ALDEBY

ALDEBY
|12.| Viral


__ADS_3

"Bikin penasaran aja, deh," ujar Beby seraya mulai menyalakan ponselnya.


Ada beberapa pesan masuk yang kebanyakan dari ibu dan kakaknya—Indra. Dan anehnya, mereka mengirim pesan yang sama.


Mama:


Beby, kamu baik-baik aja?


Kak Indra:


Beby, are you okay?


Gadis berumur 21 tahun itu hanya membaca pesan di pusat notifikasi. Melihat pesan-pesan itu, rasa penasaran dalam diri Beby kian menggebu-gebu.


Beby menekan aplikasi Instagram. Sudah banyak DM masuk ke akunnya—seperti biasa. Biasanya, kebanyakan DM yang masuk adalah penawaran endors, dan Anggi yang mengurus semua itu. Beby sendiri termasuk jarang berselancar di dunia maya. Ia lebih memilih untuk memakan waktu dengan menonton drama korea saat senggang.


Tapi ..., sepertinya kali ini ada yang beda.


Beby membuka salah satu DM di urutan teratas. Isinya adalah sebuah video dengan caption: ini beneran Kak Beby?


Penasaran, Beby pun memutar video itu. Dan saat mengetahui apa isinya, kedua bola mata Beby nyaris mencuat dari tempatnya. Untung saja mata Beby adalah ciptaan Tuhan.


Di dalam video berdurasi 34 detik itu terlihat sangat jelas bagaimana keadaan Beby di pinggir kolam renang hotel kemarin. Ya. Itu adalah video saat Aldef memberi napas buatan untuk Beby.


Tangan Beby seketika lemas. Ia menggeletakkan begitu saja ponsel ke atas meja. Tatapannya menerawang jauh entah ke mana. Hatinya menolak bahwa tokoh utama wanita dalam video yang tengah viral itu adalah dirinya. Tapi, Beby tak mungkin salah mengenali wajahnya, bukan?


Sementara Beby masih syok dan melamun, Kiran yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu merasa prihatin.


"By?" Kiran coba memanggil Beby. "Itu ... beneran lo?"


Manik mata Beby perlahan mengarah pada Kiran. Sembari menatap sendu sahabatnya itu, Beby mengangguk.


***


"Lo pada lagi ngelihatin apaan, sih?" tanya Miko pada segerombolan teman barunya yang sejak tadi terbahak-bahak.


Sore itu, Miko bersama kawan-kawannya tengah berada di salah satu kafe usai mengurus semua keperluan untuk kuliah besok.


Ya. Miko resmi menjadi mahasiswa Universitas Pelita besok.


"Ini. Ada yang lagi viral. Lo nggak tahu?" Yang menjawab barusan adalah Sean—teman sefakultas Miko dari Cirebon.


Penasaran, Miko pun mencondongkan tubuh, bermaksud untuk melihat apa yang kini menjadi tontonan kawan-kawannya.


Miko memperhatikan dengan seksama. Sebuah video berdurasi 34 detik yang menampilkan seorang gadis dalam mata terpejam. Rupanya, gadis itu sedang diberi napas buatan oleh seorang laki-laki.


Tapi ..., tunggu-tunggu.


Kedua mata Miko menyipit, berusaha menangkap obyek dalam benda pipih itu lebih jelas. Saat menyadari siapa pelaku utama dalam video viral itu, Miko sontak melotot.


Cepat-cepat, Miko meraih ponselnya yang sejak tadi bersemayan di dalam tas. Sial! Ponselnya kehabisan baterai. Miko pasti lupa mencharge semalam.


Akhirnya, Miko berinisiatif untuk meminjam charger milik salah satu temannya. Untung saja kafe ini menyediakan fasilitas stop kontak.

__ADS_1


Usai ponselnya kembali nyala, Miko segera mendial nomor Beby. Namun, beberapa kali Miko mencoba, tak ada satu jawaban pun dari adiknya itu. Hal ini mengingatkan Miko pada malam di mana Beby yang seharusnya menjemput Miko di bandara.


Merasa tak ada gunanya meski ribuan kali Miko mencoba untuk menghubungi Beby, pria berumur 24 tahun itu memutuskan untuk mengirim pesan.


^^^Me: ^^^


^^^Lo di mana sekarang? Angkat telepon gue. Jangan kebiasaan nggak angkat telepon gini, deh, Beb.^^^


***


Tepat pukul 19.00, Beby keluar kelas. Saat itu, ia mendapati ponsel dalam saku celana jeans-nya bergetar.


Aldefra Mahardika:


Gue tunggu di parkiran.


Beby berdecak kesal usai membaca pesan singkat itu. Bisa-bisanya Aldef bersikap seolah tak ada yang terjadi di antara mereka. Beby tak menyangka, Aldef sama saja seperti lelaki brengsek yang pernah ia temui. Lelaki yang dengan kurang ajarnya mengambil kesempatan tanpa berpikir panjang.


Mengabaikan pesan dari Aldef, Beby beralih pada pesan masuk yang dikirim dari nomor Miko. Jangan lupakan 21 panggilan tak terjawab dari kakaknya itu. Salah sendiri menelepon saat dirinya sedang ada kelas.


Kak Miko:


Lo di mana sekarang? Angkat telepon gue. Jangan kebiasaan nggak angkat telepon gini, deh, Beb.


Bukan apa-apa, Beby hanya merasa butuh waktu untuk menyendiri. Jika dia menghubungi Miko atau bertemu dengan kakaknya itu sekarang, dapat dipastikan bahwa Beby hanya akan mendapat sederet pernyataan yang membagongkan.


Yeah.


Beby memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lalu, gadis itu menata langkah keluar dari Universitas Pelita. Beby berniat untuk naik taxi.


Di saat Beby sudah diambang keputusasaan, sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti tepat di hadapannya.


"Hei. Lo ngapain di sini?" tanya seorang laki-laki di balik kursi kemudi. "Bukannya gue udah bilang nunggu di parkiran? Ayo masuk!"


Ya. Lelaki di balik kursi kemudi itu adalah Aldef.


Beby melayangkan tatapan tajam ke arah Aldef. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menekan gejolak emosi dalam dirinya agar tak mencuat ke permukaan.


Tanpa mengatakan apapun, Beby melenggang pergi. Kali ini, gadis itu tak peduli jika harus berjalan hingga kakinya mati rasa.


Sementara itu, Aldef yang tak mengalihkan pandangan dari Beby bergegas turun. Ia sangat tahu mengapa Beby bersikap demikian. Aldef telah mengetahui tentang video mereka yang viral di sosial media. Untuk itu, Aldef sebisa mungkin mengimbau seluruh kru pemotretan pagi tadi untuk tak membahas apapun soal video itu di hadapan Beby.


Aldef melangkah cepat dan menahan pergelangan tangan Beby. Namun, gadis itu menolak untuk berinteraksi dengan Aldef. Beby mencoba kabur, tapi Aldef lebih sigap untuk menahannya.


Aldef mencengkeram erat kedua bahu Beby, lalu memutarnya hingga kini indra pengelihatan mereka saling tatap.


"Gue bisa jelasin," ucap Aldef seraya menatap mata tajam Beby dengan sarat memohon.


"Gue nggak butuh penjelasan," balas Beby ketus. Gadis itu kembali berusaha melepaskan diri dari sentuhan Aldef. Namun, lagi-lagi Aldef berhasil membuatnya tetap tinggal. "Lepasin gue."


"Dengerin gue dulu, oke?"


Beby menghela napas berat. "Dengerin apa lagi, sih, Al? Apa yang mau lo jelasin ke gue? Alibi apa lagi? Lo mau bilang kalau 'gue nggak punya pilihan lain saat itu', iya? Bullshit, Al! Gue lebih dari tahu apa yang ada di otak laki-laki kayak lo."

__ADS_1


"Apa?" Tatapan yang semula memohon, kini berubah menjadi penuh akan sarat menantang. "Lo tahu apa soal isi otak gue? Lo tahu apa tentang hati gue? Lo tahu apa tentang hidup gue? Hah?! Lo bahkan nggak tahu apa-apa, Beby.


"Terserah lo mau percaya atau nggak. Tapi yang pasti, gue nggak ada niat sedikitpun untuk melakukan hal-hal yang lo kira. Gue nggak sebrengsek itu, By."


Aldef menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. "Lo mau tahu kenapa gue nekat ngelakuin hal itu? Karena gue nggak mau kehilangan lo! Gue sayang sama lo!"


Rentetan kalimat bak rel kereta api itu meluncur begitu saja dari mulut Aldef. Tapi, kalimat terakhir bukanlah kata-kata yang ingin ia ucapkan.


"Al—"


Baru saja Beby akan membalas ucapan Aldef, lelaki itu mengangkat telapak tangan, menandakan bahwa Aldef tak ingin Beby mengatakan apapun.


"Sorry kalau lo nggak berkenan dengan apa yang udah gue lakukan. Tapi satu hal yang harus lo tahu. Waktu itu, yang ada di pikiran gue hanya keselamatan lo."


Jujur, saat ini Aldef merasa tak punya muka di hadapan Beby. Bagaimana bisa ia mengucap kata 'sayang' saat intensitas kedekatan mereka masih terbilang minim?


Oleh karena itu, Aldef bergegas kembali memasuki mobilnya dan meninggalkan Beby yang masih berdiri kaku di tempat.


Masih dengan tatapan yang mengekori mobil Aldef di depan sana, Beby bergumam, "Gue nggak salah dengar, 'kan?"


Di tengah-tengah lamunan Beby, sebuah mobil putih menghampirinya. Beby kenal betul siapa pemilik mobil itu: Kiran.


"Beby?" panggil Kiran. "Ngapain lo berdiri di situ? Nggak balik?"


Beby sedikit berjongkok agar indra pengelihatannya dapat menangkap wajah Kiran dengan jelas. "Gue lagi nunggu taxi. Dari tadi nggak dapet-dapet."


"Mau nebeng gue? Kita nongki dulu di Lomera Cafe, gimana?"


Tanpa pikir panjang, Beby menyetujui tawaran Kiran.


***


Mobil Aldef menyusuri jalanan Ibu Kota dengan kecepatan sedang. Isi kepalanya masih penuh tentang Beby. Bagaimana ia harus bersikap saat bertemu dengan gadis itu nanti? Apa yang harus Aldef lakukan?


Demi menunda pertemuannya dengan Beby, Aldef memutuskan untuk tidak pulang ke apartemen malam ini. Aldef akan pulang ke rumah orang tuanya.


Tapi, dalam radius 3 km sebelum sampai tempat tujuan, manik mata Aldef menangkap seorang gadis dengan langkah terseok-seok di pinggir jalan. Wajah pucat gadis berambut sebahu itu membuat Aldef simpati.


Siapapun yang berada dalam posisi Aldef, pasti memiliki pikiran yang sama untuk menolong gadis itu.


Benar saja, saat Aldef turun dari mobil dan menghampirinya, gadis itu hilang keseimbangan. Untung saja Aldef dengan sigap menahan tubuh gadis itu.


"Lo nggak apa-apa?"


Gadis itu mendongak. Manik matanya menatap Aldef lamat-lamat. Beberapa saat kemudian ....


"Kak Aldef?"


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate, dan share kalau kalian suka.


Thank you ❤️


__ADS_2