ALDEBY

ALDEBY
|11.| Jomlo dan Baperan


__ADS_3

..."Badai memang pasti berlalu. Tapi, tak mudah menata kembali segala yang porak-poranda akibat badai itu."...


...***...


Akibat insiden tenggelamnya Beby, pemotretan ditunda hingga esok hari. Usai mengganti pakaian, Beby meminta Aldef untuk mengantarnya pulang. Tadinya, Anggi dan para kru pemotretan ingin Beby istirahat sejenak sembari menghangatkan tubuh. Namun, gadis itu menolak. Bagaimanapun, ia tak ingin Miko tahu tentang peristiwa buruk ini.


Terlepas dari itu semua, Beby hanya ingin istirahat di dalam kamarnya. Lagipula, indra pengelihatannya akan terus menuju ke arah Fara jika Beby tak segera enyah.


"Kita makan siang dulu, ya?" ucap Aldef setelah sepuluh menit terbelenggu dalam keheningan. Pria itu memutuskan untuk mengendarai mobil Beby, sementara mobilnya akan diantar oleh salah seorang kru FS Agency.


Beby menggeleng, menjawab pertanyaan Aldef secara non-verbal. Tatapannya tak beralih pada kaca jendela mobil yang menampilkan suasana jalanan Ibu Kota di sekitarnya.


"Tapi lo belum makan tadi," kata Aldef.


Mendengar adanya sedikit paksaan dari nada bicara Aldef, Beby menoleh. Gadis itu menatap pria di sebelahnya lekat-lekat, membuat Aldef merasa kikuk.


"Kenapa lo lihatin gue gitu?" Aldef sedikit salah tingkah.


"Kenapa lo peduli sama gue?"


Pertanyaan Beby membuat kedua alis Aldef bertaut heran. "Kok, lo nanya gitu?"


"Lo suka sama gue?"


Deg!


Pertanyaan itu bagaikan bom waktu yang baru saja meledak dan membuat gendang telinga Aldef mendadak rusak. Empat kata yang terdengar biasa, namun berdampak luar biasa untuk hati Aldef.


Aldef tertawa, membuat kedua alis Beby bertaut heran.


"Ada yang lucu?" tanya Beby heran.


Sejenak, Aldef menoleh untuk melihat ekspresi Beby. "Ada," jawab Aldef. "Lo yang lucu."


Beby tertawa kecil. Kali ini, Adef yang dibuat heran. Mengapa gadis itu tiba-tiba tertawa?


"Dari lahir muka gue emang lucu," ucap Beby, seolah menjawab pertanyaan yang belum sempat Aldef lontarkan. Gadis itu menatap Aldef lekat-lekat. "Karena itu, lo suka, kan, sama gue?"


"Ngarep banget lo, ya."


"Enak aja!"


"Gue nggak suka sama lo."


"Terus, kenapa lo peduli sama gue?"


Demi keselamatan bersama, Aldef menepikan mobil ke sisi kiri. Kini, pria itu dapat leluasa menatap gadis di sampingnya.


"Kenapa berhenti?" Beby kembali dibuat heran.


Sembari mengunci manik mata Beby dengan tatapannya, Aldef berkata, "Memang kalau kita peduli sama orang, harus suka dulu?"

__ADS_1


Jujur, cara Aldef menyelami bola mata Beby membuat jantung gadis itu terasa berdegup cepat. Namun, berkat bakat terpendam Beby dalam ber-akting, ia mampu mengendalikan diri agar tak salah tingkah di hadapan Aldef.


"Ya ... nggak harus, sih," jawab Beby.


"'Sih?'" Kedua alis Aldef bertaut heran.


"Iya. Peduli sama orang lain memang nggak harus berdasarkan rasa suka. Tapi ...."


Beby sengaja menggantungkan ucapannya. Melihat ekspresi Aldef saat ini, entah mengapa manik mata Beby seolah tertarik untuk mengamatinya lebih dalam.


"Tapi?" tanya Aldef, sebab Beby tak kunjung meneruskan kalimatnya.


"Tapi masalahnya gue jomlo."


Jawaban Beby membuat tautan antara kedua alis Aldef semakin rapat. Pria itu terkekeh pelan. "Ya terus kenapa kalau lo jomlo?"


"Gue jomlo ... dan baperan." Beby diam sejenak. Jangan dikira Beby mengucap kalimat barusan dengan lancar. Nyatanya, ia perlu ribuan kali latihan dalam hati untuk mengakui hal ini pada Aldef. "Jadi, kalau lo nggak bersedia untuk tanggung jawab. Jangan terlalu baik sama gue."


Aldef masih mengunci bola mata Beby. Lelaki berumur 22 tahun itu berusaha mencari sarat bercanda di balik jendela hati gadis di hadapannya. Namun, Aldef tak menemukan yang ia cari. Rupanya, Beby berkata jujur.


"Ekhem!" Aldef berdeham, membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering. "Kalau gue mau tanggung jawab, gimana?"


Beby tersenyum tipis. "Kalau lo mau tanggung jawab, gue yang nggak."


"Sialan!"


***


"Lho, kok, udah pulang, By? Udah selesai pemotretannya?" Miko yang semula asyik bermain game online di ponsel lantas beranjak dari tempat saat melihat kedatangan Beby.


Tangan Miko mengangkat dagu sang adik. Manik matanya menatap lekat tiap inci wajah Beby. "Muka lo, kok pucet? Sakit?"


Beby menggeleng sembari tersenyum tipis. "Gue nggak apa-apa."


'Ding dong!'


Suara bel yang menggema di seluruh sudut apartemen membuat indra pengelihatan Miko dan Beby kompak menoleh ke ambang pintu.


"Biar gue aja," ucap Miko yang dijawab anggukan oleh Beby.


Sementara Miko menerima tamu, Beby memilih untuk masuk ke kamarnya. Gadis itu memastikan pintu terkunci rapat. Kemudian, langkah kakinya menuju ke arah lemari.


Di dalam lemari itu, ada sebuah laci yang terdapat botol kaca warna hitam transparan.


Beby menghela napas sejenak. Tak ada pilihan lain, Beby merasa sangat membutuhkan benda dalam botol itu sekarang.


Dengan mata yang menatap lekat pada botol kaca itu, Beby mengambilnya. "Satu butir nggak masalah, 'kan?"


***


Beberapa menit sejak Aldef berdiri di antara pintu apartemennya dan Beby. Kaki Aldef hanya mundar-mandir di sana. Aldef membiarkan pintu unit apartemennya sedikit terbuka.

__ADS_1


Tak lama kemudian, yang sejak tadi ia tunggu datang. Sampai di parkiran tadi, Aldef diam-diam memesan nasi goreng seafood tanpa sayur melalui aplikasi bernuansa hijau yang biasa disebut Go-food.


Setelah mengucap terima kasih pada kurir yang telah mengantar, Aldef melangkah lebih dekat ke unit apartemen Beby.


Pria itu menghela napas sejenak, mengatur detak jantungnya yang tak berirama. Setelah merasa tenang, barulah Aldef menekan tombol bel di samping kanan pintu.


Begitu pintu terbuka, Aldet dibuat heran sebab yang ia lihat bukan sosok Beby. Melainkan seorang pria bertubuh jangkung dengan tinggi badan sedikit di atasnya.


"Siapa lo?" tanya Aldef setelah cukup lama keduanya melempar tatapan saling menilai.


"Harusnya gue yang nanya sama lo. Lo siapa?"


"Lo ngapain di apartemen Beby? Mau macem-macem ya lo?! Di mana Beby?!" Entah mendapat dorongan dari mana, nada bicara Aldef tiba-tiba naik beberapa oktaf.


Rahangnya mengeras. Bibirnya terkatup rapat. Membayangkan Beby bersama seorang pria di dalam sana, entah mengapa membuat emosi Aldef tersulut.


Miko tertawa. Merasa aneh melihat reaksi lelaki di hadapannya. "Jelas gue di apartemen Beby. Orang gue tinggal di sini. Gue—"


'Bugh!'


Sebuah pukulan telak mendarat mulus di pipi kiri Miko, membuat pria itu tersungkur ke lantai. Miko diam sejenak, tangannya sibuk menekan sudut bibirnya yang berdarah.


Tak lama, Miko berdiri. Menatap tajam pada lelaki asing di hadapannya. "LO APA-APAAN?!"


"LO YANG APA-APAAN?! DI MANA BEBY?! LO APAIN DIA?! HAH?! JAWAB!"


"Nyari ribut lo ya!" geram Miko.


'Bugh!'


Kali ini, satu pukulan mendarat di wajah Aldef. Tak terima dengan hal itu, Aldef pun membalas. Lalu, terjadilah perkelahian di antara mereka.


"STOP!"


Teriakan itu membuat aksi saling baku hantam antara Miko dan Aldef terhenti. Mereka sama-sama mengarahkan pandangan ke sumber suara dan menangkap sosok Beby dalam balutan piama warna biru langit di sana.


"Kalian ngapain, sih?" Beby menatap geli pada Miko dan Aldef.


Sadar akan arti tatapan Beby, Miko dan Aldef yang semula saling menindih pun bangkit berdiri.


Beby menghela napas panjang. Gadis itu melangkah lebih dekat ke arah dua lelaki yang berdiri di ambang pintu apartemennya.


"Ada apa, sih, Kak?" tanya Beby sembari menatap Miko.


"KAK?!" jerit Aldef. "DIA KAKAK LO, BY?!"


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka!


Thank you ❤️


__ADS_2