ALDEBY

ALDEBY
|37.| Senyum tapi Cemberut


__ADS_3

Pagi ini Beby tak ada jadwal kuliah. Ia baru akan ke FS jam 10 nanti untuk reading. Maka dari itu, hari ini Beby bisa sedikit santai.


Sosok Miko dalam balutan hoodie coklat tua menyambut indra pengelihatan Beby begitu ia keluar kamar.


"Mau ke mana lo?" tanya Miko seraya menatap Beby dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Beby memutar kedua bola mata jengah. "Dari baju gue, menurut lo mau ke mana? Ya mau nge-gym, lah! Ikut?"


"Gue ada kuliah pagi."


"Ya udah. Sana, gih, berangkat. Husss!!!" Beby mengibaskan tangannya seraya melangkah melewati Miko.


"Nggak sopan lo, ya!" teriak Miko sebab Beby sudah berada di ambang pintu. Beby yang telah berada di luar pun terkikik geli melihat reaksi sang kakak.


Kedua sudut bibir Beby menukik ke atas saat melihat seseorang yang tengah berdiri di depan lift.


"Al!" panggil Beby semangat.


Aldef yang merasa namanya dipanggil pun menoleh ke sumber suara. Pria itu melambaikan tangan seraya tersenyum lebar ke arah Beby.


"Mau nge-gym juga?" tanya Aldef saat Beby telah berdiri di sampingnya.


"Iya."


Keduanya memasuki lift saat pintu terbuka. Kemudian, obrolan pun berlanjut.


"Sky."


"Al."


Dua insan di dalam lift itu lantas tertawa, merasa lucu sebab saling memanggil dalam waktu bersamaan.


"Lo duluan," ucap Aldef.


Beby menatap Aldef lamat-lamat. Tak salah lagi. Pacar Beby yang satu ini memang sangat tampan.


"Kok, diem?" tanya Aldef.


Beby terkekeh. "Nggak. Gue merasa bersyukur aja karena punya lo."


Mendengar sepenggal kalimat dari Beby itu, Aldef jadi merasa bersalah. Bagaimana bisa Aldef meninggalkan Beby dan membuat gadis itu nyaris celaka. Sungguh. Aldef merasa menjadi laki-laki paling bodoh.


"Itu yang mau lo ngomongin?"


"Bukan," jawab Beby. "Gue mau minta maaf, soal kak Miko. Dia udah marah-marah sama lo. Padahal, kan, lo nggak salah."


Aldef menggeleng cepat. Bibir Aldef sudah terbuka, siap meluncurkan bantahan. Namun, pintu lift yang terbuka mengurungkan niatnya. Aldef dan Beby keluar dari lift. Tepat saat itu, Aldef meraih jemari Beby. Sedikit menjauh dari pintu lift, Aldef meletakkan tangannya di kedua bahu Beby. Membuat gadis itu mau atau tidak harus menatap lurus ke manik mata Aldef.


"Gue yang salah di sini, Sky. Gue yang udah ninggalin lo. Gue juga nggak ngabarin. Apalagi kemarin gue nemuin lo dalam keadaan kacau. Wajar kalau kak Miko marah. Maafin gue, ya."


Beby tersenyum tulus. "Nggak apa-apa, Al. Bukan salah lo."


"Tapi, kalau boleh tahu, semalam lo dikejar siapa, sih?"


Akhirnya, rencana untuk olahraga pagi itu tergantikan oleh Aldef dan Beby yang berbincang di area kolam renang. Aldef adalah pacar Beby. Jadi, gadis itu memutuskan untuk menceritakan semuanya secara runtut. Beby tak ingin ada yang ditutup-tutupi.


Termasuk tentang masa lalunya.


***

__ADS_1


Beby.Skylamanda


...



...


Mine. @al_defM


kiranaamalia: Wah! Udah official, nih?


daren03: Jangan lupa pajak jadiannyaaa :D


Kedai_Nikmat: Dapatkan promo 20% khusus untuk hari ini!


MbakLambe: cakep amat tangannya 😘


Beby senyum-senyum sendiri melihat komen di akun instagramnya. Setelah sekian lama, akhirnya Beby memposting foto yang tak mengandung aroma endors.


"Senyum-senyum sendiri, Mbak."


Suara Lola membuat Beby mendongak. Sahabat Beby itu membawa segelas milkshake taro pesanan Beby.


Usai pemotretan jam 4 sore tadi, Beby langsung ke Lomera Cafe. Ia ingin membagi kebahagiaan bersama sahabatnya.


"Jadi, lo sama Aldef udah official?" tanya Lola semangat. "Akhirnya lo mutusin buat nerima dia? Kalian pacaran?"


Dengan senyum mengembang, Beby mengangguk. "Iya."


"Wahhh!!! Berarti, lo udah move on dari Arka, dong?"


Dan, senyum Beby lenyap seketika.


***


"Pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri. Macam ABG lagi kasmaran aja," celetuk Putri yang tiba-tiba datang.


"Akhirnya, gue lega banget, Put." Tatapan Arka masih tak beralih dari layar ponselnya.


Putri yang datang dengan tujuan menjenguk pun mendekat ke arah Arka. Manik matanya melirik pada ponsel dalam genggaman pria itu. Sudah Putri duga, pasti itu yang Arka lihat.


"Masa?" sahut Putri, tak percaya. "Lo ngerasa aneh nggak, sih, Ar? Masa Beby secepat itu move on dari lo. Lo, kan, cinta pertamanya."


Tepat saat itu, Chika memasuki ruang rawat Arka. Putri yang sejak tadi berdiri, melempar senyum ramah ke arah Chika.


Sebenarnya, Arka sudah boleh pulang 2 hari yang lalu. Namun tepat sehari sebelum itu, kondisi kesehatannya menurun. Mau tak mau, Arka harus lebih lama berdiam diri di rumah sakit.


"Eh, ada Putri," sapa Chika. "Ada yang mau diomongin, ya, sama Arka? Tante keluar aja kalau gitu, ya."


"Nggak usah, Tante," sahut Putri cepat. Merasa sungkan dengan orang tua Arka. Sepertinya, ia datang terlalu pagi. "Saya udah selesai, kok. Lagian, udah dipanggil sama dokter juga."


"Nggak mau sarapan dulu?"


"Nggak usah, Tante. Makasih. Saya pamit dulu."


Chika mengangguk seraya tersenyum ramah ke arah Putri sebagai balasan. Sepeninggalan Putri, bola mata Chika mengarah pada putra sematawayangnya yang sejak tadi membisu.


"Kenapa kamu?" tanya Chika tanpa menatap Arka. Wanita paruh baya itu sibuk menyiapkan sarapan berupa bubur ayam di atas nakas tepat samping kiri Arka.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ma. Lagi happy aja."


"Jangan bohong. Bibir kamu emang senyum, tapi hati kamu cemberut. Iya, 'kan?"


Arka tertawa renyah. "Mama sotoy, ah!"


"Sarapan dulu, ya. Mama suapin."


"Mama nggak kerja emang?"


"Iya. Nanti habis kamu sarapan."


Tangan Arka menengadah, berusaha mengambil alih mangkuk berisi bubur ayam dari tangan Chika. "Mama berangkat aja. Aku bisa makan sendiri, kok."


Chika menggeleng seraya menjauhkan mangkuk dari jangkauan Arka. "No, Ar. Biar Mama aja yang suapin. Supaya cepat habis."


Arka menghela napas sejenak. Ia memilih mengalah. Melihat perhatian yang Arka dapat dari sang mama, lelaki itu jadi perpikir: apa kalau Beby tahu tentang penyakitnya, gadis itu akan memberikan perhatian yang sama?


"Ma," panggil Arka di sela-sela kunyahannya. Chika hanya merespon dengan dehaman. "Aku ngerepotin Mama banget, ya? Papa udah nggak ada. Seharusnya, aku yang gantiin posisi papa buat ngelindungi Mama, 'kan?" Arka tertawa getir. "Tapi, aku malah jadi beban buat Mama. Aku nggak bisa bahagiain Mama. Mana anak semata wayang lagi. Mama nggak nyesel udah lahirin aku?"


Aktivitas Chika seketika terhenti. Wanita itu meletakkan mangkuk di atas nakas dengan tangan gemetar. Kedua matanya mendadak terasa panas mendengar kata-kata yang baru saja Arka lontarkan.


Chika mengusap lembut permukaan pipi Arka. "Kamu adalah kebanggaan Mama, Ar. Nggak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Mama kata sesal karena udah melahirkan kamu. Justru, Mama bersyukur banget bisa jadi wanita yang melahirkan kamu. Jangan pernah merasa jadi beban, ya, Nak. Cukup dengan kamu sehat. Mama udah bahagia banget."


Tangan Arka bergerak menyentuh pipi Chika. Ibu jarinya mengusap lembut air mata yang tergenang di sana. Arka menarik kedua sudut bibirnya, memberi seulas senyum semanis yang ia bisa.


"Maaf, ya. Udah bikin Mama nangis, lagi."


Alih-alih mereda, tangis Chika malah kian menjadi-jadi. Wanita itu berdiri dari kursinya, lalu memeluk Arka dengan penuh kasih sayang.


"Semangat untuk sembuh, ya, Nak. Mama bangga sama kamu."


Dalam dekapan Chika, Arka pun turut meneteskan air mata. Andai Arka tak memiliki ibu sehebat mamanya, entah bagaimana hidupnya sekarang.


***


Miko melihat dua sejoli yang sangat ingin ia temui di depan lift. Kebetulan sekali.


Siang tadi, Miko terkejut mendapati postingan terbaru Beby. Miko yang memang selalu memantau Beby di sosial media, baru kali ini melihat feed instagram Beby tak mengandung aroma endors. Mulutnya sudah terasa gatal ingin mengintrogasi Beby saat itu juga, namun Miko terhalang kelas yang harus ia ikuti di sore harinya.


Niat hati ingin mengintrogasi Beby, Miko malah mendapat Aldef juga.


"Aldef," panggil Miko sesaat setelah berdiri di dekat Aldef dan Beby.


Sepasang kekasih itu pun menoleh.


"Eh, udah pulang, Kak?"


Mengabaikan pertanyaan basa-basi dari Beby, Miko menatap lekat ke arah Aldef. Dua detik berikutnya, Miko menatap Beby.


"Ada yang perlu gue tanyain sama kalian berdua," ucap Miko.


Pada detik itu juga, Aldef dan Beby sama-sama paham tentang 'tanya' yang Miko maksud.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2