ALDEBY

ALDEBY
|57.| Opportunity Cost


__ADS_3

Lokasi selanjutnya, Beby memilih untuk nonton di salah satu platform. Kebetulan, di mobil ada laptop Aldef. Sebelum itu, Aldef dan Beby membeli beberapa camilan di mini market. Mereka memilih taman sebagai lokasi untuk nonton. Lebih tepatnya, di area parkir taman, karena Aldef dan Beby berencana nonton di dalam mobil. Tentu saja, dengan mesin mobil mati dan semua kaca jendela terbuka.


"Mau nonton apa?" tanya Aldef. "Drakor?"


"Kayaknya, gue mau coba film Indo, deh."


"Judulnya?"


"Assalamualaikum Calon Imam."


"Waalaikumsalam, Sayang."


Beby menatap Aldef dengan mata melotot. Melihat reaksi sang pacar, kening Aldef mengernyit heran. "Kenapa? Kok, kaget gitu? Bener, kan? Ada orang salam, tuh, dijawab."


Beby yang tersadar dari rasa terkejut akibat ulah Aldef tadi lantas memukul bahu sang pacar. "Itu judul filmnya!"


"Oh." Mulut Aldef membentuk huruf O. Tawanya lepas seketika. "Kirain lo lagi ngucap salam ke gue."


Sembari mencari film yang Beby maksud, Aldef bertanya, "Dapat rekomendasi film ini dari mana?"


"Dari ...."


Ucapan Beby terjeda. Ia baru menyadari ada kesalahan di sini. Harusnya, bukan judul itu yang ingin Beby tonton. Sebab, judul film itu mengingatkan Beby pada sang mantan.


Satu bulan sebelum putus.


"Lagi di mana?" tanya Beby saat ia dan Arka terhubung melalui telepon.


"Di rumah."


"Tumben. Biasanya, kalau nggak di rumah sakit, di kampus."


Arka tertawa renyah. "Lagi pengin istirahat. Ini lagi nonton film."


"Film apa?"


"Assalamualaikum Calon Imam."


"Bagus nggak?"


"Kata temen-temen, sih, bagus. Mau nobar?"


"Emang bisa?"


"Besok malam aku ke apartemen kamu."


***


Keesokan harinya.


Tepat di akhir episode 2 Arka dan Beby nonton, ponsel Arka berdering.


"Ya, Prof? Baik. Iya. Saya ke sana sekarang."


Telepon terputus. Arka menatap penuh sesal ke arah Beby yang tersenyum manis padanya. "Maaf."


"It's oke. Pokoknya, aku bakal tunggu kamu. Kita harus nonton ini sampai habis."


"Bagus. Harus tamatin filmnya bareng calon imam kamu, ya."


"Oh, ini series, ya?"


Satu detik.

__ADS_1


Dua detik.


Tiga detik.


Tak ada jawaban dari Beby. Aldef yang semula menatap ke layar laptop, menoleh ke arah kiri. Pantas saja gadis itu diam. Tatapannya menyiratkan pikiran Beby sedang tak ada di tempat. Melihat sang pacar melamun, membuat satu nama terlintas dalam benak Aldef tentang orang yang merekomendasikan series berjudul 'Assalamualaikum Calon Imam' pada Beby: Arka.


Tangan kiri Aldef menyentuh pelan bahu Beby. "Sky ...."


"Hah? Ya? Kenapa?"


Aldef tertawa pelan. "Kenapa ngelamun?"


"Ah ...." Beby menarik kedua ujung bibirnya secara paksa. "Nggak. Nggak kenapa-kenapa." Manik matanya beralih ke layar laptop Aldef. "Udah nemu filmnya?"


***


Waktu menunjukkan pukul 04.55 saat Beby mengajak Aldef ke lokasi selanjutnya. Tentu saja series yang mereka tonton belum tamat. Hari ini, Beby ingin melihat bintang kecilnyanya muncul menggantikan tugas si bintang besar, alias matahari. Maka dari itu, di sinilah mereka berada sekarang.


Suara debur ombak yang menyatu dengan angin sore, pasir putih yang berperan sebagai karpet lantai, serta genggaman tangan dan bahu Aldef yang terasa hangat. Semua itu bagaikan kenyamanan berlipat ganda yang belum pernah Beby rasakan.


Tentu saja, tak terkecuali dengan Arka.


"Lo suka senja, Sky?" tanya Aldef di sela-sela hikmatnya ia merasakan angin yang menampar lembut pori-pori wajahnya.


"Biasa aja," jawab Beby tanpa mengubah posisi sedikitpun.


"Terus? Kenapa lo ngajak gue ke sini?"


"Buat ngucap selamat istirahat, sekaligus nyambut kedatangan benda langit kesayangan gue."


"Maksudnya?"


Beby yang semula bersandar di bahu Aldef, kini menegakkan badan. Manik matanya menerobos masuk ke dalam mata hitam sang pacar. "Selamat istirahat buat matahari tenggelam, sambutan buat bintang."


Beby tertawa. "Kalau lo sendiri, suka senja?"


"Suka."


"Oh, ya? Tapi, dari muka lo, nggak ada tanda-tanda orang yang suka senja."


Giliran Aldef yang tertawa. "Emang orang suka senja ada tanda apa di mukanya?"


"Nggak ada, sih. Gue asal aja."


Aldef menatap lurus ke arah matahari yang beranjak tenggelam. Lelaki itu menghirup udara banyak-banyak, lalu mengembuskannya secara perlahan. Suara angin berembus yang menjadi backsound keheningan di atas pasir itu membawa ketenangan dalam jiwa Aldef. Membawa sejenak semua memori tentang kejadian-kejadian tak terduga yang terjadi belakangan ini.


"Sky, lo percaya takdir?"


"Percaya, lah. Kalau nggak percaya takdir, itu berarti kita nggak percaya Tuhan. Ada yang bilang, hidup itu seperti pertunjukan. Kita cuma sedang memerankan sebuah karakter tokoh, sedangkan Tuhan pengatur skenarionya. Kalau kita nggak percaya Tuhan, peran yang kita mainkan pasti gagal."


"Tapi, takdir nggak terjadi gitu aja, 'kan?"


"Pastinya. Takdir ada karena manusia memilih. Dulu waktu SMA, ada konsep ilmu ekonomi yang menjelaskan kenapa dia harus dipelajari. Karena di dunia ini, kebutuhan manusia itu nggak terbatas. Sedangkan alat pemuas kebutuhan terbatas."


"Maksudnya?"


Beby tertawa renyah. "Lo pasti anak IPA, ya?"


Aldef menggeleng. "Gue anak IPS. Tapi sering bolos. Sekalinya di kelas waktu jam pelajaran, gue tidur."


"Dasar!"


"Hahaha. Lanjut-lanjut. Jadi, kenapa kalau alat pemuas kebutuhan manusia terbatas?"

__ADS_1


"Nah, karena alat kebutuhan manusia terbatas, mau nggak mau mereka harus milih. Dari pilihan-pilihan itu tadi, lahirlah skala prioritas, kebutuhan mana dulu yang harus dipenuhi. Terus, di antara pilihan-pilihan tadi, nggak mungkin kita bisa pilih semua. So, pilihan yang nggak kita ambil tadi disebut biaya peluang. Biasanya, sih, disebut Opportunity Cost."


"Hubungannya sama takdir?"


"Setiap pilihan yang kita pilih itu punya risiko yang beda-beda. Kayak hubungan kita contohnya. Pasti beda, kan, kalau gue milih nerima atau nolak lo?"


Aldef mengangguk.


"Hal yang sama berlaku juga buat lo. Lo pasti nggak akan di sini sekarang, kalau nggak minta gue jadi pacar lo."


"Kalau gue milih dengerin penjelasan lo tadi, kita pasti nggak ada di sini sekarang," ujar Beby dalam hati.


***


Dalam rangka memberi makan untuk cacing-cacing di perut yang meronta-ronta, Aldef dan Beby memutuskan untuk singgah di Lomera Cafe.


"Eh, itu Lola sama Fahri, 'kan?" tanya Beby pada Aldef yang berdiri di sebelahnya.


"Iya," jawab Aldef. Terdengar nada lesu di balik suaranya, namun Beby tak menyadari hal itu.


Mereka melangkah menuju meja berisi enam orang yang sudah ada Lola, Kiran, Fahri, dan Daren.


"Eh, yang lagi ultah, nih!" seru Lola, sebab gadis itu yang terlebih dahulu melihat kedatangan sahabatnya beserta sang pacar.


Seruan Lola itu membuat ketiga pasang mata lainnya menoleh. Saat itu pula, tatapan Aldef dan Fahri bertemu. Ia mengambil posisi di samping kiri Beby yang sudah duduk terlebih dahulu.


"Gimana tadi acara candle light dinnernya?" tanya Kiran dengan tatapan menggoda pada Aldef dan Beby.


Sepasang kekasih itu saling tatap sejenak. "Lancar," sahut Beby sambil tersenyum lebar. "Thank's kalian udah bantuin Aldef."


"By, ini dari gue buat lo," kata Daren seraya mengulurkan sebuah kotak berwarna krem polos. "Happy birthday, ya."


"Thank's, Ren." Beby pun menerima hadiah ulang tahun dari Daren seraya mengulas senyum ramah.


"Lah? Nih orang ngapain?"


Suara bernada sewot itu berasal dari Lola, sebab ia melihat kedatangan Miko. Tanpa menggubris Lola, Miko mengambil posisi di samping kanan Beby.


"Gue ke toilet dulu. Mendadak badmood," ucap Lola sambil menatap tajam ke arah Miko.


"Aneh," gumam Miko.


"Aldef, muka lo kenapa babak belur gitu?" Pertanyaan Kiran lantas membuat tatapan seisi meja berpusat pada Aldef.


"Tadi ada yang ganggu gue. Terus, dihajar, deh, sama Aldef," sahut Beby cepat.


Tentu saja, tak ada yang percaya dengan jawaban Beby. Kecuali Daren.


Lalu, kelima orang di meja itu kembali berbincang-bincang seputar ulang tahun Beby. Fahri dan Aldef kerap saling tatap. Seolah tengah berbincang di dalam batin. Miko yang enggan nimbrung pun memilih untuk memainkan ponsel.


Tak lama kemudian, Lola kembali. "Al, ada yang nyariin, tuh," ucapnya sambil menatap ke seseorang di belakang Aldef.


Semua orang kompak menoleh, termasuk Beby. Kedua mata Aldef membulat sempurna saat melihat seorang gadis berambut sebahu di hadapannya.


"Poppy ...."


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2