ALDEBY

ALDEBY
|76.| Spot Favorit


__ADS_3

"Kalau lo nggak bisa bikin dia bahagia, setidaknya jangan nyakitin."


***


"Habis telepon siapa?"


"Fahri? Lo masih di sini?"


Fahri menatap Aldef lamat-lamat. Jelas sekali bahwa sahabatnya itu berusaha menghindari pertanyaan yang ia lontarkan.


"Celine lagi?" sarkas Fahri.


Aldef diam. Alih-alih menjawab, pria itu malah memalingkan muka. Membuat Fahri semakin yakin bahwa apapun asumsi yang ada dalam benaknya adalah benar.


"Lo bener-bener, ya, Al. Habis diapain, sih, lo sama Celine, hah?


"Oh, atau jangan-jangan, lo habis ngelakuin hal yang nggak senonoh sama Celine? Mangkanya, dia minta pertanggungjawaban lo."


"Jaga omongan lo, ya, Ri!" tegas Aldef, tak terima dengan tuduhan Fahri barusan. "Lo nggak tahu apa-apa!"


"Gue tahu, Al! Lo inget waktu lo ninggalin Beby di rooftop? Siapa saksinya? Gue!"


Fahri menghela napas sejenak. "Lo kenapa, sih, Al? Bosen sama Beby? Ini pacar lo masih dalam suasana berduka. Bisa-bisanya lo teleponan sama mantan di makam orang tuanya. Nggak ada otak lo!"


"Celine cuma nitip salam buat Beby."


"Oh, ya? Kenapa nggak disampaikan langsung? Celine pasti punya nomor telepon Beby, 'kan?"


"Dia nggak mau ganggu Beby dulu."


"Itu kata Celine? Atau kata lo?"


Fahri berdecak kesal. "Gini, ya, Al. Lo kalau bosan bilang. Jangan ganti x dengan huruf p. Jangan karena yang lalu udah jadi mantan, nyari yang baru buat jadi pelampiasan."


Usai melontarkan rentetan kalimat itu, Fahri beranjak pergi. Namun, lelaki itu kembali menghadap Aldef tepat di langkah kedua.


"Kalau lo nggak bisa bikin dia bahagia, setidaknya jangan nyakitin."


***


Beby berdiri di ambang pintu belakang rumahnya yang menampilkan suasana halaman samping kiri rumah. Semilir angin yang membawa hawa panas tak membuat Beby ingin beranjak. Matanya menatap lurus pada sepetak kebun hasil karyanya bersama sang ibu. Juga sebuah kursi kayu yang sengaja Billy buat sendiri untuk tempat Beby duduk di malam hari. Selain kamarnya, taman adalah spot favorit Beby di rumah ini. Dari sana, ia bisa dengan leluasa mengamati bintang yang bertaburan di langit. Beby merasa tangannya dapat menggapai benda langit kesayangan itu dari sini.


Setetes cairan bening kembali tumpah dari indra pengelihatan Beby. Rasanya, ia masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Baru kemarin orang tuanya kembali dari Jakarta, baru kemarin Beby berbincang dengan Maya dan Billy lewat video call. Kini, semua itu hanya bisa jadi memori yang tertanam rapi di lubuk hati Beby.


"Sky."


Beby menoleh ke kanan. Mendapati sosok Aldef yang masih dalam balutan pakaian serba hitam. "Hai. Udah balik?"


"Ngapain di sini?"


Tatapan Beby kembali lurus ke depan. "Kebun kecil itu, hasil karya gue sama mama. Kalau kursi kayu di sana, sengaja papa bikin buat gue kalau mau lihat bintang malam-malam."

__ADS_1


Cuplikan-cuplikan memori kebersamaan yang hangat antara Beby dan keluarga, membuat dadanya kembali terasa sesak.


"Gue nyesel, Al," lirih Beby. "Andai aja gue pulang waktu liburan semester kemarin. Andai aja gue di sini. Pasti gue bisa nonton drakor bareng mama, lihat bintang bareng papa, berkebun. Andai gue tahu kalau mereka bakal pergi secepat ini. Gue pasti pulang."


Aldef membawa kepala Beby dalam dekapannya. "Gue tahu, By. Gue juga ngerasain hal yang sama waktu kehilangan papa. Rasanya, sedih banget. Nggak pengin nerima kenyataan. Pengin marah sama takdir."


Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Beby. Hanya suara isakannya yang sesekali terdengar. Setelah cukup puas menangis, Beby melepas pelukan Aldef.


Beby menarik kedua sudut bibirnya secara paksa. "Makan dulu, yuk. Udah disiapin sama kak Shinta."


Baru saja Beby hendak melangkah, panggilan Aldef membuat niatnya urung.


"Sky."


"Hm?"


"Lo dapat salam dari Celine. Turut berduka katanya."


Seulas senyum penuh makna terlukis di bibir Beby. Entah mengapa, bulu kuduk Aldef meremang saat melihatnya.


"Salam balik buat Celine."


***


Tiba saatnya sang mentari menyinari belahan bumi lain. Kini, giliran bulan dan bintang yang menyinari bumi tempat Beby berpijak. Malam ini, tak banyak bintang yang tampak. Tapi, bulan bersinar terang. Seolah para bintang dengan sengaja membiarkan bulan membiaskan cahaya mereka.


Semilir angin dingin malam ini tak membuat Beby ingin beranjak dari kursi kayu buatan sang papa di taman rumahnya. Tatapan Beby menatap lurus ke arah langit. Ada dua bintang berpijar terang di sana. Dalam bayangan Beby, bintang-bintang itulah jelmaan dari kedua orang tuanya. Meski dalam angan, namun mampu membuat kedua sudut bibir Beby menukik ke atas.


Sore tadi, Beby mendapat pesan dari Anggi. Manager-nya itu mengucapkan belasungkawa lewat pesan. Sengaja, sebab tak ingin menganggu Beby dengan telepon. Karena Anggi tahu, dalam keadaan terpuruk seperti ini, Beby menjelma menjadi manusia yang irit bicara.


"By."


Panggilan yang bersumber dari kanan Beby membuat gadis itu lantas menoleh. Indra pengelihatannya mendapati sosok Miko dalam balutan hoodie abu-abu terang.


"Betah banget di sini," ujar Miko.


Beby menatap lurus ke depan. "Kangen sama suasana di sini."


Miko terkekeh. "Iya, sih. Ini, kan, spot favorit lo di rumah selain kamar."


"Dari kemarin, gue nggak lihat Kakak nangis." Beby menoleh ke arah Miko. "Emang Kak Miko nggak sedih?"


Pertanyaan itu membuat Miko tertawa getir. Bola matanya yang semula mengarah ke langit, berpindah pada wajah cantik adik kesayangannya. "Anak mana yang nggak sedih ditinggal orang tuanya? Bukan sehari, dua hari lagi, tapi selamanya."


Beby refleks menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Gadis itu manggut-manggut, membenarkan ucapan Miko.


"Asal lo tahu, gue nangis, By," lanjut Miko. "Gue nangis waktu lo tidur. Gue nangis waktu di pemakaman. Gue nangis waktu pertama kali lihat mama dan papa dalam keadaan nggak bernyawa."


"Kenapa? Kenapa lo nangis di saat gue nggak lihat, Kak?"


"Gue keinget pesan papa. Kata papa, gue harus jadi kakak yang baik buat lo. Gue harus kuat. Bahkan di saat gue ngerasa nggak kuat, gue harus tetap tegar di hadapan lo. Karena siapa lagi yang bakal menopang lo nanti?

__ADS_1


"By, kehilangan mama dan papa udah bikin hati gue hancur. Gue ngerasa jadi anak yang gagal, karena belum sempat membahagiakan mereka. Cuma amanah mereka yang bisa gue pegang dan berusaha gue tepati."


"Lo udah bikin mereka bangga, Kak," sahut Beby. "Lo bikin mereka bangga di hari lo wisuda. Sedangkan gue? Haha. Gue cuma bisa ngasih beban."


"Hey! Gue tampol, ya, mulut lo!"


Beby terkekeh pelan. Entah mengapa, kalimat bernada ketus itu terdengar lucu di telinga Beby. "Emang bener, kan? Coba lo inget-inget, deh—"


"Nggak ada gunanya mengingat kejadian buruk di masa lalu."


"Kak." Beby menatap Miko lamat-lamat. "Setiap yang berlalu, pasti berguna. Entah itu untuk dikenang, atau diambil hikmahnya. Kita emang nggak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Tapi yang pasti, hari ini nggak akan kembali."


"Bagus kata-katanya."


"Hah?"


"Iya. Kata-kata lo tadi, bagus. Siapa yang bilang gitu?"


"I-itu ... kata-kata gue sendiri, kok."


Kedua mata Miko menyipit curiga. "Bohong. Orang nggak ada di buku biru punya lo."


"Lo baca, Kak?"


"Menurut lo?"


Beby menghela napas sejenak. "Itu kata-kata Arka."


"Lo masih berhubungan sama dia?"


Beby mengangguk. "Dia sakit, Kak. Kanker. Stadium empat."


"Hah? Sejak kapan?"


"Gue juga nggak tahu. Gue baru tahu beberapa hari lalu."


"Tapi tetap aja dia selingkuh."


"Arka nggak selingkuh, Kak. Dia sengaja, pengin bikin gue benci sama dia."


"Terus? Lo masih sayang sama dia?"


Beby tertawa miris. "Penginnya, sih, gitu." Gadis itu beranjak dari posisi duduknya. Menik matanya menatap lurus pada Miko yang masih dalam posisi duduk. "Sayangnya, udah ada yang ambil alih."


*


*


*


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.

__ADS_1


Thank you ❤️


__ADS_2