ALDEBY

ALDEBY
|83.| Cemburu


__ADS_3

"Kalian, kok, bisa bareng?" tanya Fahri saat melihat Daren dan Beby datang bersamaan.


"Tadi habis dari kampus, sekalian," jawab Beby.


"So, kita mulai rapat sekarang?" sahut Daren.


"Daren juga ikut?"


"Di ruang editing aja. Yuk!"


Fahri mendahului Daren dan Beby. Begitu memasuki ruang editing, mereka mendapati sosok Celine yang duduk di salah satu kursi.


"Hai. Akhirnya kalian datang juga."


"Lo ngapain di sini?" tanya Daren.


Manik mata Celine mengarah pada Fahri. "Tanya aja Fahri."


"Celine yang bakal bantu gue selama project ini."


"Emang ini project apa, sih, Ri?" tanya Beby.


Fahri menyalakan proyektor di sana. Melihat hal itu, Daren dan Beby pun mengambil posisi.


"Jadi, ini project yang akan kita kerjakan tiga hari ke depan. Pertama, kita akan hunting foto di sekitar Jakarta. Tepatnya, di gedung ini."


Di dalam gambar, tampak sebuah gedung terbengkalai yang memiliki lantai tingkat 3. Lokasi itu, cukup familiar untuk Beby.


"Hari kedua?" tanya Daren.


"Nah, untuk hari kedua dan ketiga yang berarti Sabtu-Minggu, kita akan ke gunung."


"Gunung?" sahut Beby.


"Iya. Tepatnya, Gunung Bromo."


"Itu pasti melelahkan banget," keluh Beby.


"Tenang. Model di sini bukan cuma lo sama Daren. Tapi, gue dan Celine."


Beby semakin tak mengerti ke mana arah rencana hunting foto yang akan Fahri lakukan. "Oke-oke. Tapi, tujuan hunting foto ini buat apa?"


"Lomba fotografi."


"Lagi?"


Fahri mengangguk. "Temanya tentang alam bebas."


"Kenapa lo pilih gunung? Bukan pantai atau apa, gitu?"


"Sekalian liburan."


Daren terkekeh. Membuat Beby lantas menoleh ke arahnya. "Kenapa, sih, By? Lagian, lo, kan, sering olahraga. Pasti nggak gampang capek."


Beby mendengkus keras. "Modelnya kita berempat. Terus, kru yang ikut ada berapa personil?"


"Dari yang gue data tadi, plus MUA and stylish, total sepuluh personil. Empat belas termasuk kita."


"Yang gantiin lo jadi fotografer?"

__ADS_1


"Gue."


Keempat pasang mata di dalam ruangan itu lantas menoleh ke sumber suara.


"Aldef?"


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.23 saat Beby siap terjun ke alam mimpi. Namun, ponsel di atas nakas yang tiba-tiba berdering, mengurungkan niat Beby.


"Kiran?"


Melihat nama yang terpampang di layar ponsel, Beby pun tak ragu untuk menekan tombol answer.


"Yeoboseyo—"


"Lo jahat banget, sih, By! Lo udah jarang curhat ke gue sekarang! Kesel, ah!"


"Santai dulu kenapa, sih, Ran? Ada apa? Lo ngomongin apa?"


"Lo break sama Aldef, kan?!"


Kening Beby mengernyit heran. "Lo tahu darimana?"


"Lola."


"Gue belum kasih tahu Lola."


"Ya, mana gue tahu. Pokoknya, gue kesel sama lo!"


Ah! Lola pasti tahu hal itu dari Miko. Beby tertawa dalam hati. Jadi, Miko benar-benar ke Lomare Cafe tadi?


"Terus? Lo mau gue ngapain?"


"Nggak bisa besok, ya, Ran? Udah malem ini."


"Bodo amat! Gue mau sekarang!"


Akhirnya, malam itu—dengan sangat terpaksa—Beby menguliti sendiri luka di dalam hatinya.


***


Hunting hari pertama disepakati mulai pukul 11.00. Waktu ini diambil berdasarkan jadwal Beby dan Daren sebagai model utama.


"Udah siap semuanya?" tanya Fahri pada para kru yang bertugas hari itu.


Usai memastikan semua siap, sesi pemotretan pun dimulai. Daren dalam kemeja abu-abu polos dengan kancing depan terbuka, di dalamnya terdapat kaos putih polos. Sementara Beby, ia memakai dress berwarna senada dengan ekor sepanjang satu meter. Di kepala Beby terpasang topi pantai warna putih yang menampilkan kesan anggun.


Sepanjang pemotretan, tatapan Beby kerap terdistraksi dengan kehadiran Aldef. Masalahnya bukan di sana, tapi netra lelaki itu yang seolah enggan mengalihkan pandangan darinya.


Semakin ke sini, Beby dan Daren tampak semakin mesra. Chemistry keduanya begitu menonjol di kamera. Tiga puluh menit untuk kostum pertama. Fahri memberi jeda untuk para modelnya berganti pakaian selama 20 menit.


Aldef yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa diam. Tatapan lelaki itu mengarah pada Fahri dan Celine.


"Eh." Fahri terkejut saat tiba-tiba seseorang mengusap peluh di keningnya.


"Keringat lo ganggu gue banget daritadi," ucap Celine.


Telapak tangan Fahri mengacak gemas puncak kepala Celine. "Thank's, ya."

__ADS_1


Lalu, indra pengelihatan Aldef beralih pada Beby dan Daren yang baru sama-sama keluar dari ruang ganti. Tampak sosok Beby dengan dress biru langit selutut lengan pendek, rambut panjang teruai, serta jepit berbentuk bintang yang mengunci poninya.


"Wahhh ... lo cantik banget, By," puji Daren dengan tatapan kagum yang tampak jelas.


"Lo juga keren." Beby membalas pujian Daren pun dengan senyum manis.


"Gila, sih, By. Kalau lo jadi pacar gue, gue nggak akan bisa ngelirik cewek lain."


Beby tertawa. "Bisa aja lo."


Melihat interaksi tak biasa itu, tanpa sadar kedua tangan Aldef mengepal kuat. Rahangnya terkatup rapat. Namun, lelaki itu masih tak menyadari adanya sinyal cemburu pada dirinya.


Sesi pemotretan kembali berlanjut. Semakin lama, Daren dan Beby tak ragu untuk pose adegan mesra. Bahkan, ada satu pose di mana hidung Daren dan Beby saling menempel. Hal itu lantas saja membuat Aldef berdiri dari kursinya.


Apa? Lo mau nyamperin Beby? Lo mau marah-marah? Emang lo siapanya Beby?


Lo pikir, gimana citra lo di mata Beby kalau lo nyamperin dia terus marah-marah?


Beby bakal maafin lo? No! Yang ada, dia makin ilfeel!


Suara-suara itu menahan pergerakan Aldef di tempat. Kedua tangannya mengepal kuat, menampakkan kuku-kuku jarinya yang memutih. Rasanya, Aldef ingin memisahkan Daren dan Beby di depan sana. Bagaimanapun, Beby masih pacar Aldef. Tapi, lelaki itu tak ingin citranya semakin buruk di mata Beby.


Waktu istirahat tiba. Semua personil diberi waktu 1 jam 30 menit untuk shalat Dzuhur dan makan siang. Aldef yang melihat sosok Daren melangkah ke arahnya, terang-terangan melempar tatapan tajam.


"Shalat dulu, yuk, Al," ajak Daren. "Bareng-bareng sama yang lain juga."


Aldef bungkam. Manik matanya setia menatap tajam tepat ke bola mata Daren. Rahang lelaki itu pun tampak mengeras.


"Lo kenapa, sih?" tanya Daren dengan kening mengernyit. "Kayak orang kesel gitu mukanya. Atau, marah? Gue ada salah, ya?"


"Daren!"


Suara lembut itu membuat indra pengelihatan Daren dan Aldef kompak beralih. Tampak sosok Beby yang tengah melambaikan tangan dan tersenyum lebar ke arah Daren. Daren pun melakukan hal yang sama.


"Nggak shalat?" tanya Beby.


"Iya. Bentar lagi."


"Gue duluan, ya."


"Yoi!"


Selepas kepergian Beby, Aldef lantas beranjak dari posisinya. Bisa-bisa, lelaki itu benar akan menghajar Daren jika terus ada di dekat laki-laki itu.


Dari semua yang terjadi, hal yang membuat Aldef kesal adalah cara Beby bersikap padanya. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Daren. Namun, menatap ke arah Aldef saja tidak. Padahal, Beby itu masih pacar Aldef!


Daren yang melihat Aldef hilang dari tempat semula lantas berlari kecil untuk menyusul lelaki itu.


"Lo cemburu, ya?" tanya Daren saat berhasil menyamai langkah Aldef. "Tenang aja, tadi itu cuma profesionalisme kerja, kok. Tapi, beda lagi kalau lo putus sama Beby."


Aldef berhenti melangkah. Lelaki itu menoleh ke arah Daren dengan napas memburu. Tatapannya bak belati kecil nan tajam yang menusuk indra pengelihatan Daren.


"Beby nggak akan mau sama lo," ketus Aldef yang membuat Daren seketika meradang.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2