki hebat yang biasa Beby panggil papa dapat mendengar suaranya.
"Papa ngapain tidur di sini? Pulang sama Beby, yuk, Pa. Kita tidur di rumah aja. Jangan di sini. Pa ...."
Beby menarik napas dalam-dalam. Lalu, mengembuskannya secara perlahan. Ia kembali menarik kedua sudut bibirnya secara paksa. "Beby ikhlas, Pa."
"Papa yang tenang di sana, ya. Papa, adalah ayah terhebat yang pernah Beby punya. Makasih, karena udah jadi papa yang baik buat Beby."
"Beby sayang Papa."
Masih dalam keadaan gemetar, tangan Beby menutup kembali wajah sang ayah dengan kain putih yang tadi ia buka. Setelah selesai, Beby beralih pada jenazah Maya.
"Ma, masih inget nggak, kapan terakhir kali kita nonton drakor bareng? Tahun lalu kayaknya, ya?" Beby tertawa getir. "Udah lama banget, ya, Ma. Pengin, deh, nonton drakor bareng lagi sama Mama. Tapi ..., udah nggak bisa, ya, Ma?"
Di hadapan Maya, Beby kembali terisak. Ia sengaja menumpahkan segala kesedihan dalam dirinya.
"Gwenchanna. Beby tahu ini udah takdir Allah. Beby juga tahu kalau Mama pun nggak mau ninggalin Beby secepat ini."
"Beby ikhlas, Ma." Beby kembali menarik kedua ujung bibirnya secara paksa. "Makasih, udah jadi Mama terhebat buat Beby. Mama yang seru. Temen-temen Beby sampai banyak yang iri."
"Saranghae, Eomma." (Aku mencintaimu, Ibu).
Tepat setelah mengucap dua kata itu, pandangan Beby menggelap.
***
Suara ambulance yang riuh-redam membuat kedua mata Beby perlahan terbuka. Kepalanya terasa pening dan berat, seolah ada batuan besar yang menghantam. Hal yang pertama kali tertangkap indra pengelihatan Beby adalah suasana di balik mobil. Di luar sana, bertabur bintang-bintang kecil kesayangan Beby yang menunjukkan bahwa matahari sedang beristirahat.
Gadis itu ada di jok bagian tengah. Sementara di depan sana tampak sosok Aldef yang tengah mengemudi, dan Miko di samping kirinya. Beby menoleh ke samping. Ternyata, dirinya diapit oleh Kiran dan Lola.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?"
Suara serak Beby lantas membuat seisi mobil mengarah padanya.
"By, lo udah sadar?" tanya Kiran.
"Lo nggak apa-apa, 'kan? Ada yang sakit?" sahut Lola.
Merasa tak ada kalimat yang menjawab pertanyaannya, Beby menatap ke arah Miko. "Kak, kita mau ke mana?"
"Surabaya," jawab Miko. "Kak Indra minta mama dan papa dimakamin di sana."
Detik itu juga, Beby menyadari apa yang sedang terjadi. Sensasi panas lantas menjalar di kedua mata Beby. Gadis itu menunduk dalam, menikmati duka mendalam atas kepergian kedua orang tuanya.
Tak ada yang bersuara dalam satu mobil itu. Hanya isakan tangis Beby yang sesekali terdengar. Sementara itu, Kiran dan Lola menyalurkan kekuatan pada sahabat mereka lewat sentuhan.
Malam ini, bintang-bintang di langit tampak redup. Seolah turut berduka atas kepergian kedua orang tua Beby.
***
Prosesi pemakaman Billy dan Maya berlangsung hikmat. Semilir angin yang menyatu dengan keheningan membuat siapapun dapat merasakan kehilangan.
Para wanita tinggal di rumah. Sementara para lelaki ke pemakaman. Termasuk Miko, Indra, Aldef, dan Fahri. Tak seperti para wanita di rumah, suara isakan tangis tak terdengar di sana. Namun, mata mereka memerah, menunjukkan luapan kesedihan yang bersumber dari lubuk hati terdalam.
Usai proses pemakaman, para peziarah mulai berhamburan, keluar dari area makam. Tepat saat itu pula, ponsel dalam saku celana Aldef yang sengaja diaktifkan mode silent bergetar.
"Mau ke mana?" tanya Fahri saat melihat Aldef hendak beranjak dari tempatnya.
Tanpa mempedulikan Fahri, Aldef melenggang pergi. Lelaki berpakaian serba hitam itu melangkah cukup jauh dari lokasi pemakaman. Setelah itu, barulah ia mengangkat telepon dari gadis yang berstatus sebagai mantannya.
"Hallo?"
"Lama banget angkat teleponnya. Lagi sama Beby, ya?" Terdengar nada menggerutu di balik suara Celine. Entah mengapa, Aldef merasa tak enak hati karenanya.
"Lagi di pemakaman."
"Oh. Udah dimakamin orang tua Beby?"
"Iya."
"Kasian, ya, Beby. Dia pasti sedih banget. Aku pernah ada di posisi itu soalnya."
"Tapi, Beby masih mending, sih. Dia punya dua kakak yang pasti bakal jagain dia. Beby juga punya kamu sebagai pacarnya. Sedangkan aku?" Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. "Beby beruntung banget."
"Cel ...."
"Al!" Panggilan yang bersumber dari Miko itu membuat Aldef menoleh ke belakang. "Ayo balik!"
"Duluan aja, Kak," sahut Aldef dengan sedikit teriak.
__ADS_1
"Bener?"
Aldef mengangguk.
"Ya udah kalau gitu. Gue duluan, ya."
Melihat Miko dan komplotannya sudah pergi, Aldef kembali melanjutkan obrolan bersama Celine.
"Hallo?"
"Siapa tadi?"
"Kak Miko."
"Kakaknya Beby?"
"Iya."
"Deket kamu sama dia?"
Aldef terkekeh pelan. "Ya ... lumayanlah. Lebih sering berantem tapi. Kak Miko posesif banget soalnya sama Beby."
"Al, mungkin nggak, sih, kalau kita kayak dulu lagi?"
Aldef diam. Ia paham benar ke mana arah pembicaraan Celine. Jika ditanya seperti itu, Aldef pun tak tahu jawabannya. Lelaki berumur 22 tahun itu bahkan masih bingung dengan perasaannya sendiri.
"Maaf, Al. Aku ngaco ngomongnya. Udah dulu, ya. Titip salam buat Beby. Sampaiin turut berdukacita dari aku."
"Thank's, Cel."
"Cepet balik, Al. Aku kangen."
Lagi-lagi, Aldef hanya bisa terdiam. Tanpa sadar, helaan napas berat keluar dari saluran pernapasannya.
"Bye, Al."
"Bye."
Telepon berakhir. Aldef menegakkan badan. Pundaknya tiba-tiba terasa berat. Seperti ada batuan besar yang menimpa. Baru saja Aldef balik badan, hendak kembali ke rumah Beby, seseorang mengejutkannya.
"Habis telepon siapa?"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️