ALDEBY

ALDEBY
|31.| Digantung


__ADS_3

Suara Pamungkas yang membawakan lagu To The Bone mengiringi pertarungan sengit antara Fahri dan Aldef di atas papan catur. Baru sepuluh menit bertarung, sudah empat pion Aldef dimakan oleh pasukan musuh. Dan itu merupakan awal yang buruk bagi Aldef.


"Kalau udah kayak gini, lo pasti lagi gegana," celetuk Fahri di sela-sela keseriusan Aldef yang tengah berpikir keras sebab harus menjalankan salah satu pionnya. "Ada apa, sih, Al? Tiga hari ini juga batang hidung lo nggak nongol."


"Mampus lu! Kuda lo gue makan!" seru Aldef dengan teriakan bangga.


Fahri melirik santai ke arah papan catur. Tak butuh waktu lama untuk Fahri kembali memakan salah satu pion milik Aldef.


"****!" umpat Aldef. Lalu, ia kembali tenggelam dalam strategi perang yang berjalan otomatis di otaknya.


Sadar pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Aldef, Fahri hanya menatap ekspresi dan gerak-gerik sahabatnya itu. Kali ini, Aldef menjalankan benteng.


"Giliran lo," ucap Aldef.


Satu detik kemudian, Aldef dibuat melongo sebab benteng yang tadi ia jalankan dimakan oleh kuda hitam milik Fahri.


"Tumben lo nggak fokus gini," kata Fahri. Aldef tak menggubris. Manik matanya fokus menatap papan catur. Kali ini, ia tak boleh lengah. "Ditolak sama Beby?"


Pertanyaan itu lantas membuat Aldef mendongak. Kini, konsentrasinya benar-benar buyar. Hari di mana Aldef menghindar dari Beby, pria itu meminta saran Fahri via telepon. Awalnya, Fahri meminta Aldef ke studio FS jika memang ingin diskusi, seperti biasa. Tapi Aldef menolak. Kala itu, Aldef benar-benar mengurung diri di apartemen.


Aldef menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Fahri. "Lebih parah."


Kening Fahri mengernyit heran. Ia tak mengerti dengan jawaban Aldef. Memangnya, apa yang lebih buruk daripada cinta ditolak?


"Maksudnya?"


"Ya, lebih parah dari itu. Gue digantung."


"Oh, ya? Kenapa?"


Sekali lagi, helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Aldef. "Beby masih belum move on dari mantannya."


"Yang lo bilang namanya Arka itu?"


Aldef mengangguk lesu.


"Bagus, deh."


Respon Fahri barusan membuat Aldef mendelik. "Maksud lo? Apanya yang bagus?"


"Ya, bagus. Itu berarti Beby bukan tipe cewek yang gegabah. Dia nggak mau nyiksa lo dengan cinta lama di hatinya yang belum sepenuhnya pergi. Nggak kayak lo."


Aldef semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Fahri. "Gue nggak paham."


Fahri mencondongkan tubuh, memangkas jarak di antara dirinya dan Aldef. Bola mata Fahri menatap Aldef lamat-lamat. "Emang lo udah move on dari mantan lo?"


Jujur. Jika ditanya demikian, Aldef pun masih ragu untuk menjawab. Sering kali logika dan hatinya berdebat tentang masa lalu, namun tak kunjung menemukan titik tengah hingga detik ini.

__ADS_1


"Kan!" Kebungkaman Aldef membuat Fahri semakin yakin akan opininya. "Nih, ya, gue kasih tahu. Meskipun gue jomlo, tapi gue tahu gimana rasanya menjalin hubungan sama orang yang masih terikat sama masa lalu. Sakit, m**an!"


"Jadi saran gue, mending lo yakinin diri dulu sebelum memulai hubungan sama orang baru. Kasihan cewek yang nanti sama lo," lanjut Fahri.


"Gue udah move on, kok."


Tawa meremehkan menguar dari mulut Fahri. Nada bicara Aldef saja terdengar ragu. Bagaimana bisa Fahri percaya?


"Yakin?" tanya Fahri. Ia kembali menatap Aldef serius. "Kalau ketemu lagi sama Celine, lo yakin bisa bersikap layaknya orang udah sepenuhnya move on?"


***


Dua hari sudah Beby keluar dari rumah sakit. Gadis berumur 21 tahun itu pun telah merasa raganya pulih seratus persen. Salahkan Miko yang melarangnya keluar rumah hingga membuat Beby bosan tingkat dewa. Memang ada oppa-oppa korea dan tugas kuliah yang membantunya membunuh waktu. Tapi tetap saja, Beby butuh berinteraksi. Jiwa ekstrovert dalam dirinya sudah meronta-ronta ingin dieksekusi.


Dan hari ini, Beby mulai kembali beraktivitas normal. Ia juga sudah menghubungi Anggi untuk mengirim barang endors ke FS Agency. Ya, Beby akan kembali menjalani pemotretan siang ini.


Beby sudah siap dengan setelan kaus crop putih polos dan celana jeans biru muda usai mandi beberapa menit lalu. Hoodie warna marun pemberian Aldef melapisi kaus putih yang melekat di tubuhnya. Tak lupa pula dengan rambut yang dikuncir bak buntut kuda.


Beby pun sudah mulai kembali menjalani olahraga yang biasa ia lakukan rutin di pagi hari. Sebenarnya, Beby merindukan euforia gedung gym, namun gendang telinganya masih terlalu malas untuk mendengar ocehan Miko. Mengingat kakaknya itu bangun pukul 04.00 pagi semenjak Beby pulang dari rumah sakit.


"Mau ke mana lo?"


Nah, kan! Baru saja keluar kamar, Miko dengan tampang sok sangarnya telah stand by di hadapan Beby.


"Kampus," jawab Beby seraya terus melangkah ke arah ruang tengah.


Miko pun mengekor. "Ngapain?"


"Gue belum izinin lo keluar rumah."


Beby yang baru usai mengikat tali sepatunya mendongak. Miko dengan setelan kemeja biru dongker dan bawahan jeans hitam panjang, menunjukkan bahwa lelaki itu akan pergi ke tempat yang Beby tuju.


"Lo mau anterin gue nggak? Kalau nggak, gue bawa mobil sendiri aja. Lo naik taxi atau apa, kek."


Miko berdecak kesal. Ia mengambil langkah mendekat ke arah Beby. Kini mereka berdiri dengan dua bola mata yang saling menantang. "Enak aja lo nyuruh-nyuruh gue. Lagian, gue udah ada mobil, kok!"


"Oh, bagus! Kalau gitu, gue berangkat duluan."


Baru selangkah Beby meninggalkan tempat, Miko mengadangnya dengan meraih pergelangan tangan Beby. "Lo berangkat bareng gue."


"Ogah!"


"Nggak ada penolakan!"


"Kalau gue nggak mau?"


Masih dengan ekspresi yang sama, Miko melepas genggaman tangannya. Pria itu meraih ponsel yang terselip di saku kemeja. Dari yang Beby lihat, Miko berniat untuk menelepon seseorang.

__ADS_1


"Ngapain lo?" tanya Beby, sedikit panik. "Nelepon siapa?"


"Dokter Nita."


"EHHH!!! JANGANNN!!!"


Dengan senyum miring penuh kepuasan, Miko mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Tangannya bergerak mengacak-acak puncak kepala Beby yang tampak menggemaskan. Pasalnya, gadis itu tengah menekuk bibir ke bawah.


"Ihhh!!! Berantakan rambut gue!!!" kesal Beby pada Miko yang tengah berjalan lebih dulu.


Beby menyusul langkah Miko dengan menghentakkan kaki. Baru saja membuka pintu unit apartemen, keduanya dikejutkan dengan seseorang yang keluar dari pintu tepat di hadapan mereka.


"Aldef?" sapa Beby dengan senyum secerah matahari pagi. Raut wajah suram nan kesal yang semula membingkai wajahnya, enyah begitu saja.


"Hai." Aldef pun membalas dengan senyum yang sama. Hanya Miko satu-satunya orang di sini yang tampak malas.


"Mau ke kampus juga?" tanya Beby.


"Iya. Lo udah mulai ngampus?" Yang ditanya mengangguk. "Gimana kalau kita bareng berangkatnya?"


"Nggak!" sahut Miko. "Enak aja lo main ngajak adek gue bareng."


"Emang kenapa, sih, Kak?" Beby yang semula menatap Aldef, kini beralih pada Miko. "Toh, tujuannya sama. Gue bareng Aldef aja, ya?"


Rengekan itu sontak membuat Beby mendapat hadiah pelototan dari sang kakak. "Nggak! Lo, berangkat sama gue."


"Ya udah nggak apa-apa," ujar Aldef. "Pulangnya aja kita barengan, gimana? Nanti gue kelar kelas sekitar jam sebelas."


"Nggak!" Miko kembali menyahut.


"Emang lo pulang jam berapa?" tanya Beby. "Siang juga? Kalau sore, mah,gue ogah nungguin. Orang gue selesai kelas jam setengah dua belas."


Jika sudah begini, Miko hanya bisa pasrah. "Terserah lo, deh!"


Aldef terkekeh melihat ekspresi garang yang Miko tunjukkan. "Tenang aja, Kak. Beby aman, kok, sama gue."


Tanpa membalas ucapan Aldef, Miko menyeret pergelangan tangan Beby untuk enyah terlebih dahulu. Beby yang terpaksa mengikuti langkah Miko pun menoleh ke belakang sembari melambaikan tangan pada Aldef. Tentu saja, Aldef membalasnya dengan senyum yang mampu menggetarkan hati para kaum hawa.


Melihat Beby dan Miko sudah memasuki lift, Aldef pun mulai melangkah. Namun, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menghentikan langkah Aldef.


+62***: Sampai ketemu nanti.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2