
Mobil Aldef terhenti di depan sebuah rumah dominan warna putih tanpa pagar. Beby yang sejak tadi fokus membaca skenario, lantas mendongak begitu merasakan mobil yang ia tumpangi berhenti.
"Udah sampai, Al?" tanya Beby seraya menoleh ke samping kanan.
"Udah."
Beby mengarahkan pandangan ke depan. Dan apa yang terlihat, membuat Beby heran. "Katanya mau makan di restoran favorit lo?"
Alih-alih menjawab, Aldef malah melempar senyuman berjuta makna. Tangannya bergerak melepas sabuk pengaman, lalu beranjak keluar.
Beby yang semakin merasa heran hanya bisa terdiam. Ia pikir, Aldef berniat meninggalkannya. Tapi ternyata, lelaki itu memutari mobil, membuka pintu di sisi kiri Beby, lalu melepas sabuk pengaman yang masih melilit tubuh Beby dengan bola mata menatap lekat ke arah gadis itu.
Hanya dua detik yang Aldef butuhkan untuk melancarkan aksinya itu, namun terasa seperti dua abad bagi Beby.
"Yuk, turun!" ajak Aldef seraya mengulurkan tangan.
Sebelum menyerahkan tangannya ke dalam genggaman Aldef, Beby menghela napas sejenak.
Kayaknya, gue harus periksa jantung habis ini, ucap Beby pada dirinya sendiri.
Keduanya melangkah memasuki pekarangan rumah itu. Manik mata Beby tak lepas memperhatikan setiap sudut. Gadis itu berusaha menebak jalan pikiran Aldef, namun hasilnya nihil.
"Ini rumah siapa, Al?" tanya Beby yang hanya dibalas senyuman penuh arti oleh Aldef.
Masih dengan tangan yang menggenggam erat jemari Beby, Aldef menekan tombol bel. Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita paruh baya berbadan langsing dari rumah itu.
"Akhirnya, yang ditunggu datang juga," sambut wanita itu dengan hangat.
"Assalamualaikum, Ma," kata Aldef seraya mencium punggung tangan wanita di hadapan mereka.
Ma? Ma? Mama? Ini nyokapnya Aldef?
"Waalaikumsalam," balas Fitri seraya tersenyum lebar.
Tatapannya beralih pada gadis di samping Aldef. "Ini pasti Beby, ya?"
Beby tersenyum canggung. Ia pun mengulurkan tangan. "Assalamualaikum, Tante."
"Waalaikumsalam." Fitri membalas jabatan tangan Beby. "Ayo, masuk. Udah siap semuanya."
Fitri masuk terlebih dahulu. Diikuti Aldef yang kembali menggandeng tangan Beby.
"Lah? Lo, kok, ada di sini?" seru Aldef saat melihat seorang gadis dengan rambut dicepol tengah duduk di salah satu kursi meja makan.
Aldef membawa Beby untuk duduk di sampingnya. Kini, keduanya berhadapan dengan Putri.
"Ya, emang kenapa? Orang ini rumah bokap gue," balas Putri sewot.
Beby yang sejak tadi masih mencerna tentang apa yang tengah terjadi, hanya duduk dengan bibir terbungkam. Ia tak tahu harus berkata apa. Apalagi, di meja makan itu ada Putri. Mengingat pertemuannya dengan Putri terakhir kali, Beby jadi merasa canggung sendiri.
"Jadi, kalian berdua udah official, nih?" tanya Putri seraya menatap Beby dan Aldef secara bergilir.
"Iya, dong!" sahut Aldef seraya melingkarkan lengan ke bahu Beby. "Emang lo doang yang mau pacaran."
Kalimat terakhir yang Aldef ucap itu mengingatkan Beby pada satu nama: Arka.
"Putri!!! Sini bantuin Mama bentar!" teriakan Fitri dari arah dapur membuat Putri lantas beranjak dari kursinya.
"Al, kenapa lo bawa gue ke sini, sih?" tanya Beby sesaat setelah mereka tinggal berdua.
"Mau ngenalin lo sama keluarga gue," jawab Aldef santai.
"Ya, tapi, kan, nggak harus hari ini, Al. Gue nggak ada persiapan sama sekali. Gila lo!"
Aldef terkekeh pelan. "Emang kenapa, sih, Sky? Gue udah kenal sama keluarga lo. Salah kalau gue mau ngenalin pacar ke keluarga gue? Lagipula, lebih cepat lebih baik, right?"
"Terserah lo, deh, Al," pasrah Beby seraya memalingkan muka.
Tak lama kemudian, Fitri dan Putri datang membawa makanan dengan aroma yang memanjakan indra penciuman. Tiba-tiba, suara adzan magrib berkumandang.
"Kita shalat magrib dulu, ya?" kata Fitri.
Aldef dan Beby sama-sama mengangguk.
"Kamu nggak shalat, Put?" tanya Fitri pada Putri yang sibuk dengan ponselnya.
Anak gadisnya menggeleng.
"Dasar setan," ejek Aldef yang lantas dihadiahi pelototan tajam dari Putri.
***
Setelah selesai shalat, Beby yang terlebih dahulu kembali ke meja makan. Masih ada Putri di sana. Sungguh. Hening yang dibalut canggung ini terasa begitu menyiksa.
"Apa kabar?" tanya Putri.
__ADS_1
Beby yang semula memainkan ponsel untuk mengalihkan perhatian lantas mendongak. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang sedang Putri ajak bicara.
"Gue?" Beby menunjuk dirinya sendiri.
Putri tertawa renyah. "Emang di sini ada orang lain?"
Beby menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Baik."
Putri manggut-manggut.
"Maaf."
Keduanya sama-sama tertawa, sebab mengucap kata itu dengan kompak.
"Terakhir kali kita ketemu, gue nggak sopan banget," ujar Beby. "Maaf, ya."
"It's okay. Gue ngerti, kok. Yang penting, sekarang lo udah fix sama Aldef, 'kan?"
Beby mengangguk mantap.
"Jangan percaya sama apapun yang Putri bilang. Ngaco semua omongannya." Tiba-tiba, Aldef menyahut.
"Apaan, sih, lo? Siapa juga yang ngomongin lo? Dih! Pede abis!" sungut Putri tak terima.
Aldef mengabaikan kata-kata Putri. Lelaki itu menoleh ke arah Beby. "Pokoknya, apapun yang Putri bilang, jangan percaya! Dia emang sukanya jelek-jelekin gue."
"Tapi kita nggak lagi ngomongin lo, Al," balas Beby.
"Tuh!" seru Putri heboh.
"Ini berdua kenapa berantem, sih?" Fitri mengambil posisi di samping kanan Putri. "Ada Beby juga."
"Biasa, Ma. Aldef, kan, suka banget gangguin aku," sahut Putri.
"Dih! Lo yang selalu mengusik ketentraman hidup gue, ya!" balas Aldef, tak mau kalah.
Malas melihat kedua anaknya yang selalu bak tom & jerry, Fitri mengajak bicara Beby. "Beby, makan aja. Nggak usah ladenin mereka. Tadi Tante masak nasi goreng seafood. Kata Aldef, itu makanan favorit kamu. Bener?"
Beby mengangguk seraya tersenyum ramah. "Iya, Tante."
"Assalamualaikum."
Keempat pasang mata di meja makan itu lantas menoleh ke sumber suara.
"Waalaikumsalam."
Dengan senang hati, Farhan mengiyakan ajak Fitri. Lelaki paruh baya itu duduk di tengah-tengah Aldef dan Putri. Tatapannya mengarah pada gadis di samping Aldef.
"Jadi, ini pacar kamu, Al?"
Mendengar pertanyaan Farhan, Beby jadi penasaran, apa saja yang sudah Aldef ceritakan tentang dirinya?
"Iya, Om," jawab Aldef. "Cantik, 'kan?"
"Banget! Selera kamu emang nggak perlu diragukan lagi."
Om?
"Nggak usah kaget denger Aldef manggil saya Om," ucap Farhan, seolah dapat mendengar isi hati Beby. "Udah kebiasaan dia."
Beby hanya membalas dengan senyuman singkat.
Selanjutnya, meja makan di ruangan itu terasa begitu hangat. Saling cerita dan bercanda menemani acara makan malam mereka. Ditambah lagi, Putri dan Aldef yang acap kali mendebatkan hal-hal remeh. Sifat ekstrovert dalam diri Beby pun membantunya lebih cepat akrab dengan keluarga Aldef.
Tiga puluh menit kemudian, acara makan malam selesai. Tadinya, baik Aldef maupun Beby tak ingin buru-buru pulang. Tapi ....
"Ya, Kak?" Aldef berbicara pada Miko yang tiba-tiba saja menelepon.
"Lo masih sama Beby, 'kan?"
"Iya. Ini Beby lagi sama gue. Kenapa?"
"Pulang sekarang. Gue tunggu!"
"Hah?"
"Pulang! Nggak pakai lama! Bilang ke Beby ada tamu yang nunggu dia."
"O-oke."
'Tut!'
"Kenapa?" tanya Beby penasaran.
"Kak Miko, nyuruh lo cepet pulang. Ada tamu katanya."
__ADS_1
"Tamu?"
Ah! Beby baru ingat. Pasti Lola.
"Ya udah. Ayo pulang."
"Lho, mau ke mana?" tanya Fitri.
"Balik ke apartemen dulu, Ma. Beby udah ditunggu sama kakaknya."
"Gitu? Ya udah, deh. Kalian hati-hati di jalan, ya."
"Sering-sering mampir, By," ucap Putri yang dijawab anggukan serta senyum hangat oleh Beby.
"Ogah banget," sahut Aldef.
"Gue nggak ngomong sama lo!" tukas Putri.
***
Sebelum ke apartemen Beby, Lola menyempatkan diri untuk mampir ke minimarket. Ia berencana membeli camilan untuk bekal nanti malam.
Satu keranjang penuh, cukup sudah. Lola bergegas menuju kasir. Namun, belum sampai di sana, seseorang menabrak Lola dari belakang. Barang-barang dalam keranjang yang ia bawa pun berserakan.
"Sorry." Dari suaranya, Lola menduga bahwa orang itu berjenis kelamin laki-laki.
Baik Lola maupun si penabrak langsung memungut barang-barang Lola. Tepat pada barang terakhir, tangan mereka bersentuhan. Keduanya pun lantas mendongak.
"LO?!" Lola bergegas menarik tangannya, lalu berdiri.
"Lo lagi, lo lagi. Sial mulu, ya, gue ketemu lo!"
"Enak aja! Jelas-jelas lo yang nabrak gue dari belakang. Lo yang pembawa sial!"
"Ya terus? Gue, kan, udah minta maaf."
Lola tertawa meremehkan. "Panggilan Miki emang cocok buat cowok songong kayak lo!"
Miko yang tak terima dengan ucapan Lola pun lantas menyusul gadis itu ke arah kasir. "Nama gue Miko. Bukan Miki. Sembarangan aja lo ganti-ganti nama orang!"
"Bodo amat! Miki!"
"Mas, Mbak, ini siapa yang mau bayar?"
Mendengar pertanyaan dari penjaga kasir, Lola dan Miko kompak berseru, "Saya, Mbak!"
Lola lantas melayangkan tatapan membunuh pada pria di sampingnya. "Antri, dong! Lo, kan, datang terakhir. Gue duluan!"
"Barang gue ada di meja kasir duluan. Jadi, gue yang mesti duluan bayar."
"Gue duluan!"
"Gue."
"Gue!"
Si mbak penjaga kasir yang mulai jengah dengan ulah dua manusia itu lantas menggabungkan barang mereka dalam satu tempat.
"Lho, Mbak, kok, digabung?" tanya Lola heran.
"Biar nggak pada berantem," jawab si penjaga kasir seraya tersenyum ramah.
"Lo, sih!" pungkas Lola yang sudah pasti ditujukan pada Miko.
"Dia yang bayar, ya, Mbak. Saya nggak jadi beli." Miko lantas meninggalkan tempat usai berkata demikian. Lagipula, yang ia beli hanyalah dua buah air mineral dan satu coklat batangan.
"Hah?" Lola menatap kepergian Miko dengan cengo. "Heh! Miki! Bayar, nih, barang lo!"
Sayangnya, sekeras apapun Lola teriak, sosok Miko tetap tak kembali. Gadis itu mendengkus kesal seraya menatap tiga barang asing yang harus ia bayar.
"Ngomong-ngomong, Mbak sama mas tadi cocok, lho," ujar mbak-mbak penjaga kasir seraya tersenyum jahil ke Lola.
"Cocok gimana?" balas Lola malas.
"Cocok. Jadi pasangan."
"AMIT-AMIT!"
*
*
*
Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.
__ADS_1
Thank you ❤️