ALDEBY

ALDEBY
|86.| She Lies


__ADS_3

"AWAS, AL!"


Mendengar teriakan Miko, Aldef lantas menoleh. Detik itu pula, Beby mendorong Aldef dengan sekuat tenaga. Alhasil, mata pisau dalam genggaman Daren yang ditujukan pada Aldef, berakhir menembus perut Beby.


"ANGKAT TANGAN!"


Di detik yang sama, empat orang polisi menyergap gedung itu. Caline, Fara, dan Lola yang tadi datang bersama Miko masuk ke TKP. Daren yang sudah terkepung pun hanya bisa pasrah saat kedua tangannya diborgol.


"BEBY!" Teriakan itu lantas menguar dari Celine, Fara, dan Lola saat melihat kondisi Beby yang telah berlumuran darah.


Aldef cepat-cepat menghampiri Beby. Kedua tangannya menumpu tubuh Beby yang mulai limbung. Pisau yang semula menancap di perut Beby, kini tergeletak di lantai.


Gadis itu meringis kesakitan. Telapak tangannya yang semula menyentuh perut, kini berlumuran darah. Beby yang tak sanggup menopang tubuh berakhir ambruk di pangkuan Aldef.


"Sky, bertahan, please!"


***


"KAK! CEPETAN, DONG!"


Kecemasan menjalar di sekujur tubuh Aldef. Membakar organ-organ dalam tubuhnya hinggap menyisakan asap berupa teriakan. Miko yang berada di balik kemudi berusaha tetap fokus. Sementara Lola di samping kiri Miko hanya bisa menangis sesenggukan.


"Sky, please. Bertahan, ya," mohon Aldef seraya mengusap permukaan pipi Beby.


Gadis yang tengah berlumuran darah itu tidur di paha Aldef. Berulang kali rintihan keluar dari mulutnya. Keringat dingin pun tak tertahan.


"Al ...."


"Sssttt ... sssttt! Jangan ngomong, Sky. Jangan buang tenaga. Lo harus bertahan."


"Sa-sakit, Al."


Cairan bening yang semula membuat buram indra pengelihatan Aldef, akhirnya runtuh juga. Melihat kondisi Beby saat ini membuat butir-butir rasa takut menghampiri Aldef. Berulang kali ia mengusir pikiran negatif yang bermunculan, namun hasilnya nihil.


"Sky, please ...."


Tangan Beby bergerak menyentuh pipi Aldef. Lelaki itu pun lantas membalasnya berupa genggaman.


"Al, lo ... sayang ... gue ..., 'kan?"


Aldef mengangguk cepat. "Iya, Sky. Gue sayang lo. Gue cinta sama lo. Lo satu-satunya cewek yang gue sayang. Nggak ada yang lain. Nggak ada Celine. Cuma lo. Beby Skyla Amanda. My Sky. Lo satu-satunya buat gue, Sky. Jadi, please, bertahan, ya?"


Aldef mendongak. "KAK MIKO CEPETAN, DONG!"


Beby tertawa pelan. Luka di perutnya terasa semakin menyakitkan. "Al, gue ... ng-nggak ... kuat."


"BEBY, DIEM!" teriak Miko.


"Jangan ngomong gitu, Sky. Bentar lagi kita sampai, oke?"


Senyum dan ringis kesakitan menjadi satu dalam mulut Beby. Air mata mengalir deras dari kedua matanya.


"Al, saranghae."


Detik itu juga, kesadaran Beby menghilang.


"Sky?" Aldef menepuk-nepuk pipi Beby. "Sky, jangan tidur dulu. Sky, bangun!" Lelaki itu kembali mendongak, menatap Miko. "Please, cepetan, Kak!"


***


Ruang operasi yang menunjukkan lampu hijau membuat Aldef tak henti mundar-mandir di depan pintunya. Kaki Aldef seolah mati rasa. Hampir dua jam lamanya lelaki itu tak berhenti melangkah.


"Gue capek lihat lo mundar-mandir, Al," ucap Fahri.


"Iya. Duduk coba," sahut Fara.


Aldef bergeming. Lelaki itu tak berniat melakukan perintah Fahri dan kembarannya. Di koridor itu, ada Aldef, Miko, Lola, Kiran, Fahri, Fara, dan Zidan. Dari semua itu, satu-satunya orang yang tampak tenang adalah Miko.


Namun, tak ada yang tahu bahwa sejak kabar diculiknya Beby tadi, Miko terus menebar benih ketenangan dalam hatinya. Sebanyak apapun Miko menanam benih, sebanyak itu pula tak ada yang tumbuh. Hati dan pikiran Miko terlalu gersang akan hal-hal negatif yang bermunculan.


Lola yang semula duduk tegang di samping kiri Kiran, menggenggam jemari Miko yang terkulai lemas di sisi kanannya. Lelaki itu berdiri dengan posisi bersandar tepat di samping kanan Lola.


Saat merasakan genggaman itu, indra pengelihatan Miko yang semula kosong, beralih menatap Lola yang tengah menatap lurus ke depan. Tanpa sadar, Miko tersenyum simpul. Ia dapat menangkap kiriman rasa tenang yang Lola salurkan melalui sentuhan.


Lampu hijau di ruang operasi padam, pintu pun terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang masih menggunakan APD lengkap. Semua orang di koridor itu lantas menghampiri sang dokter.

__ADS_1


"Gimana Beby, Dok?" tanya Aldef.


"Luka tusukan di perut pasien sampai ke organ dalam. Luka paling parah berada di ginjal. Hal yang fatal lainnya adalah saat pisau dicabut paksa. Itu menyebabkan pasien kehilangan banyak darah."


Rentetan kalimat itu membuat semua pasang telinga yang mendengar deg-degan.


"Terus? Kondisi Beby sekarang gimana, Dok? Dia baik-baik aja, 'kan?" tanya Kiran.


Sang dokter menggeleng lemah. "Maaf. Kami sudah berusaha sebisa mungkin, namun pasien tidak tertolong. Pasien terlambat mendapat penanganan."


Hening.


Semua yang mendengar kabar itu menegang. Dua detik berikutnya, terdengar suara isakan tangis dari para wanita. Terutama Kiran dan Lola.


Sementara itu, Aldef malah terbahak-bahak. Tawanya terdengar memilukan. Kedua matanya menatap sang dokter lamat-lamat. "Dokter pasti bohong, 'kan? Beby pasti minta Dokter buat ngeprank kita. Iya, 'kan?"


Pria paruh baya dalam balutan jas putih itu tak menjawab. Sesaat kemudian, pintu ruang operasi terbuka lebar. Dari sana, tiga orang perawat yang salah satunya Putri, mendorong brankar tempat seseorang terbaring dengan kain putih yang menutupi.


"Stop!" Kedua tangan Aldef mengadang brankar itu. Aldef mendongak, menatap Putri di hadapannya. "Dia bukan Beby, kan, Put?"


Putri tak menjawab. Sama seperti yang lain, Putri pun enggan percaya atas kepergian Beby. Tapi, dia melihat sendiri kekacauan di ruang operasi yang menjadi detik-detik seorang Beby Skyla Amanda meninggalkan bumi.


Perlahan, Aldef memberanikan diri untuk membuka kain putih itu. Tangannya gemetar hebat seiring pergerakan Aldef. Dan saat kain putih itu terbuka, sekujur tubuhnya seolah lumpuh seketika. Gadis cantik berwajah putih pucat di balik kain putih itu benar-benar Beby.


Aldef menggeleng kuat-kuat. Berusaha mengenyah kenyataan yang ada.


"Bercanda lo nggak lucu, ya, Sky," ketus Aldef. "Kalau lo mau balas dendam karena cemburu, nggak gini caranya! Lo bisa pukul gue. Lo bisa tonjok muka gue sepuas lo. Lo bahkan bisa bunuh gue, tapi jangan gini, Sky!"


Kedua tangan Aldef membekap bahu Beby, lalu mengguncangnya keras-keras. "Bangun. Bangun, Sky! BEBY SKYLA AMANDA! BANGUNNN!!!"


Aldef beringsut di samping Beby. Namun, lelaki itu kembali bangkit. "Lo sendiri yang bilang ke gue, kalau lo milih ditinggalkan daripada meninggalkan. Lo nggak mau gue sedih. Iya, 'kan?"


"Lo bohongin gue?! Hah?! Lo pembohong tahu, Sky!"


'BUGH!'


Satu kepalan tangan mendarat telak di pipi kiri Aldef. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah. Sembari meringis ngilu, Aldef menoleh. Manik matanya mendapati Fahri dengan napas memburu dan mata memerah.


"LO APA-APAAN—?!"


Aldef mencengkeram erat kerah baju Fahri. "Lo kalau ngomong dijaga. Beby bukan bakal hidup lagi, DIA EMANG MASIH HIDUP!"


"STOP!"


Kini, semua pasang mata terarah pada Putri yang baru saja berteriak. "Kalian tahu, 'kan, ini rumah sakit? Tenang, bisa? Nggak usah teriak-teriak!"


Putri menghela napas sejenak. Bola matanya menatap lurus ke arah Aldef. "Lo kalau mau ikut, ayo. Kalau enggak, terserah!"


"Tunggu."


Aldef menghela napas sejenak. Manik matanya menatap lekat ke wajah cantik Beby. Jemarinya mengusap lembut permukaan pipi gadis itu.


"Maaf, Sky. Selama bareng gue, lo pasti selalu sakit hati. Maaf, udah sering bikin lo kecewa. Dan makasih, lo udah cinta sama gue."


Setetes cairan bening yang mewakili bongkahan emosi dalam diri Aldef, menetes bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya, "Selamat jalan, My Sky."


***


Prosesi pemakaman Beby diiringi oleh udara pagi yang berembus sejuk. Gerimis hujan dan air mata menjadi saksi atas kepergian Beby. Semua orang yang menyayangi Beby ada di sana. Iya. Semua. Kecuali ..., Miko.


Lelaki itu memang ikut ke pemakaman, tapi tak sampai ke liang lahat. Miko berkata bahwa ia akan menunggu tak jauh dari makam Beby. Memang benar. Sepanjang proses pemakaman, kedua mata Miko memandang ke arah kerumunan orang dengan pakaian serba hitam. Nyaris tak berkedip barang sejenak. Ekspresi wajahnya datar. Namun, ada sesuatu tersembunyi di balik mata merahnya.


Setelah memastikan proses pemakaman selesai, Miko lantas beranjak dari posisinya. Tepat saat tangannya menggapai pintu mobil, ada tangan lain yang menggenggamnya.


"Mau ke mana lo?"


"Pulang."


"Nggak usah bohong sama gue. Apa? Lo mau bunuh Daren di penjara?"


Miko menatap tajam ke arah Lola. "Dia harus mati!"


Lola maju selangkah. Sarat ketajaman di balik tatapan gadis itu seolah mengibarkan bendera perang pada manik mata Miko.


"Ya, terus? Lo mau bunuh Daren di penjara? Terus apa? Lo dipenjara juga? Mau?"

__ADS_1


"Gue nggak peduli—"


"Lo pikir Beby bakal suka?" Tanpa sadar, jarak antara wajah Miko dan Lola semakin menipis. "Lo pikir, Beby bakal hidup lagi? Dia bangga sama lo? Dia bakal seneng? NGGAK!"


Lola menghela napas sejenak. "Kalau lo nekat, Beby pasti sedih banget. Lo tahu kenapa? Karena dia bakal merasa kehilangan kakaknya yang selama ini dia banggain. Sosok Miko Algahfa, kakak yang selalu Beby bangga-banggain udah nggak dia temui dalam diri lo. Itu yang lo mau?"


Sekujur tubuh Miko lemas seketika. Punggungnya refleks bersandar di pintu mobil. Kepalanya menunduk dalam, merenungi kata-kata Lola.


Memang benar. Sejak Beby dinyatakan tiada, mulut Miko bungkam. Tapi, hatinya berteriak lantang. Enggan menerima kenyataan. Satu-satunya yang terlintas dalam benak Miko adalah bagaimana cara Daren tewas di tangannya. Bagi Miko, nyawa harus dibayar nyawa. Terlebih, orang yang Daren ambil adalah Beby.


Lola yang paham benar bagaimana perasaan Miko sekarang beranjak mendekat. Tangannya bergerak memeluk Miko.


"Nangis aja kalau lo mau nangis. Jangan ditahan."


Benar saja. Dua detik kemudian, tangis Miko pecah. Segala emosi yang semula membeku, akhirnya cair juga. Miko menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lola semakin dalam, seiring isakan tangis yang telah lama Miko tahan.


"Beby, Lol ... harusnya dia nggak ninggalin gue. Kenapa harus Beby? Gue gagal, Lol. Gue gagal jagain dia. Gue kakak yang jahat. Gue kakak yang nggak berguna. Mama sama papa pasti marah banget sama gue."


Lola tak membalas. Di balik punggung Miko, air mata Lola turut menetes. Gadis itu menepuk-nepuk bahu Miko pelan, menyalurkan sisa kekuatan meski tak seberapa. Lola pun setia mendengar rancauan Miko. Membiarkan lelaki itu menumpahkan segala perih di hatinya.


"Daren jahat, Lol. Kenapa dia ngambil Beby? Kenapa bukan gue aja? Tuhan juga. Setelah mama dan papa, kenapa Beby juga diambil?"


"Sssttt!!!" Untuk kalimat terakhir Miko, Lola membalas, "Lo nggak boleh ngomong gitu. Semua ini udah takdir."


Miko melepas pelukannya. Lelaki itu mengusap jejak air mata di wajahnya dengan kasar. Lalu, Miko menatap tajam kedua mata Lola.


"Takdir lo bilang? Lol, Beby dibunuh! Adik gue dibunuh!"


"Iya. Gue tahu. Tapi—"


"Dan lo masih bisa bilang TAKDIR?!"


"Miko!" Telapak tangan Lola mendarat di kedua bahu Miko dengan mantap. "Lahir, jodoh, dan kematian, itu semua udah diatur. Nggak ada yang bisa mengubah itu. Gue tahu Beby emang meninggal secara nggak adil. Tapi, soal kematian seseorang, nggak akan terjadi kalau belum waktunya. Beby nggak akan pergi tanpa seizin Tuhan."


Miko manggut-manggut. Bibirnya terkatup rapat. Rahangnya pun tampak mengeras. Lola dapat menangkap kilat amarah di balik tatapan Miko.


Tiba-tiba, kedua telapak tangan Miko melilit leher Lola. Lebih tepatnya, mencekik. Lola yang tak siap dengan hal itu pun lantas mundur ke belakang, membuat punggungnya terbentur mobil.


"Mik—" Napas Lola tersekat. Miko mencekik lehernya semakin erat. "Lo—"


"Kalau kayak gini, lo bakal mati nggak?" bisik Miko pelan.


Lola yang mulai kehabisan napas tak punya waktu untuk menanggapi Miko. Untung saja, lelaki itu menjauhkan tangannya dari leher Lola tepat sebelum gadis itu menyerah.


"LO GILA, YA?!"


Miko tertawa sumbang. "Kenapa? Takut mati?"


Helaan napas berat keluar dari saluran pernapasan Lola. Gadis itu membalikkan badan ke arah pemakaman.


"Lo seneng, By? Hah?! Lo seneng bikin gue hampir mati?! BANGUN, BY! BANGUN!" Napas Lola terengah-engah. Kedua bahunya naik-turun tak beraturan. "Bangun, By! Bangun dan bilang ke kakak lo kalau gue juga sedih!"


Di situ tangis Lola pecah. Kematian Beby menancapkan duka mendalam di tiap hati orang yang menyayanginya.


Miko yang melihat hal itu, perlahan luluh. Langkahnya mendekat ke arah Lola. Dan saat jarak di antara mereka tersisa selangkah, Miko mendekap gadis itu.


Lola tak menolak, tapi juga tak membalas pelukan Miko. Isakan gadis itu semakin terdengar kencang nan memilukan.


"Maaf, Lol," ucap Miko. "Gue udah kelewatan.


*


*


*


ARGHHH!!! MEWEKKK!!! :'(


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2