ALDEBY

ALDEBY
|51.| Opsi Kedua


__ADS_3

Lima belas hari berlalu.


Beby semakin sibuk dengan kegiatannya. Sementara Aldef masih bingung dengan hatinya yang bercabang. Kepedulian dan waktu untuk Beby memang tak pernah kurang, tapi rasa simpati untuk Celine juga tak hilang. Aldef pun masih membantu sang mantan untuk mencari pendonor ginjal. Meski Aldef berulang kali menegaskan ia membantu Poppy, tapi hatinya  tak mengelak kenyataan bahwa Aldef tak ingin Celine cemas.


Tiga puluh menit menuju detik-detik bertambahnya umur Beby. Aldef pun telah menyiapkan segalanya dengan sempurna. Mulai dari kue ulang tahun, kado, hingga rooftop yang ia sulap menjadi tempat untuk candle light dinner.


"Thank's, ya, udah bantuin gue," ucap Aldef pada Miko, Rama, Fahri, Kiran, dan Lola.


"Belum selesai tugas gue. Ntar aja makasihnya," sahut Fahri.


Aldef terkekeh pelan. "Thank's, Bro."


Di sini, Fahri bertugas sebagai dokumentasi. Ia yang akan mengabadikan memon ulang tahun Beby nanti. Kiran dan Lola yang akan membawa Beby ke rooftop. Sementara tugas Miko dan Rama selesai di sini. Sebagai kakak Beby, Aldef tak ingin banyak merepotkan lelaki itu.


Istilah kasarnya, pencitraan.


"Kalau gitu, kita tinggal ke bawah dulu," ucap Kiran.


"Gue juga mau ke toilet bentar," kata Fahri.


Sepakat, mereka semua turun dari rooftop. Meninggalkan Aldef yang menikmati sensasi dingin menyejukkan angin malam di sana. Bayangan akan senyum menawan Beby, membuat Aldef turut tersenyum lebar.


Tiba-tiba, ponsel dalam saku kemejanya berdering. Nama Celine terpampang di sana. Meski ragu, namun Aldef tetap menekan tombol answer.


"Hallo?"


"Kak, ini Poppy."


Kedua alis Aldef bertaut heran mendengar suara sesenggukan di seberang sana. "Ada apa?"


"Kak ... tolong ... tolongin kak Celine ...." Isak tangis Poppy terdengar makin sesenggukan. Napasnya pun berat.


"Tunggu. Gue ke sana sekarang."


***


Fahri bergegas keluar usai menuntaskan aktivitas di toilet. Tangan Fahri bergerak menekan kenop pintu, hendak membuka keluar. Tapi ....


"Kok, nggak bisa?"


Sekali lagi, Fahri mencoba membuka pintu toilet. Namun tetap saja, sekeras apapun Fahri mencoba, pintu toilet itu tetap enggan terbuka.


"Woyyy!!! Ada orang nggak di luar?! Tolong, dong!!! Pintunya kekunci!!!"


Satu detik.


Tiga detik.


Lima detik Fahri menunggu, tak ada seorang pun yang menyahut dari luar.


Lelaki itu merogoh saku celananya, mencari ponsel.


"Astaga!" seru Fahri seraya menepuk jidatnya sendiri. "Handphone gue ketinggalan di rooftop."


Tak ingin menyerah, Fahri kembali menggedor-gedor pintu toilet sambil teriak, "Tolonggg!!! Ada orang di luar?! Bukain, dongggg!!!"


Sementara Fahri terus menguras pita suara dan tenaganya, seseorang bertopi hitam dengan hidung dan mulut yang tertutup masker di depan pintu luar toilet tersenyum licik.


***


Tadinya, Beby berniat untuk begadang, namun aktivitas yang padat membuat mata Beby berat hingga gadis itu ketiduran di sofa ruang tengah apartemennya.


Miko dan Rama yang melihat hal itu terlebih dahulu saling bertukar pandangan.


"Biar kita aja yang bangunin, Kak," ucap Kiran.

__ADS_1


"Kalau gitu, gue sama Rama ke kamar, ya," balas Miko.


Kiran mengangguk. Sedangkan Lola yang menganggap Miko makhluk tak kasat mata malah memalingkan muka.


Sepeninggalan Miko dan Rama, Kiran mulai membangunkan Beby.


"By ...," panggil Kiran pelan. "Beby ...."


"Hmm???" Beby menggumam pelan. Perlahan, gadis itu membuka mata. Melihat Kiran dan Lola di hadapannya, Beby menegakkan badan.


Lola melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Lima belas menit lagi. Buru, deh!"


"Yuk, By! Ikut kita," ajak Kiran seraya menyeret tangan Beby agar gadis itu berdiri.


"Ke mana?" tanya Beby malas. "Surprise-nya di sini aja udah. Tengah malam mau ngapain, sih?"


"Udah, ikut aja!" ujar Kiran dan Lola secara bersamaan.


***


Mobil Aldef melesat cepat membelah jalanan Ibu Kota. Meski hampir tengah malam, Jakarta tak mengenal kata sepi.


Sembari menyetir, Aldef mencoba menghubungi Fahri. Ia berniat untuk menginformasikan apa yang tengah terjadi padanya. Tapi, beberapa kali Aldef mencoba, Fahri tak menjawab panggilannya.


Aldef lalu mencoba menghubungi yang lain, namun ponselnya tiba-tiba mati. Aldef refleks menepuk jidat saat itu juga, lupa bahwa ponselnya kehabisan baterai.


Kini, Aldef memiliki dua pilihan. Kembali untuk merayakan ulang tahun Beby bersama candle light dinner yang sudah ia siapkan, atau melanjutkan aksi heroiknya untuk menolong sang mantan.


Dan Aldef memilih opsi kedua.


Tak lama kemudian, sampailah Aldef di depan rumah Celine. Lelaki berkemeja abu-abu itu lantas turun dari mobil dan memasuki pekarangan rumah. Pintu yang terbuka membuat Aldef tak ragu untuk masuk.


Seisi rumah yang berserakan membuat Aldef was-was. Kursi, meja, lemari, semua tak berada di tempat seharusnya. Di ruang tengah, Aldef mendapati Poppy tengah menekuk lutut sembari menenggelamkan wajahnya.


"Poppy?"


"Ini ada apa?"


Gadis berambut sebahu itu menggeleng pelan. "Aku nggak tahu. Tadi aku ke warung depan buat beli bakso. Waktu pulang, tiba-tiba semua udah berantakan."


Kemungkinan besar, ada perampok yang masuk.


"Celine mana?"


"Di kamar. Pintunya dikunci dari dalam. Aku takuk kak Celine kenapa-napa."


"Di mana kamar Celine?"


Poppy beranjak dari tempatnya, menuntun Aldef menuju kamar Celine. Gadis berambut sebahu itu menunjuk sebuah pintu berwarna coklat muda yang Aldef duga adalah kamar Celine.


"Yang ini?" tanya Aldef, memastikan apa yang ada dalam pikirannya.


Poppy mengangguk singkat. Dengan begitu, Aldef menyiapkan diri untuk mendobrak pintu kamar Celine.


Sekali. Dua kali. Dan pintu pun terbuka.


Bola mata Aldef membulat sempurna saat melihat Celine yang tergeletak di atas lantai dengan kedua mata terpejam rapat.


"KAK!!!" Tak ayal. Hal itu membuat Poppy lantas berteriak histeris.


Tanpa basa-basi, Aldef langsung memasuki kamar Celine dan membawa gadis itu dalam gendongannya.


"Kita bawa Celine ke rumah sakit," ucap Aldef saat menyadari Poppy mengekori langkahnya.


"Aku boleh ikut, Kak?"

__ADS_1


Aldef mengangguk singkat. Lalu, keduanya bergegas melangkah menuju mobil. Aldef yang tengah menggendong Celine dengan gaya bridal style, dan Poppy yang mengekor dari belakang seraya menatap punggung Aldef penuh arti.


***


Kening Chika mengernyit saat mendengar suara televisi begitu memasuki rumahnya. Hari ini, wanita itu memang disibukkan dengan pekerjaan yang bejibun. Membuat Chika terpaksa pulang lebih lambat dari hari biasanya.


Melewati ruang tamu, Chika melihat memang benar televisi sedang menyala. Pelan-pelan, Chika melangkah mendekat.


"Arka?"


Si pemilik nama yang semula duduk bersandar di punggung sofa lantas menegakkan badan. "Mama? Lama banget pulangnya."


Arka meraih punggung sang ibu, lalu menciumnya lembut.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Chika seraya mengambil posisi duduk di samping ksnan Arka.


"Nggak bisa tidur, Ma."


Chika menatap sendu ke arah anak sematawayangnya. Sebagai ibu, Chika tahu benar bahwa ada begitu banyak hal yang Arka pikirkan. Mulai dari kuliah, hingga penyakit yang tiap detik menggerogoti tubuhnya. Dan yang paling Chika tahu, pikiran Arka dipenuhi oleh seseorang yang hingga kini masih bertahta di hatinya.


"Beby, lagi?"


Arka menoleh pelan. Bibirnya tersenyum kecut mendapati tatapan sendu yang Chika layangkan. "Hari ini Beby ulang tahun, Ma. Tahun lalu, aku berusaha mati-matian bikin surprise yang nggak akan dia lupakan. Aku juga janji akan selalu ada buat dia apapun keadaannya. Tapi sekarang, malah aku yang bikin dia sakit hati."


"Ar ...."


"Aku jahat banget, ya, Ma? Tapi aku sayang Beby, Ma."


Chika membawa kepala Arka dalam dekapannya. Dada Chika terasa sesak melihat nasib yang menimpa sang putra. Andai Tuhan mengizinkan, Chika ingin mengambil alih penyakit dalam raga Arka.


"Kamu anak baik, Sayang," ujar Chika seraya mengusap-usap punggung Arka. "Kamu anak Mama yang paling baik."


Arka melepas pelukannya. Lelaki itu terkekeh kecil. "Iyalah. Orang anak Mama cuma aku."


Tawa Chika pecah saat itu juga, bersamaan dengan air matanya yang turut berlinang semakin deras. Tertawa sambil menangis, menangis sambil tertawa, hal itu sudah biasa ia alami.


"Ma, aku boleh minta tolong?" Arka mengusap lembut air mata Chika dengan ibu jarinya.


"Apa?"


"Nanti kalau Arka 'pulang', Mama jangan terlalu lama, ya, nangisnya."


"Kamu ngomong apa, sih, Ar? Mama nggak suka!"


"Suka atau nggak, memang begitu takdirnya, Ma. Ya ... kalau memang di depan keajaiban itu ada, syukur. Tapi kalau nggak, Arka cuma mau kita sama-sama siap dengan kemungkinan terburuk."


"Ar—"


Ucapan Chika terpotong sebab Arka yang tiba-tiba memejamkan mata. Lelaki itu meringis ngilu sembari mendekap kepalanya.


"Ar ...."


Panik, Chika menepuk-nepuk pipi Arka lumayan keras. Namun, Arka tetap memejamkan mata.


"Nggak, Ar. Jangan sekarang. Mama mohon."


Dengan air mata berlinang, Chika bergegas menelepon ambulance.


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2