
Lima menit lebih Aldef mundar-mandir di depan unit apartemen Beby. Ia bingung harus berkata apa di hadapan sang pacar nanti. Ribuan kali kalimat tersusun di kepala, namun ribuan kali pula kalimat itu berantakan di detik berikutnya. Satu hal yang pasti, Aldef tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya terjadi.
Setelah cukup lama memandang pintu berbahan kayu di hadapannya, Aldef memutuskan untuk memencet bel di samping pintu. Perkara alasan, itu urusan nanti. Yang penting sekarang—
'BUGH!'
Sebuah pukulan telak tepat mengenai rahang Aldef, membuat lelaki itu tersungkur ke lantai. Ibu jarinya refleks menekan sudut bibir yang berdarah. Saat Aldef mendongak, tampak sosok Miko dengan tatapan setajam belati yang mengarah padanya.
Belum sempat Aldef bangun, Miko menarik paksa kerah baju Aldef. "Dari mana aja lo, hah?! Bisa-bisanya lo ninggalin adik gue SENDIRIAN!"
'BUGH!'
Kini, Miko benar-benar layaknya orang kesetanan. Kepalan tangannya membabi-buta menghantam Aldef. Sementara itu, Aldef yang sadar akan kesalahannya pun tak berniat untuk mengelak, apalagi melawan.
"STOPPP!!!"
Aksi kesetanan Miko terhenti saat mendengar suara teriakan melengking dari dalam rumah. Lelaki itu menoleh ke belakang dengan napas ngos-ngosan dan tangan yang masih terkepal kuat.
Beby yang melihat Aldef babak belur, lantas menghampiri lelaki itu. "Lo nggak apa-apa, 'kan?" tanya Beby seraya menangkup rahang Aldef.
Aldef yang merasa seolah tulang-tulangnya patah secara bersamaan, tak sanggup berkata-kata. Ia sesekali terbatuk akibat pukulan di perut.
Gadis yang tengah berjongkok di depan Aldef itu mengalihkan pandangan ke arah Miko. "Kak! Lo udah janji, kan, sama gue?! Lupa?!"
"Dia pantas dapetin itu!" balas Miko dengan tatapan nyalang ke arah Aldef.
Beby berdecak kesal. Mengabaikan Miko, ia membantu Aldef berdiri.
"Kita ke apartemen lo aja, ya? Gue obatin lukanya."
"Beby—!"
"DIEM! Nggak usah larang-larang gue."
Aldef mengambil kartu akses apartemennya dari dalam saku, lalu menyerahkannya pada Beby. Setelah pintu terbuka, Beby membantu Aldef masuk. Meninggalkan Miko yang masih dalam kabut hitam penuh emosi.
***
Di dalam apartemen Aldef, Beby mendudukkan lelaki itu di sofa ruang tengah.
"Gue ambil P3K dulu," ucap Beby.
Gadis itu lantas melangkah ke arah dapur, meninggalkan Aldef dengan tatapan yang tak beralih darinya. Setelah semua yang Aldef lakukan, lelaki itu tak menyangka Beby akan membelanya di depan Miko.
Beby kembali dengan kotak P3K yang kemudian ia letakkan di atas meja. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan kapas, obat merah, alkohol, perban, dan plester. Lalu, Beby menuangkan obat merah dan alkohol pada kapas.
"Sini," kata Beby, meminta Aldef lebih mendekat. Sang pacar pun menurut saja.
"By—awh!" Aldef meringis kesakitan sebab luka di sudut bibirnya tertekan.
Beby yang tak sengaja melakukan itu pun berhenti bergerak barang sesaat. Ia pasti salah dengar. Iya. "Lo manggil gue apa tadi?" Tangan Beby kembali mengobati luka Aldef.
Stupid! umpat Aldef pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melupakan panggilan yang selama ini ditujukan hanya untuk Beby?
"Sky," jawab Aldef, membuat senyum Beby merekah.
Ternyata, Beby memang salah dengar.
"Gue—"
"Tunggu luka lo selesai gue obatin. Bentar."
__ADS_1
Mendengar itu, Aldef pun diam. Bola matanya menatap lamat-lamat ke arah Beby, mengamati tiap inchi wajah gadisnya yang mengeluarkan semburat pucat.
Goblok lo, Al! Beby pacar lo! Bukan Celine! Lo ninggalin dia buat apa, sih, Al? Celine bukan siapa-siapa! Celine nggak lebih dari masa lalu! Bego!
Suara itu menggema di telinga Aldef. Memang. Aldef pun menyadari kebodohannya. Beby pasti menunggunya di rooftop sangat lama. Gadis itu pasti menggigil di sana.
"Sky—"
Aldef hendak bersuara, sebab Beby telah menempelkan plester pada luka-luka di wajahnya, menandakan bahwa gadis itu usai. Namun, Beby seolah tak mengizinkan Aldef membuka topik tentang yang terjadi di antara mereka.
"Lo belum ngucapin happy birthday ke gue."
"Lo nggak marah sama gue?"
"Semuanya udah, lho."
"Lo nggak mau tanya alasan gue?"
"Bahkan, lo kalah sama fans-fans gue."
"Sky, please."
Beby menghela napas berat. "Jujur, gue emang penasaran tentang alasan lo yang tiba-tiba ngilang. Tapi, boleh gue minta sesuatu?"
Aldef diam. Dan Beby paham, bahwa diamnya Aldef menandakan lelaki itu mempersilakan Beby meminta sesuatu padanya.
"Gue mau, hari ini lo nemenin gue seharian. Lupain semua yang terjadi. Tolong, Al. Ini ulang tahun pertama gue sejak jadi pacar lo. Boleh, kan?"
Sebenarnya, ada satu pertanyaan besar dalam benak Aldef: Fahri. Jika Beby sampai menunggu lama di rooftop, berarti gadis itu sendirian. Lantas, ke mana Fahri?
"Al?"
Because, this is Beby's Day.
"Oke." Aldef tersenyum. "Lo mau apa?"
Beby berpikir sejenak. "Kita ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Ikut aja, deh!"
"Oke."
"Gue siap-siap dulu."
Beby beranjak dari sofa. Baru tiga langkah berjalan, Aldef memanggilnya.
"Sky!"
"Ya?"
Aldef berdiri. Langkahnya berpacu pelan menghampiri Beby. Manik matanya menatap lurus ke bola mata sang pacar. Saat keduanya sudah berhadapan, Aldef menangkup pipi kiri Beby dengan telapak tangan kanannya.
"Happy birthday, Sayang," ujar Aldef dengan nada rendah yang sukses membuat Beby melambung tinggi.
***
Butuh tekad dan kegigihan yang kuat untuk melawan Miko yang bersikeras melarang Beby keluar rumah, terutama bersama Aldef. Alhasil, mereka membuat kesepakatan: Beby dan Aldef boleh pergi bersama, tapi dengan Miko yang mengintai. Tadinya, Miko meminta untuk satu mobil dengan Beby dan Aldef. Namun berkat keras kepala sang adik, Miko mengalah. Ia menaiki mobilnya, sementara Aldef dan Beby memakai mobil Aldef.
Aldef menatap terang-terangan pada Beby yang tengah mengikat rambutnya. Gadis itu bertanya tanpa menoleh. "Wae?"
__ADS_1
"Gwenchanna?"
Beby menoleh cepat, tertawa seraya menatap heran pada Aldef. "Sejak kapan lo bisa bahasa Korea?"
Lelaki di samping Beby itu tertawa pelan. "Sejak lo ngeracunin gue drakor."
Lalu, keduanya tertawa bersamaan. Seolah memang tak ada hal janggal yang terjadi. Meski sebenarnya, baik Aldef atau Beby memiliki banyak pertanyaan untuk satu sama lain.
"By the way, Al. Tadi, ada yang ngirimin gue kado ke apartemen."
"Siapa? Fans?"
"Bukan."
"Siapa, dong?"
Ragu. Itu yang Beby rasakan sekarang. Bagaimana kalau Aldef marah? Bagaimana kalau pria itu mengira Beby masih menaruh harapan pada sang mantan? Bagaimana kalau Aldef mengira bahwa Beby masih mencintai Arka? Bagaimana kalau ....
"Sky? Kok, diem?"
Beby tak memiliki keberanian untuk menatap Aldef. Meski demikian, gadis itu tetap menjawab, "Arka."
***
Celine terbangun dan mendapati Poppy yang tengah membaca buku di samping ranjangnya.
"Mana Aldef?" tanya Celine.
"Pergi," jawab Poppy tanpa mengubah posisi sedikitpun.
"Ke mana?"
"Nggak tahu."
"Telepon dia sekarang."
Poppy menutup bukunya dengan cepat. Bola matanya membalas tatapan sang kakak dengan nyalang. "Kenapa, sih, Kakak harus berbuat hal sejauh ini? Buat apa, Kak? Apa yang Kakak dapat kalau hubungan kak Aldef dan kak Beby hancur?"
"Kamu. Kakak ngelakuin semua ini demi kamu. Paham?"
Poppy menghela napas berat. Sejak mengenal perempuan bergaya tante-tante bernama Fara, Poppy seperti kehilangan sosok kakaknya yang dulu.
"Kak, kita emang hidup susah sekarang. Tapi, nggak gini caranya—"
"Terus gimana?! Gimana caranya biar Kakak dapat banyak uang untuk biaya cuci darah kamu tiap minggu? GIMANA?!"
Gadis berambut sebahu itu terdiam. Jujur, jika ditanya seperti itu, Poppy pun tak mendapat jawaban. Pasalnya, Poppy melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Celine banting tulang dari pagi ke pagi untuk membiayai seluruh kebutuhan hidup mereka.
"Nggak tahu, 'kan?" Celine kembali bersuara, sebab melihat sang adik hanya bungkam. "Kamu juga nggak tahu caranya, 'kan? Kalau gitu, biar Kakak lakuin apapun buat kamu, Pop."
Tangan Celine mendarat di bahu Poppy. "Biar Kakak lakuin segala cara supaya kamu bisa sembuh."
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
Thank you ❤️
__ADS_1