
Melihat ekspresi Beby tadi, membuat Celine tersenyum puas. Ia tak menyangka, bahwa jepit rambut milik Poppy yang ia pinjam sangat berperan penting dalam kelancaran rencana Celine.
Masih dengan senyum yang terpatri di bibirnya, Celine kembali melangkah ke luar. Karena mendapat info Aldef ada di lokasi syuting hari ini, Celine bergegas ke tempat yang sama. Kini, gadis itu tengah mencari keberadaan Aldef.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Celine berpapasan dengan Aldef tepat di depan pintu ruang make up.
"Al."
Aldef yang semula berniat menghindar, terpaksa berhenti melangkah saat namanya dipanggil. "Ya?"
"Bisa kita ngobrol sebentar?"
"Gue duluan kalau gitu," ucap Miko yang langsung enyah dari hadapan Aldef dan Celine.
Musnah sudah satu-satunya alibi Aldef untuk menghindar dari Celine.
"Gimana, Al?"
"Oke."
***
Kedua mata Beby menatap lekat ke arah cermin yang memantulkan wajahnya. Sejak lima belas menit yang lalu, ini kali kesekian Beby menghela napas berat. Berbagai kemungkinan memenuhi kepalanya, meski puluhan kali Beby menolak mentah-mentah kemungkinan itu.
"Semedi lo di sini?"
Suara Lola membuat Beby menoleh. "Ngapain, sih? Dicariin, tuh, sama abang lo."
Beby tersenyum miring. Akhirnya, ia mendapat kesempatan untuk mengalihkan sejenak pikiran-pikiran negatif yang bersarang di kepalanya.
"Abang gue yang lo taksir itu?" goda Beby.
"Dih! Sejak kapan gue naksir abang lo? Nggak, ya! Nggak pernah. Dan nggak akan pernah! Inget, tuh!" balas Lola sewot.
Beby mendesis pelan. "Emang kenapa, sih? Perasaan, lo yang paling alay di antara gue sama Kiran kalau ketemu cogan. Ya, kali ini gue akui, deh, kalau kak Miko ganteng."
"Nggak, tuh! Biasa aja."
"Nih, ya, Lol, gue kasih tahu. Gue pernah dengar kalimat, jika pertemuan pertama adalah sebuah kebetulan, maka pertemuan kedua bisa jadi masih kebetulan. Tapi, pertemuan ketiga, dapat dipastikan ada campur tangan takdir di dalamnya."
"Ngaco!" Lola buru-buru memasuki salah satu bilik toilet. Beby yang melihat hal itu pun lantas terbahak-bahak.
Meninggalkan Lola di toilet, Beby melangkah keluar. Kaki jenjangnya menyusuri koridor sembari mencari sosok Miko yang kata Lola sedang mencarinya. Ternyata, Miko ada di ruang make up.
"Nyari gue, Kak?" tanya Beby sembari duduk di hadapan Miko.
"Tuh, makan. Gue bungkusin tadi."
Beby menerima kotak sterofoam dari tangan Miko seraya bertanya-tanya. Dari aromanya, ia dapat menebak makanan apa yang ada di dalamnya. "Nasi goreng seafood?"
"Hm."
"Beli di mana?"
"Restoran depan."
"Ngapain? Kan, ada nasi kotak."
"Gue kasih ke kru. Lagian, lo kalau nggak makan itu, pasti menye-menye makannya."
Beby tertawa. Memang. Hanya nasi goreng seafood yang dapat membuat rasa kenyang Beby seolah turut hanyut dalam tiap kunyahannya.
"Ngomong-ngomong, Aldef mana?" tanya Beby di sela-sela kunyahannya.
Miko mengedikkan bahu tak acuh. "Lagi ngobrol sama temennya di depan."
__ADS_1
"Temen? Siapa?"
"Ya, mana gue tahu. Yang pacarnya Aldef, kan, lo. Bukan gue."
Beby tersenyum meringis. "Iya, sih."
Gadis berseragam SMA itu kembali melahap nasi goreng di pangkuannya dengan nikmat. Beby melihat sang kakak sedang celingukan, seperti mencari seseorang.
"Lola lagi ke toilet."
"Hah?" Miko menatap Beby heran.
"Iya. Lola lagi ke toilet. Lo nyari Lola, 'kan?"
"Nggak, lah!" sahut Miko cepat. "Ngapain juga nyari, tuh, cewek. Nggak penting!"
Beby terkekeh pelan. "Kak, jujur aja kenapa, sih? Lo peduli, kan, sama Lola? Lo suka, kan, sama dia?"
"Nggak usah ngaco, deh, By. Nggak usah sotoy jadi orang."
"Gue bukannya sotoy, Kak. Tapi, gue emang tahu. Sekarang coba pikir, deh. Gue ada di depan lo, 'kan? Siapa lagi yang mau lo cari kalau bukan Lola?"
Miko menatap Beby kesal. "Berisik lo!"
***
Putri menyusuri koridor rumah sakit dengan santai. Akhirnya, waktu yang ia tunggu-tunggu tiba juga: jam istirahat. Tadi pagi, Putri tak sempat sarapan. Alhasil, perutnya keroncongan sejak beberapa jam lalu.
"Bang, bakso sama es teh satu, ya," ucap Putri saat sampai di depan warung bakso.
"Siap, Neng!"
Sembari menunggu, Putri duduk di meja berisi dua kursi yang tak jauh dari sana. Baru saja pantatnya menyentuh permukaan kursi, Putri dikejutkan dengan sosok Arka yang tiba-tiba muncul.
"Astagfirullah!" seru Putri kaget. "Arka! Lo ngagetin aja, sih!"
"Bu-bukan gitu." Putri menghela napas berat. Ia merasa kesal tiap kali Arka menunjukkan bahwa dirinya tak memiliki semangat hidup. "Lo pasti nemuin gue karena niat tertentu, 'kan?"
"Permisi." Bakso serta es teh manis pesanan Putri datang, membuat obrolan mereka terjeda. Setelah mengucap terima kasih pada si penjual bakso, Arka kembali bersuara.
Dengan tidak tahu diri, Aldef menyeruput es teh milik Putri. "Iya. Gue baru tahu kalau Aldef itu adik tiri lo."
"Heh! Itu punya gue!" sungut Putri, tak terima dengan Arka yang meminum es tehnya tanpa izin.
"Dikit doang, elah! Penyakit gue nggak nular lewat air liur, kok."
"Arka!"
Arka terbahak-bahak. "Bercanda kali, Put."
"Bodo!" Kesal pada pria di hadapannya, Putri melahap bakso yang sudah dicampur dengan sambal, saus, dan kecap manis.
"Oke. Sekarang serius," ucap Arka. "Jadi, Aldef beneran adik tiri lo?"
Putri mendongak, menatap lurus ke bola mata Arka. "Lo tahu dari mana?"
"Nggak penting gue tahu dari mana. Ada yang lebih penting dari itu."
"Apa? Gue nggak mau aneh-aneh kayak lo nyium gue di depan Beby waktu itu, ya!"
Kedua mata Arka menyipit curiga. "Kenapa lo inget-inget terus, sih? Ketagihan, ya, lo!"
"Sembarangan! KAGAK!"
Arka tertawa. "Bukan. Bukan aneh-aneh, kok. Gue cuma minta tolong sama lo. Tolong awasi Beby, ya. Simpelnya, lo jadi informan gue."
__ADS_1
"Simpelnya, gue jadi mata-mata lo?" Putri menyimpulkan dengan nada menggerutu.
"Hehe. Itu lo paham."
"Nggak bisa."
"Why? Kan, Aldef sama Beby pacaran. Otomatis mereka bakal sering ketemu, dong? Beby juga bakal sering nyemperin Aldef ke rumahnya, dong?"
"Gue sama Aldef nggak serumah. Dia tinggal di apartemen."
"Ahhh ... gitu rupanya."
"Lagian, kalau emang lo peduli sama Beby, kenapa bukan lo aja yang jaga dia? Kenapa mesti minta gue jadi mata-mata?"
"Ya, kan, lo tahu kondisi gue gimana."
'Prank!'
Putri melempar sendok dalam genggamannya ke dalam mangkuk. Menciptakan suara dentingan antara beling dan besi yang memekakkan telinga.
"Please, deh, Ar! Berapa kali gue harus bilang sama lo? Jangan bersikap seolah-olah lo Tuhan yang bisa nyabut nyawa manusia kapan aja. Kalau lo usaha aja nggak mau, jangankan dokter, Ar. Tuhan juga ogah biarin manusia gampang nyerah macam lo hidup!"
Perempuan dalam balutan seragam putih khas perawat itu lantas meninggalkan area kantin. Meninggalkan Arka yang termenung di sana. Tak ada yang bisa Arka lakukan selain mendesah pasrah.
Apa yang Putri katakan memang benar.
***
"Aku mau minta maaf soal kemarin. Nggak seharusnya aku ngomong gitu di saat kamu udah punya pacar."
Itu adalah kalimat yang Celine ucapkan setelah cukup lama basa-basi.
Aldef melempar senyum singkat dan mengangguk pelan sebagai balasan.
"By the way, tadi aku ketemu Beby di toilet. Terus dia nanya soal jepit rambut."
Ah! Aldef baru menyadari Celine sedang mengenakan pasangan jepit rambut berbentuk bunga matahari yang tertinggal di apartemennya kemarin.
"Kamu ... nggak bilang kalau itu punya aku?"
Aldef menggeleng. "Kemarin pertama kali Beby masuk ke apartemenku."
"Ohhh ...." Celine manggut-manggut. "Sekarang, mana jepitnya?"
"Ada sama Beby." Aldef yang semula fokus menatap layar ponsel, kini mendongak. "Boleh aku minta tolong sama kamu? Tolong jangan bahas soal jepit rambut ke Beby. Biar aku yang kasih tahu sendiri nanti."
"Kamu belum cerita ke Beby soal kita?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Celine, Aldef berdiri. "Mending kita balik sekarang. Kamu juga masih jam kerja, 'kan?"
Sekeras apapun Celine mencoba, Aldef tak akan sudi membahas soal 'kita' seperti yang Celine maksud. Akhirnya, gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah dan mengekori langkah Aldef yang telah berjalan lebih dulu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang sejak tadi mendengar percakapan Aldef dan Celine.
"What the hell? Aku-kamu? Kita?"
Ya. Orang itu, siapa lagi kalau bukan ....
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️