
"Ada yang nyariin lo."
"Siapa?" Pandangan Beby beralih ke arah ruang tamu.
"Anggi." Miko mengulurkan sebuah kotak persegi panjang ke arah Beby.
"Mbak Anggi? Ngapain dia ke sini? Tumben."
Miko mengedikkan bahu acuh tak acuh. "Lihat aja sendiri."
"Ini apa?" tanya Beby sambil menatap ke arah kotak yang masih berada dalam genggaman Miko.
"Buat ganti handphone lo yang rusak. Semua data dari HP lo yang lama udah ada. Untung masih bisa nyala."
"Terus? Kenapa beli baru?"
"Bisa nyala doang, nggak bisa dipakai."
Beby manggut-manggut. Kakaknya itu pasti melakukan hal ini agar Beby mudah dihubungi. "Berapa?"
"Hah?"
"Harganya, berapa?"
"Ambil aja."
"Beneran?"
"Hm. Dah, ah. Gue siap-siap ke kampus."
"Gomawo!" (Terima kasih!) teriak Beby pada Miko yang baru saja masuk ke kamarnya.
Beby meletakkan ponsel barunya di dalam kamar. Lalu, gadis itu melangkah cepat menuju ruang tamu. Sesuai ucapan Miko, Anggi ada di sana. Perempuan dalam balutan blazer pink pastel itu duduk manis di atas sofa.
Tapi, bukan itu yang membuat Beby terkejut. Melain tumpukan paper bag di atas meja.
"Eh, keluar juga lo," ucap Anggi saat menyadari kehadiran Beby.
Beby mengambil posisi tepat di samping kanan Anggi. Tangannya bergerak mengintip satu-persatu paper bag di hadapannya. "Ini apaan, Mbak? Barang endors?"
Anggi menggeleng. "Hadiah ulang tahun lo."
Mulut Beby menganga lebar. Pasalnya, ada lebih dari 20 paper bag di sana. "Sebanyak ini?"
"Menurut lo?" Anggi meraih kotak berbalut kertas kado motif bintang-bintang di samping kirinya. Ia menaruh kotak itu di pangkuan Beby. "Ini dari gue."
Kedua mata Beby memicing. Menatap curiga ke arah Anggi. "Tumben lo baik."
"Enak aja! Gue selalu kasih kado di tiap ulang tahun lo, ya!"
Beby tertawa. "Bercanda kali, Mbak. Boleh gue buka nggak?" Pertanyaan itu dijawab anggukan oleh Anggi.
Dengan semangat, Beby membuka kado ulang tahun dari Anggi. Bibirnya mengerucut saat melihat isi di dalam kotak itu. Beby mendongak, menatap Anggi yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.
"Happy birthday," ucap Anggi.
Beby menghela napas berat. "Dua tahun lalu handycam, tahun kemarin ringlight, sskarang kamera. Lo emang niat anggap gue sapi perah, ya, Mbak."
"Eh, denger, ya, Beby Skyla Amanda. Kamera yang gue kasih ke lo ini bukan kaleng-kaleng. Siapapun yang ada di posisi lo sekarang pasti senengnya minta ampun. Lo malah protes!"
"Gimana nggak protes? Lo ada niat terselubung, sih, ngasih gue kado."
"Ya udah, lah, ya. Gue mesti ke butik." Anggi berdiri, diikuti Beby.
"Thank's, ya, kadonya," ucap Beby.
__ADS_1
Anggi menjawab dengan gumaman. Keduanya keluar dari unit apartemen Beby. Tadinya, Beby ingin mengantar Anggi sampai lobby, sekalian Beby ke gedung gym. Tapi, Aldef yang saat itu keluar dari pintu depan membuat niat Beby urung. Melihat kedua sejoli itu, Anggi memutuskan untuk meninggalkan mereka.
"Hai, Sky," sapa Aldef sambil mengulas senyum lebar.
Beby pun tak segan membalas senyuman Aldef. "Hai, Al."
"Lo baik-baik aja?"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Beby merasa heran. "Seperti yang lo lihat."
"Lega gue dengernya."
Keduanya tertawa renyah.
"Lo mau nge-gym juga?" tanya Beby yang dijawab anggukan oleh Aldef.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk ke gedung gym Apartemen Golden bersama-sama. Jemari Aldef dan Beby saling bertautan seiring langkah mereka. Sesekali Beby dibuat tertawa akibat candaan receh Aldef.
Seperti biasa.
***
Beby meneguk air mineral dingin dalam botol berukuran kecil hingga tandas. Kini, ia dan sang pacar duduk bersila di samping treadmill. Keringat mengalir deras di pelipisnya. Gadis itu menarik ikat rambutnya, lalu mengumpulkan kembali anak rambut yang berceceran.
Hal yang sama berlaku untuk Aldef. Bedanya, gerakan Aldef seketika terhenti saat melihat cara Beby mengikat rambut. Dalam keadaan penuh keringat pun gadis itu tampak sangat cantik.
"Kenapa lihatin gue gitu?" tanya Beby seraya menatap aneh ke arah Aldef.
"Lo cantik banget, Sky."
Beby terbahak-bahak. "Baru sadar?"
"Nggak, sih. Udah sadar dari dulu. Tapi semenjak jadi pacar gue, kecantikan lo berlipat ganda."
"Lebay!"
"Al, mobil lo kemarin ...."
"Udah di bengkel. Lo tenang aja, ya. Nggak usah diingat-ingat lagi kejadian semalam."
Beby tersenyum simpul. Lalu, kepalanya mengangguk singkat. "Kalau gitu, lo ke kampus pakai mobil gue aja. Kita berangkat bareng. Kak Miko udah berangkat soalnya."
"Lo ada jadwal kuliah emang?"
"Ada. Jam sembilan nanti."
"Sampai jam berapa?"
"Jam dua siang. Habis itu langsung ke lokasi syuting."
Aldef manggut-manggut. Mengerti akan penjelasan Beby. "Kalau gitu, kita berangkat bareng, tapi lo ke lokasi syuting sendiri, ya? Jadwal kuliah gue sampai jam empat sore soalnya. Habis kelas, gue nyusul nanti."
"Oke. Janji lo nyusul, ya?"
Aldef terkekeh seraya mengacak puncak kepala Beby gemas. "Iya, Sayang. Janji."
***
Putri baru sampai di lobby rumah sakit saat ponselnya tiba-tiba berdering. Perempuan itu memutar bola mata malas saat melihat nama si penelepon.
"Apa?"
"Gue di ruang tunggu. Sekarang jadwal kemo. Sendirian. Lo ke sini sekarang. Ada yang mau gue omongin."
"Penting nggak?"
__ADS_1
"Soal Beby selalu penting buat gue."
'Tut!'
Putri menatap jengkel ke layar ponselnya. "Kalau bukan sahabat gue, udah gue penggal lo! Dasar pemaksa!"
***
Pagi ini, Arka sengaja datang lebih awal dari jadwal kemoterapi yang telah ditentukan. Dan yang paling penting, Arka datang sendiri.
Manik matanya menatap lekat ke arah gadis berpakaian serba putih khas perawat yang tengah melangkah kemari. Putri duduk tepat di samping kiri Arka tanpa menoleh ke arah lelaki itu.
"Gue ada informasi soal Celine."
"Oh, ya?" Putri menoleh ke arah Arka. "Gue juga punya informasi soal Beby."
"Lo duluan."
"Emang gue dapet apaan kalau kasih lo info?"
"Apapun."
"Bener, ya? Oke. Berarti nanti gue mau—"
"Apa informasi tentang Beby?"
"Ish! Sabar, dong!"
Arka diam. Manik matanya menatap tajam ke arah Putri. Putri yang ditatap sedemikian intens pun lama-lama merasa ciut.
Gadis itu berdeham sebelum memulai cerita. "Semalam Aldef sama Beby datang ke rumah gue. Lo tahu kenapa? Karena Beby habis kerampokan."
"Hah? Terus? Beby nggak apa-apa, 'kan?! Dia baik-baik aja, 'kan?! Gimana keadaannya?! Duh. Beby pasti syok berat."
"Dilanjut nggak?!" tanya Putri kesal.
"Terus-terus? Gimana?"
Putri menghela napas sejenak. "Aldef bawa Beby ke rumah gue karena lengan kiri Beby luka. Lumayan dalam, tapi masih aman. Gue juga nggak ngerti kenapa Aldef malah bawa Beby ke sana, bukan ke rumah sakit."
Kalau untuk yang satu itu, Arka paham benar apa penyebabnya. Saat Beby berada di rumah sakit dalam keadaan trauma masa lalu sedang ganas-ganasnya, gadis itu akan kehilangan kendali. Kilasan akan memori kelam semakin pekat di dalam pikiran Beby. Karena di hari trauma itu tercipta, lokasi pertama saat Beby sadar adalah di rumah sakit.
"Tapi ada yang aneh sama Aldef," lanjut Putri, membuat lamunan Arka seketika buyar. "Waktu gue lagi ngobatin Beby, dia dapat telepon dari Celine. Gue curiga, dong, kenapa Celine telepon Aldef malam-malam? Karena itu, gue sengaja giring Aldef ke kamar. Dan pas gue tanya ada hubungan apa dia sama Celine, jawabannya—"
"Mantan pacar."
"WHAT?!"
***
"Bego! Kalau udah kayak gini, gimana cara gue bebasin lo, hah?! Mangkanya, kalau orang ngomong dengerin!"
"Lo juga! Bilangin dong pacar lo! Udah berapa kali gue bilang?! Jangan gegabah! Jangan buru-buru! Sia-sia semua usaha gue kalau akhirnya gini!"
"Mas, tolong tenang. Ini kantor polisi."
Lelaki yang sejak tadi memaki Zidan dan Fara hanya menoleh sejenak ke arah pria paruh baya berseragam polisi yang tadi menegurnya.
"Kalau lo masuk penjara lagi setelah ini, gue ogah nolongin! Soal Beby, gue bakal tanganin sendiri. Nggak butuh lo berdua!"
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️