ALDEBY

ALDEBY
|68.| Last Day


__ADS_3

Tak seperti hari-hari biasanya. Pagi ini, Beby mendapat pemandangan yang beda di apartemennya. Begitu membuka pintu kamar, ia disambut dengan beragam aktivitas yang membuat hati Beby terasa hangat.


Maya dan Shinta yang tampak berkolaborasi di dapur, sementara Billy, Indra, dan Miko yang sibuk dengan ponsel masing-masing. Beby memutuskan untuk bergabung dengan ibu dan kakak iparnya.


"Pagi, Ma."


Mendengar suara Beby, Maya dan Shinta kompak menoleh.


"Eh, By, kebetulan kamu di sini," ucap Maya. "Pisau di mana, ya? Daritadi Mama nyari nggak ketemu-ketemu."


Ah! Beby lupa akan yang satu itu. Lantas, bagaimana Beby menjawabnya sekarang? Akan sangat panjang dan memakan waktu lama jika Beby menjawab jujur.


"Banyak yang berkarat, Ma. Jadi, Miko buang," sahut Miko.


"Terus, Mama potong sayur pakai apa, dong?"


"Ada gunting, nih, Ma," kata Shinta. "Ngomong-ngomong, By, hari ini kamu ada endors, 'kan?"


"Ada. Biasanya, sih, barangnya dikirim sama Mbak Anggi ke lokasi syuting aku. Kenapa, Kak?"


"Pernah ada tawaran buat endors ibu hamil, nggak?"


"Endors ibu hamil?"


"Iya. Misalnya, skincare yang aman buat ibu hamil, susu ibu hamil, atau apapun itu, deh. Ada nggak?"


"Kurang tahu, ya, Kak. Soalnya yang biasa ngurus endors itu manager aku."


"Kasih job buat Shita, By. Ngidamnya emang aneh-aneh, tuh," ujar Maya seraya memotong sayur bayam menggunakan gunting—sesuai anjuran Shinta.


"Maksudnya? Kak Shinta ngidam di-endors?"


Shinta tersenyum nyengir, membuat Beby lantas terbahak. Tangan Beby bergerak menyentuh perut Shinta yang mulai membesar. "Ponakan gue, calon selebgram."


Ketiga wanita di dapur itu tertawa secara bersamaan.


***


"BEBY!"


Mendengar namanya dipanggil, gadis dalam balutan sweeter pink pastel dan celana jeans selutut sebagai bawahan menoleh ke sumber suara. Beby mambalas lambaian tangan Kiran yang berdiri dengan jarak 10 meter darinya.


"Sini!" seru Kiran yang lantas membuat Beby menghampirinya.


"Wae?" tanya Beby sesaat setelah berdiri di hadapan Kiran.


Bola mata Kiran menelusuri raga Beby dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tumben lo pakai sweeter. Warna cerah lagi. Kehabisan hoodie?"


Beby terbahak. "Nggak. Gue lagi seneng aja hari ini." Jeda sejenak. "Tumben lo manggil gue. Pasti ada sesuatu."


"Wah! Kayaknya kepekaan gue udah mulai nular ke lo, ya."


Beby mengedikkan bahu. "Maybe. So, ada apa?"


"Ngobrolnya sambil makan aja gimana? Belum sarapan gue."


***


Kiran dan Beby duduk berhadapan di meja berisi dua orang kafetaria kampus. Kiran meneguk es teh manis miliknya, lalu melahap satu sendok soto ayam sebelum mulai bercerita.


"Jadi, gue punya informasi penting buat lo," ucap Kiran. Beby memasang telinga sembari melahap nasi goreng seafood di hadapannya dengan santai. "Semalam, waktu gue keluar sama kak Gino, lo tahu? Gue ketemu Aldef."

__ADS_1


Beby menelan makanan di mulutnya, lalu meneguk milkshake taro miliknya. "Oh, ya? Di mana?"


"Warung bubur ayam langganan nyokapnya kak Gino. Bukannya Aldef nggak suka bubur ayam, ya? Kalau nggak salah, lo pernah cerita, deh, ke gue. Apa gue yang salah denger?"


Mulut Beby bungkam beberapa saat. Pikirannya mulai berkelana. "Jam berapa lo ketemu Aldef?"


"Jam ... jam ... sekitar jam sepuluh malam."


Beby terkekeh. "Lo salah orang kali. Jam segitu Aldef udah di apartemen. Orang pulangnya bareng gue."


"Nggak mungkin, By! Gue ngobrol, kok, sama Aldef. Tanya kak Gino kalau nggak percaya. Mau gue telponin?"


"Nggak perlu," sahut Beby cepat.


Lalu, Beby fokus melahap sisa nasi goreng di piringnya. Ekspresi wajah Beby yang datar membuat Kiran merasa ada yang sahabatnya itu sembunyikan. Kalian tahu, kan, seberapa kadar kepekaan seorang Kirana Amalia?


"Lo lagi ada masalah sama Aldef?" tanya Kiran.


"Nggak." Beby meletakkan sendoknya di atas piring yang telah kosong. Lalu, gadis itu menyeruput sisa milkshake taro hingga tandas. Beby kemudian berdiri. "Gue duluan. Udah mau masuk soalnya."


Kiran menatap lurus ke arah Beby yang tampak tak seperti biasa. Melihat reaksi Beby, Kiran semakin yakin, bahwa ada yang tidak beres.


***


Lokasi syuting webseries berjudul Friendzone yang diperankan Beby terasa lebih ramai hari ini. Pasalnya, ini adalah hari terakhir syuting. Excited sekaligus sedih, itu yang para pemain rasakan. Terutama ....


"Huaaa!!! Akhirnya kelar juga. Sedihhh!!! Pengin nangis!!!"


Ya. Terutama Lola. Gadis itu baru saja usai melakukan scene 35 yang berarti peran Lola sebagai Anjani telah usai.


Pada detik-detik menjelang adzan magrib ini, Beby dan Daren melaksanakan scene terakhir mereka.


"Bel, lo maafin gue, 'kan?"


Gadis di hadapan lelaki berseragam SMA itu mengangguk singkat.


"Gue boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


"Boleh gue temenan sama lo lagi?"


"Boleh."


"Boleh gue sahabatan sama lo lagi?"


"Boleh."


"Boleh gue sering main ke rumah lo lagi?"


"Boleh."


"Boleh gue minta lo ajarin soal-soal kimia lagi?"


"Boleh."


"Boleh gue jadi pacar lo?"


"Boleh—eh?"


Tangan kekar lelaki itu meraih jemari gadis di hadapannya. Manik mata mereka saling menyelami satu sama lain.

__ADS_1


"Gue nggak tahu sejak kapan rasa ini ada, Bel. Gue juga nggak berencana jatuh cinta sama lo. Gue tahu kita sahabatan dari kecil. Tapi, Bel, status sahabat nggak bisa bikin hati gue lega. So, jadi pacar gue, ya, By?"


"CUT!"


Beby memukul lengan Daren. "Bisa-bisanya lo salah dialog!"


Daren tersenyum canggung. "Sorry-sorry."


"Take dua!" teriak sang sutradara. "Ulang dari dialog terakhir, ya."


Beby dan Daren sama-sama kembali memposisikan diri. Masuk ke karakter mereka masing-masing.


"Action!"


"Gue nggak tahu sejak kapan rasa ini ada, Bel. Gue juga nggak berencana jatuh cinta sama lo. Gue tahu kita sahabatan dari kecil. Tapi, Bel, status sahabat nggak bisa bikin hati gue lega. So, jadi pacar gue, ya, Bel?"


"Lo serius, Raf?"


"Tampang gue kelihatan bercanda, ya?"


Gadis di hadapannya terkekeh pelan. Lalu, kepalanya mengangguk singkat. Senyumnya merekah. Pertanda naiknya tingkat status hubungan mereka yang semula sahabat menjadi pacar.


Rafi membawa gadis yang kini berstatus sebagai pacarnya ke dalam dekapan. Kemudian, lelaki itu membisikkan tiga kata yang membuat jantung Bella berdebar. "I love you, By."


"CUT!"


"DARENNN!!!"


***


Entah sudah berapa lama Aldef terjebak di rumah Celine. Bukan. Lebih tepatnya, Aldef yang menjebak dirinya sendiri. Sejak pulang dari kampus empat jam yang lalu, lelaki itu menghampiri Celine ke rumahnya. Tentu saja, semua itu Aldef lakukan atas permintaan sang mantan.


"Thank's, ya, Al. Kamu udah mau nemenin aku," ucap Celine setelah perbincangan panjang yang terjalin di antara mereka.


"Anytime, Cel."


"Tapi, Al, kira-kira Beby marah nggak, ya, kalau tahu kita sedekat ini?"


Aldef menghela napas berat. "Entahlah."


"Aku takut, Al."


Tangan Aldef bergerak menggenggam jemari Celine. "Tenang aja, Beby orang baik, kok. Dia pasti ngerti."


*


*


*


ALDEF MAKIN LAMA MAKIN NGELUNJAK, YA! :')


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️

__ADS_1


__ADS_2